
Mikha saat ini hanya berdiri sambil melipatkan kedua tangannya dengan kesal, Alvin dengan cepatnya menyusul Mikha.
"Gitu doang udah ngambek lo Mik....ya udah tunggu disini dulu ya jangan kemana - mana." Ucap Alvin.
Setelah mengatakan itu Alvin langsung bergegas menuju parkiran mobil kemudian tidak perlu menunggu waktu yang terlalu lama lagi, Alvin sudah memberhentikan mobilnya tepat dihadapan Mikha. Lalu Alvin membuka kaca mobilnya kemudian menekan tombol klaksonnya secara berkali - kali.
"Tinnnn....tinnnnn......tinnnn..."
"Berisik banget deh Vin, bisa budeg telingan gue ini!" Ucap Mikha dengan kesal.
"Ayo buruan masuk...!"
"Gak..gue gak mau pergi bareng lo, gue berubah pikiran gue!" Ucap Mikha sok jual mahal lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Alvin.
Alvin mengikuti Mikha dari arah belakang sambil terus menekan klaksonnya terus menerus sampai membuat Mikha sangat emosi, Langkah kaki Mikha akhirnya berhenti juga kemudian Mikha berbalik dan menyamperin Alvin, sesuai dengan keinginan Alvin.
"Mau lo apaan sih?" Tanya Mikha dengan ketus.
"Masuk!" Tegas Alvin sambil mengarahkan matanya.
"Gak! Lo nyebelin banget tau gak sih Vin!"
"Iya sorry...gue tadi kan hanya jahilin lo aja Mik, baper banget sih!"
"Gue pergi sendiri aja, thanks atas tawarannya." Ucap Mikha lalu pergi meninggalkan Alvin.
Lalu entah apa yang membuat Alvin sehingga menghentikan mesin mobilnya, Alvin berjalan dengan cepat untuk menyusul Mikha, dengan spontan Alvin langsung saja menggendong Mikha dan membawanya masuk kedalam mobil. Mikha terus saja memukul - mukul dada Alvin, akan tetapi Alvin tidak menghiraukannya.
"Lepasin gue! lepasin gue...gue bilang gue bisa pergi sendiri." Teriak Mikha terus menerus.
"Lo bisa diam gak...!"
"Gak...gue mau turun..."
"Jangan salahkan gue ya Mik kalau gue menjadi nekat..."
"Apaan sih lo Vin...gue mau pergi. Lo tau gak kalau gue bisa telat karena hal ini.
"Gue jamin gak bakalan Mik, makanya lo duduk manis jangan bawel ya.
Dan ketika Alvin ingin memasangkan sabuk pengamannya, Mikha terus saja berontak sampai membuat Alvin mengunci tubuh Mikha dengan cara menempalkan dirinya sendiri hingga mereka berdua tidak memiliki jarak sama sekali.
Alvin dan Mikha saling menatap satu sama lain, tanpa mereka sadari detak jantung keduanya mulai berdetak secara tidak beraturan.
'Kalau aja lo tau perasaan gue Vin....apa lo bakalan mau nerima gue?' Pikir Mikha.
'Tunggu gue Mik, disaat waktu yang tepat nanti gue akan membuat lo menjadi wanita yang paling bahagia.' Batin Alvin.
Kemudian keduanya saling tersadar dari lamunan masing - masing, "Lo mau apa?" Tanya Mikha sambil menggigit bibir bawahnya.
"Menurut lo?" Alvin malah bertanya balik.
Mikha yang mulai kehilangan kendali akhirnya memalingkan wajahnya sambil berusaha untuk melepaskan sabuk pengamannya.
"Lo mau apa Mik..."
"Gue mau turun..." Ucap Mikha lagi.
"Tatap gue lalu ulangi sekali lagi." Ucap Alvin sambil mengarahkan wajah Mikha.
Mikha sempat merasa gugup sampai - sampai dia menelan salivanya sendiri. "Gue mau tu...."
Tanpa Mikha sadari Alvin langsung saja menyambar bibirnya dengan rakusnya sampai membuat Mikha kaget setengah mati, Mikha masih syok, dia hanya bisa mematung tanpa merespon apapun.
Kemudian secara perlahan Alvin melepaskan ciuman singkatnya itu, "Kalau gitu bilang sekali lagi.....kenapa lo terus aja menguji kesabaran gue Mik? Itu hukuman buat lo."
Mikha langsung saja berterika, "Alvin! Dasar brengsek!" Ucap Mikha sambil memukul - mukul Alvin.
"Iya gue brengsek, trus kenapa? Lagian salah lo sendiri kenapa lo berani - beraninya menggigit bibir bawah lo! Lo sengaja kan mau menggoda gue?" Ucap Alvin sambil memegangi kedua tangan Mikha.
Mikha hanya menatap Alvin dengan tatapan tidak sukanya, Mikha terus saja menatap Alvin dengan tajam tanpa mengatakan apapun juga.
"Sekarang lo duduk dengan tenang ya....Btw bibir lo manis juga ada rasa permennya." Ucap Alvin yang langsung saja membuat kedua bola mata Mikha melotot dengan sempurna.
'Sialan!' Batin Mikha.
Kemudian Alvin langsung segera masuk kedalam mobilnya lalu segera menjalankan mobilnya dengan sangat cepat, Bahkan Mikha sudah tidak berani untuk mengomel atau mengutuk Alvin seperti biasanya.
Wajah Mikha masih bersemu merah, kalau saja Alvin bisa melihatnya, Mikha akan merasa sangat malu.
"Kok lo diam aja Mik? Tumben banget?" Ucap Alvin sambil melirik kearah Mikha sekilas.
"Kan lo yang nyuruh. Lagian gue capek bila harus berdebat terus sama lo!" Ucap Mikha.
"Nah gitu dong, sesekali nurut begini kan bagus." Ucap Alvin sambil tersenyum.
Kemudian Mikha membuka tasnya untuk mencari sesuatu didalam tasnya itu, Mikha mengambil liptin dan lipcreamnya yang berwarna bibir.
Alvin yang sempat melirik sekilas kearah Mikha akhirnya bertanya juga, "Apa harus ya lo pakai lipstik seperti itu? Gue heran aja melihat wanita jaman sekarang yang suka menggunakan make up." Ujar Alvin.
"Emangnya kenapa? Gue kan hanya ingin terlihat baik aja saat di interview nanti Vin. Gue takutnya penampilan juga mempengaruhi gue bakalan diterima atau gak nantinya." Ucap Mikha sambil menggigit bibir bawahnya kembali.
"Lo sengaja ya Mik untuk terus menggoda gue?" Tanya Alvin.
"Maksud lo apaan sih?" Tanya Mikha yang tidak mengerti maksud perkataan Alvin barusan.
"Kenapa sih lo terus menerus menggigit bibir bawah lo? Gue gak suka melihatnya! Jangan pernah lakukan hal itu didepan pria lain. Ngerti lo!" Tegas Alvin.
Mikha hanya menatap Alvin dengan kesal lalu kembali sibuk untuk menggunakan lipstiknya kembali.
"Nih udah sampai..."
Kemudian Mikha sempat menatap dirinya sendiri didepan cermin sebentar, "Oke kalau begitu thanks ya Vin." Ucap Mikha sambil merapikan isi tasnya kembali lalu bergegas turun.
"Oke, semoga lo beruntung! Ingat pesan gue tadi ya!" Ucap Alvin lalu segera menjalankan mobilnya dengan cepat.
"Aneh banget deh! Kenapa dia yang sewot sih?" Ucap Mikha.
Setelah kepergian Alvin, Mikha langsung buru - buru masuk ke perusahaan tempat dia akan melakukan interview, Mikha sudah bergabung dengan semuanya yang akan melakukan interview juga.
__ADS_1
******
"Gimana caranya aku untuk menyampaikan hal ini kepada Vio ya?" Ucap Ara sambil mondar mandir dikamarnya.
"Apa aku langsung telepon Vio saja ya? Iya sepertinya itu merupakan ide yang bagus."
Kemudian Ara langsung mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Vio untuk menyampaikan berita yang akan membuat Vio senang tentunya.
Dan tidak perlu sampai deringan yang ketiga kalinya, Vio dengan cepat sudah menjawab panggilan dari Ara.
"Akhirnya kamu menghubungi aku juga Ra, gimana Ra? Kamu sudah tau dimana keberadaan Rey?"
"Sebenarnya aku masih menebaknya saja sih. Tapi aku yakin banget kalau Rey berada disana. Karena dia mengirimkan aku pesan singkat yang bilang kalau dia itu berada ditempat kami ketemuan dulu. Kalau tebakanku benar, Rey pasti berada disana. Dan Al akan membawa Rey langsung ke kamu Vi..."
"Kamu serius Ra? Ini berita beneran kan Ra? Thanks banget ya Ra! Jadi aku akan ketemu sama Rey dimana? Katakan saja Ra aku akan segera kesana."
"Vi...kamu tenang dulu! Al akan mengatur segalanya. Kamu hanya perlu tenang dan menunggu Rey saja."
"Maaf Ra! Habisnya aku sangat bahagia sekali mendengar ini semua dari kamu. Aku jadi semakin tidak sabar untuk segera bertemu kembali dengan Rey. Ini semua berkat kamu Ra, sekali lagi makasih ya Ra karena kamu udah baik banget mau bantuin aku."
"Iya Vi sama - sama, kalau begitu setelah mendapatkan kabar baik dari Al, aku akan segera menghubungi kamu ya Vi."
"Iya Ra...aku tunggu kabar baik dari kamu ya."
Setelah itu Ara langsung saja mengakhiri panggilan teleponnya dengan cepat.
Akhirnya Ara dapat bernafas dengan lega juga, "Akhirnya semuanya selesai juga." Ucap Ara.
Sedangkan ditempat lain, Alan yang merasa sangat galau dan kacau akibat baru mengetahui kalau Clara saat ini sedang mengandung akhirnya memutuskan untuk segera menemui Clara untuk menanyakan kebenaran mengenai kabar yang didapatnya dari seseorang yang disuruh Alan untuk menyelidiki tentang Clara belakangan ini.
"Kamu hamil Cla? Kenapa ketika kita bertemu kemarin malam kamu tidak mengatakan apa - apa dengan aku? Sebenarnya itu Anak siapa Cla? Tidak mungkin kalau itu Anak dari pria lain kan?"
Alan lalu menggelengkan kepalanya dengan epat, "Gak...kamu bukan wanita yang seperti itu Cla, kamu tidak mungkin tidur sama pria lain kan selama kita berpisah?" Ucap Alan kepada dirinya sendiri.
Alan langsung bergegas untuk menghampiri Clara ke Apartemennya agar dapat mengkonfirmasi secara langsung tentang kabar yang didapatnya itu. Dengan tidak sabaran Alan mengemudikan mobilnya demi dapat untuk segera bertemu dengan Clara.
"Kenapa disaat - saat seperti ini jalanan malah macet sih?" Ucapnya dengan kesal sambil membanting stir mobilnya.
Alan terjebak macet selama satu jam lamanya, setelah keluar dari kemacetan, dengan sangat ngebut Alan langsung mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat hingga akhirnya dia sampai juga di parkiran apartemen Mikha.
Tanpa ingin berlama - lama lagi Alan langsung masuk kedalam lalu segera menekan tombol liftnya dengan cepat.
"Kenapa disaat seperti ini liftnya malah bermasalah sih? Agggrrh lama banget!" Ucap Alan yang semakin tidak sabaran hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan tangga darurat saja.
Sesamapinya dilantai 15 yang dituju oleh Alan, nafasnya sudah mulai ngos - ngosan seperti baru habis olahraga. Alan masih berusaha untuk mengatur nafasnya terlebih dahulu. Lalu ketika Alan ingin berjalan menuju apartemen Clara, dia menghentikan langkahnya dan malah memillih untuk bersembunyi.
'Siapa pria itu?' Pikirnya.
Alan melihat sosok pria yang sedang berdiri didepan pintu apartemen Clara dan tidak berapa lama kemudian Clara langsung saja membukakan pintu untuk pria itu. Ala yang tidak ingin kehilangan momment ini hanya terus saja mengamati dengan penuh selidik kepada Clara dan pria itu.
'Apa! Mau apa dia masuk kedalam? Ini tidak bisa dibiarkan.' Batin Alan yang semakin emosi bercampur cemburu.
Baru saja Alan ini mendekati apartemen Clara, pria tersebut sudah keluar kembali lalu segera pergi dari sana.
Tanpa ingin membuang - buang waktu lagi, Alan langsung saja menghampiri Clara. Alan terus saja menekan bell apartemen Clara sampai pada akhirnya Clara membukakan pintu apartemennya untuk dirinya.
Setelah itu Alan langsung saja memaksa untuk masuk kedalam apartemen Clara.
"Siapa dia?" Tanya Alan tanpa ingin membuang - buang waktu lagi.
"Dia siapa? Maksud kamu apa sih?" Jawab Clara yang tidak mengerti maksud ucapan Alan barusan.
"Pria yang baru saja keluar dari apartemen kamu..."
"Oh dia, dia adalah pria yang akan membuat hidupku bahagia." Ucap Clara secara blak - blakkan.
Alan malah tertawa sinis menatap Clara, "Oh jadi dia target kamu selanjutnya! Jangan mimpi kamu Clara...aku tidak akan pernah membiarkan kamu untuk bahagia dengan pria lain selain aku."
Clara malah tersenyum mengejek mendengar ucapan Alan barusan. "Emangnya kamu pikir kamu itu siapa Alan? Kamu itu bukan siapa - siapa lagi untuk aku." Ucap Clara.
Alan malah menatap Clara dengan tatapan tajam, "Aku pria yang akan menikah dengan kamu Clara."
"Menikah?" Ucap Clara sambil tertawa lepas.
"Maaf...maaf...itu tidak akan pernah terjadi Lan. Kamu lupa kamu itu siapa dan aku itu siapa? Hah? Aku bahkan sudah tidak memimpikan hal itu lagi." Ucap Clara dengan ketus.
"Siapa Papa dari Anak yang kamu kandung itu? Apa pria tadi?" Tanya Alan sambil memegang kedua bahu Clara.
'Alan tau darimana kalau aku sedang hamil?' Pikir Clara.
"Jawab aku Cla...siapa Papa dari Anak yang kamu kandung itu? Kenapa kamu pasti kaget dan tidak menyangka kalau aku mengetahui hal ini kan?" Ucap Alan terus menerus untuk terus mendesak Clara.
"Bagus kalau kamu mengetahuinya jadi aku tidak perlu repot - repot lagi untuk menjelaskan tentang hal ini dengan kamu." Ucap Clara sambil melepaskan secara paksa tangan Alan.
"Jadi...jadi benar kalau..."
"Iya benar seperti apa yang sedang kamu pikirkan. Ini Anak pria yang kamu lihat tadi. Dan sekarang aku minta sama kamu untuk keluar dari sini dan jangan pernah menganggu dan mencari aku lagi! Mengerti!" Ucap Clara sambil mendorong tubuh Alan yang sudah lemas tak berdaya mendengar ucapan dari Clara barusan.
Setelah Alan berada diluar apartemen Clara, Clara langsung saja menutup pintu apartemennya dengan sangat cepat.
"Buka Cla...gak! Aku gak percaya sama kamu. Kamu pasti sedang berbohong kan?" Teriak Alan sambil mengetuk pintu Apartemen Clara terus menerus.
Sedangkan didalam apartemennya, Clara hanya menangis sedih, 'Kalau aja kamu tau Lan....aku...aku sangat tidak sanggup melihat kamu terus menerus seperti itu, kamu adalah kelemahanku Lan. Semoga kamu mengerti dan tidak akan pernah lagi untuk mengangguku! Karena sampai kapanpun juga kita berdua tidak akan pernah bisa bersama lagi.' Batin Clara lalu dengan kasar langsung saja menghapus airmatanya yang telah membasahi kedua pipinya itu dengan kasar.
"Clara buka pintunya! Kita harus bicara...biarpun itu bukan Anak aku aku akan bertanggung jawab! Please Cla kamu harus menikah dengan aku...." Teriak Alan yang sudah tidak didengar lagi oleh Clara.
Clara tidak ingin kembali menjadi lemah dan terus saja berurusan dengan masalalunya itu, Clara benar - benar ini melupakan Alan walaupun dia sendiri tau kalau jalan yang dipilihnya adalah jalan yang salah. Tapi dendamlah yang membuat dirinya dapat bertindak sejauh ini.
******
ALVIN:
Gimana interviewnya tadi? Kalo gue tebak sih lo itu gagal. hehe...
Mikha yang memang lagi sibuk bermain di ponselnya, langsung saja membuka pesan yang dikirimkan oleh Alvin dengan segera.
"Dasar lo sok tau banget!"
MIKHA:
__ADS_1
Terimakasih ya atas doanya....tapi sayangnya gue sukses tuh. Maaf ya jika pada akhirnya membuat lo kecewa. :P
Setelah mengirimkan pesannya kepada Alvin, Mikha langsung segera berbaring diatas ranjangnya.
'Gimana ya kalau nanti Alvin tau kalau pasangan onlinenya yang ada di game itu gue? Gue penasaran banget gimana kira - kira ekspresinya. Pasti dia akan marah bercampur kecewa juga dong ya pastinya.' Pikir Mikha sambil senyum - senyum sendiri.
Mikha memutuskan untuk login kedalam game yang udah lama ditinggalkannya itu, 'Kali - kali aja Alvin sedang online juga...ya setidaknya gue bisa mengetahui dengan apa yang sedang dirasakannya saat ini.'
Baru saja Mikha login masuk kedalam game, Alvin langsung saja mengirimkan pesan kepada dirinya.
Badboy
Hei apa kabar kamu? Udah lama ya kita gak chattingan lagi.
"Uh dasar playboy lo!" Cetus Mikha.
Cinta:
Baik kok, kalo kamu gimana nih kabarnya?
Badboy:
Hmmm...aku tebak pasti kamu sedang sibuk banget ya sekarang sampai - sampai tidak memiliki waktu luang lagi untuk bermain game?
Cinta:
Ya....bisa dibilang seperti itu sih, Oh iya kalau kamu sendiri sekarang sibuk apa?
Badboy:
Wah..wah...jangan terlalu sibuk dong! Jangan lupa jaga kesehatan juga perlu lho! Kalau aku sibuk ngantor aja sih sekarang ini.
"Yee...sok perhatian lo! dasar buaya darat!" Ucap Mikha dengan sangat kesal.
Cinta:
Iya iya! Oh iya? Kalau begitu kita sama dong...aku juga kebetulan baru saja diterima bekerja ditempat yang aku impi - impikan selama ini.
Badboy:
Cieee...selamat dong! Aku juga ikut senang mendengarnya. Sukses ya untuk kamu! Oh iya udah lama ini kita tidak cerita - cerita lagi. kalau aku cerita sekarang ganggu kamu gak ya?
Cinta:
Duh thanks ya Badboy! Iya nih cerita aja, kebetulan aku lagi tidak sibuk kok.
Badboy:
Beneran nih? Ntar aku ganggu waktu kamu lagi?
Cinta:
Beneran kok...besok - besok kali baru ganggu waktu aku, kan besok aku udah mulai bekerja.
Badboy:
Iya juga ya....menurut kamu kalau kamu suka dengan seseorang kamu akan menunjukkannya atau malah menyimpannya saja?
Cinta:
Aduh jangan bilang sama aku kalau kamu sedang jatuh cinta ya? Bukannya itu pertanyaan yang sangat mudah ya? Kalau aku nih jadi kamu, aku akan memilih untuk mengutarakan perasaan aku dengan seseorang yang aku suka.
Badboy:
Hmmm...bisa dibilang seperti itu sih! Tapi jujur saja aku bingung mengutarakannya, apalagi mengingat selama ini kami berdua melmiliki hubungan yang terbilang tidak baik.
Cinta:
Kalau cinta kenapa harus malu sih? Kalau nanti wanita yang kamu suka itu ternyata tidak suka sama kamu itu lain lagi ceritanya. Tapi kalau belum dicoba siapa yang akan tau kan? Emangnya kalau boleh aku tau kamu itu sedang jatuh cinta sama siapa sih? Bukannya setau aku kamu itu sudah menikah ya?
Badboy:
Iya sih kamu benar...tapi sejujurnya aku gengsi banget tau untuk mengutarakannya. Kalau aku bilang siapa pasti kamu akan menertawakan aku habis - habisan deh.
Cinta:
Gengsi? Emang kalau cinta apa harus gengsi? Kamu gak mau kan kalau wanita yang kamu suka itu menjadi milik pria lain? Hmmm...gak bakalan deh, emangnya siapa sih?
Badboy:
Hmm...Iya sih kamu benar juga...ah aku masih belum bisa untuk bilang tentang perasaanku sama dia. Dia adalah wanita yang pernah aku benci habis - habisan. Kamu masih ingatkan kalau aku pernah cerita sama kamu soal ini?
'Apa? Jangan bilang kalau itu gue! Tapi masak sih Alvin jatuh cinta sama gue?' Pikir Mikha.
Badboy:
Hei...kenapa diam? Kamu masih berada disana kan?
Mikha lalu menarik nafasnya secara perlahan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetik lagi.
Cinta:
Lho bukannya itu istri kamu sendiri ya? Jangan bilang sama aku kalau kamu jatuh cinta sama istri kamu sendiri? Hahah...kamu itu benar - benar lucu ya bercandanya.
Badboy:
Kalau boeh jujur aku sendiri juga tidak tau kapan perasaan ini tumbuh! Tapi memang benar kalau aku jatuh cinta dengan istriku sendiri. Aku benar - benar sangat serius tentang masalah ini. Tolong dong kamu jangan menertawakan aku seperti itu.
'Apa? Apa gue tidak salah membaca ya? Jadi Alvin benar - benar sedang jatuh cinta dengan gue? Jadi ciuman yang tadi pagi itu......sebenarnya karena dia suka sama gue?' Batin Mikha dengan pipi yang sudah bersemu merah.
********
Dududu...
Aduh gimana ya itu jadinya? Mikha udah mengetahui kalau Alvin menyukai dirinya?
Hmmm...kalau kalian jadi Mikha apa tidak akan menjadi semakin salah tingkah ya? HEHE!
Like & Comment nya ditunggu ya!
__ADS_1
Happy Reading Guys!