
Sesampainya dirumah Mikha terus menerus cemberut, Mikha langsung berjalan meninggalkan Alvin lalu segera masuk kedalam kamarnya. Entah memang dirinya sedang sensitif atau karena sedang banyak hal yang sedang dipikirkan Mikha sehingga membuat mood nya berubah drastis.
Alvin hanya mengamati Sang istri saja. Alvin sudah paham betul kalau sedang cemberut seperti itu Mikha sedang ingin sendirian dulu. Alvin tidak mengikuti Mikha ke kamar. Alvin lebih memilih untuk bersantai diruang tengah. Dia memutuskan untuk menonton TV saja.
Tebakkan Alvin benar, setelah membiarkan Mikha seorang diri menerung didalam kamar. Kini Mikha yang merasa bosan dengan mood yang kian membaik kembali lagi untuk mendekati Suaminya. Dia melingkarkan kedua tangannya dari belakang Alvin sambil meletakkan kepalanya dibahu Alvin dengan manja.
"Ada apa sayang...gimana? Udah gak cemberut lagi kan?" Tanya Alvin sambil mengelus pipi Mikha.
Mikha menganggukkan kepalanya pelan.
"Duduk sini...!" Pinta Alvin sambil menepuk sofa panjang yang sedang dia duduki.
Mikha berjalan untuk menghampiri Alvin lalu membaringkan kepalanya di atas paha Alvin. Tangan Mikha membelai wajah Suaminya, bagian yang paling disukai Mikha dari Alvin adalah dagunya. Mikha terus saja memainkan tangannya disana. "Ada apa sayang?" Tanya Alvin sambil menatap Istirnya.
Alvin mengetahui secara pasti kalau Mikha sudah bersikap manja dan minta diperhatikan seperti ini pasti sedang ada yang Mikha inginkan.
"Gak ada kok sayang...aku baru menyadari kalau Suamiku ini ternyata tampan juga ya!" Puji Mikha.
"Kamu baru menyadarinya sekarang ya? Aduh daridulu kemana saja sayang! Aku bahkan sudah tampan sejak lahir." Alvin mulai merasa kepedean.
Mikha tau pasti memuji Alvin adalah kesalahan yang sangat besar, karena Alvin itu orangnya sangat kepedean. "Uh dasar baru juga dipuji sedikit saja sudah seperti ini." Ujar Mikha sambil mencubit gemas hidung mancung Alvin.
"Aww...sakit tau! Bukannya disayang, eh malah dicubit." Keluh Alvin sambil memegangi hidungnya yang kini sudah berubah menjadi sangat merah.
Kemudian Alvin melanjutkan nontonnya lagi, Mikha merasa dicuekin oleh Alvin. Kini Mikha kembali mengelus wajah tampan dari Suaminya hingga kini Alvin kembali lagi menatap Sang Istri. "Kamu hari ini manja banget sih sayang? Pengen ya?" Goda Alvin lagi.
Seketika membuat Mikha membelalaknya matanya, Dasar mesum! Udah deh mendingan kamu lanjutin aja nontonnya jangan perdulikan aku. Lagian kamu itu sedang nonton apaan sih? Serius amat!" Ujar Mikha dengan manja.
"Nonton film action sayang! Seru banget deh filmnya." Ucap Alvin dengan sangat antusias.
"Kamu gak ada rencana gitu ngajak aku nonton di bioskop?" Ujar Mikha lagi. Alvin memang tidak mengerti keinginan dari Istrinya sampai Mikha yang sering memberikannya signal - signal tentang sesuatu hal harus dia lakukan.
"Kamu mau? Ya udah kita pergi." Ujar Alvin sambil membelai rambut Mikha dan tersenyum.
"Mau banget lah, habisnya kalau gak begitu kamu itu gak pernah berinisiati ngajakin aku keluar deh. Heran deh lihat kamu Vin. Padahal kamu sudah tau aku itu seperti apa, tapi tetap saja menunggu kode - kode dariku. Huh!" Ujar Mikha dengan kesalnya.
"Hehehe, maaf deh sayang...ya udah mendingan kamu mandi duluan ya! Aku siapin nonton sebentar ya sayang." Ujar Alvin lagi.
"Baik Tuan! Jangan kelamaan ya!" Ucap Mikha lalu bangkit dari posisi tidurnya.
Mikha sudah berlari dengan cepat lalu tiba - tiba saja langkahnya terhenti dan kembali lagi berlari kearah Alvin.
CUP!
Tanpa di duga- duga Mikha memberikan sebuah kecupan kepada Suaminya, Sontak membuat Alvin kaget menerima serangan mendadak dari Sang Istri.
"I love you!" Bisik Mikha lalu berlari meninggalkan Alvin.
Alvin hanya menggeleng - gelengkan kepalanya saja sambil memegangi pipinya lalu senyum - senyum sendiri.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Mikha, kini dia sudah selesai bersiap. Dia hanya menggunakan kaos putih dan celana pendeknya saja, lalu meluruskan rambutnya yang kini sudah sangat panjang. Sebenarnya Mikha sudah merasa rambutnya sudah terlalu panjang. Akan tetapi Alvin melarang dirinya untuk memotong rambutnya. Kata Alvin kalau dia lebih menyukai kalau melihat Istrinya dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai begitu saja.
Ketika Mikha sedang memakai parfum Alvin masuk kedalam kamar mereka, Alvin berjalan mendekati Istrinya yang kini sudah cantik dan sangat wangi. Alvin selalu menyukai aroma tubuh dari Mikha. Alvin memeluk Mikha dari belakang sambil menciumi leher Mikha.
"Alvin..." Rengek Mikha dengan manja.
"Hmm..."
"Mandi gih! Geli tauu...udah sana." Ujar Mikha lagi sambil merasa kegelian karena Alvin terus saja menciumi lehernya.
__ADS_1
"Sebentar saja sayang biarkan aku memeluk kamu seperti ini." Pinta Alvin.
Akhirnya Mikha hanya pasrah saja dengan sikap manja dari Suaminya itu. Kegiatan Mikha yang ingin mengenakan lipbam jadi terganggu.
"Sudah cukup!" Mikha melepaskan dirinya dari Suaminya.
"Ya sayang...."
"Sana mandi...cepetan ya! Pakaian kamu sudah aku siapkan juga tuh." Ujar Mikha sambil mendorong tubuh Suaminya untuk segera masuk kedalam kamar mandi lalu memutup pintu kamar mandinya dengan sangat cepat.
Tidak membutuhkan waktu yang banyak lagi, kini Alvin sudah seleai mandi. Hanya saja handuknya ada didalam kamar. Dia berteriak untuk Mikha mengambilkan handuknya. Mikha mengomel karena Alvin selalu saja meletakkan handuknya kesembarang tempat yang dia sukai..
"Kamu nih kebiasaan deh! Sekali lagi kalau begitu aku tidak akan mau mengambilkan handuk kamu lagi." Omel Mikha.
Sementara Alvin hanya tersenyum saja lalu mengambil handuk dari tangan Mikha dengan sangat cepat lalu kemudian menutup pintu kamar mandinya lagi.
Beberapa saat kemudian Mikha sudah keluar dari kamar mandi. "Mana pakaian aku sayang?" Tanya Alvin.
"Itu disana." Tunjuk Mikha lalu kembali bermain game diponselnya.
Alvin melihat pakaian yang Mikha kenakan sama dengan warna pakaian yang dipilihkan oleh Istrinya itu. "Pakaian kita couple sayang?" Tanya Alvin sambil memegang pakaiannya.
"Iya sayang. Udah cepetan dong Vin...." Ujar Mikha yang tidak sabar melihat Alvin terlalu lama bersiap - siap.
"Makanya kamu bantuin aku dong." Pinta Alvin.
"Gak mau!" Ujar Mikha lalu pergi keluar kamarnya. Dia tau pasti kalau Alvin terus ditungguin seperti itu pasti Alvin akan semakin lama siap - siapnya.
Akhirnya Alvin keluar juga dari kamar. Kini Alvin mengejutkan Mikha dari belakang sampai membuat Mikha kaget setengah mati. "DUAAARR!"
"ALVINNNNN! IH DASAR YA KAMU....NYEBELIN BANGET TAU GAK SIH!" Omel Mikha yang tengah serius menatap ponselnya.
"Ih apaan sih Vin...gak ada! Aku tadi hanya sedang serius main saja. Udah ayo kita pergi." Ujar Mikha yang tentu saja hanya mencari alasan.
Padahal Mikha sedang membaca tanda - tanda wanita sedang hamil, sebelumnya Mikha sedang melihat tanggal datang bulannya bulan lalu. Mikha sudah telat selama 2 minggu. Hanya saja dia belum berani untuk mengeceknya.
Sesampainya didalam mobil, Mikha menghela nafasnya. 'Hampir saja! Untung saja Alvin tidak mengambil paksa ponselku. Kalau tidak dia bisa berpikir kalau aku sedang hamil saat ini, padahalkan aku sendiri belum berani untuk mengeceknya.' Batin Mikha.
Alvin sudah melajukan mobilnya dengan cepat, hari ini jalanan lumayan macet. Tapi kemacetan pun tidak terasa lagi bagi keduanya saat mereka sedang bersama seakan waktu terasa sangat cepat. Kini keduanya sudah sampai disebuah mall yang paling besar.
Alvin yang sudah memarkirkan mobilnya lalu turun untuk membukakan pintu untuk Sang Istri. Lalu keduanya berjalan bersama saling berpegangan tangan sembari tersenyum dan bercanda. Mikha sudah sangat terbiasa bila orang lain menatap wajah tampan Suaminya, dia hanya bersikap bodoh amat. Toh wanita yang beruntung yang berada disamping Alvin adalah dirinya.
Sesampainya dibioskop Mikha langsung memilih film horror, Alvin sudah sangat terbiasa menemati Mikha menonton film horror. Alvin sudah tidak heran lagi bila melihat Istrinya memilih film horror. Bahkan aneh bila Mikha tidak memilih film horror.
Setelah membeli tiket nonton keduanya keluar sebentar untuk memanjakan matanya, Mikha merengek ingin dibelikan ice cream. Keduanya pun berjalan ketempat ice crema. Mikha merasa sangat senang bila sudah memakan ice cream.
Lalu keduanya tanpa disengaja melewati toko boneka, Mikha meminta agar dirinya dengan Alvin masuk kedalam sana. Awalnya tentu saja Alvin menolaknya dengan tegas. Lalu Mikha cemberut, dengan sangat terpaksa Alvin menuruti keinginan sang Istri.
Mikha entah mengapa menjadi menyukai boneka - boneka lucu. dia membeli beberapa boneka dan Alvin hanya membiarkannya saja. Selesai belanja boneka, perut keduanya sudah terasa kelaparan. Alvin dan Mikha memutuskan untuk makan.
Keduanya memilih tempat makan yang tidak terlalu ramai agar pesanannya tidak begitu lama. Keduanya makan sambil sesekali bercanda. Ketika selesai melahap habis makanannya keduanya masuk kembali kedalam bioskop.
Didalam bioskop Mikha terus saja memeluk erat lengan kekar Alvin sambil menyenderkan kepalanya disana, Alvin tentu saja sangat menyukai bila Istrinya sudah bersikap manja seperti ini. Alvin hanya merasa heran saja dengan perubahan sikap Mikha yang mendadak manja dan selalu ingin diperhatikan seperti ini. Padahalnya sebelumnya Mikha terkesan gengsi dan cuek untuk menunjukkannya. Hanya saja ini keuntungan tersendiri untuk Alvin. Dia tidak ingin menanyakan tentang perubahan sikap dari Mikha.
Setelah selesai menonton film, keduanya memutuskan untuk kembali kerumah. Hari yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan untuk keduanya. Mikha sangat menyukai berkencan dengan Suaminya.
Mikha turun dengan membawa boneka - boneka yang dia beli tadi lalu berjalan duluan meninggalkan Alvin yang masih berada didalam mobil. Alvin hanya geleng - geleng kepala saja melihat Mikha lebih mementingkan bonekanya ketimbang menunggu Suaminya sendiri.
Mikha meletakkan bonekanya diruang santai, dia menyusun boneka diatas sofa lalu memandanginya dengan perasaan yang sangat senang.
__ADS_1
"Sayang kamu tega banget sih!"
Ketika mendengarkan suara dari Suaminya Mikha segera menoleh ke sumber suara. "Tega kenapa sih Vin?" Tanya Mikha sambil menggerlitkan alisnya sebelah.
"Iya kamu lebih mementingkan boneka itu ketimbang Suami kamu sendiri. Aku jadi iri dengan boneka - boneka yang kamu beli itu!" Ketus Alvin sambil cemberut.
Mikha berusaha untuk menahan tawanya, Mikha berjalan menghampiri Suaminya, "Masa kamu cemburu dengan boneka si Vin?" Ucap Mikha sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Alvin.
"Ayo dong senyum jangan cemberut seperti ini...aku minta maaf ya sayang!" Ujar Mikha dengan manja.
"Aku akan memaafkan kamu bila kamu..." Alvin menunjuk pipinya dengan menggunakan jarinya telunjuknya. Tentu saja Mikha sudah mengerti dengan maksud Alvin.
"CUP!" Tanpa menunggu lama Mikha sudah mencium pipi Suaminya.
"Jadi sekarang sudah tidak marah lagi kan sayang?" Ujar Mikha.
Alvin mengangguk lalu secara mendadak mengendong Mikha, "Mana mungkin aku bisa marah dengan kamu sayang!" Ucap Alvin dengan senyuman menyeringainya.
Alvin membawa Mikha masuk kedalam kamar mereka. Mikha sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukan oleh Suaminya itu. Dia hanya bisa menikmatinya saja. Keduanya secara bergantian terus saja saling menggoda satu sama lainnya.
Mikha terus saja menantang Alvin untuk menyerangnya, Alvin yang merasa tertantang tentu saja menerimanya. Malam yang dingin ini sebagai saksi kemesraan keduanya. Alvin lagi - lagi berhasil membuat Mikha tidak berdaya. Tenaga yang dimiliki Alvin tidak bisa untuk diragukan lagi.
Keesokan harinya....
Mikha yang sudah terbangun duluan karena mendengarkan suara alarm yang sengaja dia buat sudah berbunyi, Mikha meraba untuk mematikan alarmnya. Dia menatap Alvin yang masih sangat terlelap. Mikha tersenyum lalu mencium pipi Suaminya.
Mikha beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi. Pagi ini dia berencana untuk melakukan test. Sebenarnya Mikha masih takut untuk melakukannya. Hanya saja rasa penasarannya semakin besar, walaupun dia juga harus mempersiapkan diri dan hatinya untuk menerima hasilnya nanti bila ternyata dirinya belum hamil juga.
Kemarin ternyata sebelum pulang Mikha minta berhenti di apotek dengan alasan ingin membeli vitamin. Alvin yang tidak menaruh curiga sama sekali hanya memarkirkan mobilnya saja tanpa ikut turun. Dengan cepat Mikha menyelipkan beberapa tespack kedalam belanjaannya.
Mikha berharap semoga hasilnya kali ini positif. Dia benar - benar ingin hamil. Kini Mikha sudah merasa gelisah sambil mondar mandir didalam kamar mandi dia sedang menanti hasil test nya. Dia belum berani untuk melihat hasilnya. 'Apapun itu aku harus bisa menerimanya...' Batin Mikha lalu menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Mikha memberanikan dirinya untuk membuka matanya untuk segera melihat hasilnya. Kini Mikha sudah melihat testpack nya, matanya mulai berkaca - kaca. 'Aku hamil!' Batinnya.
Mikha menangis haru sambil menutup mulutnya tidak percaya bahwa dirinya kini telah mengandung. Dia masih berpikir kalau testpacknya ini bermasalah. Mikha memutuskan untuk mencobanya lagi dengan testpack yang lainnya. ternyata hasilnya tetap sama. Mikha benar - benar sedang mengandung.
Dia merasa sangat bahagia, dia sudah lama memimpikan kalau didalam perutnya ada janin.
'Aku harus periksa ke Dokter dulu sebelum memberitahukan hasil akuratnya dengan Alvin.' Batin Mikha.
"Sayang makasih ya kamu sudah ada didalam sana..." Ujar Mikha sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Harinya terlihat Mikha sangat ceria tidak seperti biasanya. Alvin bahkan tidak curiga sama sekali dengan sikap Istrinya. Pagi ini setelah mengantarkan Mikha ke kantornya dan menyaksikan kalau Mikha sudah berjalan masuk kedalam kantor. Alvin segera pergi darisana.
Mikha langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Dokter Alan, kebetulan Mikha menyimpan nomor Dokter Alan hanya untuk berjaga -jaga saja. Dia langsung meminta bertemu dijam Istirahat dirumah sakit. Tentu saja Dokter Alan menyetujuinya.
Mikha semakin tidak sabaran untuk segera bertemu dengan Dokter Alan untuk melakukan pemeriksaan. Mikha terus saja menatap jam yang berada diruangannya dengan sangat resah dan gelisah. Dia merasa jam di ruangannya bergerak terlalu lama.
Mikha mulai menyibukkan dirinya untuk melakukan pekerjaannya kembali. Lalu tanpa terasa ketika dia melihat jam, jam sudah menujukkan pukul setengah 12. Itu artinya dia sudah Istirahat. Dengan cepat Mikha segera berjalan menuju lift. Dia mempercepat langkahnya, Mikha sudah memesan taksi online. Dia sempat menunggu beberapa saat lalu taksinya sudah tiba disana. Mikha langsung naik.
'Semoga saja hasil test nya itu benar dan aku benar - benar hamil!' Batin Mikha penuh harap.
*******
Hmm...gimana nih? Duh gimana ya reaksi Mikha dengan hasilnya nanti...akankah dia akan percaya kalau diri tengah berbadan dua? Hmm.. gimana ya reaksi Alvin ketika mengetahui kalau Istrinya sedang mengandung?
Penasaran?
Happy reading guys!
__ADS_1