
Pagi ini Ara sudah bangun lebih awal dari Suaminya, sebenarnya dia ingin mengajak Sang Suami untuk ikut serta juga berjalan - jalan santai dihalaman rumah orangtuanya yang sangat dirindukannya. Akan tetapi karena Al tidurnya sangat pulas, Ara menjadi tidak tega untuk membangunkannya.
Ya ketepatan hari ini adalah hari minggu jadinya dia ingin membiarkan Al untuk lebih santai lagi, Ara saat ini sedang berjemur diteriknya matahari pagi. "Sayangnya Mama kok pagi ini udah nendang" aja sih? Kamu lagi main ya sayang? Kamu pasti sangat senang ya karena Mama ajak kamu berjemur." Ara terus mengajak Anak didalam kandungannya.
"Oh jadi gitu ya ninggalin aku sendirian? Kok kamu gak bangunin aku sih sayang?" Ujar Al sambil berjalan mendeati Istrinya.
Seketika Ara langsung menoleh kearah suara yang sangat dikenalinya itu, "Aku gak tega buat bangunin kamu sayang! Habisnya baru kali ini aku melihat kamu bisa tidur sepulas itu." Ujar Ara.
"Iya tetap aja aku merasa diabaikan sama kamu....sekarang kamu lebih perduli dan perhatian dengan Anak kita." Ujar Al dengan wajah cemburut.
Ara hanya cengengesan gak jelas saja melihat suaminya sendiri malah cemburu dengan Anak mereka. "Sayang aku tidak pernah bermaksud untuk mengabaikan kamu. Stop berpikir seperti itu." Ujar Ara sambil mencubit gemas kedua pipi Al.
"Awww....bukannya disayang malah dicubit sama kamu!" Ujar Al sambil memegangi pipinya yang kini sudah memerah.
"Itu tanda sayang aku sama kamu sayang!" Balas Ara sambil tertawa geli.
"Sayang....Mama kamu sekarang sudah tidak perhatian lagi sama Papa! Hmm...nanti kamu setelah lahir harus lebih sayang sama Papa ya daripada Mama." Ujar Al sambil mengadu dan mengelus perut buncitnya Ara.
"Jangan dengerin Papa kamu ya sayang!" Balas Ara tidak mau kalah.
"Pokoknya kamu harus lebih perhatian lagi sama Papa ya sayang...jangan seperti Mama kamu yang tidak memperhatikan Papa lagi."
"Lho kok kamu jadi curhat sih sayang? Oh iya, ngomong - ngomong gimana ya kabar Alvin dan Mikha dirumah?" Tanya Ara yang mulai penasaran dengan apa yang telah terjadi dirumah mereka.
"Iya kamu benar sayang...aku juga pengen tau kabar mereka? Apa mereka berdua sudah berbaikan apa belum ya?" Balas Al lalu kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Alvin.
"Kamu mau ngapain? Jangan ganggu mereka dulu lah sayang....Hmmm...kalau menurut aku mereka berdua itu sudah baikan deh, buktinya sekarang mereka berdua tidak memberikan kabar sama kita. Kalau menurut kamu gimana?" Ujar Ara sambil menahan ponsel suaminya.
"Hmmm...seperti kamu ada benarnya juga sayang. Mendingan kita tidak usah untuk menganggu keduanya ya kan?" Balas Al.
"Iya sayang...ya udah masuk yuk! Diluar sudah semakin panas nih lagian perut aku sudah merasa lapar nih sayang." Rengek Ara dengan manja sambil merangkul mesra Suaminya.
"Baiklah sayang...." Balas Al.
Keduanya berjalan masuk kedalam rumah sambil sesekali saling melemparkan godaan satu sama lainnya.
Mama dan Papa Ara yang saat ini sedang menyaksikan pemandangan dihadapannya saat ini merasa sangat senang, "Hmm...mesranya pagi - pagi begini." Goda Mamanya Ara.
Al dan Ara saling melemparkan senyuman satu sama lainnya, "Ih Mama...jangan begitu dong." Balas Ara yang kini merasa sangat malu.
"Lho kenapa sayang? Gapapa lagi...Mama senang melihat kamu dan Al selalu mesra begini, bukannya begitu ya kan Pa?" Mamanya Ara menyenggol lengan Papanya yang saat ini sedang menikmati sarapannya.
"Iya Mama kamu benar sayang! Papa jadi ingat ketika Mama kamu sedang hamil kamu seperti kamu ini. Persis banget, manjaaaa banget sama Papa! Nah sekarang sudah tidak lagi sayang." Balas Papanya.
"Ih Papa apaan sih! Kok jadi curhat begitu sih sama Ara." Balas Mamanya.
Al dan Ara hanya saling melemparkan pandangan satu sama lain sembari tersenyum geli melihat Papa dan Mama mereka seperti itu.
"Lho Ma, Papa kan mengatakan yang sebenarnya sih. Semoga kamu nanti tidak kecewa seperti Papa begini ya Al. Semoga Ara tidak seperti Mamanya." Balas Papanya lagi.
"Udah dong Pa stop, Papa pasti sengaja banget ya buat Mama malu seperti ini dihadapan Anak dan menantu kita?" Balas Mamanya dengan wajah cemberutnya.
"Iya Pa...kasihan tuh Mama...mendingan kita lanjut sarapan dulu ya!" Ujar Ara lagi untuk menyudahi obrolan Papa dan Mamanya.
"Iya kamu benar Ra...Al jangan sungkan ya, makan yang banyak ya!" Balas Papanya Ara sembari melanjutkan sarapannya lagi.
Al hanya tersenyum lalu mengangguk saja tanpa mengatakan apapun juga.
******
Ditempat lain, Mikha yang baru terbangun dari tidurnya dengan masih berpelukan dengan Suaminya, 'Aku kira tadi malam itu cuma mimpi saja Vin...ternyata kamu memang ada disamping aku saat ini.' Batin Mikha sambil membelai wajah tampan Alvin yang saat ini sedang tertidur.
Mikha masih belum percaya kalau kini dirinya dan Alvin sudah berbaikan lagi, dia berharap itu adalah pertengkaran yang tidak akan pernah mereka alami lagi. Apalagi keduanya masih merupakan pasangan baru yang masih hangat - hangatnya, tapi Tuhan sudah memberikan masalah besar yang harus keduanya hadapi.
Tapi dibalik cobaan dan masalah itu sendiri pasti ada pelajaran berharga untuk keduanya, terbukti sekarang hubungan keduanya malah semakin erat, cintanya semakin dalam satu sama lain.
"Mau sampai kapan kamu terus memandangi wajah aku sayang? Apa kamu masih belum puas?" Balas Alvin dengan mata yang masih terpejam.
Mikha langsung menarik tangannya lalu berusaha untuk menjauh dari Suaminya itu, akan tetapi usahanya sia - sia karena saat ini tangannya telah ditahan oleh Alvin.
"Vin...apaan sih sakit tau...." Rengek Mikha.
Alvin sudah membuka kedua matanya, "Kenapa kamu malah berhenti untuk menggoda aku sayang?" Balas Alvin dengan nakalnya sampai membuat wajah Mikha sudah merona karena malu.
"Aku gak ngerti apa yang kamu bicarakan? Menggoda? Aku tidak melakukannya." Ujar Mikha masih tidak ingin mengakuinya.
"Oh iya? Kalau begitu biar aku sekarang yang menggoda Istriku yang sangat menggemaskan ini." Balas Alvin.
Wajah Mikha semakin memanas saja karena ucapan Alvin barusan.
"Apaan sih Vin....stop dong! Aku ingin bangun sekarang." Rengek Mikha lagi dengan wajah yang dibuat imut.
"Ini hari minggu sayang....lagian kita hanya berdua saja dirumah, kenapa kamu ingin buru - buru sekali untuk bangun? Aku masih ingin bermesra - msraan sama kamu." Balas Alvin dengan suara menggodanya.
"Ini udah pagi Alvin...berhenti menggoda aku dong. Lepasin aku ya sayang?" Mikha masih berusaha untuk membujuk Suaminya agar melepaskan dirinya.
"Kalau aku gak mau?" Ujar Alvin.
'Hmm...aku harus mencari cara agar Alvin melepaskan aku.' Pikir Mikha.
Setelah memikirkan beberapa saat akhirnya Mikha menemukan sebuah ide bagus untuk dirinya,
"CUP!"
Mikha mencium bibir Suaminya sekilas sontak membuat Alvin terkejut karena ulah spontan dari Sang Istri, Alvin masih belum bisa berpikir dengan jernih. Mikha langsung mengambil kesempatan untuk bisa terlepas dari Suaminya itu.
Kini Mikha sudah berhasil kabur, Mikha masuk kedalam kamar mandi dengan sangat cepat.
"MIKHA! WAH...SAYANG KAMU MULAI NAKAL YA!" Alvin berteriak dengan sangat kuat agar terdengar oleh Sang Istri. Sedangkan Mikha yang kini sudah berada didalam kamar mandi hanya tertawa puas saja.
"Lihat saja ntar akan aku balas kamu!" Alvin sudah bertekat kuat untuk melancarkan aksinya untuk membalas Sang Istrinya.
Benar saja kini Alvin sudah berdiri didepan kamar mandi untuk menunggu Mikha keluar, begitu membuka pintu kamar mandinya Mikha dikagetkan dengan penampilan Alvin dihadapannya yang hanya menggunakan boxer saja tanpa mengenakan pakaian atasnya sama sekali.
"Astaga sayang...kamu tuh ya ngagetin aku aja tau." Balas Mikha sambil memegangi dadanya.
Alvin kini sudah tersenyum menyeringai penuh maksud menatap Sang Istri dengan sangat nakalnya.
"Kamu mau masuk? Ya udah silahkan." Ujar Mikha lalu menggeser dan berjalan menuju ruang gantinya.
Alvin sudah tidak tahan lagi melihat Sang Istri yang menurutnya sedang menguji kesabarannya dengan hanya menggunakan handuk piyamanya saja bisa membangkitkan gairah Alvin kembali. Alvin menyusul Mikha lalu segera mengendong tubuh Mikha sampai MIkha hanya bisa membelalakkan kedua matanya karena terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sang Suami.
"Alvin...apa yang kamu lakukan?" Ujar Mikha sambil memukul dada polos Suaminya.
"Kamu harus bertanggung jawab sayang karena terus menggoda dan menguji kesabaranku." Balas Alvin lalu berjalan tanpa memperdulikan pukulan, remasan yang dilakukan oleh Mikha.
Kini Alvin sudah meletakkan Mikha diatas ranjang, "Vin jangan macam - macan deh....aku baru selesai mandi lho." Mikha berusaha untuk mengingatkan suaminya, pasalnya yang dilakukan oleh Alvin saja tadi malam masih terasa sangat perih dibagian kewanitaan miliknya, kini Alvin sepertinya ingin melakukannya lagi.
__ADS_1
"Emangnya kamu pikir aku lagi mau melakukan apa sayang?" Bisik Alvin sontak membuat Mikha kesusahan untuk menelan salivanya sendiri.
Secara perlahan Alvin mulai menciumi leher Mikha lalu secara perlahan mulai membuka handuk yang dikenakan oleh Sang Istri. Mikha sempat menahan Alvin, akan tetapi dirinya tidak bisa menolak pesona dari Suaminya sendiri yang kini sudah menatapnya dengan intens.
"Aku mau lagi." Balas Alvin.
Mikha sudah tidak bisa mengatakan apapun juga, karena menolaknya pun percuma. Pasti Alvin juga akan tetap melakukannya bahkan tanpa persetujuan dari Istrinya itu. Kini Mikha hanya memasrakan dirinya saja untuk suaminya yang sepertinya tidak pernah puas dengan tubuhnya.
Stamina Alvin memang sangat luar biasanya, dalam waktu seketika saja Mikha sudah merasakan lelah yang sangat akibat perbuatan Alvin.
"Sayang...berhenti aku sudah lelah." Ucap Mikha dengan nafasnya yang sudah terengah - engah.
Alvin yang melihat Istrinya sudah sangat lelah akhirnya menyudahinya dengan memberikan kecupan dikening Mikha. Lalu Alvin menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Mikha. Keduanya saling mengatur nafas masing - masing.
"Gimana kalau setelah ini kita mandi bersama sayang?" Alvin mengajak Mikha untuk mandi bersama.
Dengan kuat Mikha langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak! Mendingan kamu mandi duluan sana." Tolak Mikha dengan spontan. Mikha mengetahui apa yang ada didalam pikiran mesum suaminya itu. Mikha benar - benar tidak ingin melakukannya lagi didalam kamar mandi, karena Mikha tau pasti ucapan Alvin tidak bisa dipercaya sama sekali.
"Oke baiklah..." Ujar Alvin akhirnya.
Setelah Alvin masuk kedalam kamar mandi, Mikha mulai mengenakan handuknya kembali. "Dasar mesum! Padahalkan aku baru selesai mandi tadi, pasti Alvin sengaja deh biar aku mandi lagi." Gerutu Mikha dengan kesal.
Setelah keduanya sudah selesai mandi, keduanya turun kebawah untuk sarapan, tapi lebih tepatnya lagi makan siang sih bukan sarapan karena keduanya baru saja turun ketika jam sudah menunjukkan pukul 11. Alvin terus bersikap manja kepada Mikha, dirinya seperti Anak kecil yang selalu ingin di perhatikan.
"Sayang...suapin aku." Rengek Alvin.
"Sayang ayolah...kamu makan sendiri saja ya." Balas Mikha.
"Tidak sayang, ya udah kalau kamu tidak mau menyuapi aku mendingan aku tidak usah makan saja." Balas Alvin sambil melipat kedua tangannya.
Mikha menghela nafasnya dengan kasar, "Oke baiklah! Tapi kamu jangan protes ya!" Ujar Mikha lalu mengambilkan makanan untuk Suaminya itu.
Mikha menyuapi Suaminya dengan sesendok penuh sampai - sampai Alvin merasa sangat sulit sekali untuk menelannya.
"Sayang yang iklas dong..." Balas Alvin.
"Iya...iya! Bawel banget sih kamu..." Mikha masih bersabar untuk menghadapi tingkah Suaminya itu.
"Udah ya karena kamu sudah selesai makan, jangan ganggu aku makan ya Vin." Balas Mikha lalu mengambil makanannya kembali dipiring.
"Sayang..." Panggil Alvin.
"Hmmm..."
"Kamu tidak ada rencana untuk berhenti bekerja saja?" Tanya Alvin.
Mikha langsung menghentikan kegiatannya seketika juga, "Maksud kamu apa?" Jawab Mikha sambil menatap Alvin dengan tatapan tajamnya.
"Gak ada...aku merasa tidak suka melihat Bos kamu itu, aku rasa dia menyukai kamu deh! Aku tidak suka cara dia menatap kamu." Balas Alvin dengan jujur.
"Vin...ayolah, kamu itu terlalu banyak berpikir. Pak Alex tau kok kalau aku sudah menikah, mana mungkinlah dia menyukai wanita seperti aku?" Balas Mikha yang menanggapinya dengan cuek.
"Hmmm...begitu ya...iya mungkin karena aku cemburu saja kali ya." Balas Avlin.
"Oh jadi kamu mengakui kalau kamu sedang cemburu ya sayang?" Balas Mikha dengan wajah yang kesenangan.
"Iya...banget malah! Aku tidak suka kalau ada pria lain yang menatap kamu seperti itu sambil tersenyum lagi, duh aku benar - benar tidak menyukainya. Oh iya kalung yang aku berikan sama kamu itu pokoknya harus selalu kamu pakai ya!" Alvin menekankan setiap ucapannya.
Mikha tertawa geli melihat tingkah Alvin, "Iya sayang!" Balas Mikha.
"Gak kok...habisnya kamu gemesin tau sayang kalau sedang cemburu seperti ini?" Balas Mikha lalu melahap makanannya.
"Uh dasar! Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan...gak usah mengalihkan perhatian deh sayang." Balas Alvin yang bisa menebak apa yang sedang Mikha pikirkan saat ini.
Mikha hanya tertawa saja mendengarkan ucapan Alvin barusan, "Selesai makan, kita video call Kak Al dan Kak Ara ya Vin!" Pinta Mikha.
"Baiklah sayang!" Balas Alvin.
Sehabis makan, kini Alvin dan Mikha yang sudah berada dibalkon lantai 2 akhirnya memutuskan untuk menghubungi Kakak mereka.
Mikha sudah menyambungkan panggilannya kepada Ara saat ini, tidak membutuhkan waktu lama lagi Ara sudah menjawab panggilan video dari Mikha.
"Kak Ara! Mikha kangen..."
"Hai sayang....gimana disana? Kamu dan Alvin sudah baikan kan?"
"Hai Kakak iparku tersayang!"
Seperti bisa melihat dan menebak apa yang sedang terjadi Ara hanya tersenyum bahagia saja melihat kebahagiaan yang sudah terpancar dari wajah Adiknya.
"Wah...wah...sepertinya ada yang sudah baikan nih?"
"Heheh, iya Kak! Ini semua juga berkat Kak Ara, thanks ya atas sarannya kemarin. Hmmm...tau begitu kenapa Kak Ara dan Kak Al tidak pergi dari kemarin - kemarin saja?"
"Iya sama - samaa! Kakak juga ikut bahagia melihat kebahagiaan kalian berdua. kamu benar juga ya Vin?"
"Alvin kamu apaan sih!" Ujar Mikha sambil menjewer kesal Suaminya itu.
"Awww...sakit sayang! begini nih Kak, Mikha selalu saja menyiksa Alvin."
"Itu karena kamu memang pantas mendapatkannya."
"Hei...hei...jadi kalian menghubungi Kakak hanya untuk meyaksikan keributan kalian berdua? Mendingan Kakak matikan saja deh."
"Tuh kan Vin karena kamu nih!"
"Jangan dong kakak iparku! Oh iya gimana disana? Kak Al mana Kak?"
"Hmmm...iya menyenangkan, Kakak memang sangat merindukan Papa dan Mama Kakak ya jadinya happy lah. Al lagi mandi, ntar Kakak sampaikan deh kalau kalian berdua menghubungi. Kalian berdua baik - baik saja ya jangan ribut mulu..."
"Iya Kak! Bagus deh kalau Kak Ara happy. Iya titip salam untuk Kakak Al ya Kak, Kak Ara juga baik - baik saja disana ya! Udah dulu ya Kak...cepat pulang ya Kak."
"Iya sayang...nikmati ya waktu kalian selama lagi berduaan seperti ini. Kakak tunggu kabar baiknya ya Vin...Mik. Byeee!" Ujar Ara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ya ikut senang deh kalau Kak Ara senang juga ya Vin...! Vin aku ingin keluar..." Rengek Mikha dengan manja.
"Mau kemana sih Mik? Enakan juga dirumah aja buat anak." Balas Alvin.
"Ih apaan sih kamu! Ini kan weekend lagian kamu gak pernah ngajak aku keluar gitu...ayolah Vin." Mikha masih berusaha keras untuk mengajak Suaminya keluar.
"Kamu mau kemana sih Mik?" Tanya Alvin akhirnya.
"Aku mau jalan - jala ke mall, makan, karaoke, nonton dan lainnya deh. Lagian kan kita belum pernah kencan seperti itu." Rengek Mikha lagi.
"Oke baiklah tapi dengan satu syarat,." Ujar Alvin sambil menunjuk bibirnya.
Mikha yang mengerti langsung saja mencium bibir suaminya sekilas, "Udah! Kalau begitu aku siap - siap sekanrag ya!" Ujar Mikha lalu berlalu begitu saja meninggalkan Suaminya yang hanya tersenyum bahagia melihat Mikha.
__ADS_1
"Gemes banget sih kamu Mikha!" Ucap Alvin sambil mengelengkan kepalanya.
******
Setelah mengetahui kalau Clara kabur lagi darinya, Alan kembali tidak bersemangat lagi untuk menjalani hari - harinya. Terbukti dalam satu harian ini Alan selalu saja termenung padahal dirinya sedang merawat Mamanya. Mamanya juga bisa melihat sendiri apa yang sedang menganggu Anaknya itu.
"Lan..." Panggil Mamanya.
"Ya Ma...Mama lagi butuh apa?" Ujarnya dengan cepat.
Mamanya mengeleng pelan, "Kamu kenapa? Sepertinya ada yang sedang menganggu kamu?" Tanya Mamanya yang merasa sangat penasaran.
"Gak ada kok Ma! Oh iya, Alan taruh makanan Mama dulu ya kebelakang." Alan berusaha untuk mengalihkan perhatian Mamanya.
Dengan cepat Mama Alan langsung saja menahan tangan Anaknya, "Mama tidak bodoh Lan...katakan apa yang sedang terjadi?" Balas Mamanya lagi sambil menatap wajah sedih Anaknya itu.
Alan masih terdiam tanpa mengatakan apapun juga.
"Lan..." Panggil Mamanya lagi.
'Gimana aku bilangnya sama Mama kalau ini tentang Clara? Aku tidak ingin Mama kenapa - kenapa...apalagi Mama masih belum sembuh sepenuhnya.' Batin Alan.
"Beneran gapapa kok Ma. Ya udah Alan kebelakang sebentar ya." Ujar Alan lagi lalu berjalan cepat menuju dapur.
Didalam kamar Mamanya Alan bisa merasakan kalau Anaknya itu sedang tidak jujur kepadanya. 'Aku bisa merasakan Alan sedang memikirkan sesuatu....apa itu berkaitan dengan wanita itu?' Batin Mamanya yang merasa sedih melihat Anaknya yang tidak bahagia sama sekali.
Ketika Alan masih terbegong, tiba - tiba saja ponselnya berdering dengan sangat mengejutkannya, Alan langsung saja menjawabnya, "Halo.."
"Gimana kamu sudah menemukannya?"
"Masih belum? Saya tidak mau tau kamu harus cepat memberikan saya kabar baik!"
"Jangan menghubungi saya kalau kamu belum mendapatkan kabar dan tau dimana keberadaan Clara! Kamu mengerti!"
Setelah itu Alan langsung segera mengakhiri panggilannya begitu saja. "Kerja begitu saja tidak becus!" Gerutu Alan dengan kesalnya.
'Dimana sih kamu Cla? Kenapa sih kamu kabur lagi?' Batin Alan yang sangat mengkhawatirkan keadaan Clara.
Kemudian Alan berjalan kembali untuk menghampiri Mamanya, Alan memberikan obat untuk Mamanya, "Mama istirahat ya!" Ujar Alan.
"Lan...bisa kita bericara sebentar?" Pinta Mamanya.
Alan yang tadinya berencana akan langsung keluar, akhirnya duduk didekat Mamanya, "Ya Ma...ada apa?" Tanya Alan sambil memegang tangan Mamanya.
"Kamu kenapa Lan? Mama perhatikan kamu murung sekali?" Ujar Mamanya sambil menatap Alan dengan serius.
"Emangnya Alan kenapa Ma? Alan benar - benar tidak apa - apa kok Ma. Mungkin Alan kepikiran pasien Alan aja Ma gimana ya selama Alan tidak datang selama beberapa hari ini." Alan berusaha untuk terlihat tenang.
"Bohong! Kamu bohong sama Mama Lan....Mama itu adalah orang yang paling mengenal kamu! Mama tau setiap kali kamu berbohong kamu tidak akan berani untuk menatap Mama." Tegas Mamanya.
"Ketauan banget ya Ma?" Ujar Alan sambil cengengesan gak jelas.
"Jangan bilang sama Mama kalau kamu sedang mikirin dia?" Tebak Mamanya.
"Bohong kalau Alan bilang tidak Ma, Alan memang sedang mikirin Clara saat ini." Ujar Alan dengan jujur dengan wajah sedihnya.
"Kenapa sih kamu itu Lan susah sekali untuk melupakan wanita itu? Mama bisa lho ngenalin kamu sama Anaknya teman -teman Mama yang jauh lebih cantik, pintar dan sukses. Please Lan buka lembaran baru. Lupakan dia!" Tegas Mamanya lagi.
"Maaf Ma...Andai saja Alan bisa melakukannya. Alan benar - benar tidak bisa untuk melupakan Clara Ma! Alan ingin Papa dan Mama merestui Alan dengan Clara....Alan ingin menikahi Clara Ma." Akhirnya Alan dapat mengatakan perasaannya yang sejujurnya kepada Mamanya. Sedangkan Mamanya Alan yang mendengarkannya bagaikan disambar petir.
"APA! Kamu gak serius kan Lan?" Tanya Mamanya lagi.
"Alan serius Ma! Alan tidak pernah bercanda tentang hal ini. Alan benar - benar ingin menikahi Clara Ma." Tegas Alan dengan penuh penekanan.
"Tapi kenapa harus dia Lan? Mama masih tidak mengerti dengan kamu....kenapa dari sekian banyaknya wanita di dunia ini kamu malah memilih bersama dengan dia?" Ujar Mamanya lagi dengan tidak percaya.
"Karena hanya Clara yang bisa membuat Alan merasakan cinta Ma! Alan serius kalau Alan sangat mencintai Clara melebihi dari segalanya. Alan tau kalau Mama tidak menyukai Clara, tapi Alan akan berusaha untuk membuat Papa dan Mama untuk menyukai Clara. Dia itu wanita baik Ma, bahkan sangat baik. Kalau saja Papa dan Mama berkenan untuk lebih dekat lagi dengan Clara.....Alan yakin Papa dan Mama akan setuju dengan apa yang Alan katakan." Balas Alan yang terus menerus memuji Clara dihadapan orangtuanya.
Mamanya menghela nafas dengan kasar, "Mama tidak tau lagi mau berkata apa sama kamu.....apapun yang Mama bilang pasti ujung - ujungnya kamu akan terus membela wanita itu." Balas Mamanya sambil melepaskan tangan Alan.
"Ma please...kali ini aja Alan mohon sama Mama berikan Alan dan Clara kesempatan untuk bersama - sama ya?" Alan kembali menggenggam jemari Mamanya dengan wajah memohon.
"Kamu benar - benar sudah dibutakan dengan cinta wanita itu Lan! Apapun yang akan Mama sampaikan akan terasa percuma. Jangan - jangan kamu sudah diguna - gunain sama dia!" Balas Mamanya.
Alan malah membelalakkan kedua matanya, Alan tidak percaya Mamanya akan mengatakan hal itu, "Ma cukup! Clara bukan wanita yang seperti itu!" Ujar Alan dengan kesalnya.
"Kamu....kamu tega membentak Mama demi dia? Sebaiknya kamu keluar dari kamar Mama sekarang juga!" Ujar Mamanya yang merasa sedih karena Alan lebih membela dan mementingkan wanita itu ketimbang Mamanya sendiri.
"Ma...Alan tidak bermaksud seperti itu." Balas Alan.
"Mama bilang keluar Lan!" Teriak Mamanya dengan histeris.
"Baiklah Ma..." Ujar Alan dengan lemah lalu berjalan keluar dari kamar Mamanya.
Alan berjalan menuju kamarnya, sesampainya dia disana Alan langsung membaringkan tubuhnya yang terasa lelah dengan apa yang terjadi kepadanya. 'Kenapa sih Mama dan Papa tidak pernah bisa menerima Clara? Bantu aku Tuhan! Aku benar - benar sudah tidak kuat lagi untuk menghadapi masalah ini. Clara kamu dimana sih? Aku mohon bantu aku untuk meyakinkan Papa dan Mama....aku ingin berjuang bersama dengan kamu.' Batin Alan sambil menghela nafas dengan kasar.
*******
Sementara itu ditempat lain, Clara yang saat ini sedang minum langsung tersedak. Membuat dirinya tidak mengerti.
"UHUK UHUK!"
Lagi - lagi Clara mengalami hal ini, dia selalu merasa ada orang - orang yang sedang membicarakan dirinya. Dia ingin sekali pergi dari kota ini akan tetapi dia tau kalau hal itu tidak akan mudah, pasti akan banyak sekali mata - mata disekitarnya.
Clara memutuskan untuk bersembunyi dirumah temannya untuk sementara waktu sampai dirinya bisa kabur dari kota ini. Clara sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Alan, Tia dan Alvin. Clara tau pasti kalau mereka semua menginginkan penjelasan dari Clara saat ini.
"Pelan - pelan dong Cla...." Ujar Wina sambil menepuk - nepuk punggungnya Clara.
"Iya Win...thanks ya!" Balas Clara.
"Kalau gue boleh tau kenapa sih lo kabur dari Alan? Bukannya dia pria yang baik? Dia pasti maulah untuk bertanggung jawab dengan Anak yang ada didalam kandungan lo ini?" Tanya Wina dengan penasaran.
"Lo gak akan ngerti Win...masalahnya tidak sesederhana itu." Balas Clara dengan wajah sedih.
"Okr gue gak akan maksa lo untuk cerita sama gue sekarang! Gue harap ini keputusan yang terbaik untuk lo ya....jangan pernah menyesal bila suatu saat nanti lo bertemu lagi sama Alan dan Alan ternyata sudah memiliki pasangan lain." Ujar Wina yang sebenarnya tidak tega melihat kesedihan temannya ini.
"Gue gak akan menyesal kok, malahan gue akan merasa bahagia untuk Alan juga." Balas Clara sambil tersenyum pedih.
Wina hanya dapat mengeleng - gelengkan kepalanya saja, 'Pahit banget hidup lo Cla, padahal lo cantik dan baik. Semoga suatu saat nanti lo bisa merasakan bahagia.' Batin Wina.
******
**Menurut kalian apakah Alan akan kembali lagi bersama dengan Clara? **
Hmmm...gimana ya keseruan kencan Alvin dan Mikha?
Happy reading guys!
__ADS_1