SECRET LOVE

SECRET LOVE
SL 193


__ADS_3

"Pagi Oma..." Ucap Alex sambil mencium pipi Omanya lalu duduk disebelah Omanya.


"Pagi Cucu kesayangan Oma!" Ujar Omanya.


Lalu kemudian melanjutkan acara sarapannya lagi dengan fokus. Omanya tidak suka bila sedang sarapan malah mengobrol makanya pada saat makan suasana akan berubah menjadi benar - benar hening.


Setelah keduanya sudah selesai sarapan, Omanya sudah memandangi wajah Cucunya sambil terus tersenyum, Alex sangat mengerti bila Omanya sudah bersikap seperti itu pasti ada sesuatu hal yang sedang diinginkan dari Omanya.


"Ada apa Oma? Jalan bilang soal perjodohan lagi ya...please Oma, Alex belum ingin menikah." Ujar Alex.


"Mau sampai kapan? Kamu sudah tau kan lalu umur Oma sudah tidak akan lama lagi? Apa kamu tidak ingin melihat Oma bahagia disisa umur yang Oma punya ini?" Ancaman Omanya selalu saja membuat Alex tak berkutik.


"Sudah Alex bilang juga berulang kali kalau umur Oma akan lebih panjang lagi....Alex mohon Oma kita berhenti membahas tentang masalah ini." Pinta Alex.


"Tidak Lex! Kamu sudah waktunya untuk menikah! Oma ingin melihat kamu bahagia....Ayolah Lex pernikahan tidak seburuk itu! Kenapa kamu berubah sekali sih? Bahkan kamu sudah tidak berkencan lagi." Ujar Omanya yang merasa sangat khawatir dengan Cucu kesayangannya itu.


"Alex hanya tidak ingin saja Oma! Alex belum menemukan seorang wanita yang mampu untuk menggetarkan hati Alex. Berhenti menjodohkan Alex ya?" Ujar Alex sambil mengelus tangan Omanya.


"Oma akan berhenti kalau kamu sudah menemukan pasangan. Kalau kamu terus berkeras seperti ini Oma lebih baik pergi saja dari rumah kamu dan Oma juga tidak akan menganggap kamu sebagai Cucu Oma lagi." Ancam Omanya lalu bangkit dari duduknya.


Dengan cepat Alex langsung menahan tangan Omanya, "Oma...jangan pergi!" Ketus Alex.


"Mendingan Oma pergi saja Lex! Kamu juga sudah tidak perduli lagi dengan Oma! Kamu sudah tidak menyayangi Oma lagi." Ujar Omanya yang kini berakting menangis dihadapan Cucunya. Tentu saja membuat Alex lemah ketika melihat Omanya menangis seperti itu.


Alex langsung memeluk Omanya, "Jangan seperti ini dong Oma! Maafkan Alex ya Oma!" Ucap Alex.


Alex menghela nafasnya dengan berat lalu berkata, "Baiklah Oma...silahkan Oma terus saja menjodohkan Alex, tapi dengan syarat keputusannya ada ditangan Alex sendiri ya? Alex tidak ingin menikah karena merasa terpaksa saja Oma." Ucap Alex akhirnya.


"Beneran Lex? Kamu tidak sedang menipu Oma saja kan?" Ujar Omanya yang masih menangis.


Alex menghapus airmata Omanya, "Tidak Oma! Alex tidak mungkin menipu Oma." Ujar Alex.


"Baiklah Lex...kalau begitu nanti malam kamu punya waktu?" Ujar Omanya dengan sangat bersemangat. Sangat berbeda dengan Omanya yang tadi sedang sedih.


"Kenapa Oma?" Tanya Alex sambil menggerlitkan sebelah alisnya.


"Kamu tinggal menjawabnya saja!"


"Punya Oma."


"Oke baiklah, nanti Oma akan mengirimkan alamatnya tempat kamu dan dia bertemu." Ujar Omanya.


'Apa? Aku tidak habis pikir bahkan Oma sudah mengatur pertemuan ku dengan dia hari ini? Huft, lagi dan lagi selalu saja seperti ini.' Batin Alex.


"Baiklah Oma. Kalau begitu Alex pergi kekantor sekarang ya!" Ujar Alex sambil memeluk lalu mencium pipi Omanya.


"Iya sayang! Jangan lupa ya kencan kamu hari ini!" Teriak Omanya.


Alex hanya melambaikan tangannya saja lalu berjalan terus untuk keluar dari rumahnya. Selama didalam perjalanan Alex terus saja merutuki kebodohannya sendiri.


Dia kembali teringat tentang kepergian Bella beberapa waktu yang lalu, Tidak lama setelah Bella pergi hidup Alex kembali normal lagi dengan Oma dan Adik kesayangannya Daniel. Tapi ternyata kebahagiaannya itu harus sirna begitu saja ketika Daniel meninggal.


Daniel hanya bertahan selama sebulan saja, ternyata setelah menjalani operasi beberapa waktu yang lalu, Daniel tidak bisa bertahan lagi akibat dari kecelakaan yang sangat tragis itu. Ada hal yang terlewatkan oleh Alex, setelah Daniel keluar dari rumah sakit dan berada dirumah, Daniel yang memang sudah tampak sehat tidak pernah mengeluh kesakitan sama sekali ternyata masih memiliki rasa sakit yang luar biasa. Daniel memang tidak pernah menceritakan rasa sakit dikepalanya. Dia berpikir itu hanya pusing sementara saja tapi dia tidak mengetahui kalau itu malah berdampak buruk untuk hidupnya sendiri.


Beberapa waktu kemudian, Daniel malah merasa ada yang aneh dengan rasa sakit yang dia rasakan, dia mulai menuliskan diary. Dia mengeluh semua perasaan sakitnya disana.  Sebulan kemudian, Daniel meninggal tentu saja membuat Alex dan Omanya sangat syok karena mengetahui kalau selama ini Daniel sudah baik - baik saja.


Setelah kepergiaan Daniel hidup Alex berubah total. Dia benar - benar sangat dingin dengan siapapun. Dia bahkan sudah mempunyai semangat hidup lagi. Omanya juga sama terpukulnya dengan Alex, tapi Omanya ingin Alex melanjutkan hidupnya lagi. Berbagai cara telah dilakukan oleh Omanya untuk menjodohkan Alex dengan seorang wanita. Alex yang begitu dingin tidak pernah merespon wanita yang dikenalkan oleh Omanya. Omanya tidak pernah menyerah, Omanya terus saja mencarikan Alex seorang wanita yang cocok dengan Alex.


Alex juga telah membaca isi diary sang Adik, Daniel meluapkan segalanya disana. Termasuk juga dengan perasaan bersalahnya kepada Sang Kakak yang telah merebut kekasih dari Kakaknya sendiri hingga membuat hubungan yang dimilikinya dengan sang Kakak hancur. Kalau saja waktu bisa diulang kembali Daniel pasti tidak akan pernah melakukannya. Dia memang benar - benar sangat menyukai dan mencintai Bella pada waktu itu sampai membuat dirinya tidak berpikiran jernih lagi. Tapi sayangnya waktu sudah tidak bisa mundur kebelakang lagi.

__ADS_1


Didalam diary nya juga Daniel menumpahkan kalau dirinya dia ingin melihat Kakaknya dan Bella kembali bersama lagi kalau memungkinkan. Makanya semenjak sadar Daniel terus saja berkeras untuk bertanya dimana Bella. Dia ingin berbicara dihadapan Kakak dan Bella secara lalngsung. Tapi sampai ajal menjemputnya niatnya itu tidak terlaksana.


Bahkan sampai sekarang Alex tidak mengetahui dimana Bella. Alex benar - benar tidak ingin mencari keberadaan Bella lagi. Rasa sakit yang dialami oleh Alex belum bisa hilang dari dalam hatinya. Bekas luka Alex tidak bisa hilang dengan mudahnya. Dia tidak menyangka kalau Adiknya menuliskan semua itu disana.


Alex kembali tersadar dari semua lamunannya ketika supirnya mengatakan kalau dirinya sudah sampai dikantor. Alex lalu turun dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam dengan sikap dingin tanpa senyuman sama sekali diwajahnya.


Semua karyawannya takut melihat dirinya sekarang, Alex berubah sangat drastis tidak seperti Alex yang pertama kali masuk kedalam kantor ini.


Dia berjalan terus hingga kedalam ruangannya. Sesampainya disana dia langsung duduk dikursi kebesarannya. Kini ponselnya sudah berbunyi, Alex menatap layar diponselnya. Dia melihat kalau Omanya sudah mengirimkan alamat pertemuannya dengan seorang wanita yang harus ditemuinya nanti malam.


Alex menghela nafas dengan kasar lalu meletakkan ponselnya begitu saja. "Aaaarrrgh!" Teriaknya.


Ponselnya berdering Alex mengambilnya lalu  menjawab panggilannya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo!" Ketusnya dengan suara yang tak bersahabat.


"Halo Lex."


Alex kemudian melihat nama si penelepon. 'Oma!'


"Ya Oma....ada apa? Alex sudah melihat alamat yang Oma kirimkan kok. Alex janji kok nanti akan datang kesana." Ucapnya dengan malas.


"Baguslah kalau begitu...Oma kirain kamu belum melihatnya makanya Oma telepon kamu...ya udah selamat bekerja Cucu Oma! Oma tunggu cerita dari kamu nanti ya!"


Setelah itu Omanya langsung mengakhiri panggilan teleponnya begitu saja.


Alex menarik dan membuang nafasnya dengan berat. "Kenapa jadi seperti ini sih?" Gerutunya dengan kesal.


Waktu terasa begitu sangat cepat berlalu, kini Alex sudah harus pergi berkencan sesuai dengan yang sudah diatur oleh Omanya. Alex tidak memiliki semangat sama sekali. Kini Alex hanya sedang memandangi jalanan yang begitu macet saja. Kalau saja dia bisa kabur dia akan senang hati untuk kabur dari kencan seperti ini. Tapi dia tidak mungkin melakukannya karena dia sudah terlanjur berjanji dengan Omanya.


Sesampainya  ditempat tujuan Alex langsung masuk kedalam restoran yang sangat mewah dan yang kesini hanya kalangan kelas atas saja. Dia sudah terbiasa ketempat - tempat seperti ini. Alex membuka ponselnya untuk melihat foto wanita yang akan berkencan dengannya itu. Alex mencari sosok yang terlihat didalam foto itu.


"Disana."


Tanpa sengaja Bella juga melihat Alex, dengan segera Bella langsung mengalihkan padangannya kearah lain. 'Alex! Kenapa bisa dia disini?' Batin Bella.


'Itu memang benar Bella! Tapi siapa pria yang ada dihadapannya itu?' Alex penasaran dengan sosok pria tampan yang ada dihadapan Bella saat ini.


Lalu ketika Alex ingin berjalan untuk menghampiri Bella, seorang wanita memanggil namanya, Alex mengurungkan niatnya dan kini malah berjalan untuk menghampiri wanita itu.


"Maaf, kamu sudah lama menunggu?" Tanya Alex.


"Tidak kok baru saja...oh iya, aku sudah banyak mendengar kamu dari Oma kamu. Ternyata aslinya kamu jauh lebih tampan ya. Btw, kita belum kenalan, aku Citra." Citra mengulurkan tangannya.


"Alex!" Jawab Alex dingin tanpa menerima uluran tangan Citra.


Citra menarik tangannya kembali, "Kamu suka makan apa? Biar aku pesanin." Tanya Citra lagi.


"Tidak perlu...aku kesini bukan untuk berkencan. Jujur aku katakan kamu cantik tapi sayangnya aku sudah memiliki seorang tunangan." Ketus Alex.


"Tidak mungkin! Oma kamu bilang kamu bahkan tidak memiliki seorang kekasih. Aku tidak bisa mempercayai kebohongan kamu ini." Ujar Citra.


"Kamu tidak percaya? Baiklah, bahkan tunanganku sedang berada disini." Alex berjalan menghampiri meja Bella. Bella menutupi wajahnya dengan buku menu. Alex langsung membukanya lalu menarik tangan Bella dengan kasar.


"Permisi apa yang kamu lakukan?" Tegur pria yang saat ini ada dihadapan Bella.


Alex melihatnya lalu kembali menatap tajam Bella, "Dia wanitaku!" Ucap Alex lalu menarik tangan Bella untuk terus mengikutinya.


"Alex...berhenti! Apa yang kamu lakukan! Aku bakan sudah tidak memiliki hubungan apa - apa lagi dengan kamu!" Bella terus saja mengoceh, Alex tidak berhenti sampai keduanya sampai dihadapan Citra.

__ADS_1


"Jadi ini tunangan kamu? Seorang wanita yang bahkan tega berkencan dengan pria lain?" Ketus Citra sambil menatap sinis dan mengejek kepada Bella.


Bella membelalakan matanya, dia benar - benar tidak menyukai wanita yang ada dihadapannya ini.


"Dia hanya sedang kesal kepadaku hari ini...karena aku tidak meluangkan waktu untuknya, ketika mendengar kalau aku akan berkencan dia nekat juga untuk berkencan. Lalu apa urusannya dengan kamu?" Ketus Alex sambil memeluk Bella. Tentu saja Bella berusaha untuk melepaskan dirinya dari Alex.


"Lepasin aku!" Ujar Bella.


"Jangan ngambek lagi sayang....kamu sebegitu dendamnya sama aku ya sampai berani berkencan dengan pria lain? Hmm.." Ujar Alex sambil memegang dagu Bella.


"Hentikan! Aku kesini bukan untuk menyaksikan pertunjukkan dari kalian berdua! Selamat tinggal!" Ketus Citra lalu segera pergi dari sana.


Bella langsung menginjak kaki Alex dengan kuatnya, "Awwww...." Teriak Alex sambil meringis kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan! Beraninya kamu menginjak kakiku!" Ketus Alex.


"Kamu emang pantas mendapatkannya! Aku tegasin sama kamu kalau aku tidak ingin lagi terlibat dengan kamu! Apa kamu sebegitu tidak lakunya sampai melakukan kencan buta seperti ini?" Ujar Bella dengan tatapan mengejeknya.


"Apa kamu bilang! Tentu saja banyak wanita ngantri yang ingin menjadi pasanganku....termasuk kamu!" Balas Alex.


"Itu dulu...sekarang sudah tidak lagi. Selamat tinggal! Oh iya, jangan pernah lagi muncul dihadapanku seperti tadi. Itu benar - benar sangat menganggu!" Ketus Bella lalu Bella melangkah pergi.


Baru saja Bella melangkah beberapa langkah, Alex terus saja memanggil namanya sambil berteriak. Bella merasa sangat malu karena keduanya kini sudah menjadi pusat perhatian.


Bella kembali menghampiri Alex, "Apa yang kamu lakukan! Berhenti meneriaki namaku!" Ancam Bella.


"Aku tidak akan berhenti." Balas Alex.


Bella hanya membelalakkan matanya saja, dia masih tidak percaya dengan apa yang Alex katakan. "Apa maumu sebenarnya?" Tanya Bella.


"Ikuti aku!" Alex menarik tangan Bella untuk mengikutinya keluar dari restoran itu. Alex memaksa Bella untuk masuk kedalam mobilnya. Alex menyuruh supirnya untuk pulang naik taksi.


Dengan cepat Alex melajukan mobilnya, "Apa yang kamu inginkan? Katakan! Kenapa aku harus ikut bersamamu?" Bella terus saja mengomel.


Alex yang merasa pusing mendengarkan omelan dari Bella akhirnya menutup mulut Bella dengan tangannya. Bella langsung menepisnya dengan kasar.


'Alex sebenarnya ingin membawaku kemana sih?' Batin Bella.


"Berhenti menatapku seperti itu...aku tau kok kalau aku tampan." Ujar Alex.


Seketika Bella langsung mengalihkan pandangannya kearah luar. Alex membawa Bella dipinggir pantai. Lalu Alex menghentikan mobilnya.


"Kenapa kamu membawaku sejauh ini? Cepat katakan apa yang kamu inginkan!" Ketus Bella.


"Maafkan aku."


Bella langsung menatap wajah Alex, dia merasa sangat mengenal Alex yang tidak akan mungkin meminta maaf. "Kamu sakit?" Ujar Bella sambil memegang kening Alex.


Alex menggeleng pelan, lalu memegang tangan Bella, "Aku sungguh - sungguh minta maaf, Bell." Ucap Alex lagi dengan tulus sambil terus menatap Bella.


Seketika tawa Bella pecah, "Kamu kenapa sih Lex! Kan aku yang pergi kenapa kamu yang minta maaf? Lagian kamu tidak melakukan sebuah kesalahan kok." Ujar Bella yang merasa sangat lucu melihat seorang Alex minta maaf.


Alex tetap menatap Bella dengan sangat serius, tawa Bella perlahan mulai menghilang dari wajahnya, "Kamu serius?" Tanya Bella yang masih belum bisa percaya.


*******


Lalu bagaimana dengan hubungan Alex dan Bella? Akankah mereka kembali bersama lagi?


**Penasaran? **

__ADS_1


Ayo berikan komentarnya sebanyak mungkin ya!


Happy reading guys!


__ADS_2