
Satu kekhawatiran yang dirasakan oleh Bian saat ini adalah meninggalkan anak dan istrinya untuk bekerja. Apalagi hari ini ibunya berencana membawa Kiana beserta Al ke luar rumah untuk berjalan-jalan. Seharusnya dia senang karena kini istrinya itu semakin dekat dan benar-benar sudah diterima oleh keluarganya. Tapi perasaan tak tenang terus menyelimutinya.
Lihat saja kedekatan mereka sudah seperti ibu dan anak kandung saja. Bukan iri, tetapi Bian khawatir saja. Bian senang, tapi tak tenang. Karena ia tak bisa ikut serta bersama mereka untuk menjaga anak istrinya.
"Cuma jalan-jalan, kamu nggak usah khawatir seperti itu Mama ajak jalan istri kamu."
"Iya nih Kak Bian lebay!" timpal Fira.
Kalimat sindiran dari ibu dan adiknya saat di meja makan tadi tak ia hiraukan. Dia tetap menatap Kiana dengan satu pertanyaan,
'Kenapa nggak bilang sama, Mas?'
Bian masih merajuk pada Kiana berharap kalau istrinya tak usah ikut saja. Dia tak bisa melarang, tetapi berat juga untuk mengizinkan. Bian benar-benar khawatir mereka berada di luaran sana tanpa dirinya.
"Cuma sebentar Mas, kan sama Mama dan Fira juga. Bolehkan?" air muka berbinar nampak tergambar jelas di wajah istrinya. Bian tidak tega menghalangi keinginan yang membuat istrinya bahagia. Dia pasrah. Harus bagaimana lagi coba.
"Bukan nggak boleh, tapi tetap aja akunya tuh khawatir. Aduh Ki..." Bian uring-uringan dibuatnya. Maunya sih Kiana di rumah aja, cuma boleh keluar rumahnya bareng dia aja. Nanti mereka bisa menghabiskan waktu berdua layaknya seperti pasangan kekasih yang sedang berkencan. Itu impian Bian bersama istrinya yang terpendam.
Sepenggal percakapan tersebut terjadi di teras rumah sebelum Bian benar-benar berangkat bekerja. Akhirnya dengan terpaksa, Bian mengizinkan Kiana untuk ikut dengan Mamanya. Meski terpaksa, dan sedikit kurang ikhlas. Demi istrinya Bian rela melakukan apapun.
"Pokoknya jangan lama-lama, kalau ada apa-apa cepat hubungi Mas," peringat Bian yang pada akhirnya malah membenamkan bibirnya pada bibir Kiana dengan cukup dalam juga lama untuk bekalnya hari ini berjauhan dengannya.
*
*
*
"Al udah kenyang minumnya kan, Ki?" tanya Bu Ajeng pada menantunya saat akan memasuki mobil untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan modern di kota.
"Sudah Ma, stok minumnya juga di simpan di lemari pendingin. Kalau Al haus, saya sudah titip pesan sama Mbak Irna untuk menghangatkannya." balas Kiana yang ikut mendudukkan dirinya di samping ibu mertuanya. Sedangkan si cantik Fira duduk di depan samping kemudi yang tengah asik memainkan ponselnya.
"Iya, bagus. Takutnya Al nanti kehausan ditinggal sama Opanya. Kita sebagai seorang ibu harus lebih prepare dalam mengurus anak."
"Saya nggak enak sama Papa, nanti beliau kerepotan jaga Albio."
"Nggak apa-apa, nggak usah khawatir. Papamu itu paling senang dengan anak-anak. Dulu aja sering Mama tinggal bareng Bian kalau sedang ingin keluar bareng teman-teman. Tapi tentunya tidak bisa lama, kita harus bisa menyesuaikan kondisi yang mana kita sebagai seorang istri dan juga ibu agar tidak lupa dengan kewajiban kita." ucap Bu Ajeng pada menantunya. Kiana hanya mengangguk pelan menjadi pendengar yang baik.
"Kita juga butuh refreshing agar tidak jenuh apalagi sampai stress selama memerankan tugas kita. Maka dari itu, Mama akan agendakan rutinitas ini setiap bulannya buat kita."
Kiana cukup terkejut dengan rencana ibu mertuanya. Rutinitas seperti ini tidak pernah sama sekali ia bayangkan. Pergi menghabiskan waktu bersama ibu mertua dan adik ipar. Sepertinya nanti Kiana akan memiliki kesibukan tersendiri selain merawat anak dan suaminya.
"Ma, aku nggak ikut ke salon ya. Mau ketemu teman sebentar." timpal Fira meminta izin pada ibunya.
"Teman yang mana?"
"Temen aku, Mama juga kenal kok."
"Siapa?"
"Da-Dania. I-iya Dania. Aku mau ketemu sama dia sebentar."
"Dania? Mama baru denger kamu punya temen namanya Dania." selidik Bu Ajeng pada anak gadisnya.
"Ada kok temenku yang namanya Dania. Mama aja kali yang lupa. Dia baru aja pulang dari Jepang. Makanya aku pengen ketemu. Katanya ada sesuatu yang mau dia kasih buat aku."
"Ya udah, selesai ketemuannya langsung samperin Mama sama Kakakmu nanti."
"Oke Macan, tambah sayang deh." ujarnya dengan manja. Bu Ajeng cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak gadisnya yang masih saja seperti anak kecil manja.
Kiana tersenyum melihat itu semua. Ia dapat merasakan bagaimana kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Betapa beruntungnya ia dapat menjadi bagian dari keluarga hangat tersebut. Kiana tidak pernah berharap dan bermimpi sebelumnya. Namun tidak dapat Kiana sangka, jika apa yang ia mimpikan dulu untuk memiliki sebuah keluarga kini telah terwujud.
*
*
*
Disebuah pusat perbelanjaan, nampak Aaric melangkahkan kaki masuk ke sebuah resto untuk mencari seseorang di sana.
"Lagi?" tanya Aaric saat menghampiri ibunya yang berada disebuah restoran bertema chinese di pusat perbelanjaan tersebut.
"Baru kemarin, dan sekarang lagi?" tanyanya pada sang ibu dengan helaan napas yang panjang.
__ADS_1
"Kamu sepertinya memang sedang lapar, makanya jadi baper seperti itu." ucap Bu Sofia sambil terkekeh.
"Bukan masalah lapar, Ma. Tapi aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan." balas Aaric yang baru saja duduk lalu memperhatikan keadaan sekitar di dalam resto tersebut.
"Cari apa? Ada yang mau kamu pesan lagi?"
Aaric menggeleng pelan. "Mama sendirian? Terus Papa mana?"
"Baru pergi sama Om Damar. Katanya ada tempat baru yang ingin ditinjau buat bisnis ikan mereka." terang Bu Sofia pada anaknya.
"Pantas makanannya banyak," ujarnya seraya memperhatikan makanan yang ada di atas meja. Aaric terkekeh pelan. Tentu saja ia sedang menertawakan ayahnya yang kini berpindah haluan dalam berbisnis. Ia teringat akan kalimat ayahnya saat dia sendiri bertanya,
''kenapa harus berbisnis ikan?''
Waktu itu ayahnya berkata,
"Papa sudah tua, suka pusing kalau memikirkan masalah perusahaan. Lebih enak membudidayakan ikan bersama Om Damar. Sekalian refreshing bisa melihat ikan-ikan. Udara diluar lebih sehat untuk kesehatan Papa dibanding di dalam ruangan. Papa percayakan urusan perusahaan sama kamu karena Papa yakin kamu mampu."
Kalimat itu Aaric dengar kala mereka tengah menghabiskan pagi sembari memberi makan ikan-ikan di kolam taman belakang rumah. Rutinitas itu sering mereka lakukan sejak Aaric masih kecil sampai dia dewasa setiap akhir pekan saat ayahnya itu berada di rumah.
"Mau makan apa, pasti belum makan bukan?" tanya Bu Sofia.
Aaric menggeleng, kemudian ia meraih semangkuk Lanzhou ramen kesukaannya. Sejenis ramen ala Chinese dengan bumbu khasnya. Aaric sangat menyukai hidangan tersebut sejak dari kecil.
"Sudah pasti menjadi pilihan pertama, untungnya Mama pesan sebelum kamu datang." Bu Sofia tersenyum senang melihat anaknya.
"Teman-teman Mama mana?"
"Kok nanya mereka?" Bu Sofia balik bertanya.
"Biasa Mama keluar selalu ada mereka, pasti itu." jawab Aaric santai sembari menyeruput ramen kesukaannya.
"Kenapa? Kamu mau kenalan lagi sama anak-anak gadis teman Mama itu?" Bu Sofia nampak berbinar.
"Ya nggaklah, kali aja sekarang Mama sedang merencanakan sesuatu seperti kemarin-kemarin."
"Rencana yang bagaimana? Kamu ini ada-ada aja," sergahnya.
"Aaric kurang nyaman Ma, nggak perlu Mama kenalin atau sampai jodoh-jodohin aku sama anak teman-teman Mama itu." ucapnya seraya mengusap mulutnya dengan selembar tissue yang ia lipat.
"Ma... Kok ngomongnya gitu? Aaric bahagia. Aaric bahagia kalau melihat Mama dan Papa juga bahagia. Kebahagian yang Mama inginkan untuk anak Mama ini pasti akan aku raih suatu saat nanti. Doakan Aaric selalu Ma, aku mau melihat Mama dan Papa kembali tersenyum dengan kebahagiaan seperti dulu lagi. Aaric sedang berusaha untuk menarik sumber kebahagiaan itu agar segera kembali menjadi pelita bagi keluarga kita." ungkap Aaric menatap mata ibunya yang mengerut karena ucapannya barusan.
"Maksud kamu apa?" tanya Bu Sofia yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh anaknya.
"Mama tahu apa yang aku lakukan akhir-akhir ini sampai terlihat begitu sibuk?" Bu Sofia pun menggeleng.
"Mama tahu apa yang mengganggu pikiran Aaric akhir-akhir ini?" Aaric dapat melihat bagaimana raut wajah ibunya yang semakin kebingungan dengan pertanyaannya.
"Ma, aku yakin ini semua pasti akan membuat Mama senang." Aaric tersenyum pada ibunya. Tapi tidak dengan ibunya yang semakin menautkan kedua alisnya.
"Semua karena Asyilla..."
"A-Asyilla..."
"Iya, Ma. Asyilla..." Aaric tersenyum dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca. "Aku mencari keberadaan Asyilla selama ini."
"Ar... Mama-- Mama sudah mengikhlaskannya..." ungkap Bu Sofia seraya membuang pandangan dari anaknya. Wajahnya berubah sendu. Tak dapat di pungkiri jika mendengar nama bayi perempuannya yang telah lama menghilang itu membuat sesuatu di dalam hatinya berdenyut nyeri, dan ia tak mau Aaric sampai melihat kesedihannya lagi.
"Nggak Ma, nggak. Aku yakin kita bisa bertemu kembali dengan Asyilla. Kita pasti bisa kembali bersama seperti dulu."
"Bagaimana bisa, kamu tahu sendiri selama ini--"
"Oh, Mbak Sofia? Akhirnya kita bertemu di sini." panggil seseorang yang menghampiri mereka membuat anak dan ibu tersebut yang tengah dalam kesenduan menoleh pada sumber suara.
*
*
*
"Kamu itu dari mana aja sih Ra, kok lama sekali?" tanya Bu Ajeng pada Fira yang baru saja kembali dengan urusannya.
"Maaf Ma... Aku kan udah bilang kalau aku tuh ketemu sama temen aku." ujarnya dengan cengiran kudanya yang membuat Bu Ajeng bertambah sebal pada anaknya itu.
__ADS_1
"Si Dania itu?"
"I-iya, Da-Dania. Siapa lagi kalau bukan Dania temen yang aku temui." jawab Fira dengan gugup yang ia coba sembunyikan. "Udah selesai nyalonnya kan?" tanyanya mengalihkan topik.
"Dari tadi, makannya Mama ngomel-ngomel karena nungguin kamu lama." celetuk Bu Ajeng.
"Iya maaf Mamaku sayang..." ucapnya seraya mencium ibunya tanpa malu.
"Kak Kia makin cantik sama rambut barunya, Kak Bian pasti makin klepek-klepek kalau nanti liat, hihi..." Fira terkikik geli saat membayangkan itu terjadi pada Kakaknya.
"Malah ngegodain," sahut Bu Ajeng saat melihat rona merah pada pipi Kiana.
"Aku kan cuma bilang apa adanya, Kak Kia memang tambah cantik. Ya udah yuk," ujarnya sembari memeluk lengan ibunya.
"Kemana?"
"Ish... Mama nih..." gadis itu cemberut seperti anak kecil.
"Udah ah, malu dilihat sama orang-orang udah gede juga. Ayo Ki, kayaknya adikmu ini udah gak tahan buat kalap beli ini dan itu." ajaknya pada sang menantu yang hanya tersenyum dan mulai mengikuti langkah kedua anak dan ibu yang ada di dekatnya itu.
Berkeliling dari satu toko ke toko lainnya, menjelajah setiap sudut tempat yang ada nyatanya tidak membuat mereka merasa lelah. Namun yang ada mereka semakin bersemangat apalagi ketika saat melihat barang-barang yang mereka sukai berjajar di beberapa display pertokoan yang terlihat mewah dan memiliki brand kenamaan dengan harga yang sangat fantastis.
Kiana yang sejak tadi memperhatikan dan mengikuti kemana pun mereka menyusuri tempat hanya tersenyum miris. Apalagi kakinya sudah cukup terasa pegal sejak tadi. Terlebih ia sudah merindukan bayinya yang sengaja di tinggal demi kegiatan yang mendadak ini.
"Gimana, bagus kan?" tunjuk Bu Ajeng pada sebuah perhiasan yang berjajar di dalam sebuah etalase kaca dengan berbagai macam model yang sangat indah.
"Bagus, semuanya cantik-cantik." gumam Kiana tanpa menoleh, yang mana matanya saat ini tak beralih sedikitpun dari deretan perhiasaan yang membuatnya terpesona dengan kilauan keindahannya.
Kapan lagi pikirnya ia bisa melihat perhiasan yang sangat mewah, indah dan pastinya sangat mahal tersebut jika bukan sekarang. Meski dari dulu ia tidak pernah memiliki barang berharga tersebut, tetapi hanya dengan melihat saja hati Kiana bukan kepalang senang.
"Mbak coba saya lihat yang itu!" tunjuk Bu Sofia lagi pada pramuniaga toko perhiasan tersebut untuk memperlihatkan salah satu perhiasan.
"Wah... Cantiknya," ujar Fira ikut mengagumi pilihan ibunya.
"Iya, sangat cantik. Ini pasti cocok dipakai oleh kamu Ki," sahut Bu Ajeng.
"Iya, Kak Kia pasti cantik pakai itu."
"Dicoba dulu, pakai Ki."
"Hah?" Kiana membulatkan matanya. Apa ia tak salah dengar? Ibu mertuanya menyuruhnya untuk memakai perhiasaan tersebut.
"Iya, Mama ingin lihat kamu mencobanya."
"Eh, nggak usah Ma. Nanti perhiasannya bisa rusak kalau saya yang coba."
"Mana ada seperti itu, ayo Mama mau lihat kamu pakai itu." Bu Ajeng memaksanya untuk segera memakainya. "Tuh Kan, apa Mama bilang, pasti cocok sama kamu Ki. Cantik." ujarnya dengan puas dan tatapan kagum saat melihat perhiasan yang ia pilih sangat cocok dan cantik ketika dikenakan oleh menantunya.
"Wah... Cantik banget Kak," Fira ikut menimpali. Kiana tersipu dengan pujian yang keluar dari dua wanita yang ada dihadapannya itu. Juga risih saat mengenakan perhiasan yang bukan miliknya itu.
"Saya ambil ini untuk menantu saya, dan ini, ini juga. Tolong disiapkan ya Mbak."
"Baik Bu, pilihan Ibu sangat tepat dengan koleksi terbaru kami yang baru saja kami launching pekan ini. Mbaknya adalah orang pertama dan satu-satunya yang akan memiliki perhiasan dengan model terbaru kami. Semakin terlihat cantik sekali Mbaknya." puji pramuniaga tersebut.
"Benarkah? Kami beruntung sekali kalau begitu." balas Bu Ajeng dengan nada puas.
"Ma, sepertinya nggak perlu. Ini sangat--"
"Kenapa? Kamu nggak suka? Atau mau cari model yang lain?"
"B-bukan begitu, saya suka dengan pilihan Mama. Tetapi maksud saya sepertinya ini sangat berlebihan. Apalagi tadi Mama sudah belikan saya baju-baju yang banyak." ungkap Kiana yang merasa sungkan dengan sikap royal ibu mertuanya.
"Kamu berpikir begitu ya? Apa Mama salah dan terlalu berlebihan ingin menyenangkan hati menantu Mama sendiri? Pokoknya kamu harus pakai, Mama nggak mau tahu. Mama bakalan marah sama kamu kalau sampai menolaknya."
"Udah, Kak Kiana terima aja." bisik Fira di telinga Kiana.
"Tapi ini mahal sekali Mbak Fira," lirih Kiana yang ikut berbisik pada telinga Fira.
"Mama itu keras, apa yang dia rasa itu baik untuk orang-orang yang ia sayangi pasti akan memaksakan kehendaknya. Selagi Mama mampu dan punya apa yang dia miliki untuk membahagiakan orang tersayangnya, Mama akan bersikap seperti itu. Jadi aku ucapkan, selamat datang di keluarga Adijaya. Kamu Kak adalah orang pilihan saat pertama kali Mama ketemu sama Kakak. Dan pada akhirnya semua harapannya untuk memiliki menantu seperti Kak Kiana terkabul. Mama yang cerita saat pertama kali kalian membawa Al dan memperkenalkannya pada mereka." jelas panjang lebar Fira saat ibunya itu sibuk dengan transaksinya.
Kiana menyelami apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu. Benarkah Bu Ajeng memiliki perasaan sayang seperti itu padanya?
Berada di tengah-tengah keluarga tersebut, bahkan menjadi seorang menantu dari anak laki-laki mereka saja Kiana merasa ini bagaikan sebuah mimpi. Ia tak pernah bahkan berani memimpikan hal seperti ini. Karena dia sadar siapa dirinya dan dari mana asalnya. Dia hanyalah seorang gadis yatim piatu yang sebatang kara, seorang mantan pembantu yang naik derajat karena sesuatu hal menyakitkan yang terjadi pada hidupnya.
__ADS_1
Mata Kiana terasa memanas, rasa-rasanya seperti ada desakan air bening yang ingin lolos dari pelupuk matanya. Tapi cukup dia tahan. Ia tak mau jika sampai menangis di muka umum seperti ini.