
"Kak Ara....!" Panggil Mikha.
Sontak membuat lamunan Ara buyar seketika. "Hah? Ya..Mik..."
"Kak Ara kok melamun sih?" Tanya Mikha lagi dengan curiga.
"Sorry...sorry Mik. Tadi kamu bilang apa ya?" Ucap Ara.
Mikha menepuk jidatnya, "Jadi tadi Kak Ara gak dengeri yang Mikha bilang ya?"
Ara hanya cengengesan saja, "Hehehe...."
"Kemarin ada apa Kak Ara mencari Alvin?" Tanya Mikha sekali lagi.
"Hmm...kenapa Mik? Jangan bilang sama Kakak kalau kamu sedang cemburu ya?" Tebak Ara dengan nada jail.
"Ih apaan sih Kak, enggak mungkinlah Mikha cemburu dengan Kakak."
"Oh iya? Bener nih yakin ya?" Goda Ara lagi berusaha untuk menghilangkan rasa curiga dari Mikha.
"Iya beneran Kak!"
"Hmm...ada apa ya kemarin itu? Sepertinya ingatan Kakak kurang bagus nih. Kakak udah lupa Mik." Ucap Ara lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ye dasar Kak Ara!"
"Sorry deh karena telah mengganggu aktivitas kalian berdua diwaktu itu ya." Goda Ara lagi sambil memainkan matanya.
"Kak Ara apaan sih...bukan seperti itu Kak." Ucap Mikha yang sudah merona malu.
"Kalau iya juga gapapa lagi Mik. Lagian kalian berdua kan memang sudah pasangan suami istri. Jadi kamu tidak perlu lagi merasa malu seperti ini." Ucap Ara lagi.
"Hmm...mendingan kita ganti topik aja deh Kak." Ujar Mikha yang sudah mulai salah tingkah.
"Oke deh Kakak mengerti kok. Kamu malu ya?" Tebak Ara.
"Hmm..." Mikha hanya tersenyum saja tanpa mengatakan apa - apa lagi kepada Ara.
"Kak sepertinya Kak Al sedang mencari keberadaan Kak Ara deh. Itu bukannya suara Kak Al?" Ujar Mikha yang tiba - tiba saja mendengar suara dari Kakak iparnya itu.
Ara berusaha untuk mendengarkan juga, "Iya deh Mik...ya udah kalau begitu Kakak tinggal kamu dulu ya." Ujar Ara lalu pergi meninggalkan Mikha seorang diri didapur.
Setelah kepergian Ara, Mikha mulai memegangi pipinya yang kini sudah memanas karena digoda terus sedari tadi oleh Ara. 'Apa aku terlalu ketara ya?' Batinnya.
Sedangkan dikamar Al dan Ara, Ara yang baru saja masuk kedalam kamarnya sudah melihat suaminya sedang mengenakan kemeja kerjanya, "Sayang...sini aku bantu." Ara menghampiri Al.
"Kamu darimana saja sih sayang? Aku panggilin tau sedaritadi?" Tanya Al.
"Sorry deh...aku tadi kebawah sebentar dan ngobrol sama Mikha." Ujar Ara yang kini sedang memilihkan dasi untuk dikenakan oleh Suaminya itu. "Hmmm...yang mana ya?"
Kemudian setelah memilih satu dasi yang dianggap paling cocok untuk dikenakannya langsung saja dipakaikan oleh Ara untuk Sang Suaminya itu.
"Sayang..." Panggil Al.
"Hmm..." Jawab Ara yang sedang berkonsentrasi untuk melipatkan dasinya.
"Kamu cantik..." Rayu Al sontak membuat Ara langsung menatap wajah Suaminya itu, Ara mulai menaruh curiga ketika suaminya sedang memuji dirinya seperti itu.
"Ada apa sayang...katakan saja!" Ucap Ara langsung to the point.
"Hmmm...sepertinya hari ini aku akan lembur. Kamu gapapa kan?" Tanya Al takut - takut sambil mengawasi Ara.
"Lembur lagi? Sayang...kenapa sih kamu itu lembur melulu...aku kan juga butuh waktu untuk bersama dengan kamu! Aku bosan sayang seharian harus dirumah aja seperti ini. Kamu tega banget sih." Omel Ara yang sudah dapat diprediksi oleh Al.
"Iya aku tau sayang...."
"Udah ah aku sebel sama kamu!" Ara ngambek dan memutuskan untuk keluar dari kamar.
"Sayang....sayang..." Panggil Al yang sudah tidak dihiraukan lagi oleh Ara.
"Al itu sebenarnya kenapa sih? Kenapa dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada harus bersama dengan aku? Aku kan juga butuh perhatian dari dia!" Omel Ara yang masih tidak bisa menerima kalau Suaminya itu harus lembur.
Ketika Ara keluar dari kamarnya, Ara melihat Alvin dan dengan segera Ara langsung menghampiri Alvin.
"Vin...bisa Kakak bicara sebentar?" Tanya Ara.
"Bisa Kak..."
"Ayo ikut kakak." Ara berjalan lalu disusul oleh Alvin. Ara berjalan terus hingga akhirnya dirinya berhenti berjalan dibalkon lantai 2.
"Ada hal apa ya Kak?" Tanya Alvin dengan penasaran.
"Kakak mau bertanya, hanya saja Kakak minta kamu harus berkata jujur ya." Pinta Ara.
'Kenapa Kak Ara serius banget ya?' Pikir Alvin.
"Iya Kak...katakan saja..." Ucap Alvin pada akhirnya.
"Hmm....siapa wanita yang bernama Clara itu?" Tanya Ara langsung to the poin.
Sontak membuat Alvin sangat terkejut, "Kak Ara tau dairmana nama Clara?" Tanya Alvin.
'Sepertinya dugaanku benar, ternyata Alvin memang mengenal wanita yang bernama Clara.' Batin Ara.
"Dia datang kesini...kamu bisa menjelaskan siapa dia sebenarnya? Kamu mengerti kan maksud dari perkataan Kakak barusan?" Ucap Ara penuh penekanan.
'Sialan tuh si Clara, ternyata dia benar - benar nekat sampai datang kesini!' Batin Alvin dengan sangat emosi.
"Vin...Alvin!" Panggil Ara lagi.
"Aduh gimana ya Alvin menjelaskannya....ceritanya sangat panjang Kak. Intinya dia bilang Anak yang ada didalam perutnya itu adalah Anak Alvin...." Ujar Alvin.
"APA!"
"Tapi Kakak jangan salah paham dulu, Alvin sendiri masih tidak percaya. Alvin masih mencari tau kebedarannya. Alvin sangat yakin kalau pada malam itu Alvin tidak mungkin melakukan dengan Clara. Alvin mohon Kakak percaya ya sama Alvin?" Ujar Alvin sambil memohon kepada Ara.
"Kenapa sih kamu Vin? Kenapa disaat kamu dan Mikha sudah saling menyadari perasaan kalian satu sama lain malah ada masalah seperti ini!" Ujar Ara yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Sumpah Kak! Alvin merasa kalau itu bukan Anak Alvin. Please Kak Ara harus percaya sama Alvin ya? Alvin sendiri masih menyelidikinya Kak. Alvin tidak ingin mengecewakan Mikha."
"Tapi kalau sampai Mikha tau soal ini....dia pasti akan kecewa dan hancur banget perasaannya sama kamu Vin! Kenapa sih kamu sebodoh itu?"
"Please Kak...Kak Ara jangan bilang apa - apa ua dengan Mikha. Alvin janji dengan segera Alvin akan membereskan masalah ini. Alvin tidak ingin Mikha kecewa Kak..." Alvin terus menerus memohon kepada Ara.
"Oke..." Ucap Ara seraya menarik nafasnya.
"Kakak janji kalau Kakak tidak akan bilang soal ini kepada Mikha dulu...tapi kamu harus janji segera selesaikan masalah ini. Kamu tidak ingin kan kalau Kakak kamu mengetahuinya?"
"Iya Kak pasti....Alvin akan segera membereskan masalah ini dengan cepat!" Ujar Alvin.
"Oke Kakak pegang janji kamu!" Ujar Ara lalu segera pergi meninggalkan Alvin yang sedang menarik rambutnya kebelakang dengan geramnya. "Aaaaargh! Wanita sialan berani - beraninya dia datang kesini! Aku akan membuat peringan sama dia!" Ujar Alvin dengan emosi.
__ADS_1
Ara turun kebawah lalu menuju ruang makan, disana sudah ada Al dan juga Mikha yang sedang sarapan. Ara duduk disamping Al. Lalu Ara mengolesi roti tawarnya dengan selai coklat. Ara sengaja tidak menatap wajah Suaminya sama sekali karena sedang merasa kesal.
Al sedari tadi menatap wajah cantik istrinya yang sedang ngambek itu, tangan Al menyentuh lalu menggenggam jemari Ara. Ara menatap sebentar lalu akhirnya melepaskannya begitu saja.
Al masih berusaha melakukannya lagi sambil terus menatap wajah Istrinya itu. "Masih marah?" Bisik Al.
Ara bahkan tidak menggubris ucapan dari suaminya itu. Lalu kembali melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Sayang..." Panggil Al lagi.
"Oke oke...aku usahakan pulang cepat ya? Udah dong ngambeknya, ntar aku kerjanya jadi tidak konsentrasi tau." Rengek Al yang seolah menganggap kalau tidak ada Mikha disana.
Seketika Mikha perlahan beranjak pergi dengan pelan - pelan karena sudah mengetahui situasi yang tidak enak itu. Mikha sedang berdiri diantara anak tangga untuk menunggu Alvin turun. Tidak berapa lama kemudian Alvin turun kebawah dan malah sengaja untuk mengejutkan Mikha.
"DUARR!" Ucap Alvin sambil memeng kedua bahu Mikha.
"Ih apaan sih Vin...kamu sengaja ya ngejutin aku?" Omel Mikha sambil memukul lengan kekar milik Alvin.
"Kamu kok berdiri disini sayang?" Tanya Alvin.
"Aku nunggu kamu turun..." Jawab Mikha jujur.
"Apa? Coba ulangi sekali lagi? Aku tidak dapat mendengarkan apa yang baru saja kamu katakan." Alvin malah menggoda Mikha.
"Kamu dengar kok aku tau dan aku gak mau ngulangi perkataan aku barusan lagi titik!" Ujar Mikha dengan sewot.
"Untuk membuat aku senang aja kamu tidak mau ya? Hmm..."
"Oke oke baiklah Vin kamu menang...aku menyerah! Alvin aku sedang menunggu kamu disini." Ujar Mikha lagi.
"Nah gitu dong sayang...bagi aku tetap kamu kok yang menang! Kamu udah sarapan? Kenapa gak nungguin aku sih?" Ujar Alvin.
"Kamunya kelamaan sih! Lagian kamu ngapaian sebenarnya lama banget dikamar?" Omel Mikha.
"Ini semua karena kamu sayang..." Ujar Alvin sambil memegangi bahu Mikha lagi.
"Kok gara - gara aku sih?" Ucap Mikha sambil menggerlitkan alisnya.
"Iya karena kamu tidak mau membantu aku untuk mengenakan pakaian aku...ya aku jadinya lama deh, coba saja kalau kamu bantuin kan aku jadinya cepat selesai juga!" Goda Alvin yang sontak membuat wajah Mikha memerah karena malu.
"Dasar mesum!" Cetus Mikha lalu berjalan meninggalkan Alvin.
"Sayang tungguin..." Rengek Alvin.
Mikha tidak mau mendengarkan Alvin, Mikha terus saja berjalan. "Oh jadi gitu sama Suami?" Seketika langkah kaki Mikha terhenti. Alvin berjalan mendekati Istrinya itu.
"Nah gitu dong sayang tungguin aku...kalau begitu kamu tungguin aku sarapan ya?" Ujar Alvin.
"Hmm..."
Kemudian Alvin merangkul Mikha dan mereka berdua menuju ruang makan. Al dan Ara yang saat ini sudah berbaikan malah melihat kemesraan kedua Adik mereka. Keduanya saling tatap satu sama lain.
"Ehemmm..." Ara sengaja untuk berdehem.
"Sayang...ada yang lagi mesra - mesraan nih sebaiknya kita pergi yuk. Aku gak mau jadi penonton saja." Ujar Al dengan jail lalu mengajak Ara untuk segera beranjak dari duduknya.
"Daahhh Vin, Mik...!" Ujar Ara sembari mengikuti Sang Suami.
"Lepasin Vin..." Mikha melepaskan rangkulan Alvin.
"Sayang kenapa kamu masih malu - malu sih?" Goda Alvin.
"Mikha tatap aku...Kak Al dan Kak Ara itu bukan orang lain sayang. Mereka itu keluarga kita."
"Iya aku tau Vin...hanya saja aku belum terbiasa dengan semua ini...aku harap kamu mengerti ya." Ujar Mikha.
Mikha mengambilkan makan suaminya dengan nasi goreng yang tadi sengaja dimasaknya itu Alvin.. "Ini semoga sesuai dengan selera kamu ya Vin." Ujar Mikha sembari meletakkan piring yang berisikan nasi goreng itu dihadapan Alvin.
"Suapin dong sayang..."
"Makan sendiri dong kamu Vin..."
"Ayolah Mikha...please." Alvin terus saja memohon kepada Alvin.
"Oke baiklah." Ujar Mikha lalu sengaja menyuapi Suaminya dengan satu sendok besar nasi goreng agar Alvin selesai dengan cepat sarapannya.
"Gimana? Kamu suka gak?" Tanya Mikha setelah memberikan suapan pertama untuk Alvin.
"Enak banget sayang...ditambah lagi aku langsung disuapin oleh kamu. thanks ya karena kamu udah masakin aku." Puji Alvin.
"Oh iya? Aku kira kamu tidak akan menyukainya...." Ujar Mikha.
"Sayang....aku jujur lho muji masakan kamu. Karena memang benar - benar enak."
"Oke...terimakasih suamiku! Kalau begitu sudah bisa kita berangkat sekarang? Aku udah mau telat lho." Ujar Mikha seraya memberikan senyumannya.
"Bisa tapi dengan satu syarat..." Ujar Alvin sambil menunjuk - nunjuk pipinya.
"Dasar gak mau banget ya kamu rugi." Protes Mikha.
"Ya terserah sih sayang...aku juga tidak akan memaksa kamu kok jika kamu tidak menyukainya." Dan pada saat Alvin ingin beranjak, Mikha menahan lengan Alvin dan menarik Alvin untuk duduk kembali.
CUP
Satu kecupan mendarat dipipi Alvin sontak membuat Alvin syok dan kaget.
"Kita berangkat sekarang ya!" Pinta Mikha dengan manja.
"Oke baiklah sayang...." Dengan semangat Alvin langsung menjawabnya.
'Alvin..Alvin! Dasar mesum! Baru diberikan kecupan begitu saja kamu sudah semangat 45 seperti ini.' Batin Mikha.
Alvin dan Mikha berjalan bersama menuju luar. "Tunggu dulu..." Mikha menghentikan langkahnya lalu melihat apa yang sedang dilakukanoleh Alvin.
Alvin membukakan pintu mobilnya untuk dimasuki oleh Mikha, "Silahkan tuan putri!" Ujar Alvin.
Mikha tersentuh dengan perlakuan Alvin barusan. Dengan langkah cepat Mikha langsung masuk kedalam mobil. Setelah Mikha duduk, Alvin memasangkan sabuk pengaman untuk Mikha, detak jantung Mikha sudah tidak stabil saat ini. Mikha terus saja melihat suaminya dengan jarak yang sangat dekat.
"Udah puas liatin aku sayang?" Goda Alvin.
Seketika wajah Mikha langsung saja berahlih kearah yang lainnya.
Alvin tertawa lepas, lalu Alvin masuk kedalam mobilnya dan dengan langkah cepat. Alvin langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat. Sepanjang diperjalanan Mikha terus saja melihat jam tangannya. Dirinya sudah benar - benar sangat gelisah.
Alvin yang melihatnya sangat tidak menyukainya, Alvin langsung mengebut menjalankan mobilnya.
"Vin...awas...Vin..." Teriak Mikha tanpa henti karena merasa ketakutan.
"Sampai sayang....aku tidak ingin membuat kamu terlambat. Sorry ya bila aku mengebut." Ujar Alvin.
Mikha masih menstabilkan dirinya, detak jantung Mikha masih saja berdegup dengan sangat cepatnya. Secara spontan Mikha langsung memukul lengan Alvin.
__ADS_1
"Aw.... kenapa dipukul si sayang..." Rengek Alvin.
"Kamu mau buat aku mati jantungan ya tadi?" Omel Mikha.
"Bukan seperti itu...aku cuma tidak ingin kamu terlambat." Ujar Alvin sambil meringis kesakitan.
"Ya udah kalau begitu aku turun sekarang. Dahh!"
"Mik..." Alvin menunjuk - nunjuk pipinya kembali.
"Disini?" Ucap Mikha.
Alvin mengangguk dengan muka penuh harap.
Mikha mengamati sekitar dulu sebelum memutuskan untuk mencium Alvin, setelah memastikan kalau tidak ada yang melihat dan berlalu lalang disana, dengan cepat Mikha langsung mencium Alvin dan segera turun dari mobil.
"Sampai nanti sayang...kamu jangan nakal ya! Ntar pulang kerja aku jemput kamu ya!" Teriak Alvin.
"Iya iya...udah sana pergi..." Ujar Mikha terus saja meminta Suaminya untuk segera pergi dari kantor tempat dirinya bekerja itu.
Mikha segera masuk kedalam setelah kepergian dari Alvin.Ternyata sedari tadi ada seseorang yang sedang mengawasi mereka berdua dengan tatapan tajam yang sukar untuk diartikan. Pria itu sedari tadi ternyata sedang bersembunyi sambil terus mengepalkan kedua tangannya.
Mikha dengan segera langsung menekan tombol lift lalu kemudian sedang menunggu pintu lift akan terbuka, tidak berapa lama kemudian akhirnya pintu liftnya terbuka juga. Mikha langsung melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Dan pada saat pintu liftnya akan segera tertutup muncul Alex dan langsung masuk begitu saja membuat Mikha sempat merasa kaget.
Selama didalam lift Mikha hanya diam saja begitu pula dengan Alex yang saat ini malah bersikap cuek kepada Mikha. Begitu pintu liftnya terbuka Alex segera keluar lalu berjalan menuju ruangannya, Mikha pun keluar dari lift lalu berjalan menuju ruangannya bekerja juga.
Mikha meletakkan tasnya tepat diatas mejanya. Ternyata walaupun hanya sehari dirinya tidak masuk bekerja sudah banyak pekerjaan yang menantinya terbukti dari berkas - berkas yang ada diatas mejanya yang kini sudah menumpuk. Mikha menghela nafas panjang.
"Cahyu Mikha!" Mikha menyemangati diirnya sendiri.
Mikha mulai membuka satu persatu berkas yang ada diatas meja kerjanya lalu dengan serius langsung saja mengerjakannya.
Alex sedari tadi ternyata sedang mengawasi Mikha dari CCTV kantornya yang sudah terhubung dengan komputer kerjanya. "Maaf karena tadi aku cuekin kamu Mikha! Aku masih tidak bisa berpikir jernih karena kamu mencium Suami kamu sendiri tadi didepan kantor." Ujar Alex kepada dirinya sendiri.
Alex menghubungi seseorang untuk segera masuk kedalam ruangannya, orang suruhannya itu langsung masuk kedalam ruangan Alex.
"Gimana? Kamu sudah menemukan informasi lengkap yang saya minta?" Tanya Alex.
"Sudah Pak...." Ujar karyawan Alex sambil memberikan satu map berkas untuk Alex.
"Kerja bagus! Kalau begitu kamu sudah bisa keluar." Pinta Alex.
Setelah karyawannya itu keluar, Alex langsung melihat berkas pemberian dari karyawannya itu dengan cepat. Informasi yang ingin diketahui Alex adalah tentang Suaminya Mikha. "Jadi dia salah satu keluarga yang sangat berpengaruh juga di Indonesia? Hmm...menarik!" Ujar Alex sambil tersenyum misterius.
Alex sempat berpikir sebentar sebelum pada akhirnya memikirkan sebuah ide. 'Pasti akan sangat menyenangkan!' Pikirnya dengan ide gilanya itu.
kemudian Alex menelepon Mikha dengan menggunakan telepon yang ada diruangannya untuk menyuruh Mikha datang ke ruangannya. Dengan segera Mikha langsung berjalan menuju ruangan bosnya itu, dia berpikir sepertinya bos nya itu akan memerahinya karena tidak kemarin tidak masuk bekerja.Dia jadi galau sendiri, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan Alex.
Alex memerintahkan Mikha untuk segera masuk kedalam ruangannya. Saat ini Mikha sudah berdiri didepan Alex dengan perasaan yang sangat was-was.
"Pak Alex memanggil saya?" Tanyanya.
"Silahkan duduk." Pinta Alex.
"Begini Mik, minggu ini saya ingin mengadakan pesta dan saya ingin mengundang seluruh rekan bisnis, karyawan dan keluarga saya untuk datang kesana. Saya ingin kamu yang mengatur pestanya untuk saya." Ujar Alex dengan langsung to the point.
"Pak Alex tidak salah orang untuk menyuruh saya yang mengatur semuanya?" Tanya Mikha lagi.
"Tidak...kenapa? Kamu tidak bisa melakukannya?" Ujar Alex.
"Bu-bukan seperti itu Pak...ini kali pertama saya melakukannya dan pastinya saya akan melakukan yang terbaik untuk membuat pesta Bapak." Ujar Mikha dengan cepat.
"Bagus kalau begitu...saya percaya kalau kamu bisa melakukannya."
"Tapi saya ingin tau konsep seperti apa yang Pak Alex inginkan? Supaya saya memiliki sebuah gambaran." Tanya Mikha lagi.
"Saya tidak mempunyai konsep apa - apa. Saya hanya ingin semua tamu yang datang nanti dapat menikmatinya hidangan enak dan hiburan yang tidak membosankan."
"Baik Pak kalau begitu saya sudah mengerti, saya akan mengatur segalahnya sesuai dengan keinginan Pak Alex."
"Saya berharap kalau kamu tidak akan mengecewakan saya ya Mik." Ujar Alex.
"Saya juga berharap begitu Pak!"
"Kalau begitu kamu sudah bisa keluar sekarang!" Ucap Alex.
"Baik Pak Alex, kalau begitu permisi." Ujar Mikha lalu segera beranjak dari duduknya.
Pada saat Mikha ingin membuka pintu ruangan Alex, Alex memanggil Mikha kembali. "Mikha!"
"Ya Pak!" Seketika Mikha langsung menoleh kepada bosnya itu. "Saya tidak ingin ada kekurangan di acara pesta saya nanti." Tegas Alex lagi.
"Iya Pak! Saya mengerti." Kemudian Mikha segera keluar dari ruangan Alex.
Mikha berjalan menuju ruangan kerjanya sambil berpikir dengan sangat keras. 'Sebuah pesta yang tidak memiliki kekurangan sama sekali? Tapi apa mungkin? Aku benar - benar berusaha semaksimal mungkin untuk ini.' Pikir Mikha.
Mikha telah mencoret - coret kertas kosong untuk merancang pestanya. Pikiran saat ini benar - benar sedang penuh sehingga membuat Mikha masih belum menemukan rangkaian acara yang sempurna. Sudah entah berapa kertas yang dicoret - coret lalu dibuang ke tempat sampah yang ada didalam ruanganya.
"Aaaaaggrh! Kenapa otakku sangat buntu sih?" Ucap Mikha dengan sangat frustasi.
"Oh Tuhan....apa yang harus aku lakukan?" Mikha memutar - mutarkan kursi kerjanya sambil terus memejamkan matanya berharap segera menemukan sebuah ide yang bagus.
******
Alvin sedari tadi berusaha untuk terus menghubungi Clara, akan tetapi sepertinya Clara sengaja untuk tidak menjawab panggilan dari Alvin. Alvin merasa sangat kesal lalu memutuskan untuk segera menghampiri Clara di apartemennya.
Alvin segera mengemudikan mobilnya dengan cepat untuk cepat sampai di apartemennya Clara. Begitu sampai disana Alvin langsung saja menekan - nekan bell Clara sampai pada akhirnya Clara muncul juga untuk membukakan pintu untuk Alvin.
"Alvin..." Ujar Clara.
Alvin hanya langsung menyerobos masuk ke apartemennya Clara saja.
"Kamu mau minum apa Vin biar aku buatkan?" Tanya Clara.
"Gak perlu! Aku kemari tidak ingin basa basi lagi Cla, sepertinya kamu sudah tau apa maksud dan tujuanku datang kesini!" Tegas Alvin dengan emosi.
"Maksud kamu Vin?" Tanya Clara masih berakhitng berpura - pura tidak tau.
"Berhenti Cla....aku mau kamu menghentikan semua ini. Yang aku ingin tau apa maksud kamu datang kerumah Kak Al? Darimana kamu mengetahui alamat rumah Kak Al?" Tanya Alvin dengan emosi.
Clara tersenyum, "Itu karena kamu terus saja mengulur waktu untuk bertanggug jawab dengan apa yang telah kamu lakukan Alvin! Aku ingin membuktikan sama kamu kalau aku bisa melakukan apa saja untuk membuat kamu bertanggung jawab! Kalau masalah alamat rumah kamu itu merupakan hal yang sangat mudah!"
Alvin malah semakin emosi, "Maksud kamu apa Cla? Kamu sedang mengancam aku?" Tegas Alvin.
******
Silahkan menebak sendiri gimana kelanjutannya ya? Heheh
Jangan lupa dong like, comment and favorite!
Happy reading guys!
__ADS_1