
Selama didalam perjalanan Vio terus saja menempel kepada Rey, Rey hanya pasrah tanpa berkomentar sama sekali. Bisa dibilang kalau hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Vio karena pada akhirnya dia bisa mendapatkan Rey.
Dewi yang sesekali mencuri pandangan kearah kursi belakang hanya tidak habis pikir aja melihat Vio yang begitu agresif kepada prianya itu. Tapi Dewi hanya melihatnya saja dari kaca spion mobilnya itu. 'Semoga kali ini kamu akan benar - benar bisa bahagia dengan dia Vi sesuai dengan keinginan kamu.' Batin Dewi.
Hari iini merupakan perjalanan yang sangat panjang untuk keduanya, karena hari ini mereka berdua akan berangkat keluar negeri sesuai dengan kesepakatan Vio dengan Al dan Ara.
Sesampainya dibandara, Vio dan Rey yang sudah dikawal ketat agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dari para media yang memang sudah berada disana untuk menunggu keduanya, Vio dan Rey disuruh untuk menggunakan kacamata hitam dan terus saja berjalan tanpa boleh menatap kearah kamera sama sekali.
Mereka berdua terus saja berjalan sampai telah berada pada tempat yang aman, saat ini keduanya sudah berada diruang tunggu yang berada dibandara. Sekarang mereka berdua sudah bisa bernafas dengan lega karena telah terbebas dari para awak media yang sangat penasaran dengan hilangnya kedua insan ini.
Vio lagi lagi selalu saja menyenderkan kepalanya pada Rey, "Aku capek Rey...Syukurlah kita berdua sudah aman sekarang." Ujar Vio dengan manja.
"Ya udah kalau begitu kamu istirahat dulu ya Vi...." Ucap Rey datar.
Vio hanya mengangguk - anggukkan kepalanya saja.
Setelah itu Vio memutuskan untuk tidur sambil menyenderkan kepalanya kepada Rey, Rey sempat melirik sekilas lalu tersenyum, 'Vi...kamu itu tidur begini seperti Anak kecil ya.' Batin Rey kemudian Rey ingin menyentuh kepalanya Vio akan tetapi kegiatannya tertahan.
'Maaf Vi tapi aku masih belum bisa....' Ucap Rey didalam hatinya.
Tidak berapa lama kemudian Dewi menghampiri mereka berdua, "Sebentar lagi kita sudah bisa masuk duluan kedalam pesawat, sebaiknya kamu bangunkan Vio ya." Pinta Dewi sambil menatap jam tangannya.
"Oke...biarkan saja dulu Vio istirahat seperti ini, sepertinya dia sudah lama tidak menghadapi awak media, dia terlihat sangat kelelahan." Ujar Rey.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Dewi lalu duduk dikursi kosong didekt keduanya.
Vio sebenarnya tidak benar - benar sedang tertidur, Vio bahkan mendengarkan semuanya dengan baik. Hanya saja dia ingin terus menempel kepada Rey maka dari itu Vio menggunakan alasan bahwa dirinya saat ini sedang capek dan lelah.
'Ternyata kamu bisa perhatian juga sama aku Rey...bahagia banget aku rasanya.' Batin Vio yang ingin sekali untuk berteriak dengan senangnya.
Setelah menunggu sekitar 15 menit kemudian, Dewi kembali mendekati keduanya lagi. "Sekarang sudah saatnya kita masuk kedalam pesawat sebaiknya kamu bangunkan Vio sekarang juga." Perintah Dewi.
"Oke baiklah."
Kemudian Rey menguncangkan tubuh Vio dengan cara perlahan untuk membangunkan Vio. "Vi ayo bangun, ini udah waktunya kita berangkat."
Akan tetapi Vio tidak kunjung untuk bangun, "Vi kalau kamu masih tidak bangun sekarang juga aku akan pergi sendiri." Ancam Rey.
Tanpa disangka - sangka Vio langsung saja bangun, "Ayo kita pergi sekarang Rey." Ucap Vio sambil tersenyum.
Dewi yang melihat hanya bisa menggeleng - gleengkan kepalanya saja, dewi juga mengetahui kalau sedari tadi Vio sedang berakting tidur hanya saja Dewi membiarkannya saja.
"Ayo Rey kok kamu malah jadi begong seperti ini sih." Ucap Vio dengan manja sambil menarik tangan Rey.
"Oke..." Ucap Rey.
Lalu keduanya berjalan sambil vio terus saja merangkul tangan Rey supaya keduanya terus saja berjalan beriringan sampai masuk kedalam pesawat keduanya pun duduk bersebelahan dan bisa dipastikan Vio selalu saja menyenderkan kepalanya diatas bahu Rey.
"Aku suka kita seperti ini terus Rey...jangan pernah pergi lagi ya." Ujar Vio.
Rey hanya diam saja tanpa memberikan respon sama sekali.
"Rey..." Panggil Vio lagi.
"Hmmm..."
"Aku kira kamu sudah tertidur makanya diam saja sedaritadi." Ucap Vio lagi.
"Tidak Vi, aku mendengarkan ucapan kamu kok."
"Lalu kenapa kamu tidak menjawabnya?" Tanya Vio dengan manja.
"Oh iya, sebenarnya kita mau pergi kemana sih? Bahkan sampai sekarang pun aku tidak mengetahuinya." Ujar Rey untuk mengalihkan ucapan Vio tadi.
'Rey pasti sengaja mengalihkan pertanyaan aku tadi...hmm, sepertinya aku tidak bisa terus mendesak Rey, ya setidaknya untuk waktu dekat ini.' Pikirnya.
"Hei...kita mau kemana sih?" Tanya Rey lagi.
"Kita berdua akan tinggal di London Rey....itu kan negara favorit kamu?" Ujar Vio dengan sangat bersemangat.
"Oh iya? Kamu tau darimana? Aku kan tidak pernah cerita apa - apa sama kamu soal ini?" Tanya Rey degan sangat penasaran.
"Ada deh! Lagian apa sih yang aku tidak tau tentang kamu." Jawab Vio.
'Aneh banget deh...yang tau tentang hal ini kan hanya aku dan Ara? Tapi kenapa tiba - tiba sekali Vio mengetahui tentang hal ini? Apa jangan - jangan....Ara yang kasih tau Vio ya?' Rey terus saja berpikir dengan sangat kerasnya.
'Hampir saja aku keceplosan bilang kalau aku tau dari Ara, aku tidak ingin membuat Rey mengingat nama itu lagi.' Batin Vio.
Flashback On
Setelah Ara mendapatkan kabar baik dari Sang Suami, Ara memutuskan untuk memberitahukan tentang hal itu kepada Vio, dan ketika Ara masih berencana ingin menghubungi Vio, entah kenapa Vio yang menelepon Ara terlebih dahulu. Tentunya Ara langsung menjawab panggilan telepon dari Vio.
"Iya Vi...kamu tau gak baru saja aku ingin menghubungi kamu!"
"Oh iya? Ada apa itu?"
"Aku sudah tau keberadaan Rey dimana dan kabar baiknya lagi Al berencana membawa Rey dari sana untuk dipertemukan dengan kamu."
"Serius? Wah aku jadi tidak sabar sekali untuk bertemu dengan Rey! Apa aku tidak bisa pergi menemuinya sekarang aja?"
"Iya aku serius Vi! Tidak Vi, Al sudah mempunyai rencana sendiri untuk membawa Rey pergi darisana dan membuat Rey untuk berubah pikiran."
"Ya padahal aku sudah sangat ingin sekali untuk bertemu dengan Rey....apa Al benar - benar bisa membuat Rey bisa untuk berubah pikiran? Aku masih tidak bisa mempercayai hal itu."
"Percaya saja sama Al dan kamu tinggal menunggu kabar baik saja dari Al, nanti Al akan menghubungi kamu secara langsung. Tapi Vi...Al juga punya rencana lain lagi untuk kamu dan Rey."
"Oke aku akan berusaha untuk sabar kaliĀ ini. Semoga semuanya berjalan sesuai dengan yang kamu katakan ya Ra. Rencana? Rencana apa lagi?"
"Hmm...Al akan mengirim kamu dan Rey untuk pergi keluar negeri, Al tidak ingin kalian berdua kembali lagi ke Indonesia."
"Aku tidak masalah sama sekali tentang hal itu...selama aku bisa bersama dengan Rey."
"Baguslah kalau begitu, awalnya aku tidak yakin kalau kamu akan setuju tentang hal ini...aku juga baru tau tentang hal ini dari Al pagi ini."
"Iya Ra! Maaf aku jadi banyak merepotkan kalian berdua ya! Jujur awalnya aku hanya ingin memanfaatkan kamu saja untuk membuat Rey kembali lagi kepadaku, tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan sebaik ini Ra! Aku jadi merasa malu sendiri dengan diriku."
"Tidak apa - apa kok Vi, aku juga mungkin kalau lagi berada diposisi kamu akan melakukan hal yang sama. Kamu wanita yang baik Vi, aku mau melihat kamu dan Rey hidup bahagia."
"Terimakasih Ra! Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kamu ini...aku benar - benar sangat mencintai Rey."
"Iya aku tau tentang hal itu Vi....setidaknya aku yakin sekarang kalau Rey benar - benar sangat beruntung karena memiliki wanita yang sangat mencintainya seperti kamu."
"Kamu terlalu memuji aku Ra! Aku tidak ada apa - apanya kalau dibandingkan dengan kamu. Kamu hebat Ra sampai membuat seorang Rey benar - benar menggilai kamu."
"Aku tidak memuji kok Vi, kamu memang wanita hebat dan baik menurutku. Aku tidak sehebat itu Vi...kalau kamu ingin mendapatkan cintanya Rey, kamu harus menunjukkannya dengan sikap kamu dengan tulus saja, aku yakin suatu saat nanti Rey akan mencintai kamu."
"Hmmm...iya Ra! Aku tidak akan pernah melupakan saran kamu ini. Sekali lagi terimakasih ya...!"
__ADS_1
"Iya Vi,kalau aku boleh tau, kamu memilih tinggal dinegara mana nanti?"
"Dimana ya? Aku juga belum memikirkan soal hal itu, bukannya katanya Al yang telah mengatur segalanya ya?"
"Al pasti akan mendengarkan keinginan kamu juga Vi....boleh aku kasih saran?"
"Oh seperti itu ya...boleh kok."
"Gimana kalau kamu dan Rey tinggal di London saja? Itu adalah negara impian Rey untuk tinggal disana setelah berkeluarga. Dia pernah mengatakan tentang hal itu kepadaku dulu sekali."
"Hmm...
"Tapi kalau kamu tidak mau tinggal disana juga gak apa - apa Vi. Itu sih terserah kalian berdua saja."
"Aku akan memikirkannya dulu ya Ra...."
"Baiklah Vi....kalau begitu aku tutup sekarang ya."
"Oke Ra..."
Setelah panggilan teleponnya berakhir, Vio masih berpikir keras untuk menerima saran yang diberikan oleh Ara atau tidak, pasalnya jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam, Vio ingin tinggal di negera Perancis, itu adalah impian dari Vio ketika sudah memiliki keluarga. Vio menjadi galau sendiri sekarang karena memikirkan tentang hal itu, akhirnya setelah berpikir lumayan lama, Vio mengalah dan mengikuti keinginan Rey saja.
"Apapun itu asalkan aku bisa terus bersama dengan kamu, aku tidak masalah sama sekali tinggal dimanapun juga!" Ucapnya kepada dirinya sendiri.
Flashback Off
"Vi kamu tau dari Ara ya tentang hal ini?" Tanya Rey lagi yang masih penasaran.
"Hah? Ara? Kamu lupa ya kalau aku dan dia tidak sedekat itu, mana mungkin lah aku tau dari dia." Jawab Vio dengan cengengesan.
"Tapi Vi...tentang hal ini hanya aku dan..."
"Sstt.." Vio seketika menutup mulut Rey.
"Sekarang aku ngantuk Rey..." Ucap Vio dengan cepat lalu kembali lagi menyendekan kepalanya diatas bahu Rey sambil terus memeluk Rey.
'Maafin aku Rey...aku tidak ingin kamu mengungkit tentang mantan pacar kamu itu kepadaku lagi. Aku ingin kamu benar - benar bisa melupakan dia.' Batin Vio lalu kemudian memejamkan kedua matanya lagi.
*******
Mikha saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya sampai - sampai tidak menyadari kalau sedari ponselnya terus saja berdering karena Mikha mematikan suara dering ponselnya. Alvin yang sedari tadi terus saja menghubungi Mikha akhirnya menyerah juga.
Alvin yang hari ini hanya beristirahat didalam kamar hotelnya saja hanya merasa bosan sendiri, pasalnya Mikha sama sekali tidak menanggapi telepon dan chatnya. Alvin terus saja mengomel - ngomel sendiri.
"Sesibuk itu kah kamu Mik sampai - sampai mengabaikan panggilanku?" Ucap Alvin dengan gusarnya sambil memandang ponselnya dengan kesal.
Akhirnya Alvin memutuskan untuk melemparkan ponselnya begitu saja diatas tempat tidurnya itu, "Terserah kamu aja deh! Ngeselin banget deh." Ucap Alvin lalu memutuskan untuk beristirahat saja.
Tapi baru saja Alvin memejamkan matanya, ponselnya berdering dengan sangat nyaringnya. "Itu pasti kamu kan? Aku tidak akan langsung menjawab panggilan kamu semudah itu! Emangnya kamu pikir kamu saja yang bisa berbuat seperti itu? Aku juga bisa." Ucap Alvin.
Kemudian ponselnya berhenti berdering, lalu berdering lagi sampai akhirnya Alvin meraba - raba kasurnya untuk menemukan keberadaan ponselnya itu, "kenapa kamu sekarang tidak sabaran banget sih? Aku tau kamu pasti sangat menyesal kan karena telah mengabaikan panggilanku?" Ucap Alvin dengan sangat bangganya.
Lalu setelah berhasil meraih ponselnya, senyuman diwajah Alvin sirna seketika, ternyata yang mengubunginya bukan Mikha melainkan Clara.
"Kenapa malah dia sih?" Ucap Alvin dengan kesalnya.
Alvin kembali meletakkan ponselnya lagi tanpa ingin menjawab panggilan dari Clara, karena saat ini Alvin benar - benar tidak ingin diganggu lagi oleh Clara. Alvin sangat yakin sekali kalau saat ini Clara ingin meminta dirinya untuk datang keapartemennya lagi, Alvin benar - benar merasa sangat lelah untuk melakukan hal itu terus menerus.
Akan tetapi Clara tidak kunjung untuk menyerah, tapi malah semakin Clara menghubunginya seperti itu, Alvin merasa sangat kesal dengan Clara. Sampai pada akhirnya Alvin memutuskan untuk memblokir nomornya Clara dari ponselnya.
"Nah begini kan jadi lebih tenang...." Ucapnya lalu akhirnya meletakkan ponselnya lagi.
Hari ini hujan dengan derasnya, sehingga membuat Mikha masih betah berada dikantor, setelah merasa jauh lebih santai lagi, akhirnya Mikha memutuskan untuk melihat ponselnya, "Ini sudah jam berapa sih?" Ucapnya.
"Apa ternyata sudah jam 8 malam, aku harus segera kembali." Ujarnya yang sangat merasa terkejut melihat jam nya yang ternyata sudah sangat malam.
'Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Alvin...dan beberapan pesan juga! Pasti Alvin akan marah deh kalau aku menghubunginya saat ini? Mendingan aku pulang dulu deh baru menghubungi dia.' Pikir Mikha lalu segera merapikan mejanya lalu bangkit dari kursinya.
Mikha memutuskan untuk memanggil taksi saja karena sudah terlalu larut, tidak berapa lama kemudian taksi pesanannya sudah datang, tanpa ingin menunggu terlalu lama lagi Mikha memutuskan untuk segera masuk kedalam taksi.
Tapi sialnya Mikha malah terjebak macet, Mikha yang merasa sangat gelisah dan tidak tenang, pasalnya Alvin pasti saat ini sudah berpikiran yang tidak - tidak tentang dirinya itu. Tapi disatu sisi Mikha masih berada didalam kemacetan yang terbilang lumayan panjang ini.
'Apa aku hubungi sekarang aja ya Alvin? Hmm...ya setidaknya aku bisa memberikan penjelasan agar tidak membuatnya berpikir yang tidak - tidak.' Pikirnya.
Dan ketika Mikha akan menghubngi Alvin, entah mengapa ponselnya malah kehabisan baterai.
'Please jangan sekarang...please...!' Pintanya.
"kenapa aku lupa untuk mencarger ponselku sih! Huft, pasti Alvin saat ini malah berpikiran yang aneh - aneh deh karena ponselku mati." Ucap Mikha.
Alvin baru saja bangun dari tidur panjangnya itu, dengan segera Alvin ingin sekali mengecek ponselnya, Akan tetapi tidak ada panggilan ataupun chat dari Mikha sama sekali.
"Apa aku yang terlalu berharap kamu sudah menghubungiku ya? Kenapa kamu sebegitu tidak perhatiannya sih? Baru juga sehari disini aku sudah ingin kembali lagi kerumah!" Gerutu Alvin dengan sangat kesal.
'Apa aku hubungi aja ya? Tidak...tidak! Kenapa aku sama sekali tidak merasa gengsi sih? Bahkan dia telah berani - beraninya untuk mengabaikan panggilan dan chatku! Akan ku tunjukkan kepadanya kalau aku juga bisa melakukan hal itu!' Pikir Alvin.
Lalu akhirnya Alvin memutuskan untuk pergi mandi sembari menunggu Mikha untuk menghubungi dirinya.
"Aku akan lihat sampai sejauh mana kamu tidak akan memberikan aku kabar Mikha!" Ucapnya yang merasa sangat kesal.
Sedangkan ditempat lain, Mikha masih berada didalam kemacetan yang masih terbilang panjang itu, akhirnya Mikha berinisiatif untuk bertanya kepada supir taksinya itu, "Pak...masih lama lagi ya?"
"Sepertinya begitu Mbak... saya juga kurang tau ini berapa lama lagi kita berada dikemacetan seperti ini."
"Hmmm...begitu ya Pak..." Ucap Mikha dengan pasrah.
"Iya Mbak..."
'Gimana ini? Pasti Alvin masih berpikiran negatif deh?' Pikirnya.
20 menit kemudian...
Alvin yang saat ini baru saja keluar dari kamar mandi langsung segera mengambil ponselnya, tapi tidak ada tanda - tanda kalau Mikha telah menghubunginya.
"Helooo...kemana aja sih lo! Benar - benar ngeselin banget sih lo! Lo benar - benar serius ya bilang kalau lo akan merasa bebas kalau gue gak ada dirumah?" Ucap Alvin dengan kesalnya.
"Terserah lo aja deh!" Ucap Alvin lagi lalu segera meleparkan ponselnya lagi.
Kemudian ponselnya berdering tapi Alvin sengaja untuk berlama - lama untuk mengangkat panggilan teleponnya itu. 'Itu pasti dari lo kan? hmm...'
Setelah mendengar dering teleponnya sudah mau berakhir, akhirnya Alvin memutuskan untuk melihat ponselnya kembali. 'Kak Ara? Ada apa ya?' Pikirnya.
Lalu Alvin segera mengangkat panggilan telepon dari Sang Kakak Iparnya itu.
"Halo Kak? Ada apa nih? Kakak tidak salah untuk mengubungi orang kan?" Goda Alvin.
"Vin...Mikha belum kembali, Kakak sudah berusaha untuk menghubungi ponselnya, akan tetapi tidak aktif. Kakak takut terjadi apa - apa dengan Mikha. Apa Mikha ada menghubungi kamu?"
__ADS_1
"Apa Mikha masih belum kembali juga Kak? Sekarang kan sudah sangat malam? Panggilan telepon dan chat Alvin aja belum ada yang dibalas oleh Mikha sama sekali Kak. Dimana sih dia?"
"Aduh gimana dong Vin? Kakak sangat panik nih, Kakak takut terjadi sesuatu kepada Mikha."
"Hmmm...aduh gimana ya Kak...Apa Alvin pulang saja ya Kak kesana sekarang?"
"Tidak..tidak Vin...ya udah mendingan kita tunggu saja Mikha sebentar lagi ya, semoga saja dia tidak kenapa - kenapa ya Vin."
"Lalu bagaimana kalau Mikha masih tidak kembali dan tidak ada kabar juga Kak? Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Alvin yang berubah menjadi sangat khawatir juga.
"Kita akan lapor polisi Vin..."
"Alvin akan segera kembali Kak kalau Mikha sampai tidak ada kabar juga!"
"Tapi Vin..."
"Alvin tidak akan bisa tenang kalau seperti ini Kak....pasti Kak Al juga akan mengerti dengan keputusan Alvin ini."
"Ya udah terserah kamu saja ya...ya udah kalau Mikha sudah kembali, Kakak akan menghubungi kamu lagi ya."
Baiklah Kak...semoga saja Mikha cepat kembali ya Kak."
"Iya Vin..."
Setelah panggilan teleponnya berakhir, Alvin menjadi merasa tidak tenang, akhirnya Alvin memutuskan untuk segera menghubungi Mikha kembali. Akan tetapi usahanya sia - sia karena nomor Mikha tidak aktif.
"Apa yang terjadi sih? Kenapa ponsel kamu mati? Apa yang akan aku lakukan sekarang?" Ucap Alvin sambil menarik rambutnya kebelakang dan terus saja berjalan mondar mandir.
Alvin terus saja berusaha untuk menghubungi Mikha terus menerus, tapi masih tidak berhasil juga. "Aku harus kembali!" Ucapnya akhirnya.
Baru saja Alvin bangkit dari duduknya, Mikha tiba - tiba saja menghubunginya, dengan cepat Alvin langsung segera menjawab panggilan telepon dari Mikha.
"Kamu kemana aja sih? Kenapa nomor kamu tidak aktif daritadi? Kamu tau gak sih betapa paniknya aku saat ini?" Omel Alvin terus menerus.
"Maaf Vin...tadi hujan terus aku lupa mencarger ponsel aku, aku juga lupa tidak mengaktifkan suara ponsel aku makanya aku tidak mengetahui kalau kamu telah menghubungi aku terus menerus. Jadi kamu beneran panik nih?" Goda Mikha.
"Astaga Mikha...hampir saja aku memutuskan akan kembali kalau sampai kamu tidak pulang atau ada kabar! Kamu pasti saat ini sedang merasa sangat senang ya?" Omel Alvin tanpa henti.
"Iya Sorry Vin....udah ya kamu jangan marah terus menerus seperti ini, aku gak kenapa - kenapa kok Vin. Aku suka deh melihat kamu khawatir seperti ini."
"Mikha...astaga! Bisa - bisanya kamu masih bisa tertawa seperti ini ya."
"Sorry Vin...habisnya kamu sangat lucu deh, ini kali pertamanya aku merasa telah dikhawatirkan oleh seseorang...ternyata rasanya bisa sebahagia ini ya? hmm...kalau begitu aku besok akan melakukannya lagi."
"Puas banget ya kamu telah ngerjain dan buat aku sepanik ini? Awas aja kalau sampai kamu berani melakukannya lagi!" Ancam Alvin.
"Puas banget dong! Aku jadi yakin kalau kamu benar - benar mencintai aku....terimakasih ya Suamiku tersayang! Udah ah aku mau mandi dulu, ntar baru kita telepon lagi ya."
"Tapi Mik...aku masih belum selesai..."
"Aku udah basah banget ini Vin...tunggu sebentar ya..."
"Oke baiklah...mandi dengan air hangat ya dan jangan membuat aku menunggu terlalu lama lagi."
"Siap!"
Kemudian Mikha memutuskan untuk segera mandi, Mikha beanr - benar mengikuti apa yang dikatakan oleh Alvin tadi. Saat ini Mikha terus saja senyum - senyum dengan sendirinya. "Lucu juga ya kamu Vin....aku baru tau kalau seorang playboy seperti kamu bisa sepanik itu?" Ucap Mikha sambil mengeringkan rambutnya.
Mikha mengeringkan rambutnya dengan cepat agar bisa menghubungi Alvin lagi.
MIKHA
Aku udah selesai mandi ini...kamu gimana disana? Oh iya kamu sudah makan malam kan?
ALVIN
Telepon aku sekarang!
"Dasar pemarah, posesif, suka ngatur - ngatur!" Ucap Mikha.
Kemudian Mikha segera menelepon Alvin, tentu saja Alvin langsung menjawab panggilan dari Mikha dengan cepat.
"Hebat banget ya kamu hari ini Mik, baru hari pertama aku pergi kamu benar benar berpikir kalau kamu itu bisa bebas!"
"Vin...please dong, aku kan udah minta maaf, masa masih belum cukup juga!"
"Masih belum...aku masih kesal banget sama kamu."
"Ya udah kalau gitu aku tutup aja deh teleponnya."
"Berani banget kamu mau nutup telepon ya! Alihkan ke video call...!"
"Aku malas deh kamu marah terus...."
"Aku bilang alihkan ke video call!"
"Tapi kamu jangan marah lagi ya?"
"Mikha...aku bilang alihkan ke video call sekarang!"
"Iya ...iya!"
Kemudian Mikha mengalihkan panggilan teleponnya ke video call.
"Hai Istri!"
Betapa terkejutnya Mikha saat melihat Alvin yang saat ini sedang bertelanjang dada, Mikha langsung menutup matanya.
Alvin malah tertawa melihat ekspresi Mikha yang masih bersikap malu - malu seperti itu.
"Kenapa kamu menutup mata kamu?"
"Hah? Gak apa - apa, kamu mendingan pakai baju dulu deh ntar kamu masuk angin lho!"
"Aku bilang bukan mata kamu....apa jangan - jangan kamu saat ini sedang berpikiran kotor ya?"
Dengan cepat Mikha segera membuka matanya, "Gak kok!" Jawab Mikha dengan lugunya.
Alvin hanya berusaha untuk menahan tawanya.
********
Gimana gimana? Suka gak episode hari ini?
Jangan pada baper ya!
oh iya Thor ingin mengucapkan selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan ya, mohon maaf jika selama ini thor memiliki kesalahan!
__ADS_1
Happy Reading Guys!