
Amsterdam, Belanda.
Belanda, salah satu negara di Eropa ini terkenal dengan bunga tulip dan juga kincir anginnya. Negeri yang kerap dijuluki negeri kincir angin ini menyimpan sejuta keindahan alam yang terdapat di dalamnya.
Belanda telah menjadi tujuan wisata utama dalam beberapa tahun terakhir dengan banyak orang yang ingin bersepeda di sepanjang kanal di Amsterdam atau mengunjungi ladang tulip yang luas dan menakjubkan di Taman Bunga Keukenhof.
Tak kerap banyak juga Belanda dijadikan tujuan utama bagi para pelajar dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu di sekolah-sekolah terbaik di sana.
Sama halnya dengan seorang gadis yang sudah cukup lama menetap di negeri kincir angin tersebut. Hampir 4 tahun ia menghabiskan hari-hari untuk menimba ilmu yang akan menjadi bekal bagi dirinya ketika suatu hari nanti pulang ke tanah air.
Siang itu, di sebuah kedai kopi yang terletak di pusat kota, seorang gadis datang dengan terpogoh-pogoh ingin segera memasuki tempat tersebut setelah menerima panggilan telpon yang membuatnya nyaris tak sadarkan diri.
Syafira. Gadis itu berhenti sejenak di ambang pintu cafe untuk memegangi sebelah dadanya yang terasa berdebar-debar. Napasnya terdengar memburu. Wajar saja ia berlarian disepanjang jalan untuk sekedar segera sampai di tempat itu. Dengan sigap ia merapikan surai hitamnya yang tergerai begitu saja dan sedikit terlihat berantakan. Mengambil napas dalam-dalam kemudian ia keluarkan perlahan dan terus mengulanginya. Ia lakukan untuk mengurangi rasa grogi yang ada di dalam dirinya.
Kedua pasang matanya dengan seksama mencari-cari seseorang di setiap sudut tempat tersebut. Ada binar kebahagiaan di bola mata gadis itu saat netranya menangkap seseorang yang melambaikan tangan ke arahnya. Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Dengan cepat ia menghampiri sosok tersebut yang mana ternyata sosok itu tengah tersenyum juga kepadanya.
"Kak?" panggilnya saat sampai tepat di depan sosok tersebut dengan tatapan tak percaya.
"Hai," sapa orang tersebut dengan senyum manis yang merekah.
"Ini beneran Kakak?" tanya lagi gadis itu, dia mengambil duduk dengan tatapan tak percaya menghadap pada sosok tersebut.
"Kamu pikir?" terdengar kekehan kecil diantara mereka.
"Aku nggak lagi mimpi kan?" tanyanya lagi sembari menepuk-nepuk kedua pipinya sampai ia mengaduh kesakitan akibat ulahnya sendiri.
"Kenapa? Kamu masih nggak percaya?" tanya balik sosok tersebut yang ternyata seorang pria dewasa, yaitu Daniel.
"Fira?" panggil Daniel pada gadis yang tengah mematung itu sampai ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Syafira agar membuatnya kembali tersadar.
"Hei... kamu nggak apa-apa kan?"
"Ya? A-aku nggak apa-apa kok." ucapnya gelagapan. "Aku pikir Kakak cuma bercanda saat tadi nelpon ngasih tahu ada di sini."
"Kamu pikir aku berbohong? Untuk apa?" kekeh pria itu dengan renyahnya.
Gadis itu mengendikkan bahunya. Ia terus menatap wajah pria setengah bule itu tanpa beralih sedikitpun.
"Kakak lagi ngapain di sini?"
"Kamu nggak suka ya aku ada di sini?" sorot matanya seolah berpura-pura menelan kekecewaan saat gadis yang ada di hadapannya itu malah bertanya seperti itu.
"B-bukan begitu..." elak Fira cepat menggelengkan kepalanya. "Maksud aku, bukannya Kakak sedang ada di Jepang, kenapa tiba-tiba ada di sini?" Fira memicingkan matanya.
"Sedang ingin," balas Daniel santai yang terdengar sangat ambigu. Pria itu menyandarkan punggungnya sembari bersedekap dada.
"Nggak jelas..." gumam Fira.
"Memangnya kenapa kalau aku tiba-tiba ada di sini?"
"Aneh aja," telak Fira sedikit kesal. "Aku serius..." gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga wajahnya begitu terlihat dekat beberapa senti dengan wajah Daniel yang hanya tersekat oleh meja.
"Aku pun serius bocil." ujar Daniel tak kalah mendekatkan wajahnya pada Fira sambil tertawa.
Fira berdecak kesal. Ia menarik wajahnya yang hampir saja bertubrukan dengan pria bule itu. Dia dapat mencium dengan jelas aroma mint yang berhembus hangat dari napasnya. Belum lagi, mata indah berwarna hitam kecoklatan milik pria itu seakan telah membuatnya terpesona. Jangan ditanya lagi kalau saat ini dadanya berdebar-debar berdegup dengan begitu kencang.
Entah sejak kapan gadis itu diam-diam mengagumi sosok pria dewasa yang notabennya adalah sahabat Kakaknya sendiri.
Berawal dari rasa kagumnya terhadap pria tersebut, kemudian menyukainya, hingga tak jarang membicarakan tentangnya adalah hal yang lumrah sering Fira lakukan sejak dulu mulai saat ia beranjak remaja.
Akan tetapi, setiap saat ia mengagumi memiliki rasa yang berbeda. Fira tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan saat melihat sosok Daniel. Jenis perasaan yang dirasakannya untuk Daniel berbeda dengan perasaan terhadap orang tua, kakak, atau pun sahabat.
Apakah itu perasaan suka? Tetapi Fira pernah meyakini kalau perasaan yang dia rasakan itu lebih dari sekedar perasan suka.
Apa itu cinta?
Fira pernah berpikir seperti itu. Apakah ia memilki perasaan cinta pada sosok pria yang mana sahabat dari kakaknya sendiri?
Kemampuan untuk merasakan cinta dalam hal romantis berkembang selama masa remaja. Remaja di seluruh dunia tentu akan merasakan perasaan tertarik terhadap lawan jenisnya. Ini adalah hal yang wajar. Perasaan yang mulai dialami di masa remaja ini bisa menyenangkan atau bahkan membingungkan pada awalnya. Itu yang dialami oleh Fira sampai detik ini juga.
Masa remaja adalah tahap di mana remaja menemukan hal-hal baru di dalam hidupnya, seperti cinta pertama. Jelas, ini terjadi pada anak laki-laki dan perempuan. Terkadang, persaan jatuh cinta bisa menjadi sulit untuk ditangani, terlebih jika baru dirasakan untuk pertama kalinya.
Jatuh cinta memang bisa membuat seseorang pada usia berapa pun merasa gelisah secara emosional, tetapi mungkin akan sangat sulit bagi remaja untuk mengelola perasaan ini untuk pertama kalinya. Itu jelas terlihat dari diri Fira selama ini.
Apa Daniel adalah cinta pertama baginya?
Tidak tahulah, pokoknya Fira suka saja memperhatikan bahkan mendapat perhatian dari pria tersebut. Apalagi akhir-akhir ini pria itu kerap selalu memberikan perhatian sekecil apapun layaknya seorang pasangan kekasih.
__ADS_1
Bahkan sedikit banyak Fira selalu merasa jika diantara mereka memiliki hubungan yang tidak dapat dijelaskan.
Terbawa perasaan, sudah pasti. Malah Fira kini berharap jika pria yang ada di hadapannya kini akan membalas perasaannya.
"Bocil," panggil Daniel saat melihat Fira kembali melamun. "Hei! Kamu melamun lagi?"
Fira mencebik tak suka mendengar sematan nama bocil terus melekat pada dirinya. Sekarang kan dia sudah besar. Bukan anak kecil lagi. Dia sudah menjadi seorang wanita dewasa.
"Kamu sedang mikirin apa?" tanya Daniel menyipitkan matanya. "Kamu berpikiran yang aneh-aneh ya? Kamu pasti sedang mikir yang jorok-jorok. Ngaku!"
"Apaan sih Kak! Enggak ya, memang aku cewek apaan sampai mikir begituan." jawab Fira masih dengan muka cemberut.
'Dari pada mikirin yang aneh-aneh, mendingan aku mikirin kamu, Kak.' batinnya ikut bersuara.
"Nggak percaya!" sahut Daniel.
"Aku nggak minta Kakak buat percaya juga." balasnya tak mau kalah. "Aku juga nggak percaya, Kakak datang kesini pasti ada sesuatu kan? Nggak mungkin bukan Kakak tiba-tiba datang sejauh ini cuma buat ketemu sama aku aja,"
"Hal pertama yang harus aku katakan, jangan menjadi seorang yang terlalu percaya diri." balas Daniel santai. "Memang aku datang ke sini untuk bertemu dengan seseorang yang sangat penting." lanjutnya.
"Jadi, siapa?" tanya Fira dengan cepat saking penasarannya.
"Kamu selalu kepo."
"Aku serius Kak..."
Daniel menghela napasnya sebelum ia kembali membuka suara. Menatap manik hitam yang membulat menyorotkan kegelisahan.
"Aku ingin bertemu dengan seseorang di sini." ucapnya gamblang tanpa ada yang ditutupi.
"Seorang teman?" tanya Fira lagi dengan degup jantung yang semakin bertalu-talu.
"Tepatnya, lebih sekedar dari teman."
"Pe-rem-puan?" ucap Fira dengan nada yang melemah.
"Iya, seorang perempuan yang ingin aku temui."
"Pacar Kak Daniel." tebaknya begitu saja dengan suara yang menggumam sembari membuang muka.
"Dia ada di sini? Jadi Kak Daniel datang ke sini untuk menemui pacar Kakak?" gadis itu menguatkan hati untuk melihat wajah sosok pria yang selama ini ia kagumi. Mendengar pengakuan dari pria itu yang sudah memiliki kekasih, tetiba membuat hatinya patah. Terasa sakit dan sesak. Dia kalah telak sebelum memulai peperangan. Pria itu sudah memiliki tambatan hati ternyata.
Tiba-tiba hati Fira mencelos. Pandangan matanya seakan mengabur karena terhalang oleh embun. Harapannya terasa hilang, hatinya sedang tersayat, amarah dan rasa bersalah tengah berkecamuk dalam benaknya. Dadanya terasa perih kala harapan yang dia impikan harus terputus oleh harapan palsunya. Setidaknya itulah yang dirasakan olehnya saat ini. Fira merasa sedang patah hati.
"Fira... kamu nggak apa-apa?" tanya Daniel menyentuh punggung tangan gadis itu untuk memastikan keadaannya.
"I'm okey, Kak..." jawabnya dengan perasaan terluka.
"Beneran kamu nggak apa-apa? Muka kamu pucat. Aku khawatir kamu sakit, Ra..." khawatir Daniel pada Syafira.
Gadis itu hanya mengangguk lemah. Sekali lagi ia menatap wajah Daniel, sosok pria yang telah membuatnya bisa merasakan getaran di hati untuk pertama kalinya. Tapi kini ia merasa semakin jauh untuk bisa menggapai pria itu. Cintanya pada pria itu jelas bertepuk sebelah tangan.
Apa dia sedang merasakan patah hati?
*
*
*
Suara dentingan dari alat makan yang saling beradu terdengar di atas meja, suasana hangat terasa melingkupi ruangan tersebut. Wajah-wajah ceria nampak pada mereka. Kala sebuah keluarga yang baru saja meraih kembali kebahagiaanya itu tengah makan malam dengan senyum serta canda tawa yang menghiasi suasana.
Memiliki keluarga harmonis menjadi dambaan bagi banyak orang. Setiap orang tentu ingin mempunyai keluarga yang harmonis. Keluarga yang saling membersamai, selalu ada dalam suka dan duka adalah potret keluarga bahagia yang diimpikan banyak orang. Untuk membangun keluarga yang harmonis bukanlah perkara mudah, karena membutuhkan usaha tidak hanya satu orang melainkan seluruh anggota keluarga.
Dan kini, mereka telah kembali bersama. Saling melengkapi satu sama lain dalam keutuhan sebuah keluarga.
Tumbuh dalam kehangatan kasih sayang orang tua dan keluarga yang harmonis akan menghasilkan orang dewasa yang sehat dan bahagia. Itu yang diimpikan Kiana selama ini. Memilki kedua orang tua yang lengkap dan seorang saudara tak pernah ia bayangkan, setelah sebelumnya pernah merasa pasrah dengan jalan takdirnya.
Namun hari ini ia merasa semua itu berubah dalam sekejap mata. Melihat orang-orang yang menungguinya untuk kembali pulang tengah tersenyum berbahagia dengan kehadiran dirinya. Ia merasa dicintai dengan kasih sayang yang melimpah ruah yang diberikan oleh keluarganya.
"Mama senang sekali, setelah menanti dan memimpikan hari-hari dimana saat ini terjadi, pada akhirnya kita bisa berkumpul dalam satu meja untuk makan bersama." ungkap Bu Sofia yang merasa haru.
"Berkat doa-doa yang Mama panjatkan. Keihklasan dan kesabaran yang Mama perjuangkan selama ini akhirnya semua doa Mama terkabul. Asyilla sudah kembali pada kita. Putri yang kita cintai sudah pulang pada kedua orang tuanya." sahut Pak Halim menimpali istrinya. Ucapan syukur terus ia lantunkan bentuk tanda terima kasihnya kepada Sang Maha Pencipta.
"Iya, Mama sangat-sangat bersyukur sekali." ucapnya seraya menatap bungah putrinya.
"Sudah... Mama sudah berusaha dengan baik sampai hari ini. Adek sudah pulang. Mama janji sama Aaric nggak akan boleh nangis sedih lagi. Lebih baik sekarang kita makan. Mama harus banyak makan karena sejak kemarin Mama susah sekali makan." Aaric Menuangkan berbagai macam lauk dan sayur pada piring Mamanya.
__ADS_1
"Sayang banget kalau makanan sebanyak ini cuma di liatin aja." seru Aaric yang tidak ingin ada derai air mata kesedihan lagi.
"Kamu ini Ar... sudah ini terlalu banyak." protes Bu Sofia melihat tingkah putranya.
"Nggak, pokoknya Mama harus makan banyak. Aku masih ingat dengan jelas kalau Mama akan selalu sehat untuk menemani anak dan cucu-cucu Mama nantinya. Sekarang sudah ada Al, cucu Mama. Jadi Mama nggak bisa mengelak lagi."
"Mama belum makan?" tanya Kiana dengan nada khawatir.
"Iya, Mama mogok makan. Bandel banget. Pengen cepet ketemu sama kamu sejak kemarin, jadinya susah makan." adu Aaric pada adiknya.
"Ma?" perhatian Kiana kini tertuju pada Bu Sofia. "Mama nggak boleh seperti itu, nanti Mama sakit."
"Kakakmu itu terlalu berlebihan. Mama cuma nggak selera buat makan."
"Apa yang anak-anak katakan benar, Mama harus memikirkan kesehatan Mama sendiri. Bagaimana Mama mau bertemu dengan Asyilla kalau Mama sendiri malah sakit."
"Aku setuju dengan Papa." balas Aaric.
"Sejak kapan kalian bisa kompak seperti ini." sungut Bu Sofia.
"Sejak saat ini. Mulai sekarang kita harus selalu kompak sebagai keluarga. Maka dari itu, mari kita mulai makan. Aaric sudah nggak sabar menikmati makanan lezat ini."
"Kamu benar Ar, ini acara makan malam pertama kita bersama Syilla. Papa harap putri Papa ini bisa menikmati masakan Mamanya yang tidak ada tandingannya."
"Papa benar, kamu pasti bakalan suka dengan rasa masakan Mama. Apapun yang Mama buat pasti terasa enak sekali." ujarnya pada Kiana yang tersenyum melihat kehangatan keluarganya.
"Kamu berlebihan," elak Bu Sofia.
"Mama selalu merendah hati. Tapi itu memang kenyataannya bukan?"
"Aku suka, masakan Mama enak. Iya kan Mas?" ungkap Kiana setelah mencicipi masakan Mamanya yang memang sangat menggugah selera.
"Iya, sayang. Rasanya enak persis seperti buatan kamu." balas Bian jujur dari dalam hati.
"Tapi buatan Mama lebih enak, aku suka masakan Mama." puji Kiana yang memang tidak berbohong sama sekali. Benar apa kata Kakak dan Papanya, masakan Mamanya begitu enak. Mamanya pintar sekali memasak.
"Makasih sayang, kalau begitu kamu bisa menghabiskan semua makanan yang kamu suka." ujar Bu Sofia dengan mata berbinar. Mengelus kepala Kiana dengan lembut. Senang saat mendapat pujian dari anak dan menantunya.
"Iya, Ma." jawab Kiana dengan senyuman.
"Tambah lagi Bi, makanannya masih banyak."
"Iya, Tante. Terima kasih." Bian menganggukkan kepalanya dengan senyum malu-malu.
"Lho, kok masih panggil Tante. Mulai sekarang panggil Mama. Sama seperti Syilla."
"I-iya, Ma..." jawab Bian sungkan. Ia begitu canggung saat memanggil Bu Sofia dengan sebutan Mama.
"Papa tidak menyangka, ternyata Bian yang menjadi menantu laki-laki di rumah ini untuk putri Papa yang sangat cantik ini." timpal Pak Halim masih tak menyangka.
"Bukankah itu keinginan Papa sejak dulu ingin memiliki menantu seperti Bian?" balas Bu Sofia. Bian yang mendengar hal itu seketika tersedak. Ia cukup terkejut dengan penurutan Mama mertuanya itu.
"Mama benar dan sekarang semua angan itu terwujud satu persatu."
"Mama ingat betul, bagaimana antusiasnya Papa dan Mas Hardi merencanakan perjodohan antara Bian dan juga Syilla. Mama geram waktu itu, padahal Syilla kan masih bayi. Bisa-bisanya kalian merencanakan hal itu. Apa tidak bisa menunggu sampai putri kita besar?" Bu Sofia mencebik seraya mengelap mulutnya dengan tissue. Pak Halim hanya terkekeh melihat istrinya yang mencebik saat mengingatkannya tentang cerita masa lalu.
"Perjodohan?" ucap Kiana dan Bian bersamaan. Mereka saling pandang tanpa bersuara. Semakin terkejut dengan cerita dari Bu Sofia tentang adanya rencana perjodohan diantara mereka.
"Itu kan hanya obrolan ringan antara kami sebagai sesama pria." elak Pak Halim menghindar.
"Tapi tetap saja, kalian begitu serius saat itu."
"Awalnya kami memang berencana ingin menjodohkan anak pertama kita masing-masing. Tapi berhubung yang keluar sama-sama anak laki-laki, Hardi yang memiliki ide untuk menjodohkan anak pertama laki-lakinya dengan anak kedua kita setelah dia tahu anak kita itu perempuan." jelas Pak Halim meluruskan.
"Mama dan Ajeng waktu itu sampai terkejut mendengarnya. Ya meski Mama dan Ajeng senang mendengarnya karena kita bisa menjadi keluarga, tetapi itu terlalu terburu-buru."
"Itu hanya cerita masa lalu. Sebagai penghibur saja, meskipun kami tidak seserius itu untuk melakukannya. Tapi Tuhan sepertinya menjawab doa Hardi. Tanpa kita yang merencanakan, putri kita memang berjodoh dengan Bian." jelas Pak Halim.
"Makanya Papa cukup terkejut dan juga sangat senang saat mendengar putri kita ternyata istri dari seorang anak sulung dari Keluarga Hardi. Seorang pemimpin muda dari perusahaan terkenal yang begitu hebat." ucapnya bangga pada menantunya.
"Papa sudah berulang kali bilang sama Bian agar mulai sekarang panggil Papa. Kamu adalah bagian dari keluarga ini sekarang, yang artinya kamu adalah anak kami juga." lanjutnya lagi.
Bian hanya mengangguk pelan. Walau bagaimana pun ia masih merasa aneh memanggil Bu Sofia dan Pak Halim dengan sebutan Mama dan Papa. Terlebih Bian sudah terbiasa memanggil kedua orang tua sahabatnya itu sebagaimana mestinya selama ini.
"Malam ini Papa begitu bahagia bisa berkumpul bersama anak, cucu, dan juga menantu." ungkap Pak Halim yang tak bisa lagi menahan rasa syukurnya.
Suasana semakin terbawa hanyut dalam obrolan hangat menjelang malam. Mereka melewati acara makan malam dengan penuh suka cita.
__ADS_1
Tetapi, terlihat sepasang mata di seberang meja sana menatap Bian dengan sorot mata yang tajam. Melihat keakraban Bian dengan kedua orang tuanya membuat ia tersenyum sinis.
Aaric sangat tidak suka, tapi mau bagaimana lagi. Seperti kata pepatah, tidak ada asap tanpa api. Selalu ada banyak alasan mengapa seseorang memendam ketidaksukaan dan bahkan kebencian. Bisa jadi karena kita melakukan kesalahan yang menyakiti hatinya, atau bisa juga karena sikap kita yang terlambat. Dan hal itulah yang terjadi diantara kedua pria yang dulu pernah menjadi teman dekat tetapi kini saling berjauhan.