
Ditempat lain, tepatnya dikediaman Al dan Ara....
Ara sedang resah dan gelisah menunggu kepulangan Suaminya bersama dengan Tia. Ara merasa tidak tenang. Dia terus saja menatap jam yang ada diruangan tamu itu. "Kemana sih Al? Kenapa lama sekali? Apa aku telepon saja ya?" Ujar Ara.
Akhirnya Ara memutuskan untuk menghubungi Suaminya, pada deringan panggilan yang ketiga Al menjawab telepon Ara.
"Sayang....kamu udah dimana?" Tanya Ara langsung to the point.
"Ini aku lagi dijalan sayang, sebentar lagi aku sudah sampai kok. Kamu tenang saja ya."
"Kamu sudah bersama dengan Tia kan?"
"Iya sayang....ini dia saat ini berada didalam mobil yang sama denganku."
"Baiklah...kalau begitu sampai bertemu dirumah ya."
"Iya sayang...love you!"
"Love you too Suamiku."
Kemudian keduanya mengakhiri panggilan teleponnya.
"Siapa? Istri tercinta kamu ya?" Tanya Tia dengan senyuman liciknya.
"Iya..." Jawab Al dingin.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu bisa jatuh cinta dengan wanita seperti dia! Kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku? Apa kelebihan dia daripada aku?" Ujar Tia yang merasa tidak senang. Sejujurnya Tia lebih baik membusuk didalam bar milik mantan Bosnya Clara daripada harus bertemu lagi dengan Al dan istrinya. Dia benar - benar sangat membenci keduanya.
"Jelas dia lebih dari segala dari kamu...." Balas Al dengan santainya karena tidak ingin terbawa emosi atas apa yang telah Tia ucapkan sebelumnya.
"Lebih baik? Dalam hal selingkuh?" Balas Tia dengan senyuman mengejeknya.
"Setidaknya dia tidak mengorbankan orang lain seperti seseorang!" Balas Al masih dengan sikap acuh tak acuhnya.
Emosi Tia sudah tidak terkendali lagi, kini Tia sudah mengepalkan kedua tangannya. "Lalu apalagi sekarang rencana Istri kamu? Kenapa dia ingin bertemu denganku? Oh aku tau...atau jangan - jangan dia ingin mempermalukan aku ya? Dia merasa telah menang karena telah memiliki kamu." Ujar Tia.
Al tersenyum saja, "Terserah kamu berpikir seperti apa...nanti juga kamu akan tau sendiri apa yang sedang direncanakan oleh Istriku! Ingat jaga sikapmu nanti." Ujar Al menekankan setiap ucapannya.
"Kenapa emangnya? Kenapa aku harus baik dihadapan wanita yang sudah mencuri kamu dariku? Kalau aku menolaknya bagaimana?" Ketus Tia tanpa perasaan takut sama sekali.
Al melihat Tia dari kaca spion mobilnya, "Kamu akan tau akibatnya...dengan sekali menghubungi seseorang aku bisa membuat hidupmu jauh lebih hancur lagi dari sekarang. Apa kamu bersedia menanggung resiko kalau pada akhirnya kamu akan dijual keluar negeri? Pilihannya ada ditangan kamu Tia, aku berharap kamu tidak menyesali segala keputusan yang telah kamu ambil." Ancam Al sambil menunjukkan ponselnya.
Tia hanya terdiam sambil menatap tajam kepada mantan kekasih yang sangat dicintainya itu, lebih tepatnya lagi bukan cinta sih. Tia benar - benar terobsesi dengan Al.
"Apa kamu sudah membuat sebuah keputusan?" Kemudian Al turun dari mobilnya, Tangan Tia masih terikat dan Al menyuruh seseorang untuk membantu Tia keluar dari dalam mobil. Al sudah berjalan duluan masuk untuk segera menghampiri Istrinya.
"Sayang...maaf ya kamu jadinya menunggu terlalu lama." Ucap Al sambil memberiakn pelukan kepada Ara.
"Tidak apa kok sayang. Dimana dia?" Ucap Ara sambil celingak celinguk melihat kearah luar.
"Masuk! Bawa dia masuk." Pinta Al dengan tegas.
__ADS_1
"Sayang..ingat kamu harus berada disamping aku! Aku tidak ingin mengambil resiko bila Tia berbuat nekat untuk menyakiti kamu." Ujar Al sambil memegang kedua bahu Sang Istri.
Ara hanya mengangguk mengerti dengan segala kekhawatiran yang dirasakan oleh Suaminya itu.
Anak buah Al sudah membawa Tia untuk masuk, kini Tia sudah duduk dihadapan Ara dan juga Al. Tia terus menatap penuh kebencian kepada Ara. Dia sangat ingin melukai Ara, pandangan Tia beraih kepada kandungan Ara yang kini terlihat sudah semakin membesar.
"Bagaimana kabar kamu Tia? Aku tau pasti hidup kamu akhir - akhir ini terasa sangat sulit kan?" Tanya Ara berusaha seramah mungkin.
'Cih hentikan dramamu itu! Masih saja suka ingin terlihat baik dihadapan semua orang.' Batin Tia.
"Apa pedulimu? Aku lupa kalau hubungan kita tidak sedekat ini sampai kamu ingin bertemu denganku. Aku benar - benar merasa sangat tersanjung mendengarnya." Balas Tia dengan senyuman mengejeknya.
Saat Al sudah sangat emosi karena ucapan Tia barusan, Ara yang melihatnya berusaha untuk menahan Suaminya. Ara menggenggam tangan Suaminya dengan kuat. Mereka saling bertatapan sebentar, Ara melihat kemarahan yang sudah meluap - luap dimata Suaminya. Ara hanya tersenyum seolah memberikan kode kalau dirinya baik - baik saja untuk saat ini.
Al berusaha untuk menahan dirinya, dia tidak ingin melihat Ara menjadi stres karena melihatnya malah bertengkar tepat dihadapannya.
"Aku tau kalau hubungan kita tidak sedekat itu...hanya saja aku hanya ingin berdamai dengan kamu. Aku hanya ingin berteman dengan kamu, Tia." Ujar Ara sambil tersenyum.
"Berteman? Bahkan aku tidak pernah bermimpi untuk berteman dengan seorang wanita yang sudah merebut priaku." Balas Tia masih dengan tatapan bencinya.
Ara lagi dan lagi hanya membalasnya dengan memberikan senyuman saja.
"Kenapa kamu tersenyum? Bahkan aku jijik melihat senyumanmu." Balas Tia.
"TIA!" Ketus Al mengingatkan Tia tidak melewati batasnya.
"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya....bukannya Istri tersayang kamu juga tidak marah sama sekali? Aku muak sekali melihatnya bersikap baik dihadapanku. Aku muak dengan sikapnya!" Ketus Tia dengan penuh penekanan.
"Sayang sudahlah...aku tidak apa - apa kok. Kamu diam saja ya." Pinta Ara sambil mengelus dada Suaminya.
Tia malah semakin emosi melihat pertunjukkan yang diberikan oleh Ara. Dia masih merasa kalau Ara menyuruhnya datang kesini hanya untuk menyaksikan pertunjukkan seperti ini.
"Tia....aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan saat ini, tapi jujur aku tidak pernah merebut Al dari kamu. Bukannya sebelumnya kamu sendiri yang telah memutuskan hubungan kamu dengan Al jauh sebelum aku bertemu dengan Al. Lalu kenapa kamu sekarang merasa sangat keberatan aku sudah hidup bahagia dengan Al? Sejak awal dengan kamu aku juga tidak memiliki masalah apa - apa bukan? Sekarang bisakah kita melupakan masa lalu?" Ujar Ara panjang lebar dengan sangat bijak.
Tia masih menatap tajam Ara. Tia masih belum bisa percaya kenapa Ara ingin berdamai dan berteman dengan dirinya yang secara terang - terangan menunjukkan sikap tidak menyukai Ara sama sekali.
"Bagaimana Tia? Aku minta maaf sama kamu karena telah hadir dikehidupannya Al, tapi kamu sendiri juga mengetahui ceritaku di masa lalu bukan? Aku bahkan sama sekali tidak mengharapkan kalau orangtua ku akan menjodohkan aku dengan Al. Kamu percaya atau tidak, aku sebelumnya sama sekali tidak tertarik bahkan tidak mencintai Al. Tapi secara perlahan Al mampu untuk menyakinkan aku...hingga membuat aku mencintainya, bahkan sampai sekarang aku sangat mencintainya. Aku berharap kamu juga akan bertemu dengan pria yang jauh lebih baik lagi daripada Al. Kamu canti Tia, bahakn aku sangat cemburu melihat kamu...Al beruntung dulu memiliki seorang wanita seperti kamu. Aku tau kamu sangat membenciku....tapi coba kamu pikirkan apa hidup kamu akan merasa bahagia setelah menanamkan kebencian dan dendam kepadaku seperti itu? Aku juga ingin melihat kamu bahagia." Ujar Ara panjang lebar.
Tia malah bertepuk tangan mendengarkan penjelasan dari Ara. "Lalu kamu pikir aku bisa merasakan bahagia setelah aku kehilangan cinta sejatiku? Bagaimana mungkin itu terjadi! Bagaimana mungkin akan ada seorang pangeran yang ingin dengan wanita sekotor ku? Kamu lucu sekali Ara, aku merasa kamu sangat naif dan sangat munafik!" Balas Tia.
"Pasti ada Tia...kamu lihat sendiri aku dulu juga seperti kamu. Tapi Al bisa menerimaku apa adanya. Ya walaupun sampai sekarang aku terus merasa bersalah dan merasa wanita yang sangat jahat karena pernah menyakiti pria baik seperti Al. Tapi Al terus saja menyakinkan aku....aku sekarang hanya ingin kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan itu salah. Balas dendam tidak ada baiknya untuk kehidupan kamu...."
"Lain ceritanya kalau pria yang kamu maksud itu adalah Al, dia memang sangat baik, makanya itu kamu berani - beraninya menyakitinya kan? Semua yang aku lakukan hanya ingin menarik perhatian Al, tapi bahkan sampai sekarang Al tidak menatapku sama sekali." Ujar Tia yang tanpa sadar airmatanya kini sudah membasahi pipinya.
Dengan kasar Tia menghapus airmatanya.
"Bukankah kamu hanya menyakiti diri kamu sendiri? Aku tau pasti itu benar - benar terasa sangat menyakitkan untuk kamu. Tolong maafkan aku yang telah hadir dikehidupan Al. Mungkin Tuhan juga sudah mempersiapkan seseorang diluaran sana yang saat ini sedang menunggu kamu. Pertemuan, perpisahan kita juga tidak bisa menebaknya. Begitu juga dengan yang terjadi dengan aku, kamu dan Al. Takdirlah yang mempertemukan kita bertiga." Ujar Ara lagi.
Tia masih terisak teringat semua hal buruk yang pernah dia lakukan. Dalam diamnya Tia merasa semua yang dikatakan oleh Ara ada benarnya. Dia merasa dirinya benar - benar berubah menjadi sangat jahat. Padahal dulunya dia sudah berusaha untuk merelakan Al sudah memiliki seorang Istri. Hanya saja ketika mengetahui perselingkuhan yang Ara lakukan, Tia merasa masih memiliki sebuah peluang besar untuk bisa kembali lagi dengan Al. Hingga pada akhirnya dia melakukan semua cara untuk mencapai tujuannya.
"Kamu wanita yang baik Tia....kamu hanya mengsalah artikan cinta kamu. Sebenarnya kamu hanya merasa menyesal karena pernah meninggalkan Al, jadinya kamu mulai terobsesi untuk bisa mendapatkan Al kembali. Sekarang bisa kita lupakan tentang masalalu? Hidup kamu terlalu berarti untuk itu." Ujar Ara lagi.
__ADS_1
Lagi lagi membuat Tia terisak, Ara memberikan tissue untuk Tia menghapus airmatanya.
"kamu boleh menumpahkan semuanya malam ini, tapi aku mohon setelah ini kamu harus menata hidup kamu kembali." Ujar Ara lagi sambil tersenyum tulus.
Al yang sedaritadi diam terus saja mengagumi Istrinya, dia benar - benar merasa sangat kagum dengan Ara. Aea yang dulu dia kenal sangat jauh berbeda dengan Ara yang saat ini ada disampingnya.
"Bagaimana kamu bisa bersikap begini baik dengan aku yang terus saja ingin merebut Suami kamu? Apa benar kamu memang wanita yang sangat baik? Lalu kenapa dulu kamu tega untuk menyakiti Al?" Tanya Tia yang masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan Ara.
"Apa aku harus membalas setiap orang yang berbuat jahat kepadaku? Tidak ada peraturannya seperti itu bukan? Lalu apa bedanya kalau aku membalas perbuatan kamu? Pada akhirnya kita berdua akan sama - sama saling menyakiti satu sama lain. Dulu memang aku tidak berpikir seperti itu. Aku sadar kalau aku sangat bodoh dulu karena telah menyakiti perasaan Suami terbaik seperti Al." Ujar Ara sambil menatap Al seraya tersenyum.
Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Ara pasti lebih memilih untuk tidak menyakiti perasaan Al yang sudah tulus mencintainya, dia benar - benar merasa sangat menyesal dengan perbuatannya di masa lalu.
"Kita akhiri saja semua yang telah terjadi diantara kita ya? Kita buka lembaran baru lagi. Gimana Tia?" Tanya Ara lagi yang kini sudah berganti memandang Tia.
"Tidak mungkin Ra, bagaimana mungkin aku bisa melupakan semua hal jahat yang telah aku perbuat? Bahkan aku sendiri tega untuk memanfaatkan Adik sepupuku sendiri untuk mencapai tujuanku. Aku tidak berhak untuk dimaafkan. Pasti saat ini Clara sangat membenciku..." Tia kembali untuk terisak kembali, dia benar - benar tidak bisa melupakan semuanya begitu saja.
"Pasti bisa Tia...semuanya juga butuh proses! Aku tau kamu mampu untuk melakukannya. Dan tentang Clara, bagaimana kalau Clara sama sekali tidak menaruh dendam dan membenci seperti yang kamu katakan?"
"Kamu tidak mengerti Ra! Aku sudah memanfaatkan Clara sesuka hatiku, Aku juga tau kenapa dia kabur. DIa pasti tidak ingin bertemu lagi denganku. Aku yakin sekali kalau Clara sangat...."
"Sangat menyayangi Kak Tia!"
Seketika Tia menolah kearah belakangnya, kini Tia bisa melihat Clara ada disana. Clara berjalan untuk mendekati Tia. Hingga akhirnya Clara memeluk Tia.
"Kak...maafkan Clara!" Ucap Clara.
"Clara....kenapa kamu bisa berada disini?" Tanya Tia yang masih bingung dengan kehadiran Clara.
Setelah Al bilang kepada Ara kalau dia sudah menyetujui permintaan Ara, Ara langsung menghubungi Alan. Ara mulai menceritakan segala sesuatunya kepada Alan dan Clara. Ara menyuruh Alan dan Clara datang kerumahnya untuk bertemu dengan Tia juga. Alan dan Clara sempat berpikir beberapa saat sebelum pada akhirnya menghubungi Ara kembali untuk menyetujuinya.
Sementara Al dan Ara saling berpandang - pandangan satu sama lain sambil tersenyum. Al tau betul kalau ini semua adalah perbuatan dari Sang Istri. "Aku tidak menyangka kalau kamu berpikiran sejauh ini sayang." Bisik Al.
"Makanya dari awal kamu jangan meragukanku!" Balas Ara sambil tersenyum lalu mengedipkan matanya.
"Kak Tia pasti sangat menderita selama ini...Clara bisa mengerti kenapa Kakak ingin balas dendam. Tapi sudahlah Kak, akhiri saja semuanya. Clara ingin Kakak juga merasakan kebahagiaan seperti yang Clara rasakan saat ini." Pinta Clara.
"Kamu sudah kembali lagi bersama dengan Alan?" Tia menunjuk kearah Alan.
Clara mengangguk dengan mantap, "Bahkan kami akan segera menikah! Clara harap Kakak bisa hadir dihari bahagia Clara dan Alan." Ujar Clara.
"Selamat ya sayang!" Tia kembali memeluk Clara.
"Pasti...pasti Kakak akan datang dihari bahagia kamu!" Ucap Tia.
*******
Lalu bagaimana setelah ini? Benarkah Tia benar - benar merasa sangat menyesal atau malah sedang berakting saja?
Penasaran?
Happy reading guys!
__ADS_1