
Flashback On
Sesaat setelah Mikha membalas pesan dari Alvin, ponsel miliknya kembali berbunyi. Mikha membuka isi dari pesan teks tersebut yang bahkan tidak diketahuinya sama sekali dari siapa karena hanya nomor saja yang tertera disana
'Siapa ya?' Batin Mikha.
0813xxxxxx
Malam ini kamu ingin melihat kejutan? Ini berkaitan dengan suami kamu tercinta...
Kalau penasaran silahkan datang ke apartemen xxx. Jangan bilang suami kamu sudah izin sama kamu akan pulang telat ya? Itu karena dia sedang bersama denganku!
Aku tunggu kamu ya!
Mikha langsung menggeleng - gelengkan kepalanya saja, "Gak gak mungkin! Alvin bukan orang yang seperti itu kok. Aku yakin dia sudah berubah! Lalu siapa ini?" Pikir Mikha masih dengan ekspresi kaget bercampur syok. Pikirannya seketika sangat kacau ketika mendapatkan pesan singkat itu
'Apa ini semua hanya jebakan saja? Hmmm...apa yang harus aku lakukan sekarang? Tapi bagaimana kalau memang Alvin berada disana? Apa yang sebenarnya dilakukannya?' Pikiran Mikha masih terus bercabang - cabang tidak jelas.
Dan akhirnya dengan dihantui rasa penasaran, akhirnya Mikha memberanikan diri untuk datang kesana agar memastikan bahwa suaminya ada disana atau tidak, ya setidaknya dia dapat melihat secara langsung apa yang sedang terjadi disana walaupun sejujurnya Mikha ingin sekali untuk menutup kedua matanya. Jauh dilubuk hati Mikha yang terdalam, Mikha berharap kalau Alvin tidak berada disana dan tidak mengkhianati dirinya.
Ada perasaan aneh yang sedang bergejolak didalam hati Mikha ketika dirinya memutuskan untuk ke alamat yang diberikan oleh orang asing itu. Dengan penuh keraguan Mikha yang sudah sampai didepan pintu apartemen itu, memutuskan unutk menekan bell.
'Semoga saja ini tidak benar....maafin aku Vin bukannya aku tidak percaya sama kamu! Tapi aku hanya ingin membuktikan bahwa ini tidak ada hubungan dengan kamu.' Batin Mikha.
Fashback Off
Mikha sudah menekan bell di pintu apartemen itu secara berulang - ulang akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali. "Apa aku sedang ditipu? Apa yang aku lakukan sekarang?" Mikha mulai merutuki kebodohannya sendiri karena sudah percaya dengan pesan konyol itu.
Tiba - tiba ponselnya berdering lagi, dengan cepat Mikha kembali untuk membaca pesan singkatnya lagi. Ternyata dugaan Mikha benar kalau nomor itu yang menghubungi dirinnya lagi. Dengan segera Mikha segera membuka pesannya itu.
0813xxxxxxxx
Apa kamu benar - benar datang? Apa kamu benar -benar tidak percaya dengan suami kamu sendiri? Hmm...sepertinya kamu begitu konyol dan terlihat begitu menyedihkan! Kamu terlalu mudah ditipu Mikha.
"SIALAN!" Umpat Mikha dengan emosi.
"Bisa - bisanya aku percaya hanya dengan satu pesan seperti ini. Omg, betapa bodohnya aku!" Mikha terus saja merutuki kebodohannya sendiri.
Sampai pada akhirnya Mikha memutuskan untuk segera pergi dari sana. Mikha berjalan terus dengan pikirannya yang benar - benar kacau. Ponsel Mikha kembali berdering, ingin rasanya Mikha mengabaikan deringan ponselnya itu. Akan tetapi dirinya benar - benar sangat penasaran dengan sosok yang sedang menghubunginya. Dengan tidak bersemangat dan malas Mikha segera menjawab panggilan teleponnya tanpa melihat nama dari si penelepon tersebut.
"Ya halo..."
"Sayang...kamu dimana sih? Kenapa belum pulang?"
'Ini Alvin...' Batin Mikha lalu langsung mengecek ponselnya.
'Iya ini beneran Alvin.
"Halo Mik...kamu masih disana?"
"Iya masih kok..."
"Kamu kok belum pulang sayang? Aku tidak jadi kumpul bareng teman aku nih mereka pada tidak jelas! Aku udah pulang nih...kalau tau kamu belum pulang aku jemput. Kamu dimana sekarang biar aku jemput kamu ya?"
"Jangan Vin!"
"Lho kenapa Mik? Udah malam begini lho. Aku jemput kamu aja ya...lagian aku masih baru nyampe rumah kok ini. Kamu dikantor kan?"
"Beneran gak usah Vin...aku udah dijalan pulang kok. Kita ketemu dirumah aja ya."
"Beneran?"
"Iya beneran Vin...ya udah kalau begitu sampai ketemu nanti ya!"
"Iya kamu hati - hati dijalan ya sayang..."
Setelahnya Mikha segera mengakhiri panggilannya begitu saja. Mikha mulai menyesali keputusannya tadi karena hanya bermodalkan nekat saja berani - beraninya datang ke apartemen orang asing.
"Bodohnya aku! Bisa - bisanya aku curiga dengan Alvin.....padahal aku tau dengan jelas kalau Alvin bukan pria playboy seperti dulu lagi. Apa jangan - jangan aku sedang cemburu ya?" Pikirnya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Sedangkan Alvin yang sudah keluar tidak lama setelah Mikha pergi dari apartemennya Clara, kini berjalan cepat ketempat parkiran untuk bertemu dengan Alan sebentar. Alan yang melihat Alvin keluar seorang diri merasa sangat aneh.
Kini Alan telah membukakan kaca mobilnya, "Mana Clara?" Tanya Alan dengan penasaran.
"Panjang ceritanya Lan...ntr aja aku ceritain! Sebaiknya kamu pulang juga. Sekarang aku harus buru - buru pulang!"
"Bentar...bentar...katakan Vin apa yang sedang terjadi disana? Kenapa kamu gagal membawa Clara?" Desak Alan terus.
"Clara tau rencana aku Lan! Aku tidak tau dia tau darimana, yang jelas untuk saat ini hanya itu yang bisa aku katakan. Aku harus segera pergi sekarang!" Akhirnya Alvin memutuskan untuk segera masuk kedalam mobilnya lalu membawa mobilnya dengan ngebut untuk dapat sampai duluan daripada Mikha.
Sedangkan Alan masih terpaku ditempat...'Apa yang sebenarnya terjadi didalam sana? Kenapa Alvin sangat buru - buru sekali pergi?' Pikr Alan.
Alan memutuskan untuk segera memeriksa kedalam apartemen milik Clara. Dengan mudahnya Alan bisa masuk kedalam. "Cla..cla..dimana kamu Cla?" Panggil Alan terus menerus akan tetapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Alan memeriksa setiap sudut apartemen milik Clara, Alan mencari keberadaan Clara hingga akhirnya dia berusaha untuk membuka pintu kamar Clara, "Kenapa terkunci?"
Alan yakin sekali kalau Clara berada didalam sana. Alan berusaha untuk mendobrak pintu kamar Clara sampai pada akhirnya Alan berhasil melakukannya. Alan berteriak melihat Clara tergeletak dilantai.
"CLARAAA!" Alan segera memeluk Clara lalu membawa Clara pergi kerumah sakit. Alan sendirilah yang memutuskan untuk memeriksa keadaan Clara, ketika Alan sudah mengetahui bahwa Clara hanya sedang tertidur saja, Alan memutuskan untuk mengambil sample darah milik anak yang ada didalam kandungan Clara tanpa sepengetahuan dari Clara sendiri.
"Maafkan aku Cla...aku harus melakukan ini...." Ucap Alan dengan lirih sambil membelai wajah mulus Clara yang saat ini masih belum tersadar.
Alan terus saja menemani Clara sampai tanpa sadar dirinya tertidur sambil memegangi tangan Clara.
******
Melihat Mikha yang baru saja masuk kedalam rumah, Alvin langsung mendekati Mikha yang kini berjalan dengan lesu dan tidak bersemangat.
"Sayang...kamu tidak apa - apa?" Tanya Alvin sambil memegang kedua bahu Mikha.
"Alvin!" Kemudian Mikha langsung segera memeluk suaminya itu dengan erat sampai membuat Alvin kesulitan.
"Hei sayang kamu kenapa?" Tanya Alvin lagi masih berpura - pura tidak tau dengan apa yang sedang terjadi kepada Mikha.
"Maafin aku Vin...maafin aku!" Kata - kata itu sajalah yang terus saja dikatakan oleh Mikha.
"Kamu gak salah apa - apa kok...hei lihat aku..." Ujar Alvin seraya melepaskan pelukannya.
Mikha tidak berani untuk menatap wajah Alvin, tatapan Mikha sedari tadi hanya tertuju kebawah saja, hingga akhirnya Alvin memegang dagu Mikha.
"Aku bilang tatap aku!" Ujar Alvin.
"Katakan apa yang sedang terjadi?" Tanya Alvin lagi.
"Aku yang sangat bodoh Vin...aku gak percaya sama kamu!" Ujar Mikha lagi.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sedang banyak pikiran sayang. Sebaiknya kamu istirahat ya." Alvin menarik tangan Mikha untuk mengikutinya berjalan kekamar. Mikha hanya menurut saja tanpa melakukan apapun juga.
Sesampainya didalam kamar, Mikha langsung melepaskan tangan Suaminya itu, "Vin...maafin aku ya! Aku tadi udah gak jujur sama kamu." Ujar Mikha dengan penuh penyesalan.
"Emangnya kamu bohong soal apa sih Mik? Kenapa sampai seperti ini?" Tanya Alvin dengan sabar.
"Aku...aku...sebaiknya kamu lihat sendiri saja deh." Kemudian Mikha menyerahkan ponselnya untuk dilihat oleh Alvin.
"Apa ini?"
"Kamu lihat aja deh..."
Alvin melihat pesan yang sudah dibuka oleh Mikha,
"Aku tau kalau aku bodoh karena sudah percaya dengan pesan penipu seperti itu, aku yakin kalau kamu pasti sangat kecewa denganku. Tapi aku hanya ingin membuktikan bahwa kamu tidak ada disana Vin. Aku percaya sama kamu, makanya aku nekat kesana sendirian." Ujar Mikha lagi tanpa berani untuk menatap Alvin.
Alvin masih terdiam mematung sambil menatap sedih kepada Mikha, 'Aku yang harusnya minta maaf seperti ini kepada kamu Mik. Aku yang udah bohongi kamu terus menerus...kamu tidak salah kalau kamu curiga sama aku.' Batin Alvin.
"Kamu kecewa sama aku ya Vin?" Tanya Mikha lagi sambil menatap wajah Alvin.
Alvin menggeleng.
"Lalu kenapa kamu kok diam saja tanpa mengatakan apapun juga?" Tanya Mikha lagi.
"Aku hanya baru menyadari bahwa sebegitu besarnya perasaan kamu kepadaku Mik. Jujur sebenarnya aku senang sekaligus tidak suka kamu melakukan ini." Balas Alvin.
"Kok bisa? Maksud kamu gimana Vin?" Mikha semakin tidak mengerti mendengarkan penjelasan Alvin barusan.
"Aku senang karena kamu merasa cemburu makanya kamu pergi untuk mengeceknya sendiri, tapi disatu sisi aku tidak suka karena dengan beebuat begitu kamu sebenarnya tidak pernah percaya sama sekali kepadaku Mik. Aku benar - benar bukan Alvin yang brengsek seperti dulu lagi." Ujar Alvin.
"Vin...vin...maafin aku ya?" Ucap Mikha sambil memegang kedua bahu Alvin.
"Kamu gak salah apa - apa kok Mik." Ujar Alvin sambil menggenggam kedua tangan Mikha.
"Gak Vin...aku salah karena udah curiga dan tidak percaya sama kamu..." Balas Mikha lagi sambil menunduk.
"Aku yang salah sayang...aku yang sedang menutup - nutupi sesuatu dari kamu, sebenarnya wajar kamu curiga dan tidak percaya seperti ini kepadaku." Alvin berterus terang kepada Mikha walaupun membuat Mikha masih bingung dengan apa yang telah dikatakan oleh Alvin barusan.
"Maksud kamu apa Vin?"
"Please Mik apapun yang aku katakan kamu harus percaya sama aku ya? Besok aku akan menjelaskan semuanya sama kamu." Ujar Alvin masih memegang kedua tangan Mikha sambil menatap manik mata Mikha dengan tatapan serius.
"Kenapa tidak sekarang aja Vin? Kenapa harus menunggu besok?" Desak Mikha.
"Karena aku ingin membawa kamu untuk bertemu dengan seseorang yang akan membantu aku memberikan penjelasan kepada kamu. Dan sebaiknya untuk saat ini mendingan kamu mandi, makan malam baru istirahat." Pinta Alvin.
"Tapi Vin..." Rengek Mikha dengan Manja.
"Sssttt..."
"Gak ada tapi - tapian sayang...atau jangan - jangan kamu mau mandi bareng aku?" Goda Alvin.
"Gak...gak, aku bisa mandi sendiri kok." Mikha langsung segera berlari meninggalkan Alvin.
Setelah kepergian Mikha, Alvin masih mematung ditempat dirinya berdiri saat ini. 'Akhirnya besok waktunya...aku seharusnya memang harus jujur kepada Mikha tentang masalah ini. Sekarang masalah sudah semakin berlarut - larut. Apa Mikha dapat mengerti dan memaafkanku?' Pikir Alvin dengan gelisah.
Malam ini pun akhirnya berlalu juga, Mikha akhirnya sudah tertidur pulas, sedangkan Alvin tidak bisa memejamkan kedua matanya sama sekali. Alvin masih menebak - nebak bagaimana respon Mikha ketika dirinya mengatakan semuanya. Alvin terus saja menatap wajah Mikha. Diam - diam Alvin sangat takut kalau Mikha tidak percaya dengan penjelasannya besok.
'Aku berharap kamu bisa mengerti alasan aku tidak jujur sama kamu belakangan ini ya Mik...aku terlalu takut kalau kamu tidak percaya dan benci sama aku Mik.' Batin Alvin. Tangan Alvin masih saja membelai wajah Mikha.
*****
Clara mulai terbangun dari tidurnya, lalu ketika ingin menggerakkan tangannya, tangannya seperti sedang tertahan oleh sesuatu, Clara berusaha untuk mengambil tangannya. Alan mulai terbangun juga dari tidurnya karena Clara sangat gelisah.
"Pagi Cla..."Sapa Alan.
"Kenapa kamu kok bisa disini?" Tanya Clara yang masih belum menyadari kalau dirinya saat ini sedang dirawat dirumah sakit.
"Akhirnya kamu bangun juga!" Ujar Alan sembari tersenyum.
Clara masih mengamati seketikar, "Aku ada dimana?" Ucap Clara pada akhirnya.
"Kamu ada dirumah sakit Cla.."
"Apa! Kenapa aku bisa ada disini!" Teriak Clara dengan histeris.
"Aku yang membawa kamu kesini..." Ujar Alan sambil memegangi tangan Clara.
Seketika Clara langsung menepis tangan Alan, "lepasin...aku mau balik sekarang! Aku tidak sakit apa - apa Lan." Clara langsung bangkit lalu segera mencabut infusnya dari tangannya sampai tangannya Clara berdarah. Clara sudah tidak memperdulikannya lagi.
Clara berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, kemudian Clara membuka lemari yang ada didalam kamar inapnya itu. Clara mengambil pakaiannya didalam sana kemudian masuk lagi kedalam kamar mandi.
Tidak perlu waktu lama lagi Clara sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Aku pergi sekarang Lan!" Setelah mengatakan hal itu Clara langsung pergi meninggalkan Alan yang sama sekali tidak berusaha untuk menghalangi Clara seperti biasanya.
'Aneh kenapa Alan bersikap acuh tak acuh seperti itu? Biasanya dia akan mengejar aku?' Pikir Clara.
Clara sudah berada didepan rumah sakit, dengan asal dirinya langsung saja memanggil taksi. Setelahnya Clara masuk kedalam taksi tersebut dengan cepat.
Sedangkan didalam ruang inap, Alan yang masih berada disana masih sibuk melamun sampai pada akhirnya ponselnya tiba - tiba saja berdering, lamunan Alan seketika buyar dan hilang.
Alan meraih ponselnya dengan cepat, 'Alvin!' Ucap Alan sambil menggerutkan keningnya.
"Halo Vin..."
"Lan kamu dimana? Siang ini bisa kita bertemu sebentar?"
"Aku dirumah sakit....bisa, Emangnya ada apa ya Vin? Silahkan datang kesini saja Vin..."
"Oke baiklah, aku ingin minta bantuan kamu untuk menjelaskan kepada Istriku tentang semua ini."
"Kamu yakin Vin?"
"Iya...aku sudah tidak ingin membohongi dia lagi..."
"Tapi bisa jadi dia membenci kamu setelahnya? Apa kamu akan siap untuk menerimanya?"
"Aku siap Lan...apapun resikonya aku akan menanggungnya..."
"Oke Vin...aku akan membantu kamu sebisaku!"
"Oke thanks ya Lan, oh iya mengenai yang terjadi kemarin malam..."
"Masalah itu sudah tidak penting lagi Vin...kamu tidak perlu menjelaskan apa - apa lagi."
__ADS_1
"Baiklah Lan...kalau begitu sampai bertemu nanti ya!"
"Iya Vin..."
'Semoga ini semua cepat berakhir...aku sangat penasaran dengan hasil tes DNA dari hasil pemeriksaan itu...semoga itu memang benar Anakku!' Batin Alan.
Ditempat lain,
Selama berada dikantor, Mikha mulai merasa gelisah dan resah sendiri. Dia terus saja kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh Alvin kemarin malam. Dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi untuk melakukan pekerjaannya. Pikirannya masih terus dipenuhi dengan ucapan Alvin terus menerus. Dalam hati Mikha terus bertanya - tanya tentang apa yang ingin dikatakan oleh Alvin.
Perasaannya terus saja tidak tenang dan tidak enak. 'Apa sebenarnya maksud dari ucapan Alvin kemarin malam itu? Kenapa dia tidak memberitahukan tentang hal ini samaku kemarin malam? Kenapa dia seperti menutupi sesuatu?' Pikir Mikha.
Seolah jarum jam semakin terasa lama, dia sudah tidak sabaran untuk bertemu dengan Alvin disaat jam istirahat. Mikha terus saja melirik jam tangannya. Dia berharap kalau pikiran buruknya tidak benar sama sekali, tapi entah mengapa dirinya merasa kalau akan ada kejadian yang besar yang akan terjadi, sejujurnya Mikha tidak siap untuk itu.
Akhirnya waktu yang dinanti oleh Mikha tiba juga, Mikha beranjak dari ruangannya lalu berjalan setengah berlari menuju lift. Begitu pintu liftnya terbuka, Mikha langsung masuk saja Mikha sudah tidak merasa segan atau apalah itu pada saat dirinya berada didalam lift yang sama dengan bosnya.
"Ehemmm...kamu mau keluar ya Mik?" Alex berusaha untuk membuka percakapan.
"Iya Pak." Jawab Mikha sekenanya aja.
Kemudian keadaannya kembali hening lagi, ponsel Mikha berdering dengan segera Mikha langsung menjawab panggilannya.
"Halo..."
"Iya aku keluar sekarang....tunggu sebentar ya."
Setelahnya Mikha langsung mengakhiri dan kembali meletakkan ponselnya kembali kedalam tasnya. Ketika melihat pintu lift sudah terbuka, Mikha dengan cepat langsung keluar tanpa memperdulikan bosnya yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan curiga dan penasaran.
'Kenapa dia buru - buru sekali? Sebenarnya apa yang ingin dilakukannya?' Batin Alex.
Kemudian Alex menghubungi seseorang, "Ikuti dia kemanapun dia pergi...jangan lupa kasih tau apa yang sedang terjadi disana. Ingat jangan sampai membuat dia curiga." Perintah Alex lalu segera menutup panggilannya. Kemudian Alex berjalan menuju ruangannya.
Sedangkan diluar kantor, Mikha yang sudah berlari masih berusaha untuk mengatur nafasnya yang masih terengah - engah.
"VIN..." Teriak Mikha.
Alvin langsung melajukan mobilnya kearah Mikha.
"Kamu udah lama sampai?" Tanya Mikha masih dengan nafas yang terengah - engah.
"Baru saja kok...ya udah buruan masuk Mik!" Pinta Alvin.
Dengan cepat Mikha masuk kedalam mobil, selama didalam perjalanan keduanya hanya berdiam - diaman. Mikha sebenarnya tidak suka dengan situasi seperti ini, hanya saja ketika Mikha menatap wajah Alvin, Alvin seperti sedang memikirkan sesuatu dan hanya berkonsentrasi dalam menyetirnya saja. Akhirnya Mikha mengurungkan niatnya untuk membuka obrolan.
Dia hanya menunggu sampai Alvin yang memulai berbicara terlebih dahulu. Akan tetapi Alvin tidak seperti biasanya, dia kelihatan sangat tegang dan tidak ramah seperti biasanya.
Begitu sampai ditempat yang dituju, Mikha yang masih bingung kenapa Alvin membawa diirnya ke rumah sakit akhirnya bertanya juga.
"Untuk apa kita kesini Vin? Siapa yang sakit? Kamu?" Tanya Mikha.
"Ikuti aku aja Mik, didalam nanti aku akan mejelaskan semuanya." Ujar Alvin.
"Gak aku gak mau sebelum kamu bilang sesuatu..."
Alvin menghela nafas dengan sangat berat sebelum pada akhirnya dia berkata, "Sayang...aku gapapa kok. Kita kesini bukan karena aku sakit. Oke? Kamu percaya sama aku kan?" Alvin berusaha untuk meyakinkan Mikha.
"Baiklah aku percaya sama kamu." Ucap Mikha setelah melihat kedua mata Alvin dan tidak ada tanda - tanda kebohongan disana.
Akhirnya dengan ragu - ragu Mikha keluar dari mobil lalu berjalan beriringan dengan Alvin. Alvin juga tidak mengandeng tangannya, kegugupan yang dirasakan oleh Mikha sungguh luar biasa. Dia merasa kalau akan terjadi sesuatu yang membuat dirinya merasakan sakit, dia terus saja menepis pikiran buruknya itu.
Alvin berdiri didepan ruangan seorang Dokter, "Vin...sebentar kita mau ngapain keruangan Dokter Alan?" Tanya Mikha sambil menahan tangan Alvin.
Alvin menatap Mikha, "Bagaimana kamu bisa kenal dengan Dokter Alan?" Tanya Alvin.
"Dokter Alan kan dokter kandungannya Kak Ara, ya jelaslah aku mengenalnya. Kan aku pernah menemani Kak Ara kesini. Tapi yang ingin aku tau kenapa kamu malah membawa aku kesini? Apa jangan - jangan kamu berpikir kalau aku sedang hamil ya?" Tebak Mikha.
'Dunia emang sangat kecil ya...' Pikir Alvin.
"Tidak sayang...." Ujar Alvin tanpa menjawab rasa penasaran Mikha sama sekali.
"Kamu kok bisa kenal sama Dokter Alan?" Tanya Mikha dengan penasaran.
"Panjang ceritanya sayang...kalau kamu begitu penasaran bagaimana kalau kita masuk dulu baru disana nanti kamu akan segera mengetahuinya?" Ujar Alvin lagi.
Mikha hanya mengangguk.
Alvin mengetuk pintu ruangan Alan, tidak berapa lama kemudian Alan langsung membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Silahkan masuk!" Pinta Alan.
Alvin dan Mikha masuk kedalam ruangan Dokter Alan, "Bisa dikatakan saja ada apa ini sebenarnya? Aku masih belum mengerti dengan apa yang terjadi." Ujar Mikha tanpa ingin menundanya lagi.
"Hmmm...begini Mikha, sebaiknya dengarkan penjelasan dari Suami kamu dulu ya..."
Mikha menatap Alvin, "Katakan Vin..."
Alvin memegang kedua tangan Mikha sambil menatapnya dengan sangat serius, "Hmm..sejujurnya aku bingung harus mulai darimana sayang....begini setelah kita pulang dari honeymoon itu ada seorang wanita yang mengaku - ngaku sedang mengandung Anakku! Jujur aku tidak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakan olehnya, karena aku merasa tidak melakukan apapun juga kepadanya."
Deg
Bagaikan disambar petir Mikha mendengarkan penjelasan dari Alvin barusan, "Jadi selama ini kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa - apa kepadaku Vin?" Mikha langsung melepaskan kedua tangannya dari Alvin.
"Sayang...sayang...dengerin aku dulu..."
"Apa lagi kali ini Vin? Jadi selama ini kamu bohongin aku? iya?" Mikha menatap Alvin dengan amarahnya yang sudah tidak bisa dikontrol lagi.
"Maaf sayang aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu...aku hanya tidak ingin kamu terluka...kamu ingatkan pada saat kita chattingan aku ada bahas kalau aku ingin menyelesaikan suatu masalah dulu baru aku akan mengutarakan perasaanku? Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengutarakannya Mik....tapi disatu sisi aku belum menyelesaikan masalahku ini. Aku takut kamu akan marah, benci, kecewa bahkan pergi meninggalkanku setelah aku mengatakannya." Ujar Alvin lagi.
"Siapa wanita itu? Kenapa kamu sangat yakin kalau itu bukan anak kamu?" Tanya Mikha lagi yang kini sudah meneteskan airmanta.
"Dia adalah mantan pacar saya Mik....dan kemungkinan besar anak yang ada didalam kandungannya itu adalah Anakku!" Ucap Alan.
Sontak membuat Mikha menatap Alan, betapa terkejutnya Mikha dengan apa yang barusan didengarnya ini. Mikha masih belum bisa berpikiran jernih lagi.
"Ada apa ini sebenarnya Vin..Dokter Alan?" Tanya Mikha lalu secara bergantian menatap keduanya.
********
WADOWW...
Kenapa banyak sekali pro dan kontra dengan cerita yang author tulis ini? Author mengarangnya berdasarkan imajinasi yang ada didalam kepala author sendiri...
So, sorry kalau tidak sesuai dengan keinginan dari readers semuanya. kedepannya Author akan berusaha memberikan yang terbaik dengan cara mendengarkan pendapat, kritikan dan saran yang membangun dari kalian!
Thankyou Guys!
__ADS_1
Happy Reading!