SECRET LOVE

SECRET LOVE
Pillow Talk


__ADS_3

Malam dengan seribu bintang telah datang, menyapa dalam balutan kegelapan malam bermandikan cahaya sinar terang sang rembulan. Memayungi bagi setiap insan yang tengah terlelap dalam tidurnya di pembaringan istirahatnya.


Tak terkecuali bagi keluarga kecil yang masih menyalakan pelita cahaya dalam kehidupan malamnya. Mereka nampak masih segar meski waktu menunjukkan sudah berada tepat pada jarum jam tengah malam.


Bian masih setia menemani Kiana menunggui bayi mereka yang masih anteng membuka mata tanpa terlihat wajahnya yang lelah sekalipun. Bayi kecil mereka lagi dan lagi masih betah membuka matanya mengajak kedua orang tuanya untuk terjaga di sepanjang malam yang tersisa.


"Ini mau sampai kapan belum tidur juga? Kenapa sayangnya bapak nggak ada mengantuknya sama sekali?" ujarnya saat tertidur menyamping di sebelah putranya yang masih asik menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.


"Al tidak tidur, Nak? Ini sudah malam lho," ucapnya pada Al yang mana bayi kecil itu malah tertawa kecil merasa jika ayahnya itu sedang mengajaknya bermain.


Bian mencium gemas seluruh wajah putranya saking merasa gemasnya. Al begitu sangat lucu. Hingga ia merasa selalu gemas dan tak bisa jauh-jauh dari putranya.


"Lho ini malah ketawa, bapak nggak ajak kamu main ya Al, tapi bapak nyuruh kamu untuk segera tidur." ucapnya membuat Al semakin senang karena Bian terus berbicara padanya.


"Ayo Nak, tidur ya? Kamu masih bayi Albio, nggak baik begadang setiap malam." ujarnya dengan gemas menoel hidung bangir mungil milik Al yang menurun darinya.


Sesungguhnya Bian sudah mulai merasa lelah, apalagi sejak tadi ia terus menguap pertanda jika ia ingin segera tertidur. Namun melihat Kiana yang tak banyak mengeluh dan tetap semangat menjaga buah hati mereka membuatnya merasa sedikit bersalah dan juga malu. Apa mungkin ia tega meninggalkan istri dan anaknya sendirian terjaga di sepanjang malam sedangkan ia malah nyenyak tertidur dalam buaian mimpinya?


Oh tunggu-tunggu. Mana mungkin dia setega itu pada mereka. Walau bagaimana pun juga ia akan membuktikan diri sebagai seorang suami dan ayah yang berguna yang dapat diandalkan setiap saat. Ini akan menjadi awal pembuktian dirinya jika hal yang menurutnya berat karena belum terbiasa akan menjadi sebuah rutinitas yang menyenangkan.


"Kalau begini ceritanya alamat begadang lagi kita, sayang." seloroh Bian seraya menatap Kiana yang masih tetap fokus memperhatikan Al.


"Mas mengantuk? Kalau Mas mau tidur duluan juga aku nggak apa-apa kok." balas Kiana yang merasa tak enak pada Bian karena Al yang belum tertidur juga.


"Nggak kok sayang, Mas maunya temenin kamu buat jagain Al."


"Tapi Mas harus tidur, besok bekerja. Aku nggak apa-apa jaga Al sendirian."


"Tapi itu nggak membuat Mas tega meninggalkan kamu untuk tidur menjaga Al sendirian. Mas tahu kamu juga pasti lelah, maka dari itu Mas ingin selalu ada buat kalian. Sama halnya seperti saat ini, momen dimasa-masa Al lahir ke dunia Mas tidak ada di samping kamu, tidak ada disaat kamu dan Al membutuhkan Mas dalam setiap kesulitan yang kalian lalui. Mas ingin menebus semuanya dengan selalu ada di dalam keadaan apapun karena kalian adalah prioritasnya Mas." ungkapnya dengan menampilkan senyuman manisnya.


Mendapatkan perhatian yang tulus dari suaminya, hati Kiana tetiba menjadi menghangat. Ia terharu sekaligus tersentuh dengan kalimat manis yang keluar dari mulut Bian. Pernyataan dari suaminya itu membuat ia semakin merasakan nyaman dan terlindungi setiap berada dekat dengan pria itu.


Ia tatap lekat-lekat wajah yang selalu sukses membuatnya terpesona itu. Entah apa yang sudah terjadi pada dirinya saat ini. Setiap melihat Bian dengan sejuta sikap manisnya yang selalu berhasil membuatnya berdebar-debar. Apa mungkin ia mulai menaruh hati pada pria yang kini telah menjadi suaminya itu?


"Mas," panggil Kiana.


"Iya, sayang?"


"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Kiana sedikit ragu-ragu, namun tak ayal ia memberanikan juga untuk bertanya.


"Mau tanya apa, hem?" balas Bian dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.


"Janji Mas Bian nggak akan marah?" ucapnya memastikan, Kiana tidak mau jika sampai Bian tersinggung dengan ajuan pertanyaannya.


Bian pun terkekeh, ia merasa jika istri kecilnya itu


semakin hari semakin menggemaskan saja. Bian tak yakin jika saat ini ia akan tahan untuk menahannya gejolak itu.


"Kenapa Mas harus marah? Memangnya kamu mau tanya apa?"

__ADS_1


Kiana mencoba menelan ludahnya sendiri, memejamkan matanya sesaat untuk meyakinkan hati sampai kemudian menghela napas sedalam-dalamnya sebelum kembali bersuara.


"Kenapa Mas Bian memilih ingin bersama kami?" tanya Kiana dengan susah payah. Sejurus kemudian ia melihat raut muka Bian yang berubah, menatap balik dirinya dengan senyuman yang sebelumnya mengembang kini terlihat seketika luntur begitu saja.


"Maksud kamu apa, Ki? Mas nggak ngerti." balasnya dengan kebingungan.


Kiana mengesah, seraya menepuk-nepuk paha Al dengan pelan agar bayinya itu cepat tertidur.


"Kenapa Mas Bian harus memilih bersama kami jika dibandingkan dengan kembali bersama kekasih Mas itu. Maaf kalau pertanyaanku ini membuat Mas tersinggung." tanya ulang Kiana memperjelas. Wajah sendu itu tertunduk menenggelamkan diri dari tatapan Bian yang membuatnya merasa bersalah.


Kini giliran Bian yang menghela napasnya dalam-dalam. Ia mencoba mengontrol dirinya agar lebih tenang sebelum menjawab keraguan yang dirasakan oleh Kiana tentang kesungguhan hatinya sehingga dapat meyakinkan istrinya.


"Kamu sama sekali nggak salah Ki mempertanyakan hal itu pada Mas. Mas tahu kalau kamu masih ragu bahkan merasa bingung kenapa pada akhirnya Mas ingin bersama kalian." ucapnya dengan menatap Kiana tanpa beralih sedikitpun. Gadis itu kembali mengangkat kepalanya menatap lekat wajah Bian.


"Tolong dengarkan Mas, sayang. Mas mau kamu mengikuti apa kata hatimu untuk yakin dan mau menerima alasan Mas ini, sehingga kamu dapat membuang rasa keraguanmu itu dengan sebuah kepercayaan pada Mas. Kamu dan Albio bukanlah sebuah pilihan, tetapi kalian adalah suatu hal yang sangat berharga bagi Mas yang harus diperjuangkan. Kalian adalah harta berharga yang pernah Mas miliki selama hidup Mas. Dan Mas nggak mau sampai kehilangan kalian untuk kedua kalinya. Karena kalian sangat-sangat berarti bagi Mas."


"Dan Mas tahu jika apa yang sudah terjadi diantara kita karena kebodohan Mas di masa lalu, pasti sudah membuat kamu merasakan sakit hati dan sanksi sampai membuat kamu susah sekali untuk melupakannya, dan itu semua tidak dapat Mas gantikan dengan obat penawar apapun di dunia ini." ungkapnya lagi dengan wajah sendu.


"Lalu bagaimana dengan kekasih Mas itu?" tanya Kiana dengan manik mata yang menembus lurus kearah kornea hitam milik Bian.


"Sayang, buat apa kita membicarakan orang yang tidak penting bagi kita. Mas sudah lama tak memiliki hubungan apapun lagi dengannya sebelum peristiwa hari dimana kita terpisah dengan cukup lama itu terjadi." Ujar Bian menjelaskan apa adanya tentang peristiwa kelam yang terjadi di masa lalunya.


"Tapi Mbak Linda sangat mencintai Mas, bahkan dia rela melakukan apapun demi mempertahankan hubungan kalian." akhirnya Kiana dapat mengungkapkan tentang kebimbangan yang ada di dalam dirinya selama ini. Apalagi sampai mengingat setiap perlakuan wanita jahat itu untuk mencapai keinginannya.


"Tapi sayangnya tidak dengan Mas. Setelah hubungan itu berakhir, perasaan itu pun ikut menguap bersama berakhirnya hubungan kami yang tidak lagi berarti apapun karena sejatinya didasari oleh sebuah kebohongan. Jujur Mas kecewa hingga sampai mengutuk atas perbuatannya pada keluarga kita. Bahkan Mas sendiri sampai saat ini tidak pernah menyangka karena bisa memiliki hubungan bersama wanita yang begitu jahat dan licik seperti wanita itu." ungkapnya seraya mendengus kasar. Penyesalan nampak jelas dari matanya. Bian benar-benar tak habis pikir pada mantan kekasihnya itu yang telah tega membohonginya, terlebih menyakiti hatinya. Bian sungguh membenci pada sosok wanita yang pernah singgah dihatinya itu.


Banyak pertanyaan yang hadir dan terus berputar-putar di kepalanya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara mereka? Kiana semakin dibuat penasaran saja.


Bahkan sejauh ini ia sendiri selalu mengira jika Bian telah hidup bahagia dengan kekasihnya. Tapi pada kenyataanya tak seperti apa yang ia kira. Terlebih melihat air muka Bian yang menampilkan ketidak sukaannya saat membahas wanita itu, Kiana yakin jika telah terjadi sesuatu yang besar dan ia sendiri menjadi bagian dari masalah itu.


"Wanita itu yang sudah membuat kita menjadi seperti ini dengan jerat rencana liciknya. Dan oleh wanita itu juga yang membuat kita terpisah dengan hidup menderita dalam kesakitan selama ini. Dia wanita jahat yang pernah Mas kenal selama hidup Mas. Dan sialnya, Mas pernah memiliki hubungan dengannya sampai berani menentang Mama dan Papa."


"Apa semua itu karena aku? Aku yang menyebabkan kalian berpisah?" ucap Kiana memandang datar suaminya.


"Nggak sayang, hubungan itu berakhir karena wanita itu yang telah menuai dari apa yang dia semai sebelumnya. Kamu tahu? Mas sempat berterima kasih padanya, jika rencana jahat yang dilakukannya pada Mas akhirnya membuat kita bersatu. Dan untuk hal itu Mas tak pernah menyesalinya. Terdengar jahat, namun mau dikata apa lagi. Mas sangat bahagia akhirnya kita bersama, terlebih telah hadir Albio di tengah-tengah kita." ungkapnya lagi.


Bian tersenyum manis, seraya ia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Kiana dengan punggung tangannya dengan lembut. Kiana hanya mampu memejamkan matanya saat merasai kelembutan kulit Bian saat menyapu kulit wajahnya yang mana sukses membuatnya merasa meremang.


"Intinya, dengan semua peristiwa yang telah terjadi diantara kita, serta meski banyak sekali rasa sakit yang kita rasakan bersama, Mas sangat bersyukur karena kamu adalah wanita satu-satunya yang berhasil menjadi pemenangnya dalam hati Mas. Kamu berhasil membuat Mas jatuh sejatuh-jatuhnya untuk berani memujamu dalam kubangan cinta yang dalam, sayang." ucap Bian seraya terus mengusap lembut wajah Kiana sampai merambat ke kulit leher dan lengan gadisnya itu.


"Mas," ucap Kiana lirih dengan suara tertahan.


Bian hanya mampu menyeringai dengan ulah yang dilakukannya pada istrinya. Benar-benar nakal sekali tangannya ini jika dekat-dekat dengan Kiana.


"Papa memang tidak pernah salah memberikan sarannya selama ini."


"Dalam hal apa?" tanya Kiana sembari mengernyitkan dahinya.


"Sering menyarankan dan tidak pernah bosannya agar Mas memiliki seorang istri seperti kamu. Dan saat ini keinginannya terkabul dengan memiliki seorang menantu yang sangat cantik, baik, sederhana serta lembut hatinya."

__ADS_1


"Tapi aku cuma seorang pembantu. Mas pun dulu sangat membenciku bukan? Lalu kenapa sekarang Mas malah menginginkan aku?"


"Kamu salah sayang. Bahkan sejak pertama kali saat Mas melihatmu, Mas menyukaimu bahkan memiliki rasa ketertarikan sama kamu."


Kiana memicingkan matanya, "Apa Mas nggak salah bicara? Atau aku yang salah mendengar?Lalu perlakuan ketus dan suka marah-marah Mas itu bisa disebut dengan rasa suka dan tertarik?" balas Kiana monohok yang tak mengerti dengan pemikiran suaminya itu. Sangat aneh sekali jika ada pria macam seperti Bian.


Bian terkekeh seraya kembali membuka mulutnya untuk bersuara.


"Maafin Mas sayang jika semua itu membuat kamu sakit hati. Apa yang Mas lakukan saat itu hanya sekedar untuk menutupi perasaan suka Mas terhadap kamu. Karena--"


"Karena aku hanya seorang pembantu udik, kampungan, jelek, dan juga bodoh. Aku sudah terbiasa mendengar kata-kata itu." ucapnya melengos memotong kalimat Bian. Jika mengingat itu, tak sedikit Kiana selalu merasa sakit hati pada ucapan pedas Bian padanya.


"B-bukan begitu, Kia. Mas cuma nggak mau sampai kamu menganggap Mas pria tidak tahu diri karena sudah menggoda kamu jika Mas menunjukannya secara terang-terangan. Maka dari itu Mas menutupi perasaan itu dengan membuat kamu terus menangis dan sakit hati. Sebenarnya Mas tidak tega melihat kamu seperti itu. Tapi Mas terlalu gengsi untuk mengatakan itu semua karena Papa dan Mama selalu saja membanding-bandingkan kamu dengan--"


"Mantan kekasih kamu itu?" ujar Kiana datar. Bian yang mendengar hal itu sontak membulatkan matanya untuk menatap istrinya. Namun Bian menganggukkan kepalanya juga tak menampik dengan semua kenyataan itu.


"Wajar sekali bukan, karena Mas pasti sangat mencintainya. Geram kalau ada orang yang membandingkan wanita yang dicintainya dengan seorang gadis yang derajatnya jauh dibawahnya." Kiana memalingkan wajahnya dengan perasaan kecewa yang entah mengapa secara tetiba ia rasakan saat menyadari jika dulu sosok suaminya itu pernah dimiliki oleh wanita-wanita cantik dan berkelas yang pasti pria itu cintai.


Melihat raut wajah Kiana yang mulai tak bersahabat membuat Bian seketika ketir.


"Tapi Mas merasa selama ini tidak pernah mencintainya. Diantara wanita yang pernah singgah di hidup Mas, hanya kamu yang Mas cintai, sayang. Cuma kamu yang benar-benar bisa membuat Mas bisa menyadari akan artinya cinta yang tulus." usaha pria itu untuk membuat Kiana tak lagi insecure dan overthinking dengan dirinya sendiri.


"Sudah ya, jangan membahas masa lalu Mas yang akan membuat kamu sedih. Yang terpenting sekarang Mas akan selalu ada untuk kamu. Semua yang ada pada tubuh Mas ini adalah milik kamu, sayang. Kamu bebas jika ingin melakukan apapun pada tubuh Masmu ini yang akan membuat kamu percaya kalau semua ini hanya untuk kamu." ucap Bian seraya mendekat pada Kiana dengan beralih tempat sehingga pria itu kini berada tepat di belakang Kiana, memeluknya dengan erat seraya membubuhkan kecupan-kecupan kecil yang intens di kepala dan bahu Kiana.


"Al sudah tertidur ternyata," ucap Bian saat melihat putra kecilnya itu terlelap dalam tidurnya.


Kiana mengangguk pelan, ia membenarkan baju yang dipakai oleh bayinya agar tak terkena angin malam.


"Apa Nyonya Bian sudah merasa mengantuk?" tanya Bian pada Kiana dengan seringainya mencoba untuk menggoda istrinya.


"Belum. Mas sudah mengantuk? Lebih baik Mas tidur, ini sudah tengah malam."


"Sama, Mas juga belum mengantuk." balasnya yang tentu saja berbohong. "Sayang?" panggilnya pada Kiana di balik ceruk lehernya.


"Ya? Mas butuh sesuatu?"


"Iya, sayang."


"Mas butuh apa? Biar aku siapkan sekarang juga mumpung Al sudah tertidur."


"Mas setuju sekali dengan usulanmu itu." selorohnya seraya berdeham pelan dan mengangkat kepalanya untuk melihat wajah istrinya. "Sayang?" panggilnya lagi dengan suara beratnya.


"Y-ya Mas?" jawab Kiana dengan gugup dan salah tingkah saat Bian semakin mengeratkan pelukannya sampai ia dapat merasakan jika bagian pusat tubuh suaminya itu menempel ketat di tubuhnya.


"Tidakkah sayangku ini mau melanjutkan kegiatan kita yang sempat tertunda?" ucapnya dengan nada sensual yang membuat Kiana meneguk ludahnya susah payah diiringi dengan debaran di dada yang terus berdebar-debar. Kiana sungguh tersipu malu dibuatnya.


Apa suaminya itu sangat menginginkannya malam ini?


*****

__ADS_1


__ADS_2