
Keesokan harinya....
Mikha mulai terbangun dari tidurnya, Mikha merasakan bahwa ada yang sedang memeluk dirinya, dia mengumpulkan kesadarannya dulu baru setelahnya melihat dengan jelas bahwa ada tangan kekar yang sedang memeluk dirinya dari belakang.
Mikha mengira bahwa dirinya saat ini sedang bermimpi dan ketika dirinya sadar mimpi itu akan hilang begitu saja, ternyata ini benar - benar sangat nyata untuk dirinya.
'Jadi Alvin dari tadi malam emang benar meluk aku?' Pikir Mikha.
Dalam lubuk hati Mikha yang paling dalam dirinya memang benar - benar merindukan pelukan hangat dari Suaminya itu. Ya biarpun Alvin selalu menyebalkan untuk Mikha tapi diam - diam Mikha mulai merindukan sentuhan dari Suaminya.
Ketika kesadaran Mikha sudah kembali, dirinya langsung tersadar dari lamunannya itu, 'Aku lagi mikirin apaan sih? Udah jelas - jelas aku itu lagi marah sama Alvin! Ingat Mik jangan terlalu mudah untuk luluh dengan Alvin!' Pikiran itulah yang akhirnya membuat Mikha melepaskan pelukan Alvin dari tubuhnya.
Kemudian setelah berhasil lepas dari pelukan Alvin, Mikha langsung berlari kekamar mandi untuk meninggalkan Alvin sendirian. Setelah kepergian Mikha, Alvin mulai membuka kedua matanya. Diam - diam Alvin tersenyum melihat tingkah Mikha tadi, sebenarnya Alvin sudah bangun sejak tadi hanya saja dia sengaja untuk tidak bangkit dari tidurnya dan terus saja memeluk tubuh Mikha.
'Aku akan membuat kamu perlahan tidak marah lagi sama aku Mik....jujur aku sangat merindukan kamu....' Batin Alvin sambil tersenyum penuh maksud tersembunyi.
Setelah mendengarkan suara pintu kamar mandi seperti ingin dibuka, Alvin dengan cepat bangkit lalu berjalan kearah depan pintu kamar mandi, Alvin ingin mengagetkan Mikha. Begitu Mikha membuka pintu, Mikha langsung kaget dan hampir saja terjatuh, Alvin dengan segera langsung menahan tubuh Istrinya itu.
"Hati - hati sayang....kenapa lihat aku seperti itu sih?" Ucap Alvin.
"Kamu! Kamu sengaja ya berdiri didepan pintu?" Balas Mikha sambil menatap Alvin tajam.
"Sengaja? Tidak mungkin sayang....aku hanya sedang menunggu kamu keluar karena aku ingin masuk kedalam." Alvin berusaha untuk terlihat sangat tenang agar Mikha tidak mencurigai dirinya.
"Aku gak percaya!" Ujar Mikha sambil melepaskan tangan Alvin.
"Aku tidak akan memaksa kamu untuk percaya sama aku kok....." Ujar Alvin sambil tersenyum lalu masuk kedalam kamar mandi dengan cepat.
Mikha masih melongo tidak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya barusan, 'Dasar ngeselin!' Setelahnya Mikha langsung masuk keruangan ganti pakaiannya mereka.
MIkha langsung memilih pakaian kerjanya dengan asal ambil saja, Mikha masih merasa kesal dengan sikap acuh Alvin tadi, biasanya Alvin akan berusaha untuk membujuknya. Tapi kali ini Alvin tidak melakukan apapun juga sehingga membuat Mikha bingung sendiri.
Emang bisa dibilang aneh ya? Kalau dipujuk berlagak sok jual mahal, lalu ketika dicuekin juga merasa tidak suka! Bisa dibilang emang kebanyakan wanita memang seperti itu dan salah satunya adalah Mikha sendiri. Setelah selesai mengenakan pakaian kerjanya lengkap, Mikha memakai riasannya sedikit saja, tapi tidak seperti biasanya Mikha yang selalu terburuĀ - buru lalu pergi duluan turun kebawah.
Kali ini Mikha berencana untuk menunggu Alvin keluar dari kamar mandi, Mikha masih sangat penasaran dengan sikap Suaminya itu. 'Kenapa sih Alvin lama banget?' Batin Mikha sambil menatap jam tangannya.
Mikha mulai merasa gelisah karena Alvin tak kunjung keluar dari kamar mandinya itu, "Udah ah ngapain juga aku nungguin dia!" Ujar Mikha lalu mengambil tasnya lalu segera keluar dari kamarnya.
Mikha kini sudah berada diruangan makan, tapi dirinya tanpa henti terus melamun membuat Ara yang sedari tadi sedang berbicara kepadanya seperti seseorang yang tidak dianggap sama sekali.
Mikha hanya mengatakan iya, iya saja sambil tersenyum, tapi selebihnya Mikha sendiri tidak tau apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Ara. Pikiran masih terus terganggu dengan Suaminya itu.
'Apa sih sebenarnya yang sedang menganggu pikiranku saat ini? Kenapa aku malah bingung sendiri dengan sikap Alvin? Lagian kan aku lagi marah sama dia....bodo amat deh dengan yang dilakukan oleh Alvin! Aku harus bersikap seperti itu terus sampai hatiku benar- benar bisa menerima Alvin lagi.' Pikiran itulah yang akhirnya membuat Mikha lebih tenang.
"Kak Ara... sorry ya! Sepertinya Mikha harus berangkat sekarang deh ntar takutnya telat." Ujar Mikha sambil menatap jam tangannya.
Alvin yang baru saja bergabung dengan mereka mendengarkan ucapan Mikha juga, hanya saja Alvin bersikap acuh tak acuh kepadanya.
"Lho emangnya Alvin tidak mengantar kamu pergi kerja?" Tanya Ara sembari bergantian menatap Mikha dan Alvin.
"Lagian Mikha pasti gak akan mau Kak kalau Alvin anterin...." Ujar Alvin sembari melanjutkan sarapannya tanpa menatap Mikha sama sekali.
Mikha hanya menatap Alvin dengan tatapan tidak percayanya saja, "Iya Kak! Kalau begitu Mikha berangkat sekarang juga ya!" Tegas Mikha lalu dengan cepat melangkah keluar rumah.
Mikha membanting dengan sangat keras pintu rumahnya, "Lagian siapa juga sih yang mau diantarin sama kamu? Huh!" Gerutu Mikha dengan sangat kesal lalu segera pergi.
Sedangkan didalam rumah, Alvin yang saat ini sedang mendapatkan tatapan tajam oleh kedua Kakaknya hanya berusaha untuk tidak melihatnya saja.
"Berhenti dong Kak menatap Alvin seperti itu..."
"Kakak masih tidak mengerti dengan kamu Vin, kenapa kamu malah membiarkan Mikha untuk pergi sendirian seperti itu?" Ujar Al.
"Itu semua bukan kemauan Alvin Kak....Kakak dengar sendiri kan kalau Mikha tidak mau bila Alvin yang mengantarnya? Lalu kenapa malah Kak Al dan Kak Ara jadi marah sama Alvin?" Jawab Alvin dengan santainya sambil melahap sarapannya.
Al dan Ara hanya bisa mengeleng - gelengkan kepalanya saja.
"Wanita itu butuh dibujuk dan dirayu Vin...kenapa sih kamu ini? Kenapa malah setelah maslaah kamu sudah selesai, kamu malah bersikap dingin seperti ini kepada Mikha? Kakak benar - benar tidak mengerti lagi harus mengatakan apa sama kamu." Ujar Al.
"Alvin tau kak! Alvin juga sudah berusaha, tapi lihat? Mikha masih saja keras kepala bukan?" Jawab Alvin sekenanya saja.
"Iya tapi tidak seperti itu dong! Berarti usaha kamu masih belum maksimal!" Ujar Al.
"Udah sayang....sabar! Kamu jangan emosi seperti ini." Ara berusaha untuk menenangkan Suaminya itu.
"Kakak ipar ada benarnya Kak! Ya udah kalau begitu Alvin berangkat kerja sekarang ya!" Pamit Alvin lalu segera pergi begitu saja meninggalkan kedua Kakaknya itu.
"Alvin! Kakak masih belum selesai berbicara...!" Al terus saja memanggil Alvin tapi Alvin sudah tidak menggubrisnya lagi.
"Sayang...udahlah! Biarkan saja Alvin." Ujar Ar masih berusaha untuk menenangkan Suaminya.
"Kamu lihat kan sayang sikap Alvin? Aku masih tidak habis pikir dengan sikap dia yang seperti itu! Terlalu kekanakan..." Ujar Al dengan emosi.
"Iya aku tau...biarkan saja mereka berdua yang menyelesaikan masalahnya ya!" Ujar Ara masih berusaha untuk menenangkan Al.
"Iya sayang....maafin aku ya jadinya malah emosi seperti ini. Maafin Papa ya sayang! Kamu gimana didalam sini?" Ujar Al sambil membelai perut Istrinya.
"Iya Papa...jangan marah - marah lagi ya Pa!" Ujar Ara sambil tersenyum menatap Al.
"Kamu kapan mau check up lagi sayang?" Tanya Al sambil memandangi Ara.
"Masih lama lagi kok sayang....sepertinya masih awal bulan depan deh. Kenapa emangnya sayang?" Tanya Ara.
"Biar aku bisa untuk menemani kamu dong sayang!"
"Beneran sayang? Oh iya sayang...aku boleh gak main kerumah Papa Mama? Jujur aku sangat merindukan mereka." Ujar Ara.
"Iya sayang beneran! Tentu boleh dong sayang, kamu mau kapan kesananya biar aku antar kamu." Al sangat khawatir kalau Ara pergi sendirian kemanapun itu Al berusaha untuk mengantar Ara kemanapun Ara ingin pergi.
__ADS_1
"Aku maunya sekarang sayang....kalau kamu sibuk aku bisa kok pergi sendiri saja." Ujar Ara yang tidak ingin merepotkan Suaminya.
"Aku bisa kok sayang! Ya udah kalau begitu kita berangkat sekarang ya?"
"Tapi sayang....aku ingin menginap disana untuk sementara waktu, boleh ya?" Ara merengek manja kepada suaminya agar mengizinkannya.
Al sempat terdiam beberapa waktu, "Hmm...ya udah deh sayang!" Ujar Al yang tidak tega melihat Istrinya yang terus menerus hanya berada dirumah saja.
"Beneran sayang?" Ujar Ara dengan sangat bersemangat.
"Iya sayang..."
"Terimakasih ya sayang." Ara mencium pipi Suaminya lalu memeluknya.
"Oh jadi kamu memeluk dan mencium aku hanya karena kamu ada maunya saja nih? Tanya Al.
"Bukan begitu sayang....ya udah aku naik dulu keatas ya untuk membereskan pakaian yang akan aku bawa, kamu tunggu sebentar disini ya!" Ujar Ara lalu pergi meninggalkan Suaminya dengan sangat cepat.
******
Selama dikantor Mikha terus saja melamun, Mikha sangat terganggu dengan sikap Alvin yang mendadak dingin dan terlihat tidak perduli kepadanya. Mikha ingin sekali untuk menyangkalnya hanya saja hatinya terus saja membuat dirinya tidak bisa menyangkalnya, bahwa sejujurnya dirinya terus saja memikirkan Alvin.
'Bahkan Alvin tidak ada menghubungiku? Dia benar - benar sudah tidak perduli lagi kepadaku! Oke...aku tidak akan berharap apapun lagi! Terserah kamu aja Vin! Aku benar - benar sudah tidak ingin memikirkan kamu lagi.' Batin Mikha yang saat ini sedang menatap ponselnya.
Tapi hati Mikha semakin penasaran dengan sikap Alvin membuat Mikha yang menjadi galau sendiri sambil terus memandangi foto keberasamaan dirinya dengan Sang Suami.
Bunyi telepon diruangannya lah yang akhirnya menyadarkan Mikha dari lamunannya, Mikha segera menjawab panggilan teleponnya itu.
"Halo..."
"Baik Pak!"
Lalu setelahnya Mikha langsung saja menutup panggilannya, Mikha bangkit dari duduknya lalu berjalan kearah ruangan bosnya. Sejak dari pagi dirinya terus saja menjadi pusat pergunjingan dan perhatian didalam kantornya, akan tetapi Mikha berusaha untuk terlihat tenang dan seakan tidak memperdulikan setiap mata yang terus saja menatapnya.
Hari ini benar - benar tidak mudah untuk Mikha, tapi mau tidak mau Mikha harus menjalinya juga. Muka terlihat sangat tebal dihadapan semua orang. Sejujurnya Mikha sangat tidak bersemangat untuk berangkat bekerja hari ini, karena Mikha tau dengan pasti dirinya akan menjadi bahan gosipan satu kantor dan benar saja ketakukan Mikha menjadi kenyataan.
Setiap Mikha melangkahkan kakinya kemanapun itu akan ada orang - orang yang kasak kusuk membicarakan dirinya. Kini Mikha sedang berada didalam toilet kantor dan duduk di cosletnya dia berusaha untuk menahan amarahnya, hanya saja tidak semudah yang dibayangkannya.
Bahkan didalam toilet kantor saja ada yang terus membicarakan dirinya tanpa sepengetahuan Mikha.
"Eh kamu kenal Mikha gak?"
"Mikha siapa?"
"Itu lho yang Anak baru..."
"Oh itu...tau sih,"
"Kasian banget gak sih dia?"
"Kasihan kenapa?"
"Emangnya kenapa? Kan aku gak datang kemarin."
"Ternyata Suaminya memiliki hubungan spesial dengan wanita lain, lalu hal yang mengejutkan lainnya adalah ternyata wanita itu mengaku kalau dia sedang mengandung Anak dari Suaminya si Mikha itu! Kamu bayangkan saja gimana jadinya Mikha yang mendengarkannya secara langsung disana?"
"Oh iya? Wah wah! Sayang sekali karena aku tidak datang ya!"
"Iya....tapi ternyata itu bukan Anak dari Suaminya Mikha! Tapi aku masih tidak terbayang deh kalau itu memang Anak dari Suaminya si Mikha itu, pasti perasaannya akan benar - benar hancur! Ni ya kalau aku jadi Mikha aku akan mempercantik dan merawat diriku agar suamiku tidak berpaling ke wanita lain. Kamu tau gak kalau Suaminya itu sangat kaya dan tampan? Kalau menurutku si ini karena Mikha terlalu cuek dengan dirinya sehingga membuat Suaminya berpaling darinya, coba saja Mikha merawat dirinya, pasti Suaminya juga tidak akan mencari wanita lain."
"Iya sih kamu benar....kalau saja Mikha lebih memperhatikan penampilannya lagi, pasti Suaminya tidak akan mungkin berpaling dari dirinya."
"Udah yuk...aku udah selesai nih."
Lalu kedua karyawan wanita itu sudah keluar dari dalam toilet. Mikha yang sudah tidak mendengarkan suara lagi akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam. Mikha berdiri didepan cermin besar.
'Apa aku benar - benar tidak menarik ya? Sepertinya yang dikatakan kwdua wanita tadi itu memang ada benarnya, buktinya saja Alvin dapat berpaling dariku?' Mikha terus saja melihat penampilannya sendiri.
'Apa sih yang sebenarnya sedang aku lakukan? Kenapa aku terlalu peduli dengan yang mereka katakan? Udah ah mendingan aku sekarang melanjutkan pekerjaanku lagi daripada sibuk memikirkan hal ini.' Pikiran itulah yang akhirnya membuat Mikha untuk yakin dan keluar dari dalam toilet.
Mikha kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat serius, dia benar - benar ingin melupakan kegelisahan yang terus saja menganggu konsentrasinya untuk saat ini.
Sedangkan ditempat lain, Alvin yang saat ini sedang berada didalam ruangannya terus saja memandangi wajah Mikha diponsel miliknya.
"Sayang....aku tau kamu pasti saat ini sedang memikirkan aku? Iya kan? Kamu bingung kenapa aku cuek kepada kamu?" Tebak Alvin yang sepertinya bisa membayangkan kebingungan yang ada diwajah Istrinya itu.
Alvin tersenyum sendiri dengan menyiratkan sesuatu yang sedang ada didalam pikirkannya saat ini. Alvin hanya ingin membuat Mikha jeda berpikir dan tidak menganggu Mikha.
"Jujur aku sangat merindukan kamu Mik...aku merindukan kamu yang selalu saja marah - marah kepadaku dengan alasan yang tidak jelas, selalu saja cerewet dan peduli tidak seperti sekarang ini...." Ujar Alvin dengan jujur sambil mengelus wajah Mikha di ponsel miliknya.
******
Selama beberapa hari kedepan Alan mengambil cuti, dia ingin merawat Mamanya yang masih berbaring di kamarnya. Hari ini Alan terus saja berada disamping Mamanya, Mamanya Alan sangat senang melihat Anaknya yang masih terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Apa yang Mama rasakan sekarang?" Tanya Alan sambil memegangi tangan Mamanya.
Mamanya Alan mengeleng pelan, "Tidak ada sayang....selama kamu berada disini saja Mama pasti akan baik - baik saja!" Jawab Mamanya sambil tersenyum.
'Tapi Alan tidak bisa terus menemani Mama seperti ini.' Batin Alan.
"Ya udah kalau begitu Mama harus tidur ya...Alan akan disini terus kok untuk menjaga Mama." Ujar Alan lagi.
"Mama tidak mengantuk Lan..."
"Mama ingin cepat sembuhkan? Kalau begitu Mama harus menuruti keinginan dari Dokter Mama saat ini." Alan masih berusaha untuk membujuk Mamanya.
"Baiklah sayang...tapi kamu janji ya jangan pergi kemana - mana." Ujar Mamanya akhirnya.
__ADS_1
"Baiklah Ma, Alan janji tidak akan kemana - mana." Ujar Alan sambil tersenyum.
Kemudian secara perlahan Mamanya mulai memejamkan matanya, Alan mengelus kepalanya Mamanya dengan kasih sayang sampai membuat Mamanya tertidur.
Setelah memastikan kalau Mamanya sudah tertidur lelap, Alan melepaskan tangannya dari Mamanya lalu menyelimuti Mamanya. Alan memutuskan untuk keluar kamar Mamanya sebentar untuk melihat ponselnya, akan tetapi diponselnya tidak ada yang menghubunginya.
Alan memutuskan untuk menghubungi Clara untuk menanyakan kabar dari Clara karena hari ini dirinya tidak bisa untuk menyamperin Clara ke apartemnnya seperti biasa. Akan tetapi panggilan Alan malah tidak tersambung sama sekali. Alan terus saja mencobanya akan tetapi tetap saja tidak terhubung.
"Kenapa telepon kamu mati si Cla? Apa kamu sengaja untuk menonaktifkan ponsel kamu ya?" Ujar Alan.
Alan sangat mencemaskan keadaan Clara saat ini, akan tetapi karena dia sudah berjanji kepada Mamanya dia tidak bisa untuk pergi kemana pun sebelum keadaan Mamanya sembuh total.
'Aku akan mwmberikan kamu sendiri selama beberapa hari ini...setelah itu baru aku akan menemui kamu kembali ya Cla...aku harap kamu sudah bisa menerima aku kembali dan memutuskan untuk kembali lagi kepadaku.' Batin Alan akhirnya.
Benar saja setelah Mamanya terbangun dari tidurnya, dan tidak melihat keberadaan Alan sama sekali, Mamanya langsung berteriak dengan histeris sambil terus memanggili nama Anaknya itu.
"ALAN! ALAN...!" Panggil Mamanya Alan.
Alan yang mendengarkan Mamanya sedang memanggil - manggil namanya akhirnya dia berlari dan masuk kedalam kamar Mamanya.
Alan meraih tangan Mamanya, dia menggenggam jemari Mamanya, "Alan disini Ma...Alan gak kemana - mana kok! Mama tenang saja ya."
"Iya sayang...Mama kira kamu sudah pergi meninggalkan Mama sendirian." Ujar Mamanya.
"Tidak Ma...kan Alan sudah berjanji akan merawat Mama." Ujar Alan.
"Oh iya Mama lapar? Mama ingin makan sekarang?" Tanya Alan.
Mamanya mengangguk pelan.
"Oke sebentar ya Ma, biar Alan ambilkan Mama makan dulu." Ujar Alan lalu keluar dari kamar Mamanya menuju keruang makan.
Alan mengambilkan Mamanya sup dari bahan - bahan yang sehat agar keadaan Mamanya cepat pulih. Kini Alan sudah menyendokkan nasi dan sup itu ke mulut Mamanya.
"Itu apa sayang...." Tanya Mamanya yang seperti tidak berselera.
"Ini sup Ma...ayo dong dibuka mulutnya, Mama ingin cepat sembuh kan?" Alan berusaha untuk meyakinkan Mamanya.
"Ma...ini enak kok..." Ujar Alan tau karena melihat Mamanya yang merasa tidak yakin.
Akhirnya Mamanya membuka mulutnya, Alan memasukkan sendok yang berisi makanannya itu didalam mulut Mamanya.
"Gimana Ma? Enak kan?" Tanya Alan.
Mamanya masih berusaha untuk mencerna makanan yang diberikan oelh Anaknya itu. "Hmmm...Mama gak tua sayang karena mulut Mama pahit."
"Itu karena Mama masih sakit...ya udah Mama makan dan nikmati saja ya." Dengan sabar Alan menyuapi Mamanya mau tidak mau Mamanya hanya menurut saja karena takut Alan akan pergi lagi.
******
Entah mengapa malam ini hujan turun dengan sangat derasnya, Mikha sudah memesan taksi dan saat ini sedang menunggu taksi pesanannya datang. Mikha berdiri didepan kantornya hanya seorang diri karena dia memang sengaja menunggu semua orang untuk pulang baru dirinya kembali.
"Kenapa sih hujan?" Ujar Mikha.
Mikha yang merasa kedinginan memeluk dirinya sendiri yang saat ini hanya menggunakan kemeja kerja lengan pendeknya saja dengan rok pendek yang berada diatas lututnya. Mikha benar - benar merasa sangat kedinginan.
"Kemana sih taksinya? Kenapa lama sekali?" Gerutu Mikha lagi.
Seseorang memberikan Mikha jas kerjanya untuk Mikha, lalu Mikha menatap sosok itu, "Pak Alex."
Dengan cepat Mikha segera melepaskannya, "Ini Pak...Maaf Pak saya benar - benar tidak bisa menerima jas Pak Alex." Ujar Mikha sambil mengembalikan jas atasannya itu.
"Tapi kasihan kamu kedinginan seperti itu Mik." Ujar Alex.
"Tidak apa - apa kok Pak! Lagian sebentar lagi taksinya akan datang." Ujar Mikha.
"Mendingan kamu saya antar pulang aja ya Mik...lihat tuh muka kamu udah sangat pucat." Ujar Alex lagi.
"Tidak Pak! Palingan sebentar lagi taksinya udah datang kok." Mikha masih keras kepala untuk menolak tawaran atasannya itu. Mikha tidak ingin menciptakan rumor lainnya lagi bila dia begitu dekat dengan atasannya itu.
Setelah melihat taksinya sudah datang, Mikha langsung pamit kepada Bosnya itu lalu berlari dengan cepat masuk kedalam taksi.
Alex hanya dapat melihat bayangan Mikha sampai taksi itu benar - benar sudah pergi dari hadapannya saat ini.
"Kenapa sih kamu selalu saja menolak kebaikan saya Mik? Saya benar - benar tulus sama kamu!" Ujar Alex.
Nampaknya Alex masih berusaha untuk mengejar dan mendapatkan cinta dari Mikha, padahal dia tau sendiri kalau itu adalah hal yang paling mustahil untuk dirinya. Tapi Alex masih merasa penasaran dengan Mikha yang selalu saja mengabaikannya.
Dari kejauhan ada senyuman senang melihat Alex yang lagi l agi tidak berhasil dengan usahanya. Didalam mobil yang sedikit jauh dari keberadaan Alex saat ini, Bella selalu saja memperhatikan Alex sampai Alex masuk kedalam mobilnya lalu pergi dari perusahaannya itu.
Bella terus saja mengikuti Alex dari belakang, Bella ingin mengetahui dimana Alex tinggal sekarang karena dirinya tidak dapat menemukannya bila dirinya menyuruh seseorang untuk menyelidikinya jadinya Bella memutuskan untuk menyelidikinya sendiri saja.
Alex tidak menyadari kalau dirinya saat ini sedang diikuti oleh seseorang. Alex hanya terus mengemudikan mobilnya dengan cepat agar cepat sampai ke kediamannya.
"Kali ini aku tidak akan kehilangan kamu lagi Lex!" Tegas Bella.
Alex saat ini sudah memasang lampu tangannya kearah kana, itu artinya dia ingin membelokkan mobilnya kearah sana. Bella melihat Alex memasuki sebuah rumah mewah. Bella sudah menghentikan mobilnya sebentar untuk melihatnya sebentar.
"Ternyata kamu tinggal disini sekarang Lex!" Ujar Bella lalu tersenyum puas karena sudah mengetahui tempat tinggal dari mantan pacarnya yang masih sangat dicintainya itu.
******
Gimana dengan episode hari ini? Semoga kalian suka ya!
Oh iya bila kalian semuanya menyukainya bisa juga lho dengan memberika tips kepada author bila kalian mempunyai point ya!
Enaknya up nya kapan lagi ya? Hehe
__ADS_1
Happy reading guys!