
Siang harinya Fira dan nenek Uti sedang masak sedangkan Lia bertugas bersih-besih. Fira bertugas menyuci beras, memotong kangkung dan ati ayam, sedangkan nenek Uti yang membuat bumbunya dan menanak nasi menggunakan dandang karena tidak ada magic com.
Drtt drtt
Suara panggilan masuk dari ponsel milik Fira. Fira mengernyitkan dahinya bingung karena yang menelponnya nomor tidak dikenal tapi tak urung ia mengangkatnya.
"Halo?"
"Selamat siang, benar ini teh dengan mba Sefira Anggraini?" Tanya seseorang di sebrang sana.
"Iya saya sendiri," jawab Fira.
"Ini saya teh-"
"Maaf pak pakai bahasa Indonesia aja, saya gak ngerti soalnya," potong Fira terlebih dahulu.
"Saya dari ekspedisi Bekicot mba. Ini ada barang atas nama Sefira Anggraini berjumlah 5 kodi," beritahu orang tersebut.
Fira yang mendengar itu tercengang, akhirnya barang yang dia tunggu-tunggu datang juga.
"Halo mba?" Suara orang di sebrang sana membuyarkan lamunan Fira. "Ah iya pak, kapan barangnya di antar pak?" Tanya Fira antusias.
"Sekarang sudah di jalan mba, apa mba di rumah? Karena saya tidak tau rumah mba yang mana," ujar orang ekspedisi tersebut.
"Iya pak saya di rumah. Saya tunggu pak."
"Baiklah. Assalamualaikum," ucap orang tersebut lalu mematikan ponselnya setelah mendengar Fira menjawab salamnya.
Fira menatap bahagia ponselnya kemudian menoleh menatap nenek Uti yang masih setia mengulek bumbu-bumbu dapur.
"Nek barang-barang Fira dateng sekarang," pekik Fira kegirangan. Nenek Uti yang mendengar itu ikut senang. "Ya sudah kamu gelar tikar di teras biar barangnya tidak kotor nanti," titah nenek Uti tersenyum.
"Iya nek," jawab Fira antusias tapi sekian detik kemudian Fira melihat kangkung yanh belum ia potong semua. "Udah nanti nenek yang lanjutin. Udah sana kamu ke teras sama Lia," ujar nenek Uti yang mengerti.
Fira tersenyum kembali dan mengangguk antusian. Fira segera ke teras mencari keberadaan Lia yang ternyata berada di samping rumah sedang mengurus tanaman cabai, tomat, dan yang lainnya.
"Dek," panggil Fira tersenyum, Lia menatap Fira bingung. "Kenapa kak?"
"Barang-barang kita datang sekarang!" Pekik Fira memberitahu.
"Oh," balas Lia membuat Fira heran, apakah dia tidak senang pikirnya.
Lia yang kembali mengurus tanamannya setelah mengatakan itu berhenti sejenak. Ada yang salah. Batinnya.
Lia menatap Fira kembali kemudian melototkan matanya. "APA KAK? BARANG-BARANG KITA DATANG SEKARANG?" Pekik Lia setelah sadar. Fira yang mendengar itu menepuk dahinya jengah.
"Sebentar, aku cuci tangan dulu kak," lanjut Lia berlari dengan kekuatan super menuju kamar mandi belakang.
...***...
"Benar dengan mba Sefira Anggraini?" Tanya seorang yang baru turun dari pick up.
"Iya pak saya sendiri," jawab Fira tersenyum senang melihat karung-karung yang ada di bak pick up tersebut.
"Ini barangnya mau taruh dimana mba?"
__ADS_1
"Di dalem aja langsung pak," bukan Fira yang menjawab tapi Lia yang tidak kalah senangnya.
"Baik mba."
Ada dua orang pria yang membopong karung-karung besar tersebut ke dalam rumah dan menaruhnya di pojok teras.
Wah ada apa itu.
Karungnya besar-besar lagi.
Bu Uti mau ngapain ya?
Itu apa sih isinya?
Wah barang-barang Lia dan sepupunya sudah dateng ternyata.
Iya kemarin Bu Uti bilangnya dua hari lagi.
Di luar sudah banyak ibu-ibu tetangga yang berbisik-bisik. Ada yang penasaran ada juga yang sudah tau dan tidak sabaran.
Setelah semua di turunkan, kedua orang tersebut pamit karena masih banyak barang yang akan mereka antar ke tempat lain. Tapi sebelum itu, mereka meminum teh yang sudah nenek Uti buatkan karena di paksa tentunya.
"Wah kak banyak banget," pekik Lia loncat-loncat. "Iya dek, tapi apa muat ya di rak ini," ujar Fira.
"Eh iya ya," ujar Lia melihat rak dan karung-karung besar itu secara bergantian. "Kita coba aja dulu kak, nanti kalo gak muat ya kita taruh dimana mungkin nanti kita pikirin," saran Lia yang langsung di setujui Fira.
Nenek Uti yang berada di antara mereka tersenyum melihatnya. "Udah sekarang lebih baik kita makan dulu, nanti setelah makan baru kalian bongkar," ujar nenek Uti.
Fira dan Lia menyetujui ucapan neneknya karena memang mereka juga sudah lapar. Mereka berdua mengikuti langkah nenek Uti ke tempat mereka makan biasanya. Tapi langkah mereka terhenti karena mendengar keributan di luar.
"Bu, itu semua barang-barang yang kemarin maksud ibu kan? Kita mau lihat-lihat bu, siapa tau ada yang cocok," ujar Diah salah satu dari mereka.
"Iya bu, kita semua mau milih-milih. Udah gak sabar nih," sahut yang lain.
Lia menghela nafas berat tapi tak uring hatinya senang melihat antusias mereka. "Barangnya belum di bongkar di susun bu ibu. Kalian bisa datang nanti sore atau besok pagi," beritahu Lia.
"Iya bu, sebaiknya kalian kesini besok pagi saja, sepertinya belum selesai jika ibu datang nanti sore. Ibu semua lihat kan karungnya banyak dan besar tadi," lanjut Fira.
"Yahh," celetuk mereka semua dengan wajah masam.
"Sabar ya bu," ujar Lia terkekeh melihat raut wajah mereka.
"Iya sudahlah ayo bu kita pulang aja," celetuk salah satu dari mereka.
"JANGAN LUPA BESOK BAWA UANG YANG BANYAK YAA!" Teriak Lia karena mereka sudah sedikit jauh dari rumahnya.
"Sudah-sudah ayo masuk."
...***...
Dave saat ini berada di salah satu cafe yang di kelolanya. Dia dengan sangat teliti memeriksa laporan keuangan cafenya dan memeriksa beberapa berkas yang di tugaskan Larry kepadanya.
Hening.
Satu kata yang menggambarkan suasana di ruangan Dave saat ini sampai suara ketikan jarinya di keyboard terdengar.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap Dave tanpa mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk oleh seseorang.
Ceklek
Seorang gadis menggunakan seragam kerja cafe tersebut masuk dengan tubuh yang bergetar.
Dave menatapnya sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. "Ada apa?" Tanya Dave to the point.
"Ma-af pak sa-saya mengganggu waktu anda. S-saya kesini i-ngin menanyakan tentang sahabat saya, Sefira pak," ujar gadis bernama Desi tersebut dengan terbata-bata sambil menundukkan kepalanya.
Dave yang mendengar nama Sefira menghentikan kegiatannya kemudian menatap karyawannya itu dengan tatapan tajam dan dingin. Sedangkan Desi yang merasakan hawa semakin menyeramkan di sekitarnya semakin di buat takut.
"Kenapa dengannya?" Tanya Dave dingin.
Desi menelan ludahnya kasar mendengar suara dingin atasannya itu. "Di-dia ti-tidak pernah ma-suk ti-tiga hari ini pak," jawab Desi dengan bibir bergetar.
"Terus apa hubungannya dengan saya?"
"Sa-saya kira ba-bapak tau alasan kenapa Fira ti-dak pernah masuk," balas Desi dengan gugup.
"Saya tidak tau. Sekarang kamu keluar sebelum kamu saya pecat!" Titah Dave dingin.
Desi yang tidak ingin hal itu terjadi segera pergi. "Maaf pak!" Ucap Desi sebelum meninggalkan ruangan yang sangat menyeramkan itu menurutnya.
Bukan tanpa alasan kenapa Desi menanyakan hal itu kepada atasannya tersebut, dia salah satu karyawan yang sudah lama bekerja di sana sama seperti Fira, mereka masuk bersama dulunya. Dia tau bagaimana aturan di cafe tersebut dan bagaimana sifat Fira. Tidak mudah untuk keluar dari cafe tersebut, akan ada biaya finalti yang harus di bayar jika mengundurkan diri dari sana selama kontrak berjalan kecuali dalam situasi tertentu dan baru sebulan dia dan Fira memperpanjang kontrak, jika Fira berhenti begitu saja dari mana ia mendapatkan uang untuk membayar finalti kontrak itu. Tapi melihat bagaimana respon atasannya tadi yang seolah tidak peduli, dia merasa ada yang tidak beres disini, tapi Desi tidak bisa berbuat apa-apa karena lawannya bukan orang biasa. Dia tau hukum tidak berlaku bagi orang yang memiliki uang.
...***...
...SPOI NEXT!...
"Aduh ini bagus banget" celetuk salah satu dari lima belas orang itu.
"Iya bagus-bagus semua," sahut salah satu dari mereka.
"Ini dasternya bagus, lembut dan adem juga."
Lia, Fira dan nenek Uti hanya diam menonton mereka memilih saja di meja yang sudah Lia siapkan sebagai tempat pembayaran.
"Fira, baju yang kaya Ayu itu gak ada lagi?" Tanya perempuan yang masih terlihat muda bernama Indah.
Fira menoleh dan melihat model baju yang di maksud. "Ada kak, mau warna yang sama?" Tanya Fira.
"Iya boleh."
Fira menatap Lia. "Lia tolong ambilkan ya, ada di rak ke tiga 'daster bunga' itu warna mustard," pinta Fira.
Lia mengernyit. "Warna mustard itu warna kaya gimana kak?" Tanya Lia tidak tau.
"Itu yang warna kuning," jawab Fira yang diangguki Lia kemudian dia memanjat rak tersebut untuk mengambil daster yang di maksud.
...🌱...
Jangan lupa baca juga novel aku yang berjudul 'KITA BERBEDA' gengs.
__ADS_1
Jangan lupa dukung aku terus dengan vote, like, komen, dan favoritkan yaw gengs!