SEFIRA

SEFIRA
Chapters 18


__ADS_3

"Dia," gumam Dave berdiri kaku melihat seorang perempuan cantik memanggil seseorang.


Felix dan Nico saling pandang lalu tersenyum lega. Sonya menatap aneh ketiga pemuda di sampingnya itu yang terdiam mematung setelah melihat perempuan yang masih digerbang, terlebih Dave.


Mata Fira memerah melihat orang yang selama ini ia benci. Seolah ada yang membisikkan nama Lia membuat Fira seketika sadar tujuan awalnya. Setelah menetralkan deru nafasnya, Fira melangkah cepat ke arah sekumpulan orang di taman itu. Dengan melewati Dave dan Nico, Fira meraih tangan anaknya.


"Bibi kenapa?" Tanya Budi, teman Gavin.


Fira menoleh kearah Budi dan tersenyum. "Bibi gak papa," jawabnya.


"Gavin kita ke puskesmas sekarang, bibi kamu kecelakaan," beritahu Fira cepat.


"Bunda bohong kan?" Tanya Gavin tak percaya.


Fira menggeleng. "Bunda gak bohong. Ayo buruan nak, kasian bibi kamu disana sendirian."


Gavin segera berdiri. "Maaf teman-teman aku pergi dulu," pamit Gavin kepada teamn-temannya lalu menarik tangan bundanya dan berlari keluar bangunan besar itu.


"Kalian semua juga pulang ini sudah siang," ujar Fira kepada teman-teman anaknya itu.


"Iya bi," jawab mereka.


Gavin seolah melupakan sang tuan rumah yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, begitu juga dengan Fira yang pura-pura tidak melihat mereka. Disaat akan melewati Dave dan Nico kembali, tangan Fira dicekal oleh Dave tapi pandangan Fira tetap lurus.


"Siapa dia?" Tanya Dave, siapapun yang menatap dalam manik matanya pasti akan tau ada sebuah kehangatan dimata coklat terang itu.


"Lepas!" Ucap Fira dingin tanpa menatap lawan bicara.


"Siapa dia?" Tanya Dave lagi.


Fira yang sudah emosi sedari ia melihat wajah laki-laki brengsek itu menghempas tangannya kasar. "Siapapun dia, bukan URUSAN anda Tuan Dave yang TERHORMAT!" Ucap Fira penuh penekanan di setiap kata-katanya.


Setelah mengatakan itu, Fira berjalan cepat menarik tangan anaknya yang hanya terdiam dengan wajah dinginnya.


Dave, pemuda itu menatap punggung dua orang berbeda usia itu dengan pandangan yang sulit diartikan, tapi tak khayal hatinya menghangat melihat balita yang diseret oleh Fira itu.


Semua orang menatap Dave dengan pandangan berbeda, sendu, tajam, bingung, dan ada juga yang tersenyum mengejek siapa lagi jika bukan Nico.


Felix mengedarkan pandangannya ke penjuru Vila sampai matanya menatap motor matic dengan kunci yang masih menggantung di key lock kemudian dia menarik Nico kesana.


"Kenapa sih lo tarik-tarik gue," sentak Nico.


"Ke puskesmas susul Fira. Buru lo yang nyetir," ujar Felix.

__ADS_1


Nico yang mendengar itu mengerti, tanpa izin sama pemilik motor mereka berdua pergi menyusul Fira ke puskesmas terdekat dengan GPS sebagai penunjuk arah.


Tiga orang dewasa yang masih terdiam dengan pikiran mereka masing-masing tidak menyadari Felix dan Nico telah keluar Vila sampai suara Stefi menyadarkan mereka.


"Ma pa, kak Felik sama kak Nico mau kemana sampe ngebut gitu?" Tanya Stefi melihat kearah gerbang.


"Siapa perempuan dan anak kecil tadi?" Tanya Sonya menatap tajam Dave.


Dave tidak menjawab, dia terdiam mendengar pertanyaan mamanya. Sedangkan Larry menatap mereka berdua bingung begitupun dengan Stefi.


"Sekali lagi mama tanya, siapa mereka?"


Dave masih terdiam, bayangan lima tahun lalu kembali berputar diotaknya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh kata-katanya sendiri, 'saya kasih kamu 50 juta dan pergi dari kota ini', kata-kata itu terus berputar-putar.


"Kita ke puskesmas sekarang!" Titah Sonya menatap nyalang Dave.


"Mau ngapain ma?" Tanya Stefi polos.


"Memastikan sesuatu," jawab Sonya. "Ayo pa cepetan."


"Kamu juga ikut!"


Stefi menuntun kakaknya yang terbengong ke mobil. Stefi bingung dengan apa yang terjadi tapi tetap mengikuti ajakan mamanya.


***


"Maaf mba, pasien kecelakaan tadi ruangannya dimana ya?" Tanya Fira kesalah satu perawat yang kebetulan melintas.


"Mba kakaknya ya? Pasien ada di ruangan paling ujung sana mba," jawab perawat tersebut menunjuk kearah lorong.


"Terima kasih mba," ujar Fira kemudian berjalan kembali dengan tangan Gavin digenggamanya.


Ceklek


Fira membuka pintu dan yang pertama kali ia lihat adalah Lia yang masih belum sadar dengan luka goresan di pipi kanan dan dagu serta jarum infus yang menancap di punggung tangan sebelah kanan. Entah bagaimana bisa pipi adiknya itu tergores karena aspal seperti luka bakar, padahal Lia selalu menggunakan helm.


"Bibi bangun, ini Gavin," ucap Gavin lirih menggoyangkan tangan kiri Lia pelan.


"Bunda, bibi kapan bangun?" Tanya Gavin tanpa menoleh kearah Fira yang berdiri disebelahnya, mata Gavin menatap lekat wajah pucat Lia, matanya memerah menahan tangis melihat luka lebar di pipi kanan Lia.


"Gavin jagain bibi dulu ya, bunda mau urus sesuatu dulu di depan," ujar Fira yang diangguki Gavin.


Fira keluar mengurus administrasi Lia. "Selamat siang mas, saya mau bayar administrasi pasien atas nama Aulia Putri Rawangsa," ucap Fira di depan loket.

__ADS_1


"Selamat siang, tunggu sebentar ya bu," balas petugas tersebut.


"Ini bu tagihannya," beritahu petugas memberikan Fira selembar kertas.


Fira menerima dan membacanya kemudian mengeluarkan sejumlah uang sesuai nominal yang tertera dilembar tagihan itu. "Ini mas."


"Pas ya mba. Terima kasih."


Setelah urusannya selesai, Fira berjalan ke warung depan puskesmas beli makanan untuk Gavin dan dirinya serta Lia jika nanti sudah sadar dia lapar.


***


"Kenapa kalian pada kesini?" Tanya Nico melihat keluarga Miller yang baru turun dari mobil.


"Kalian baru sampai?" Tanya Sonya tanpa menjawab pertanyaan Nico.


"Kita berdua nyasar tante gara-gara maps sialan," kesal Nico.


"Kalian berdua sih jalanan bandung aja gak tau. Sudah ayo masuk sama-sama," ajak Sonya.


Felix menepuk pundak Nico membuat ia menoleh. "Kenapa?"


"Itu Fira ayo cepetan," ujar Felix berjalan duluan disusul kelima orang itu.


Fira berjalan keruangan Lia dengan dua kantong plastik hitam di tangannya. Dia tidak menyadari beberapa orang mengikutinya sampai dia berada di depan pintu ruangan Lia lalu membukanya.


Di ruangan Lia, ada lima brangkar tapi tiga diantaranya kosong dan dua diantaranya diisi oleh Lia dan orang lain di paling pojok.


Ceklek


Semua yang ada diruangan itu menengok kearah pintu dan terdapat Felix dan yang lain dibelakangnya. Fira yang melihat itu langsung menutup gorden brangkarnya. Setiap brangkar di kelilingi gorden sebagai pembatas.


Sedangkan Larry yang melihat ada pasien lain selain keluarga perempuan yang datang ke vilanya keluar untuk mengurus kepindahan pasien itu karena puskesmas tidak memiliki ruang VIP maka pasien lain yang dipindahkan ke ruangan lain agar ruangan pojok tersebut hanya untuk Lia. Maklum horkay gengs.


Larry melakukan itu karena mengerti akan ada pembahasan penting yang akan mereka bicarakan sekarang.


***


Jangan lupa untuk vote, like, komen, dan favoritkan biar aku makin semangat.


Aku pantau terus vote dan gift kalian, jika naik nanti malam aku up lagi.


Maafkan karena jalan ceritanya ngawur ya gengs karena aku bukan penulis handal huhuu.

__ADS_1


__ADS_2