SEFIRA

SEFIRA
Chapters 11


__ADS_3

Matahari menjulang tinggi, sedari subuh tiga perempuan berbeda usia itu sudah mulai beraktivitas sesuai tugas masing-masing. Siapa lagi kalau bukan nenek Uti, Fira dan Lia. Mereka bertiga sudah selesai merapikan barang-barang yang akan di jual, tapi tentu nenek Uti dilarang terlalu banyak gerak karena takut nanti kelelahan begitupun dengan Fira yang dilarang keras oleh Lia untuk terlalu extra untuk membantunya, jadilah hanya Lia yang berperan sangat aktif dalam membereskan semuanya mulai dari membopong pakaian yang sudah dipilah, manjat rak, dan memberikan nama pada sisi rak supaya nanti tinggal di ambil jika ada yang membeli pakaian tersebut, sedangkan neneknya dan Fira hanya mengeluarkan dari karung kemudian memilah per model dan warna.


Dari tadi sudah terdengar keributan di luar. Lia dengan semangat membuka pintu. "Silahkan ibu-ibu, adek-adek, dan kakak-kakak," ujar Lia mempersilahkan mereka masuk. Baru saja mereka akan menerobos masuk tapi berhenti karena ucapan Lia.


"Tapi.." ujar Lia menggantung ucapannya.


"Yah kok pake ada tapi-tapiannya segala sih."


"Nggak seru!"


"Iya lia, udah gak sabar nih!"


"Tenang aja, mbok udah bawa duitnya."


Begitulah seruan-seruan dari mereka yang kecewa.


Lia terkekeh melihat itu. "Tapi bertahap ya, hanya boleh masuk lima belas orang dulu baru lima belas lagi, gimana?" Tanya Lia berpendapat.


"Yahh nanti kalo kehabisan yang bagus-bagus gimana ia?" Tanya seorang perempuan manis yang seumuran dengan Lia.


Jika ada yang tanya kenapa tidak sekolah? Di kampung tersebut banyak orang yang hanya lulusan SMP bahkan ada juga yang hanya lulusan SD. Ada yang baru lulus langsung nikah dan sebagainya. Bagaimana masa depannya nanti? Bagi sebagian orang masa depan tergantung pendidikan tapi tidak dengan mereka yang perekonomiannya lemah. Siapa sih yang tidak ingin memiliki masa depan yang cerah? Tapi apa iya kita harus memaksakan diri untuk mampu padahal kita benar-benar tidak mampu untuk itu.


"Ya mau bagaimana lagi rumahnya cuma sepetak gini," jawab Lia.


"Kenapa gak buka diluar aja sih ia?" Tanya temannya yang lain.


"Gak lihat, ini kan jalan banyak motor lewat," jawab Lia sewot. "Jadi mau masuk gak?"


"Ibu duluan ya nak Lia," pinta seorang perempuan paruh baya masuk tanpa menunggu persetujuan Lia yang menjaga di pintu.


"Ibu juga ya nak lia."


"Aku juga ia."


"Ak-"


"STOP!" Teriak Lia menatap mereka. "Di dalem sudah lima belas orang, jadi kalian tunggu giliran!" Ujar Lia kemudian menutup pintu, dapat Lia dengan protesan mereka di luar membuat Lia terkikik.


Lima belas orang pertama yang masuk memilih di stand hanget panjang yang sengaja di buat untuk memajang pakaian per model dan warna sebagai sample.


"Aduh ini bagus banget" celetuk salah satu dari lima belas orang itu.


"Iya bagus-bagus semua," sahut salah satu dari mereka.


"Ini dasternya bagus, lembut dan adem juga."


Lia, Fira dan nenek Uti hanya diam menonton mereka memilih saja di meja yang sudah Lia siapkan sebagai tempat pembayaran.


"Fira, baju yang kaya Ayu itu gak ada lagi?" Tanya perempuan yang masih terlihat muda bernama Indah.

__ADS_1


Fira menoleh dan melihat model baju yang di maksud. "Ada kak, mau warna yang sama?" Tanya Fira.


"Iya boleh."


Fira menatap Lia. "Lia tolong ambilkan ya, ada di rak ke tiga 'daster bunga' itu warna mustard," pinta Fira.


Lia mengernyit. "Warna mustard itu warna kaya gimana kak?" Tanya Lia tidak tau.


"Itu yang warna kuning," jawab Fira yang diangguki Lia kemudian dia memanjat rak tersebut untuk mengambil daster yang di maksud.


"Ini kak. Jadi berapa kak?" Tanya salah seorang gadis seumuran Lia kepada Fira menyerahkan dua potong baju.


Fira melihat baju tersebut. "Semuanya 57.000 aja dek," jawab Fira sambil membungkus barang tersebut.


Gadis itu sedikit terperangah mendengarnya. "57.000? SERIUS KAK? GAK BERCANDA KAN?" Tanya gadis itu beruntun, Fira mengangguk dengan takut jika menurut orang di hadapnnya itu harga segitu mahal. "MURAH BANGET KAK!" Pekiknya.


"Sebentar kak, aku mau pilih lagi. Simpan dulu ini kak," semangat gadis tersebut. Fira bernafas lega mendengarnya.


Fira sudah merekap semuanya semalam, mulai dari selisih harga barang, ongkos kirim, dan berapa keuntungan yang ia tentukan setiap barang. Fira dan Lia tidak mengambil untung banyak, hanya tiga sampai tujuh ribu per barang kecuali barang berbahan dasar jeans mereka mengambil untung sepuluh ribu.


YANG DI DALAM BURUAN!


JANGAN HABISIN YANG BAGUS-BAGUS UNTUK KITA-KITA!


LIAAAAA!


BU UTI, DIYAH MAU MASUK!


Terdengar teriakan-teriakan orang yang mengantri diluar tidak sabaran. Sedangkan orang yang berada di dalam seakan tuli dengan itu semua, mereka asik dengan dunia mereka sendiri memilih dan menanyakan ini itu jika yang mereka mau tidak ada di stand. Dengan sabar Lia mengambilkan mereka.


Satu persatu dari mereka berjalan ke arah Fira untuk membayarnya. Tidak sedikit yang bilang murah, bahkan mungkin mereka semua bilang murah.


Dirasa sudah agak sepi, nenek Uti menggantikan tugas Lia menyuruh mereka masuk sedikit demi sedikit.


...***...


"Pa ain," celetuk seorang bayi laki-laki tampan kepada ayahnya.


"Jagoan papa mau main, hm?" Tanya pemuda tersebut memastikan.


Balita tersebut mengangguk polos membuat pemuda itu gemas dengan tingkah anaknya. "Ya pa."


"Baiklah. Ayok kita main, let's go meluncur!" Seru pemuda itu dengan tangan terkepal ke atas dan satunya berada di pinggangnya.


"Et gooo," seru balita itu mengikuti suara dan gerakan ayahnya.


Mereka berlari keluar rumah dengan tertawa. Sampai di taman samping rumahnya, mereka bermain robot, pesawat-pesawatan, mobil-mobilan, dan lainnya.


Byurr

__ADS_1


"SIAPA YANG BERANI GANGGU GUE MAIN!" Pekik Dave kaget karena mimpi indahnya terganggu. Mimpi indah? Bukankah dia sendiri yang bilang belum siap jadi seorang ayah? Entahlah.


"APA HAH?" Balas Sonya dengan garang. Dia sudah membangunkan anaknya itu berkali-kali untuk bangun dan pindah tidur ke kamarnya karena Dave tidur di lantai ruang keluarga dengan televisi yang menyala, yang membuat Sonya geram karena ia beberapa kali membangunkan anaknya itu tapi anaknya itu malah senyum-senyum terkikik sendiri dalam tidurnya.


Dave menatap mamanya sengit. "Mama bisa gak sih banguninnya yang lembut?" Semprot Dave.


Sonya melototkan matanya, "Mama sudah bangunin kamu dari tadi. Lagian kamu mimpiin apa sih dari pulang sekolah sampai mau malam gini tidur terus mana senyam senyum segala lagi," omel Sonya menatap garang anaknya.


Dave yang mendengar penuturan mamanya mengingat kembali mimpi yang tadi. Seorang anak kecil yang gembul, mata yang indah, bulu mata yang lentik, persis seperti dirinya waktu kecil dulu.


Dave menggeleng, apa yang gue pikirkan. Batinnya.


"Kenapa kamu geleng-geleng gitu?" Tanya Sonya bingung.


Dave menatap mamanya sinis. "Mama kepo!" Semprot Dave kemudian pergi meninggalkan mamanya ke kamarnya sendiri.


...***...


...SPOI NEXT!...


"Huekk." Dave memundurkan kursi lalu berlari ke wastafel dapur dan memuntahkan cairan bening.


"Abang kenapa?" Teriak Sonya khawatir.


"Gak papa ma," jawab Dave berjalan ke meja makan kembali.


"Abang fine?" Tanya Stefi khawatir melihat abangnya.


"I'm fine sist."


"Kita kedokter aja son," saran Larry.


"Dave gak papa pa." Dave menatap papanya dengan pandangan meyakinkan. "Abang gak selera makan. Ma nanti aja abanh makannya."


"Bawa aja kekamar gimana?"


"Ga usah nanti aja," tolak Dave langsung melangkah ke lantai dua tempat kamarnya berada.


"Abang kenapa ma pa?" Tanya Stefi melihat Dave berjalan di tangga.


"Abang gak papa sayang. Adek makan lagi ya habis itu istirahat," titah Sonya lembut.


"Gue kenapa si anjing! Gak enak banget ni perut gue kaya lagi diubrek-ubrek," decak Dave menahan mualnya.


...🌱...


Jangan lupa baca juga kisah Keysha dan Nanta di 'KITA BERBEDA' gengs.


Jangan lupa juga untuk vote, like, komen, dan favoritkan gengs!

__ADS_1


__ADS_2