
Mobil yang dikendarai Kevin sudah masuk ke halaman rumah sakit. Anak-anak Rakasa yang menggunakan motor berhenti di depan gerbang.
"Kita gak bisa masuk semua. Terlalu banyak," ucap Noah yang memimpin pasukan.
Salah satu dari mereka yang bernama Ridwan turun menghampiri Noah. "Kita akan balik. Biar lo sama yang lain yang nungguin Lya. Seperti yang lo bilang, kita tidak bisa masuk semuanya takutnya mengganggu kenyamanan pasien lain."
Noah mengangguk. "Hati-hati ya! Gue titip pasukan sama lo bang," ujar Noah pada Ridwan si anggota yang baru saja lulus sekolah beberapa minggu yang lalu.
"Tolong kabarin kita tentang keadaan Lya bang," pekik salah satu dari mereka.
Noah kembali mengangguk. "LANGSUNG PULANG! JANGAN KELIARAN, HATI-HATI," titah Noah yang menghidupkan kembali motornya dan masuk ke halaman rumah sakit bersama Eadred dan Keenan.
Di sisi lain.
Kevin menghentikan mobilnya di depan UGD.
Karta segera menggendong Lya yang sudah tidak sadarkan diri. Diki dan Clarissa berlari mendahului Karta guna untuk memanggil perawat.
"SUSTER!!" Teriak Diki mengejutkan orang-orang yang ada di UGD.
"HELP! Suster tolong sepupu saya!" Clarissa menghampiri dua orang perawat yang membawa brangkar.
Karta langsung mebidurkan Lya di brangkar itu dan langsung mendorongnya.
"Ayah, Lya kena tusuk orang," ucap Diki panik pada ayah David di telpon.
Mereka menunggu di depan pintu kamar UGD.
Ayah David datang dengan berlari tepat saat itu juga seorang perawat keluar dari ruangan Lya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya ayah David.
"Cukup parah dok, pasien sedang di tangani dokter Lukman di dalam," jawab perawat itu.
"Hubungi tim saya! Suruh mereka siapkan ruang operasi sekarang!"
"Baik dokter!"
Ayah David masuk ke dalam tanpa menghiraukan Diki dan Clarissa.
"Hiks.. oh God, I beg you to save Gel Gel," tangis Clarissa. Badannya bergetar hebat, tangan Clarissa dipenuhi darah Lya bahkan lengan bajunya yang berwarna cream sudah berubah menjadi merah. Begitu pula Karta, kaos putihnya sudah di penuhi darah Lya, tangannya juga sama. Mengingat Karta menekan luka Lya menggunakan tangan kosong.
Diki berbalik melihat Clarissa, dengan langkah gontai dan menarik Clarissa dalam dekapannya membuat tangis Clarissa pecah. "Hiks.. sorry! Seharusnya hiks aku gak paksa dia buat temani aku keluar."
__ADS_1
Diki mengelus punggung Clarissa. "Lya kuat! Kita semua tau itu, jangan mikir yang nggak-nggak," ucap Diki. Meski hubungan mereka sangat jarang akur, tapi mereka tetaplah saudara. Diki dan Ckarissa memang tidak berhubungan darah sedekat mereka pada Lya tapi mereka yang sudah dekat sedari kecil membuat keduanya pasti saling menyayangi satu sama lain.
"Gimana Ta?" Tanya Noah yang datang bersama Keenan dan Eadred. Karta hanya menggeleng. "Masih di tangani dokter."
Keenan menyandarkan tubuhnya di dinding. "Sebenarnya kenapa bisa sampai begini sih?" Tanyanya. Mereka semua tidak ada yang menjawab, Clarissa yabg merasa bahwa hanya dia satu-satunya orang yang tahu mencoba menjelaskan.
"Aku ngajak Lya buat cari jagung bakar. Kita ke taman yang banyak penjual di pinggir jalan. Lya is thirsty, Lya pergi kepenjual minunan sedangkan aku nungguin dia sambil makan jagung, suddenly three guys came. They tease me, aku coba untuk gak nanggapin mereka. But they are presumptuous, mereka nyentuh-nyentuh dagu aku, mereka pegang-pegang tangan aku. I am scared, terus Lya datang. We intend to go, tapi nereka gak ngebiarin kita pergi gitu aja, Lya langsung pukulin mereka setelah itu baru kita pergi. But, on the way three came again with his friends. Mereka maksa Lya turun, Lya di kroyok, until you all came!" Clarissa menyelesaikan ceritanya, dia bisa merasakan tangan Diki yang mengepal di bakik punggungnya.
"Bangsat!" Geram Karta. "Siapa yang ngurus mereka disana?"
"Babg Elang sama bang Juna, bang," jawab Eadred pada Karta.
Noah mendekati Karta. "Bersihun diri lo dulu Ta, baju sama tangan lo penuh darah," ucap Noah melepaskan jaket Rakasa nya lalu menyodorkannya pada Karta.
"Gue pakai hoodie gue aja, ada di jok motor," ucap Karta menolak.
"Gue tau lo khawatir, tapi jangan bego! Lo kesini naik mobil. Motor lo berdua di bawa anak-anak," jawab Noah membuat Karta langsung mengambil jaket Noah.
"Gue ada kaos bang di motor, kalau lo mau," sela Keenan menawarkan.
Karta menatap Keenan lalu mengangguk. "Gue ke toilet dulu," ucapnya berjalan bersama Keenan.
"Dik! Kita gak hubungi mami?" Tanya Clarissa yang sudah duduk di kursi tunggu.
Noah mendekati Diki. "Siniin hp lo, biar gue yang telpon," ujar Noah.
Diki mendongak menatap Noah yang berdiri di hadapannya. "Gak usah bang! Biar gue aja sekalian nelpon bunda juga," tolak Diki halus.
...🌻...
Sudah hampir satu jam Lya berada di ruang operasi, mami Risma, bunda Intan juga sudah berada di rumah sakit sedangkan papi Agung masih ada kerjaan dan akan menyusul.
"Ini yang bikin bunda gak pernah setuju kalian ikut geng motor! Ini sudah kedua kalinya Lya masuk rumah sakit karena dipukulin orang," omel bunda Intan pada Diki. Diki hanya pasrah, dia diam tidak menjawab. Inti Rakasa pun tidak ada yang bersuara. "Kalau Lya sampai kenapa-napa, bunda sita motor kamu dan kamu keluar dari geng motor kamu itu!"
"Bun, ini gak ada sangkut pautnya sama geng kita," jawab Diki.
PLAKK
Bunda Intan menampar Diki membuat mereka semua terkejut. "Ngejawab kamu? Begini kelakuan kamu ke bunda, ya? Bunda capek dengan tingkah kalian yang nakalnya minta ampun. Kalian itu udah kayak anak yang gak disekolahin. Lya juga, anak perempuan tapi sifatnya kayak laki. Keras kepala, gak mau dengerin orang tua ngomong," omel bunda Intan memarahi Diki habis-habisan.
Ceklek
Ayah David keluar dari pintu, mereka semua langsung berdiri.
__ADS_1
"Gimana mas?" Tanya mami Risma.
"Gimana apanya?" Tanya ayah David balik.
"Ayah!" Tegur bunda Intan.
"Lya baik-baik saja. Tapi dia masih harus ada di ruang ICU terlebih dahulu, luka di perutnya cukup parah," jelas ayah David. "Bunda jangan marah-marah! Suara bunda kedengaran sampai kedalam."
Mami Risma terlihat sangat syok. "Lebih baik kalian pulang," ujarnya pada Karta dan teman-temannya.
"Mi!" Panggil paoi Agung yang baru saja datang, dia terlihat sangat khawatir.
"Pi! Lya pi, dia kena tusuk," beritahu mami Risma menangis.
Papi Agung terlihat sangat marah. "Kenapa bisa? Siapa yang melakukannya?"
"Mereka salah satu geng motor lain om," jawab Karta.
Papi Agunf menatap tajam Karta. "Jangan-jangan karena kalian? Lya bisa seperti ini karena kalian?"
"Bukan om! Kita bahkan nemuin Lya yang lagi dikroyok geng itu," jawab Elang.
"Lebih baik kalian pulang! Kalau bisa saya minta tolong untuk tidak berhubungan lagi dengan Lya. Dia akan keluar dari geng kalian itu," ujar papi Agung mengejutkan mereka.
Diki melotot. "Mana bisa gitu! Lya gak akan keluar pi," tolak Diki.
"Kamu juga keluar Diku," tambah bunda Intan.
"NGGAK!" Tolak Diki tegas. "Kenapa harus keluar? Kenapa kalian nyalahin kami? Lya keluar bareng Clarissa, kita bahkan gak bareng. Seharusnya kalian berterima kasih pada mereka karena sudah nolongin Lya."
"DIKI!" Tegur bunda Intan.
"Apa bun?" Tanya Diki tidak santai. "Sebenarnya Diki senang kalau kalian marah sama Diki atas apa yang menimpa Lya," ujar Diki. "Itu artinya kalian sadar kalau selama ini cuma Diki yang jagain Lya, Diki yang selalu ada buat Lya, Diki yang paling ngerti Lya, sedangkan kalian?" Tanya Diki menyeringai. "Kalian gak tau apapun. Kalian cuma ngeliat Lya ketawa tanpa tau gimana aslinya Lya!"
Clarissa menunduk, dia tau. Clarissa tau bagaimana menjadi Lya, bagaimana rasanya hidup seperti Lya. Clarissa juga tau, bagaimana hidup seperti Diki.
"Diki tau! Mau sekuat apapun Diki jagain Lya, tetap pada kesadaran diri Diku kalau Diki gak lebih dari seorang anak laki-laki yang baru berumur enam belas tahun. Kalian pikir, selama ini kenakalan Diki dan Lya karena salah pergaulan? Karena kita anak yang bodoh? Nggak! Kita ngelakuin itu untuk mencari perhatian orang-orang, kita caper sama ayah, sama bunda, sama mami papi juga. Terlebih Lya, dia butuh orang tuanya. Mau sekuat apapun Lya, dia tetap anak perempuan yang butuh curhat ke maminya kalau ada cowok yang ngedeketin dia, butuh ngadu ke papinya kalau ada orang yang jahatin dia. Lya butuh itu! Bunda sama ayah emang udah nganggap Lya sebagai anaknya, tapi tetap aja itu beda. Lya kesepian, Lya cuman punya Diki. Jadi kalian stop ngatur-ngatur kesenangan kita kalau kalian gak bisa bikin kita senang." Diki mengakhiri kalimatnya lalu pergi dari sana. Baik orang tuanya maupun orang tua Lya mereka sama-sama terdiam. Karta memilih untuk menyusul Diki begitupun dengan yang lain.
Diki lelah! Dia butuh mengeluarkan amarahnya. Mereka harus tau bagaimana menjadi Diki, bagaimana menjadi Lya. Diki marah dan Diki juga merasa kecewa.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1