SEFIRA

SEFIRA
GL 38


__ADS_3

"Gelya Gelya. Baru minggu pertama tapi kamu sudah berbuat ulah, gak takut di hukum?" Tanya pak Burhan pada Lya. Gadis itu tengah duduk di hadapan guru BK-nya.


Merasa pertanyaannya tidak mendapat jawaban, pak Burhan kembali mengeluarkan suara. "Kenapa kamu mukulin Dino?"


"Dia ngatain saya murahan!"


"Kenapa bisa? Gak mungkin kan dia tiba-tiba datang dan mengatai kamu begitu?"


Lya mendongak untuk menatap guru yang juga tengah duduk di depan mejanya itu. "Saya yang nabrak dia saya ngaku. Saya yang mukul dia duluan dan saya ngaku. Bapak bisa kasih tau hukuman saya dan saya akan jalanin sekarang."


Pak Burhan tersenyum. "Jadi kamu gak mau cerita?" Tanya pak Burhan membuat Lya menatapnya. "Pak ini kenal kamu. Bukan baru kemarin bapak ngurusin kamu, bapak tau kamu tidak akan memukul orang sembarangan."


Guru tua itu sadar bahwa Lya tengah dalam emosi yang meledak-ledak tadi. Dia bisa melihat bagaimana Lya tidak berniat untuk melepaskan Dino.


Lya tidak menjawab, dia hanya diam menundukkan kepalanya. Pak Burhan beranjak menuju sebuah lemari pendingin kecil yang ada di ruangannya, guru itu mengambil sebotol minuman teh dan dua buah gelas.


Pak Burhan menyodorkan segelas teh pada Lya. Lya menatap teh dingin itu dengan bingung. "Minum dulu, biar otak kamu dingin," ujar pak Burhan seraya meneguk tehnya sendiri.


Dengan ragu Lya meminum tehnya. Melihat itu senyum terukir di bibir pak Burhan. "Siapa yang bikin kamu emosi begitu? Tadi kamu keliatan seperti macan yang siap menerkam Dino!"


Lya mendengus. "Bapak kepo!" Ujar Lya membuat lawan bicaranya tertawa. "Iya! Dan saya maksa kamu buat cerita," ujar pak Burhan.


"Kenapa bapak maksa saya cerita?" Tanya Lya.


"Karena saya yakin kamu gak mau belajar sama bu Lidya!"


Lya terdiam. Gadis itu menarik ujung bibirnya saat sadar kalau sekarang adalah jam pelajaran bahasa Inggris dan guru yang mengajar adalah guru paling menyebalkan bagi Lya.


"Walaupun kamu badung, kamu suka buat onar, kamu susah dibilangin tapi bapak tau kalau kamu tidak akan mukulin orang seperti itu, paling-paling kamu tampar aja kan?" Tanya pak Burhan. Lya terdiam mendengarkan. "Bapak yakin kamu lagi ada masalah makanya mukuli Dino sampai segitunya, kamu kan gak bodoh untuk gak sadar kalau ini masih di sekolah. Mukulin orang sampai babak belur begitu bukan tipe kamu banget," tambah pak Burhan.


Lya menghela nafas. "Saya lagi emosi. Dino datang disaat yang tepat, saya butuh samsak buat digebukin," jawab Lya singkat.


Pak Burhan mengangguk. "Jadi yang salah disini Dino? Karena dia datang disaat kamu lagi emosi."


Lya mendengus kesal. "Bukan! Ini salah saya," jawab Lya membuat pak Burhan tertawa. "Nanti kalau saya kedapatan mukulin cewek sampai mulutnya sobek dan tangannya patah, bapak gak usah heran."


Pak Burhan tertawa. "Kamu lagi rencanain mau mukulin orang tapi kamu kasih tau ke guru BK kamu?" Tanya pak Burhan di sela tawanya.


"Iya! Jadi bapak gak perlu tanya lagi kenapa saya ngelakuin itu karena itu sudah jadi rencana saya. Dia musuh saya mulai hari ini, namanya Clara. C. L. A. R. A."


Pak Burhan semakin mengeraskan tawnaya mendengar Lya mendikte nama Clara dengan emosi yang menggebu. "Jadi dia yang bikin kamu emosi sampai mukulin Dino?"


Lya mengangguk semangat. "Masak dia ngatain saya ulat bulu. Emang kalau saya punya banyak teman cowok itu salah ya pak? Emang saya murahan? Emang saya ulat bulu? Saya segatel itu?" Tanya Lya beruntun.


"Kamu ngerasa begitu?" Tanya pak Burhan balik mendiamkan Lya. "Ngapain mikirin omongan orang yang sama sekali gak kenal kamu. Kamu ngerasa murahan?"

__ADS_1


Lya menunduk. Pak Burhan tengah menatap Lya dalam, Lya benci tatapan itu. Mengapa gurunya ini menatapnya dengan tatapan sayang, mengapa tatapan itu harus mengingatkan Lya dengan seseorang yang sudah jauh pergi meninggalkannya.


"Jangan ngeliatin saya begitu pak, saya gak suka!" Tegur Lya membuat Pak Burhan tersenyum.


"Siapa yang suruh kamu suka, saya udah punya istri dan anak dua. Mau jadi istri kedua saya?" Tanya pak Burhan bercanda.


Lya tidak tertawa sama sekali. "Gak lucu!" Ketus Lya. Guru itu semakin tertawa.


"Kemana Gelya yang PD nya kelewatan? Kemana Gelya yang suka ngatain musuhnya? Kenapa jadi lembek begini? Balaslah!"


Lya menatap pak Burhan bingung. "Saran bapak, kamu bawa Clara ke tempat sepi. Kamu ikat dia, kamu solasi bibirnya kamu tampar sekali aja jangan banyak-banyal kasihan soalnya. Abis itu kamu tinggalin dia."


Lya tertawa mendengar saran bodoh dari gurunya ini. "Masa cuma begitu? Nanti kalau dia di tolongin orang terus lapor polisi kan bisa gawat," jawab Lya.


"Eh iya!" Lya mengencangkan tawanya menatap guru BK yang bertingkah seperti orang bodoh ini. "Kalau gitu kamu bikin dia pingsan dulu, jangan sampai dia tau kalau yang culik dia itu kamu. Kamu juga harus pakai masker atau topeng seperti di sinetron-sinetron itu," jelas pak Burhan membuat Lya semakin tertawa terbahak-bahak.


Lya memegangi perutnya. Pak Burhan yang meihat Lya tertawa ikut tersenyum. "Makasi pak," ucap Lya menyelesaikan tawanya. "Makasi sarannya, saya cukup terhibur."


Pak Burhan mengangguk. "Bapak tau kamu pintar, kamu gak mungkin melakukan hal di luar batas. Jangan bikin orang-orang makin memandang kamu buruk, gak kasihan sama orang tua kamu?"


Lya menatap pak Burhan dalam. "Kenapa kalau ada anak yang nakal, orang-orang selalu bilang. Kasihan banget orang tuanya punya anak nakal. Kenapa orang-orang gak ngomong. Nakal banget anak itu, apa dia gam di besarin dengan baik oleh orang tuanya? Apa dia memang begitu? Orang tuanya tau gak ya anaknya senakal itu? Apa jangan-jangan anak itu ada masalah pribadi sampai nakal begitu?" Ujar Lya panjang. "Kenapa orang-orang cuma bisa ngejudge anak-anak yang nakal tanpa tau alasan mereka?"


Pak Burhan terdiam. Guru itu menatap Lya dengan tatapan sendu, entah apa maksudnya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya pak Burhan pada Lya.


Lya tidak menjawab, dia sibuk menatap mata guru tua di hadapannya ini. "Bapak ganti pertanyaannya. Kamu mau nambah tehnya tidak?" Tanya pak Burhan. Lya tersenyum lalu mengangguk.


...🌻...


Langkah kaki Lya membawanya ke rooftop sekolah. Dia tidak kembali ke kelas karena malas apalagi harus bertemu guru bahasa Inggris nya itu.


Lya mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi lama yang ada disana, memejamkan matanya menghirup udara segar dan merasakan angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya.


Lya membuka matanya dan terkejut saat seseorang berdiri menyandar di pembatas rooftop dan menatap tepat kearahnya.


"Ngapain lo disini?" Tanya Lya.


Laki-laki jangkung yang tengah menatapnya itu melangkah mendekati Lya. "Lo ngapain disini?" Tanyanya balik.


Lya mendelik. "Dih! Malah balik nanya. Gak jelas lo!" Ujar Lya.


"Devan!" Ujar laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Lya. Lya menatap bingung Devan. Apa maksudnya?


Mengetahui kebingungan Lya, Devan mengambil tangan Lya berlagak sedang berjabat tangan. Lya semakin bingung saat laki-laki itu melepas tangan Lya dan berjalan pergi.


"SARAP LO YA!" Pekik Lya melihat kepergian Devan. "Dih gak jelas," desis Lya.

__ADS_1


...🌻...


Diki tengah berjalan dengan langkah cepat menuju parkiran, dia baru saja mendapat pesan bahwa sepupunya itu tebgah menunggunya disana.


"Enak banget bolosnya, santai banget lagi," ujar Diki melempar tas pada Lya. Laki-laki itu menatap jengah pada Lya yang tengah duduk santai di motornya sambil bercerita dengan satpam sekolah.


"Udah datang ni mas Dikinya, bapak balik ke pos dulu ya neng," ucap pak Anton pada Lya. "Sip! Makasi pak udah di temenin ngobrol," jawab Lya. "Saya yang makasi neng, udah di jajanin cilok sama kopi."


Diki menjitak kening mulus Lya. "Gue hampir mati khawatir mikirin lo, lo malah enak-enakan disini," rutuk Diki. "Ya terus gue harus apa? Nangis-nangis?" Tanya Lya membuat Diki mendengus kesal.


Diki memakai helmnya. "Ayo balik!" Ajak Diki sambil mengikatkan jaket di pinggang Lya lalu memakaikan Lya helm.


"Ya!" Panggil Kevin.


Diki dan Lya menoleh serempak. "Kenapa vang?" Tanya Lya pada Kevin yang datang bersama inti Rakasa lainnya. "Lo gak apa-apa?"


Lya menoleh pada Diki lalu kembali menoleh pada Kevin. Lya mengangguk sebagai jawaban.


"Di hukum apa sama pak Burhan? Tadi gue ke ruangan pak Burhan dan lo udah gak ada," tanya Elang. "Gak dihukum apa-apa," jawab Lya cepat.


Lya menatap Devan yang berdiri di samping Karta. Kakinya melangkah mendekati laki-laki itu.


"Lya!" Ucap Lya menarik tangan Devan untuk bersalaman, sama seperti yang Devan lakukan di rooftop. "Kalau mau kenalan tuh bilang, otak gue lagi gak mood buat mikir tadi!" Ujar Lya lalu berbalik mendekati Diki.


"Kita balik duluan bang," pamit Lya pada mereka. "Duluan bang!" Diki ikut pamitan.


"Hati-hati cantik," jawab Juna cengengesan.


Setelah motor Diki keluar gerbang, Juna langsung menoleh kearah Devan. "Apakah ada peristiwa yang baru saja terjadi wahai saudaraku? Apa hubungan saudaraku dengan saudari Lya?" Tanya Juna tersenyum pada Devan.


Devan membasahi bibirnya sembari mencari jawaban. "Gak ada apa-apa! Salah kalau gue kenalan sama dia?" Tanya Devan mempertahankan ekspresi datarnya.


Alixy terkekeh geli melihat temannya itu. "Lo yang ajak Lya kenalan duluan?" Tanya Elang menelisik.


Devan mendengus kesal. "Iya! Gak usah aneh-aneh, cuma kenalan doang!" Jawabnya lalu menuju motor meninggalkan teman-temannya. Alixy segera menyusul dengan tawa yang tidak lepas dari bibirnya.


"Wah gue yakin seratus persen kalau Devan suka sama-"


"Ju!" Panggil Karta menghentikan ocehan Juna. "Balik!" Ujar Karta lalu berjalan menuju motornya diikuti Noah dan Elang.


Kevi diam menatap Juna. "Belum tentu!" Ujar Juna merangkul pundak Kevin.


...🌻...


Sudah triple up nih bestie! Mana vote dan hadiahnya?!!

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2