
Sepulang Fira dan Lia, ada dua tukang baja ringan yang sedang membuat stand hanger dan rak bersusun di teras.
"Assalamualaikum," salam Fira dan Lia barengan.
Dua tukang itu berhenti dan menoleh kearahnya. "Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Istirahat dulu nak," ujar nenek Uti keluar membawa nampan berisi teh hangat.
"Terima kasih bu," balas kedua tukang tersebut.
Fira yang melihat itu membuka plastik putih besar yang ada logo salah satu minimarket terkenal berisi snack-snack kemudian memberikannya kepada kedua tukang tersebut.
"Ini mang. Maaf ya mang seadanya," ujar Fira tidak enak.
"Gak papa neng, ini aja cukup kok," balas salah satu tukang tersebut.
"Sini kak biar aku yang bawa masuk," ujar Lia meminta plastik di tangan Fira kemudian membawanya masuk.
"Saya masuk juga ya mang, mari," pamit Fira menyusul Lia.
"Iya neng, manga," balas salah satu dari mereka. ('Silahkan' dalam bahasa Jawa apa ya gengs? Maaf kalo salah, mohon koreksinya yaw).
"Bu Uti ini mau bikin apa?" Tanya salah seorang warga yang kebetulan lewat tapi tidak etis rasanya jika tidak kepo.
"Oh itu Lia sama sepupunya mau buat usaha kecil-kecilan, Iyah," jawab nenek Uti.
"Usaha apa bu?"
"Jual pakaian gitu."
"Oh bagus atuh bu, disini kan gak ada yang jual baju-baju. Kita-kita juga kalau mau beli gak perlu ke pasar dulu," sahut salah satu dari ibu-ibu tersebut. "Iya bener itu."
"Kapan mulai jualannya bu?" Tanya ibu bernama Widia.
Nenek Uti terdiam sejenak. "Belum tau Wid, mungkin dua atau tiga hari lagi, karena barangnya belum dateng," jawab nenek Uti.
"Oh ya udah atuh bu, semoga segera dateng barangnya. Kami pamit dulu ya bu," pamit ibu-ibu yang berjumlah tiga orang itu.
"Semoga besok sudah dateng ya barangnya."
"Iya aduh gak sabar."
"Pasti bajunya bagus-bagus nanti."
Nenek Uti yang masih mendengar ujaran mereka tersenyum senang. Semoga usahanya lancar. Batin nenek Uti.
"Uki, dimas kira-kira kapan selesainya ini?" Tanya nenek Uti menatap mereka yang masih memahat rak-rak tersebut.
__ADS_1
"Sebentar lagi selesai bu, ini tinggal rak bagian atasnya. Stand hanger yang di minta juga sudah jadi bu," terang tukang yang bernama Uki tanpa menoleh ke nenek Uti.
"Ya sudah, ibu mau ke dalem dulu. Ini tehnya jangan lupa diminum," ujar nenek Uti berdiri dari duduknya kemudian berjalan masuk.
Fyi, mereka menggunakan bahasa Jawa. Dikarenakan aku tidak bisa bahasa Jawa kecuali jika sama Fira dan kalaupun menggunakan mbah google nanti takutnya artinya salah. Jadi kalian pahami aja ya.
...***...
Sebelum azan magrib, rak bersusun dan stand hanger sudah jadi dan di letakkan dengan rapi. Kursi kayu yang ada di dalam teras dikeluarkan biar lebih luas.
"Ini semua berapa mang?" Tanya Fira kepada kedua tukang tersebut.
"500 ribu aja neng, sudah sama biaya tukang," jawab Dimas. "Oh iya mang, sebentar ya," ujar Fira berjalan ke kamarnya mengambil uang.
"Ini mang. Terima kasih ya," ujar Fira sekembalinya.
"Saya yang harusnya berterima kasih neng. Terima kasih neng, Lia, bu makasi," ucap Uki teman Dimas.
"Sama-sama," balas mereka bertiga.
"Assalamualaikum," pamit Uki dan Dimas.
"Waalaikumsalam."
"Akhirnya ya kak," ujar Lia kegirangan melihat rak bersusuk dan stand hanger di depannya.
"Sudah-sudah sebentar lagi magrib, cepat kalian bersih-bersih kemudian solat," lerai nenek Uti.
Lia menoleh kearah neneknya kemudian tersenyum manis. "Siap nek!" Tegas Lia menyanggah tangannya di dahinya seperti orang hormat lalu beralih menatap Fira. "Kak aku duluan ya, Lia sakit perut," pekik Lia berlari tanpa menunggu balasan Fira. Fira dan nenek Uti yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Kamu juga nak istirahat aja dulu sembari nunggu adikmu itu. Kasian anak kamu dari tadi pagi sampai sekarang kamu belum istirahat," ucap nenek Uti menatap Fira. "Gak kok nek, Fira bantu buat makan aja ya," tolak Fira.
"Nenek udah masak tadi siang dan makanannya masih utuh nanti tinggal di panasin lagi," beritahu nenek Uti. "Sekarang kamu istirahat aja, Lia kalau sakit perut lama selesainya," lanjutnya.
"Ya sudah nek, Fira ke kamar dulu," pamit Fira pasrah.
...***...
Makan malam di istana keluarga Larry Miller di warnai dengan keheranan. Dave, pemuda itu jarang makan di rumah dan sekalinya makan di rumah membuat orang tua serta adiknya kebingungan.
"Kamu kenapa sih son? Tumben banget kamu suka udang?" Tanya tuan Larry yang dari tadi memperhatikan anaknya makan sedangkan makanannya dia diamkan.
"Enak," jawab Dave. Hanya satu kata yang keluar dari bibir sexy Dave.
Siapa yang tidak bingung dengan itu? Pernah suatu hari, koki di rumahnya memasak udang krispy dan di saat Dave tau itu udang dia marah-marah kepada koki tersebut dan memintanya untuk menyingkirkan udang tersebut. Bukan karena alergi, tapi memang Dave tidak pernah mau makan yang namanya udang.
Hal tersebut membuat Sonya memicingkan matanya menatap anak sulungnya itu. "Apa kamu sudah menghamili orang?" Tanya Sonya mengintimidasi.
__ADS_1
Dave yang mendengar itu tersedak udang krispy, bukan hanya Dave tapi Larry juga melototkan matanya mendengar penuturan Sonya. Stefi yang berada di samping abangnya segera memberikannya air.
"Apa yang kamu katakan Sonya!" Pekik Larry menatap istrinya itu. Tapi tidak khayal dia juga berpikir sama seperti istrinya.
"Ya aku cuma tanya mas, soalnya aku keingat waktu aku hamil Dave, mas juga seperti itu apa yang tidak di sukai tiba-tiba suka dan dokter juga bilang itu efek dari kehamilan aku," terang Sonya menatap suaminya.
"Apa yang mama katakan. Aku gak mungkin ngelakuin hal itu!" Sentak Dave kemudian meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.
Stefi menatap kepergian kakaknya. "Abang kenapa pa?" Tanya Stefi.
"Abang gak kenapa-napa kok sayang. Stefi lanjut makannya ya," jawab Larry lembut.
"Iya pa."
Dave tertegun mendengar pertanyaan dari mamanya, sebenarnya tadi dia sedikit gugup maka dari itu dia memilih segera pergi. Dia takut jika suatu saat nanti mama dan papanya bahkan keluarga besarnya tau yang sebenarnya. Dave juga belum siap untuk menjadi orang tua di usianya yang masih muda. Itulah mengapa dia menyuruh seorang gadis yang tidak sengaja ia hamili menggugurkannya atau pergi jauh dari kota ini.
Kejam memang, tapi itu lebih baik menurut Dave. Untuk kebaikan dirinya di masa depan.
Apa benar ini ada hubungannya dengan dia. Batin Dave berpikir.
...***...
...SPOI NEXT!...
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap Dave tanpa mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang di ketuk oleh seseorang.
Ceklek
Seorang gadis menggunakan seragam kerja cafe tersebut masuk dengan tubuh yang bergetar.
Dave menatapnya sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. "Ada apa?" Tanya Dave to the point.
"Ma-af pak sa-saya mengganggu waktu anda. S-saya kesini i-ngin menanyakan tentang sahabat saya, Sefira pak," ujar gadis bernama Desi tersebut dengan terbata-bata sambil menundukkan kepalanya.
Dave yang mendengar nama Sefira menghentikan kegiatannya kemudian menatap karyawannya itu dengan tatapan tajam dan dingin. Sedangkan Desi yang merasakan hawa semakin menyeramkan di sekitarnya semakin di buat takut.
"Kenapa dengannya?" Tanya Dave dingin.
Desi menelan ludahnya kasar mendengar suara dingin atasannya itu. "Di-dia ti-tidak pernah ma-suk ti-tiga hari ini pak," jawab Desi dengan bibir bergetar.
"Terus apa hubungannya dengan saya?"
...🌱...
Aku double up nih gengs. Jangan lupa aptesiasinya dengan cara vote, like, komen, dan favoritkan!
__ADS_1