
"Udah gak bisa di benerin ini," ujar Lya.
"Harus di benerin, nanti yang punya marah," balas Dirga.
Lya berjongkok di hadapan Dirga. "Siapa yang punya?" Tanya Lya.
"Anak di sana, rumahnya disana. Skuternya Dirga rusakin, dia suruh benerin," jawab Dirga.
Lya melihat arah yang di tunjuk Dirga. "Beli baru aja, kakak beliin."
Dirga mendongak. "Jangan! Harganya mahal," tolak Dirga.
Lya melotot. "Kamu ngeremehin kakak? Kakak bisa beli pabriknya kalau kakak mau," jawab Lya dengan sombong. Dirga tidak menjawab, dia mengabaikan Lya. "Kalau kakak beneran bisa beli gimana?" Tanya Lya.
"Jangan! Harganya mahal."
"Ck.. udah kakak bilang, kakak bisa beli pabriknya kalau kakak-"
"Kakak emang banyak uang, tapi Dirga nggak. Dirga gak mau terima barang dari orang sembarangan. Apalagi harganya mahal, ibu gak pernah ngajarin kita untuk minta-minta. Mending uangnya kakak pakai untuk keperluan kakak."
Lya tertampar. Gadis itu terdiam, bagaimana bisa seorang bocah sudah bisa berbicara seperti itu disaat Lya sendiri bahkan tidak pernah memikirkan berapa pengeluarannya sehari.
"Siapa yang bilang ini gratis?" Tanya Lya akhirnya.
Dirga menatap Lya yang tengah tersenyum padanya. "Kakak gantiin skuter ini, tapi ada syaratnya."
"Apa?" Tanya Dirga.
"Jadu teman kakak! Setiap kakak kesini kamu harus sambut kakak dengan senyum," jawab Lya membuat Dirga menatap Lya terkejut. "Biarin kakak yang gantiin skuter ini untuk Dirga. Kakak udah penuhin keperluan kakak kok, uang kakak masih ada dan cukup untuk bantu Dirga. Ibu panti pasti ngajarin Dirga untuk gak nolak bantuan orang kan?" Tanya Lya yang masih setia tersenyum menyapa Dirga.
"Kakak ikhlas. Mau jadi teman kakak?" Tanya Lya menyodorkan jari kelingkingnya. Lya menunggu respon Dirga, sedetik kemudian dia terkejut karena Dirga memeluknya dengan sangat erat, bahkan anak itu tengah menangis.
"Dirga gak punya teman hiks.. tidak ada yang mau hiks temenan sama Dirga hiks cuma ibu hiks yang sayanf Dirga. Sekarang kakak jyga hiks Dirga senang hims mereka bilang Dirga gila huwaaaaa hiks."
Lya mengusap rambut Dirga. "Dirga gak gila," balas Lya dengan mata yang memanas. Dia menahannya, tentu saja untuk menjaga image nya.
__ADS_1
Ibu panti berjalan mendekati Lya dan Dirga, di belakangnya ada Karta.
"Dirga," cicit ibu panti. "Dirga gak gila nak, anak ibu gak gila."
Dirga semakin mengeratkan pelukannya pada Lya. "Jangan kesini bu hiks.. Dirga lagi nangis. Nanti ibu ketawain Dirga hiks kata ibu anak laki-laki gak boleh nangis hiks.. jangan liat buk!"
Lya hampir saja tergelak, mengapa bocah yang ada dalam pelukannya ini sangat menggemaskan. "Siapa bilang anak laki-laki gak boleh nangis?" Tanya Lya. "Bang Karta aja pernah nangis, iya kan bang?" Tanya Lya pada Karta, matanya melotot pada Karta mengisyaratkan untuk menurut.
"I-iyaa," jawab Karta terpaksa.
Dirga melepaskan pelukannya lalu menoleh pada Karta. "Abang hiks beneran pernah nangis?"
Karta tersenyum lalu mengangguk. "Pernah! Tapi laki-laki kalau nangis hak boleh lama-lama, nanti gantengnya hilang," ujar Karta.
"Iya abang ganteng. Cocok sama kakak ini," ujar Dirga menunjuk Lya. Karta dan Lya melotot.
Lya melirik kearah Karta, mereka terlihat sangat canggung. "Hahahaa abang ini udah punya pacar. Mau lihat gak? Itu tuh kakak cantuk yang duduk disitu," ujar Lya mengarahkan Dirga pada Tiara yang tengah duduk bersama Kevin dan Juna.
"Oh gitu, kakak siapa pacarnya?" Tanya Dirga.
Karta menarik sudut bibirnya mengejek. "Ya udah, kakak pacar Dirga!" Cetus Dirga membuat Lya, Karta dan ibu panti terkejut. "Dirga gak terima penolakan!" Tambahnya. Sedetik kemudian dia duduk di samping Lya memainkan skuter rusaknya.
Tawa Karta pecah, dia bahkan sampai tertawa terbahak-bahak dan hal itu menyita perhatian anak-anak Rakasa yang ada disana. Mereka penasaran apa yang bisa membuat leader kulkas mereka tertawa seperti itu.
"Diem lo," sentak Lya kesal. Karta mulai mengatur nafasnya, dia masih terkekeh mengingat perkataan Dirga. "Jangan ketawain oacar Dirga," ujar Durga mendiami Karta. Muka Lya sudah merah, bukan tersipu, dia sedang menahan malu, malu karena bocah di sampingnya yang mengakui dia sebagai pacarnya. Dia bukan pedofil!
Karta tidak bisa menahannya, dia kembali tertawa melihat ekspresi Lya.
"Mereka kenapa sih?" Tanya Diki penasaran.
"Mana gue tau," jawab Noah seadanya.
"Karta bisa ketawa ngakak gitu, kenapa ya?" Tanya Juna. Tiara dan Kevin hanya menggeleng.
"Muka Lya sepet banget!" Tambah Kevin.
__ADS_1
"Yang pasti ada hal lucu yang bisa bikin Karta ketawa sampai begitu," ujar Tiara terkekeh.
"Pedofil," ucap Karta pelan sebelum berdiri dan meninggalkan Lya bersama ibu panti dan Dirga.
"Sialan!" Umpat Lya kesal.
...🌻...
Setelah menyelesaikan ujian akhir semester, SMA Satu Nusa akan melaksanakan Classmetting. Kegiatan yanh ditunggu-tunggu para murid karena mereka akan menghabiskan waktu disekolah denhan melakukan banyak kegitan. Ini juga dimanfaatkan oleh para murid untuk melancarkan berbagai aksi random mereka.
Anggota OSIS terlihat sangat sibuk, terbukti dari mereka yang berjalan mondar-mandir di lapangan mengurus kegiatan yang akan berlangsung. Perlombaan yang akan mereka lombakan mulai dari basket, futsal dan voli. Hanya ada tiga perlombaan yang mereka adakan karena masing-masing dari setiap kelas harus mengutus perwakilan putra dan putri.
Di slaah satu kelas yang sangat ribut, Keenan, Lya dan Diki malah bermain game.
"Woy yang cewek siapa yang main basket? Kita lawan kelas XI IPS 2 sekarang," teriak Andi sang ketua kelas.
"Lya noh," celetuk salah satu teman kelasnya, Rian. Andi langsung menoleh pada Lya yang tidak memperhatikan mereka.
"Ya, bisa main basket kan?" Tanya Andi. Lya hanya mengangguk tanpa menoleh. "Siapa lagi?" Tanya Andi lagi.
"Biar gue deh, gue sama Aulia gak jago-jago banget tapi bisalah," ujar Nita mengajukan diri.
"Nah dua lagi nih siapa?" Tanya Andi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas.
"Mega sama Anisa," jawab Lya yang langsung berdiri dan berjalan keluar kelas.
Mereka melihat Lya yang terdiam. "CEPAT WOY! KATANYA KITA TANDING SEKARANG," sentak Lya melihat teman-temannya tidak ada yang bergerak. Teman kelasnya langsung tertawa dan ikut keluar kelas.
Lya berjalan di depan bersama Diki dan Keenan lalu semua teman kelasnya berjalan di belakang. Mereka banyak menyita perhatian karena berjalan bergerombolan seperti itu. Banyak siswa-siswi yang memuji ketampanan dan kecantikan dari penghuni kelas Lya, tentu saja Diki dan Lya lah visual dari mereka.
"Kenapa tuh rame-rame?" Tanya Kevin yang duduk di depan kelasnya.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan ya pren:)
__ADS_1