SEFIRA

SEFIRA
GL 27


__ADS_3

"Gimana kabar orang yang nusuk Lya?" Tanya Karta pada Elang.


Setelah keluar dari rumah sakit, mereka memutuskan untuk pergi ke markas Rakasa.


"Ketua mereka sama satu anteknya yang nusuk Lya di tahan polisi," jawab Elang.


"Vrax? Nama geng mereka Vrax?"


"Iya Ta, gur juga baru tau. Kayaknya mereka geng baru," jawab Elang lagi.


"Tapi kenapa anggotanya lumayan banyak? Berarti geng mereka lumayan diminati dong," ujar Kevin bersuara.


Juna yang sedang menguyah ciki pun menoleh. "Mereka kan udah di penjara."


Keempat temannya melempar benda apa saja yang berada di jangkauan mereka pada Juna. "Lo kalau gak dengerin orang ngomong gak usah sok ikut campur, gak nyambung tau gak," sungut Elang pada Juna yang meringis karena lemparan sepatu dati Karta. "Jahat banget sih kalian! Kalau kena muka gue gimana? Hilang gantengnya," jawab Juna yang di abaikan keempat temannya.


"Kita bakal diam aja?" Tanya Noah.


"Bloid for blood! Kita gak mungkin diam aja, hukuman polisi emang sudah berlaku tapi kita harus tetap kasih mereka pelajaran," jawab Karta.


"Kapan?" Tanya Kevin.


Karta terlihat berpikir. "Gak dalam waktu dekat ini. Gue yakin mereka bakal bebas dari penjara dalam beberapa hari. Orang yang ngebuat Lya masuk rumah sakit harus ngerasain hal yang sama," jawab Karta. "Noah! Lo wakil gue. Gue mau lo tambahin latihan rutin untuk anak-anak, gue gak mau ada yang bernasib sama kayak Lya. Ini buat nambah dan ngasah kemampuan mereka aja, yang cewek juga harus lebih rutin."


Noah mengangguk sebagai jawaban. Jika dalam hal latihan atau uji bela diri anggota, Noah akan memimpin. Karta mempercayai Noah untuk menghandle urusan ini sedangkan untuk urusan mengurus masalah seperti berurusan dengan polisi atau sejenisnya, Karta akan mengandalkan Elang. Kevin dan Juna? Mereka adalah penyerang. Meski kemampuan bela diri Karta masih lebih unggul, tapi Kevin dan Juna selalu menjadi panglima perang andalan untuk mendampingi Karta.


Sifat Noah yang sangat pendiam membuat Karta lebih percaya Elang untuk menjadi juru bicaranya. Itu juga karena Elang lebih tertata untuk bicara di depan irang banyak seperti jabatannya di sekolah sebagai ketua OSIS. Untuk mengurus strategi dalam perang, biasanya Karta akan lebih membutuhkan Noah karena otaknya lebih pintar.


Jika kalian berpikir kenapa Karta bisa menjadi ketua Rakasa di usianya yang masih muda, jawabannya itu karena Karta sudah terpilih menjadi secret successor. Dia direkomendasikan untuk menjadi pengganti ketua jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat perang. Para ketua memang harus mempunyai anggota rahasia yang akan menggantikan mereka. Begitu pula Karta, dia sudah mendapatkan siapakah yang pantas untuk menggantikan posisinya disaat dia gugur perang atau waktu yang telah ditentukan. Karta harus menjadi ketua Rakasa di saat dia baru naik kelas sebelas, itu juga karena ketua Rakasa saat itu gugur dalam medan perang besar mereka melawan salah satu geng motor lainnya.


...🌻...


Malam ini Lya tengah berdiri di balkon kamarnya seraya menatap langit yang tengah ditaburi bintang-bintang. Gafis cantik itu sudah keluar dari rumah sakit tadi siang, di rawat selama satu minggu membuatnya hampir gila. Lya paling tidak suka rumah sakit, tapi dia selalu saja membutuhkan tempat itu.


Malam ini sangat tenang, Lya sangat menyukainya. Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya, Lya merasa ada yang berbeda dan Lya suka. Tadi sebelum kembali ke kamar, Lya makan malam bersama Clarissa. Hanya gadis cerewet itj karena mami Risma sudah menyusul Papi Agung dua hari yang lalu dan Lya tidak masalah.


Lya memeluk tubuhnya sendiri saat merasa angin malam menyapa kulitnya. Gafis itu hanya menggunakan piyama selutut bermotif minion.


Lya menoleh pada meja kecil yang ada di sudut balkonnya. Dapat gadis itu lihat bahwa layar ponselnya bercahaya seiring dengan dering telponnya berbunyi.


"Halo?"


"Hai, udah tidur?" Tanya seseorang di sebrang sana.


"Udah! Yang angkat ini arwahnya," jawab Lya asal. Dapat Lya dengar suara tawa renyah dari sebrang sana. Lya menghela nafas. "Ada apa akustik?" Tanyanya pada laki-laki di sebrang sana.

__ADS_1


"Gak apa-apa! Gue ada di depan gerbang."


"Gerbang mana? Sekolah?"


"Ck.. bego! Gerbang rumah lo lah!"


"Ngapain?" Tanya Lya tidak habis pikir.


"Rencananya mau kayak di cerita-cerita novel gitu, yang cowoknya di depan gerbang rumah terus ceweknya berdiri di balkon kamar sambil teleponan. Tapi sayangnya gak bisa, jarak gerbang rumah lo ke pintu aja jauhnya udah kayak Ancol ke Tapadocia."


"Gue lagi di balkon," jawab Lya.


"Wih bagus dong!"


"Serius deh bang. Lo beneran di depan?"


"Serius lah!"


"Kenapa gak masuk? Masuk ajalah!"


"Gak usah Ya, udah malam ntar ganggu."


"Ck.. gue udah suruh satpam buka gerbangnya, masuk sini."


Lelaki itu bisa melihat gerbang tinggi di depannya terbuka.


"Iya pak."


"Ayo masuk!"


Lya bisa mendengar suara motor dari telponnya.


"Telponnya jangan dimatiin Ya, lo tetap di posisi lo, gak usah turin atau keluar," ujar Kevin lalu melajukan motornya. "Dih! Gak jelas ni orang," gumam Lya menatap layar ponselnya.


Lya melihat Diki sudah berhenti di halaman rumahnya. Kevin mendongak menatap kearah Lya yang masih berdiri di balkon kamarnya. Lelaki itu tersenyum dan menyamankan posisinya di atas motor.


"Lucu lo makek baju tidur begitu," ujar Kevin masih menatap Lya.


Lya merotasikan matanya. "Gue turun dulu, tungguin."


Kevin menolak. "Gak usah! Lo disitu aja."


Lya melototi Kevin. "APAAN SIH! GAK SOPAN BANGET DOBG GUE KALAU BEGINI!" Lya meneriaki Kevin, bahkan dia sudah tidak menggunakan telponnya. Lya kesal, bagaimana bisa Kevin malah tertawa terbahak-bahak di bawah. Sungguh menyebalkan.


Kevin kembali menempelkan ponselnya pada telinganya sambil memberi kode pada Lya untuk melakukan hal yang sama. "Jangan teriak-teriak cantik, nanti tenggorokannya sakit."

__ADS_1


Blush


Pipi Lya memerah, Lya merasa hawa panas menjalar di dalam tubuhnya. Kevin selalu bisa membuatnya salah tingkah seperti ini. Akhir-akhir ini, lelaki itu memang sering mengiriminya pesan meski isinya hanya menanyakan kabar pada Lya.


"Gue gak nyuruh lo teriak-teriak, tapi jangan diam gini juga. Masa iya gue ngomong sama angin," ujar Kevin lagi saat menyadari Lya tidak menjawab ucapannya.


Lya menetralkan diri. "Jadi gue beneran gak boleh turun?" Tanya Lya. Dapat Lya lihat bahwa lelaki yang duduk di motornya itu mengangguk.


Kevin tersenyum padanya. "Gak usah! Disitu aja," jawab Kevin. "Jadi gimana keadaan lo?"


Lya menyenderkan tubuhnya ke pagar balkon. "Gue udah sembuh seratus persen. Bahkan gue ngerasa sehat banget buat mukulin orang yang udah nusuk gue."


Lya dapat mendengar helaan nafas dari Kevin. "Gak usah! Lo gak usah mikirin orang itu, biar kita aja," jawab Kevin.


Lya mengerutkan keningnya. "Maksudnya? Kita? Rakasa maksud lo? Kalian bakal ngebales mereka? Bakal war dong? Kapan? Gue ikut!"


Kevin terkekeh mendengar Lya yang bertanya tanpa jeda. "Nafas Ya," balas Kevin. "War atau nggak, itu bakal jadi urusan anak-anak. Lo gak usah ikutan, kita gak pernah turun bawa anggota cewek."


Lya terlihat tidak terima. "Enak aja! Gue korbannya, gue harus bales dendam. Mana bisa gue diam aja, lagian gue beda sama anghota cewek lainnya. Gue jago!"


Kevin mengetuk-ngetuk helmnya. "Gelya, bukan cuma gue yang ngelarang lo. Semua anak Rakasa gak ngebiarin lo, selain lo yang baru balik dari rumah sakit, lo itu anggota perempuan. Selama ini kita gak pernah turun war bawa pasukan cewek. Gue tau lo jago, bahkan yang lain juga tau, tapi ini bukan masalah jago atau gak, ini masalah keselamatan, cukup kemarin lo luka."


"Ih jadi badmood gue," ujar Lya menduduki dirinya di lantai lalu menjuntaikan kakinya keluar pagar balkon.


"Karta gak bakal ngebiarin lo tutun! Nurit Ya!"


Lya merengut. "Lo bahas bang Karta ngebuat gue jadi rindu. Dia rindu gue gak ya?"


Ini dia. Ini yang membuat Kevin tidak pernah mau mendekati Lya selangkah lebih maju. Kevin bingung, apa Lya menyukai Karta? Lya terlihat sangat pedulu pada ketuanya itu, Lya juga selalu menanyakan kabar Karta disaat Kevin menanyakan kabar Lya. Kevun ragu, meski Lya selalu menekankan bahwa dia tidak menyukai Karta dalam hal cinta, tapi Kevin merasa tidak. Kevin sadar bahwa Lya sebenarnya menyukai Karta, tapi gadis itu tidak menyadari perasaannya. Seperti yang Diki bilang, Lya tidak pernah mengerti hal percintaan.


"Dia lagi ngebucin sama Tiara," jawab Kevin, bukan niat untuk menyadarkan atau menyindir Lya, tapi memang benar bahwa Karta berada di rumah Tiara sekarang.


"Lah iya! Abang gue kan kerjaannya cuma ngebucin doang," jawab Lya santai.


Kevin tidak menjawab, dia hanya diam dan tersenyum. Senyum miris yang entah apa maksud dan tujuannya.


"Bang!"


Kevin mendongak mendapati Lya yang sudah berdiri di pinggir balkon. "Pulang sana udah malam, gue juga mau tidur."


Kevin mengangguk. "Ya udah gue pulang. Lo langsung tidur."


Lya mengangguk patuh. "Hati-hati bang, lo langsung pulang ya, istirahat. Makasih udah mau temenin gue."


Kevin tersenyum lebar. "Iya," jawab Kevin lalu memutuskan sambungan telponnya. Dia memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Hati-hati," pekik Lya yang masih memperhatikan Kevin. Lelaki itu mengacungkan jempolnya lalu melaju meninggalkan rumah Lya.


...🌻...


__ADS_2