
"Jangan hentikan kakak ia! Biar dia tau seberapa BRENGSEKNYA DIA DULU! BIAR DIA SADAR!" Bentak Fira mengeluarkan amarah yang selama ini dia pendam. "Asal anda tau anak saya tidak butuh sosok ayah seperti anda!" Ujar Fira datar.
"Aku memang bukan sosok ayah yang baik buat Gavin, tapi aku mohon biarkan aku melihat bagaimana kondisi anakku sendiri," lirih Dave memegang tangan Fira.
Fira menepis kasar tangannya lepas dari genggaman tangan Dave. "GAVIN BUKAN ANAK KAMUU!"
"AYAH GAVIN SUDAH MATI DAN KAMU YANG BUAT SEMUA ITU MATI!" Teriak Fira dengan air mata yang mengalir semakin deras.
Beruntung Dave memilih ruang VVIP yang tidak semua ruangan berisi dan ruangan di sebelah kanan dan kiri kosong jadi tidak ada yang merasa terganggu dengan amarah Fira.
"Aku tegaskan sekali lagi! GAVIN ANAK AKU BUKAN ANAK KAMU!" Ucap Fira penuh penekanan. Sedangkan Dave hanya menunduk dengan lelehan air mata yang terus turun.
"PERGI!" Ucap Fira menunjuk pintu tapi Dave tetap diam tidak bergeming sedikit pun. "PERGI! AKU BILANG PER-"
"STOP!" Bentak Lia memotong sentakan Fira yang masih menatap Dave tajam dengan tangan yang belum ia turunkan.
Dengan mata yang sembab Lia menatap mereka silih berganti. "Lia mohon stop kak."
"SADAR! INI RUMAH SAKIT!" Lia marah, tentu saja, melihat kelakuan kedua orang dewasa di depannya yang terus saling menyalahkan. Lia memeluk kakaknya dan Fira langsung terisak di pelukan Lia. "Hiks Gavin ia hiks Gavin tetabrak karena dia," tangis Fira terasa begitu menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya. Sedangkan Lia hanya diam membiarkan Fira mengeluarkan segala tangis dan amarahnya sambil mengusap lembut bahunya.
Sedangkan Dave? Masih bertahan dengan posisi awal.
"Dad-dy,"
Ketiga orang dewasa di ruangan VVIP tersebut mematung mendengar panggilan terbata-bata itu. Mereka bertiga melihat ke arah brangkar dan terlihat Gavin yang sedang mengerjapkan matanya menyesuaikan pencahayaan.
Dave berlari ke sisi brangkar dan memeluk anaknya. "Kamu bangun sayang?" Tanya nya mengecup kening Gavin. "Bilang sama daddy mana yang sakit nak?" Tanya Dave lagi.
"Ha-us," lirih Gavin.
Dave yang mendengar itu langsung mengambil gelas berisi air di samping nakas lalu membantu Gavin untuk minum. Dave memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.
Fira tersenyum kecut melihat anaknya yang berada di pelukan Dave. Ia kecewa, sangat, Gavin menyebut daddy nya saat baru sadar bukan dirinya, tapi jauh di lubuk hatinya yang paling terdalam dia juga bahagia melihat anaknya sudah sadar.
"Untuk kali jangan egois kak," bisik Lia yang tau apa yang Fira rasakan. Fira mengangguk sebagai balasan. Dia kemudian berjalan ke sisi brangkar di sebelahnya lagi.
"Sayang akhirnya kamu bangun. Mana yang sakit?" Tanya Fira mengelus lembut kepala Gavin. Gavin tersenyum melihat Fira dan Lia lalu menggeleng.
Ceklek
Terlihat dokter Rizal dengan kedua perawat wanita dan laki-laki yang Fira ingat namanya Rian, di belakangnya. Dapat Fira tangkap perawat laki-laki itu terkejut melihatnya namun sekian detik kemudian dia bisa menetralkan kembali raut wajahnya.
Dokter Rizal memeriksa keadaan Gavin lalu tersenyum setelah selesai. "Alhamdulillah anak bapak sama ibu kondisinya sudah stabil."
"Alhamdulillah," ucap ketiganya syukur.
"Apa Gavin ada keluhan?" Tanya dokter Rizal.
Gavin terdiam sebentar. "Kepala Avin sakit nyut-nyut gitu pak dokter," jawab Gavin memegang kepalanya.
Dokter Rizal tersenyum menanggapi. "Itu akibat dari luka yang masih basah tapi sakitnya sebentar lagi sembuh, sabar ya."
"Kaki Avin juga rasanya kaku pak dokter," keluh Gavin kembali.
__ADS_1
Mereka terdiam mendengarnya. "Avin yang sabar ya. Ini hanya sementara," jelas dokter Rizal tersenyum lembut.
Gavin yang tidak mengerti hanya mengangguk.
"Selain itu tidak ada yang serius kan dok?" Tanya Fira.
Dokter Rizal menggeleng. "Anak ibu baik-baik aja hanya kakinya saja yang tergelincir sedikit dan di sarankan untuk tidak di gunakan berjalan sementara waktu," terang dokter Rizal yang diangguki Fira dan Dave.
Anak? Batin Rian mendengar penjelasan dokter Rizal.
"Terima kasih dok," ucap Fira.
"Sama-sama kalau begitu saya permisi," pamit dokter Rizal keluar ruangan diikuti kedua perawat di belakangnya.
Rian keluar mengikuti dokter Rizal dan teman satu profesi nya dengan raut wajah bingungnya. Ia masih memikirkan penjelasan dokter Rizal yang mengatakan kalimat 'anak ibu' kepada Fira, dia masih berpikir jika tambatan hatinya masih sendiri dalam artian belum menikah maupun memiliki anak. Tapi jika semua yang ia takutkan benar lalu bagaimana dengan dirinya yang sudah jatuh cinta dengan pesona Fira.
Itu mungkin anak adiknya itu. Batin Rian.
"Kamu kenapa?" Tanya perawat perempuan yang bersamanya.
"Tidak apa-apa."
***
Di ruangan VVIP terdapat tiga orang dewasa berbeda kelamin dengan seorang anak kecil di brangkar pesakitan dengan tangan kanan yang tertancap selang infus. Siapa lagi jika bukan pemeran utama kita.
Suara azan samar-samar terdengar masuk indra pendengaran mereka. "Kita gak ada bawa mukena ya, ia?" Tanya Fira melihat Lia.
Lia mengangguk. "Iya kak gak kepikiran juga tadi."
"Iya kamu disini baik-baik ya nak. Kalau mau apa-apa bilang sama dia kalau gak mau buang aja HP nya," ujar Fira kepada Gavin yang bermaksud menyindir Dave yang sedari tadi hanya memainkan ponselnya.
Dave mendongak melihat tiga orang di depannya karena jujur saja ia merasa tersindir. Memang dari tadi dia memainkan ponselnya tapi bukan untuk bermain tapi untuk menghubungi Larry dan Sonya di Jakarta bahwa Gavin masuk rumah sakit.
Fira dan Lia pergi ke musholla untuk melaksanakan shalat magrib karena mereka lupa membawa mukena. Jangankan mukena, baju ganti aja satu pun tidak ada mereka bawa karena mereka tidak tau apa-apa. Mereka hanya di paksa ikut oleh Dyah dan pak Didit.
Dave berdehem sebentar sebelum bangkit dari duduknya lalu berjalan ke sisi brangkar. "Avin lapar gak?" Tanya nya.
"Sedikit," jawab Gavin memegang perutnya.
"Anak daddy mau makan apa?" Tanya Dave lagi.
Gavin terdiam berpikir. "Hmm kalau ayam kentaky kayak di tv-tv itu boleh gak dad?" Tanya Gavin hati-hati.
Dave sedikit ragu dengan permintaan anaknya, tapi dia tetap menganggukkan kepalanya mengiyakan membuat Gavin tersenyum lebar. "Sebentar daddy pesankan dulu," ucapnya.
...Riko...
^^^Belikan makanan dengan ayam kfc lima. Mukena dua dan baju ganti untuk perempuan masing-masing dua lengkap dan jangan lupakan baju untuk saya juga. Antarkan ke rumah sakit xx ruang VVIP no. 3, SECEPATNYA!^^^
Baik pak.
Setelah mengirkmkan pesan kepada orang kepercayaannya, Dave menyimpan ponselnya kembali di atas nakas samping brangkar. Sepertinya sebutan brangkar kurang cocok untuk ukuran tempat tidur Gavin saat ini yang sangat besar bahkan Fira dan Lia muat tidur disana dengan Gavin, tidak hanya mereka berdua jika Dave tidur disana juga muat karena sebesar itu.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal Riko, jadi Riko adalah salah satu orang kepercayaan di kantor cabang kota Bandung yang kemarin membawakan baju untuk Gavin dkk.
Ceklek
Pintu terbuka dan menampilkan Fira dan Lia dengan wajah cantik lembab mereka. Dave belum memalingkan pandangannya dari Fira yang terlihat lebih cantik sekarang. Lia yang menyadari itu tertawa dalam hatinya.
"Maaf bunda lama sayang," ucap Fira mengecup kening anaknya.
Gavin tersenyum. "Tidak apa-apa," jawabnya.
"Kak, aku keluar beli makan dulu ya," pamit Lia.
"Biar sama kakak. Ayo!" Balas Fira membuat Lia menggeleng. "Tidak usah kak biar aku sendiri aja," tolak Lia.
"Aku sudah pesankan kalian semua makan dan mungkin sebentar lagi sampai," ujar Dave tiba-tiba membuat Fira maupun Lia menatapnya.
Tidak lama kemudian pintu di buka menampilkan seseorang dengan pakaian santai. Baju kaos dan celana pendek serta topi dan benar apa yang di katakan Dave makanan mereka datang tapi Fira maupun Lia mengerutkan dahinya bingung melihat paperbag dan kantong plastik begitu banyak.
"Maaf pak sedikit lama," ucap Riko yang diangguki Dave. "Taruh aja di meja Rik," titah Dave.
"Maaf nona jika bajunya kurang pas untuk anda berdua karena saya tidak tau seberapa ukuran anda," ucap Riko sopan membuat Fira semakin bingung, begitu juga dengan Lia.
"Apa ada lagi pak?" Tanya Riko berbalik ke arah Dave.
"Tidak ada Rik. Terima kasih dan maaf sudah mengganggu istirahat kamu," jawab Dave.
"Sudah tugas saya pak. Jika begitu saya permisi," pamit Riko lalu keluar dari ruangan.
"Daddy apa itu ayam aku?" Tanya Gavin antusias.
"Iya. Mau langsung makan?" Tanya Dave balik.
Gavin mengangguk cepat dengan mata berbinar. "Mau dad!"
Dave terkekeh melihat betapa lucunya anaknya. Seandainya dia sadar dari dulu, pasti dia akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Dan itu hanya akan menjadi seandainya.
"Ini baju dan mukena kalian biar tidak perlu ke bawah kalau mau shalat," ujar Dave memberikan Fira dan Lia dua paperbag. "Dan ini makanannya," lanjutnya lagi.
Fira hanya diam melihat itu semua begitu juga Lia yang biasanya selalu memecahkan suasana. "Tidak perlu kita bisa beli di luar," tolak Fira yang diangguki Lia.
"Saya tidak menerima penolakan!" Balas Dave formal.
Lia berdecak. "Siapa anda ngatur-ngatur?" Tanya Lia formal.
"Daddy nya Gavin," jawab Dave.
Giliran Fira yang berdecih. "Cih baru sekarang ngakuin dulu aja mau di bunuh," ujar Fira pelan takut Gavin mendengarnya.
Dave terdiam mendengar itu raut wajahnya tiba-tiba berubah datar. "Terserah kalian mau di makan atau tidak dan terserah kalian mau terima atau tidak," ujarnya datar. "Maaf untuk perilaku saya di masa lalu," lanjutnya masih dengan wajah datar dan formal lalu berjalan ke sisi tempat tidur Gavin dengan membawa kotak nasi.
Dave tau dia salah, salah besar. Mungkin maafnya pun sulit untuk di terima tapi dia juga lelah berada di posisi dimana dia tertekan dan terus di hantui rasa bersalah setiap detik. Apa salah jika dia ingin memperbaiki kesalahan besar itu.
...***...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!
Jangan lupa juga hadiahnya huhuu.