SEFIRA

SEFIRA
Chapters 40


__ADS_3

Suara musik saling bersahutan, lampu kemerlap memutar membuat suasana malam jadi makin terang.


Pasar malam. Di sinilah Fira, Dave, Gavin dan Lia sekarang. Fira mengeluarkan segala rayuannya untuk merayu Gavin pergi malam hari dan Gavin setuju karena mereka akan ke pasar malam.


Lia yang sudah berusaha keras menolak dengan berbagai alasan, namun dengan kepalanya Fira berhasil membuatnya ikut malam ini bersama mereka.


Dave tidak masalah dengan Lia yang penting Fira ikut karena Fira lah pemeran utama mereka. Dave sedari tadi hanya senyum-senyum sendiri. "Kita makan dulu atau mau main dulu?" Tanya Dave kepada ketiga orang tersebut.


"Makan aja dulu biar nanti puas mainnya," jawab Lia karena melihat Fira yang hanya diam cemberut.


"Iya dad. Avin juga sudah lapar," timpal Gavin.


Dave mengangguk. "Mau makan apa?" Tanya nya kepada Gavin.


"Hm.. sate boleh?" Tanya Gavin yang melihat tukang sate grobak.


"Lia gimana?"


"Boleh kak."


"Kamu ra?"


"Terserah!"


Dave mendengus mendengar jawaban Fira. "Baiklah aku kita ke sana," ajak Dave menunjuk tukang sate.


Dave sebenarnya kurang yakin dengan penjual pinggir jalan atau sembarangan. Tapi demi anaknya, ia meyakinkan dirinya. "Pak pesan satenya 60 tusuk," ucap Dave.


Penjual sate tersebut tercengang mendengar jumlah sate yang di pesan Dave. Apakah dia tidak salah, pikirnya. "Baik den. Tunggu sebentar nggeh," jawab penjual tersebut.


Dave mengangguk kemudian duduk lesehan di samping Gavin dan berhadapan dengan Fira. Dave terus melihat wajah Fira membuatnya risih. "Apaan sih lo liat-liat gue gitu," ujar Fira risih.


"Cantik," celetuk Dave.


"Makasi," ucap Fira ketus. Tapi ia berusaha menahan bibirnya yang berkedut ingin senyum. Wajahnya sudah memerah tapi karena malam hari jadi tidak terlalu terlihat.


Sekitar dua puluh menitan menunggu, sate yang di pesan akhirnya datang. "Ini den neng satenya. Silahkan di nikmati," ucap Penjual tersebut.


"Terima kasih pak," balas Lia dan Fira barengan.


"Sama-sama neng."


Mereka berempat mulai memakan sate tersebut. Ralat, bertiga karena Dave hanya melihat mereka makan.

__ADS_1


"Gak makan kak?" Tanya Lia kepada Dave.


"Kalian aja, aku masih keyang," jawab Dave.


"Emang daddy udah makan duluan?" Kini giliran Gavin yang bertanya yang diangguki Dave.


"Makan! Tenang aja, ini gak bikin lo sakit perut," ujar Fira menyodorkan piring berisi sate yang di bumbui kacang itu.


"Kalian aja. Aku udah makan tadi di rumah," alibi Dave.


"Terus buat apa lo ngajakin kita makan kalo lo udah makan di rumah?" Tanya Fira tak santai.


Lia hanya melihat dengan sesekali memasukkan sate ke mulutnya dengan santai. Sedangkan Gavin seperti tidak peduli, ia asik makan sate dengan rakus.


"Gue tau lo kelaperan. Gak usah muna, gue gak mau lo mati di sini," cetus Fira lagi.


Dave pasrah, mau tak mau ia ikut memasukkan sate ke dalam mulutnya dengan tangan gemetar. Jujur, ini adalah pengalaman pertamanya makan di tempat seperti ini. Dia takut perutnya sakit karena menurutnya ini kurang higienis.


Dave mengunyah sate tersebut pelan, sedetik kemudian matanya membulat karena sate tersebut rasanya enak, sangat. Dengan tidak santai Dave memakan sate itu bahkan dia sudah habis setengah tusuk dari jumlah yang ada di piringnya.


Fira tersenyum miring melihat itu. "Tadi aja takut sakit perut, ehh tau-taunya mau habis aja tu sate," sindir Fira.


Dave tidak menghiraukan sindiran Fira, ia sibuk memakan satenya. Bahkan Gavin aja heran melihat Dave segitunya memakan sate. "Daddy gak pernah makan sate?" Tanya Gavin heran.


Dave mengangguk tanpa sadar namun sedetik kemudian menggeleng. Dave menelan sate yang sudah terlanjur masuk mulutnya lalu menoleh melihat Gavin. "Sudah. Tapi gak seenak ini," jawab Dave. Gavin hanya mangut-mangut paham dan kembali memakan satenya.


"Ayo sama bibi aja. Daddy sama bunda belum selesai makannya," ujar Lia cepat. "Minta uang kak," lanjut Lia mengadahkan tangannya kepada Dave.


"Eh sama bunda aja. Bunda udah selesai kok makannya," serobot Fira.


"Udah kakak di sini aja. Itu satenya masih banyak," balas Lia. "Ayo sayang kita kesana," ajak Lia kepada Gavin setelah Dave memberikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu.


"Tungguin bunda sayang," pinta Fira berdiri tapi dengan cepat Lia menekan pundaknya sehingga Fira duduk kembali. "Kak Dave titip kak Fira ya," pinta Lia langsung berlari kecil menarik Gavin.


Dave tersenyum lebar. Makasi Lia. Batin Dave.


"Eh mau kemana tunggu dulu," ujar Dave menahan tangan Fira yang akan pergi. "Apaan si lo, gue mau ikut mereka," sentak Fira.


"Sebentar aku bayar makanannya dulu," ujar Dave bangkit kemudian menuju penjual sate dengan tangannya yang tetap memegang tangan Fira.


"Pak satenya berapa?" Tanya Dave.


"Tadi 60 tusuk ya den?" Tanya penjual sate memastikan. "Iya pak, 60."

__ADS_1


"Semuanya jadi 120 ribu den," jawab penjual sate membuat Dave tercengang.


"Bapak tidak salah kan?" Tanya Dave tidak percaya.


"Benar den. Ini silahkan di lihat saya sudah hitung."


"Eh bukan gitu maksudnya pak. Ini murah banget pak," ujar Dave cepat takut bapak penjual tersinggung.


Penjual itu tersenyum. "Oalah saya kira kenapa den."


"Ini ya pak uangnya," ucap Dave memberikan uang seratus ribu tiga lembar.


"Den ini kebanyakan, dua aja ini masih ada kembaliannya."


"Gak papa pak, buat anak dan istri bapak," balas Dave.


Penjual itu tersenyum bahagia menerima uang tersebut. "Terima kasih den. Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama pak," balas Dave lalu pergi dari stand sate dengan tangannya yang masih memegang erat tangan Fira.


"Ini bisa di lepas gak tangannya?" Tanya Fira jengah.


Dave menggeleng polos. "Gak bisa sayang. Nanti kamu hilang," jawab Dave.


Pipi Fira seketika panas mendengar Dave memanggilnya sayang. Siapa sih yang tidak jatuh dengah pesona seorang Dave? Badan tegap, putih, tinggi semampai dan jangan lupakan, mukanya yang mirip Xu Xai. Jangan salahkan Fira jika perasaannya dulu yang pernah diam-diam menyukai seorang Dave kembali hadir. Apa lagi ada anak di antara mereka, bolehkah Fira mengharapkan Dave meski hati bagian paling dalam belum bisa sepenuhnya memaafkan laki-laki tersebut.


Fira merangkul pundak Fira. "Kita ke sana dulu yuk," ajak Dave ke penjual minuman kelapa muda.


Katakanlah Fira murahan karena mau aja di rangkul tanpa penolakan. Tapi ketahuilah, ia nyaman dengan itu, ia nyaman berada di dekat laki-laki tersebut, ia menyukai aroma laki-laki tersebut. Akankah Fira menerima Dave dalam hidupnya lagi.


Tidak munafik, Fira jatuh cinta padanya. Tapi, dia juga takut jika suatu saat nanti dia kecewa dengan pilihannya sendiri.


"Kamu mau itu gak?" Tanya Dave menunjuk penjual gulali.


Mata Fira mengikuti arah tangan Dave lalu mengangguk singkat. Dave langsung menarik Fira ke sana. "Warna apa?"


"Pink!"


"Pak warna pink satu," pesan Dave kepada penjualnya.


"Tunggu sebentar den," balas penjual tersebut.


Tidak lama kemudian, gulali Fira sudah siap. Dave membayarnya lalu pergi bersama Fira.

__ADS_1


...🌱...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!


__ADS_2