
Empat bulan berlalu dengan cepat, lembran hidup masih sama seperti sebelumnya, senyum namun tersirat luka, tangisan, dan derita ia genggam sendiri tanpa memperlihatkan kepada siapapun. Yang berubah hanya bentuk tubuh yang sekarang lebih berisi dengan perut yang sudah membesar, namun batin masih sama terluka.
Fira bersyukur masih ada orang yang dengan suka rela mengulurkan tangannya, menggenggam dan merangkulnya. Empat bulan Fira lalui dengan mudah bersama Lia dan nenek Uti. Fira juga sudah membeli bangunan kecil satu lantai yang ia jadikan sebagai toko dan ia juga sudah memperkejakan satu orang karyawan untuk membantunya karena Lia sudah mulai sekolah dan nenek Uti mereka suruh istirahat total karena ia sering sakit meski sakit ringan.
"Nanti kalau kamu udah besar jangan jadi orang yang pengecut ya anaknya bunda, kamu harus jadi orang yang baik dan wajib menghormati orang lain terutama perempuan," ujar Fira memberi wejangan kepada calon anaknya.
Di tokonya sekarang, Fira bersama karyawannya yang bernama Dina dan Lia yang kebetulan libur sekolah tanggal merah.
"Aduh kak jangan jalan-jalan gitu," ujar Lia meringis melihat Fira berjalan dengan perut yang sudah sangat membesar yang siap akan meledak.
"Iya kak, kakak duduk aja di meja kasir biar aku sama Lia yang ambilin apa yang kakak mau," sahut Dina.
Fira tersenyum melihat mereka. "Kakak pernah baca di artikel, kalo lagi hamil besar usahakan jalan-jalan sedikit untuk mempermudah proses bersalin nanti," terang Fira.
"Emang kapan sih kak dedeknya keluar?" Tanya Lia polos.
"Tinggal beberapa hari," jawab Fira tersenyum. "Udah it- aws akh," ringis Fira karena merasakan perutnya yang mules tiba-tiba.
"Kakak kenapa?" Tanya Lia panik melihatnya. "Iya mana yang sakit kak?" Lanjut Dina.
"Seper-tinya kakak ma-u me-lahirkan aws," jawab Fira terbata-bata menahan sakit.
"Aduh kita harus ngapain ini? Aduh kak jangan gini dong. Adu-" ucapan panik Lia terpotong karena Dina membekap mulutnya. "Kakak tunggu sebentar aku mau minta bantuan warga sekitar," ujar Dina lari keluar mencari orang sekitar.
Fira tidak menjawab, ia hanya meringis menahan sakit yang semakin sakit. "Li-a," panggil Fira lirih.
"Tahan sebentar kak, tahan."
"Ayo kak, di luar sudah ada mobil warga," ujar Dina masuk membantu Fira berdiri dan berjalan keluar bersama Lia. "Biar saya yang bopong nak Fira biar cepat nak, kasian dia," ucap pria paruh baya yang merupakan salah satu tetangga disana. "Iya pak terima kasih."
"Lia kamu ke rumah sakit temani kak Fira. Aku akan tutup toko dulu baru kerumah kamu kasih tau nenek Uti baru nanti aku ke rumah sakit bareng," terang Dina cepat yang langsung diangguki Lia.
Lia sudah menitikkan air matanya tidak sanggup melihat Fira kesakitan. Dia di jok belakang bersama Fira, mencoba menenangkan kakaknya itu.
...***...
"Bu sa-kit," rintih Fira menatap bidan yang memeriksa keadaannya.
"Iya, sabar ya bu masih pembukaan lima," ucap bidan yang menanganinya lalu keluar.
__ADS_1
Lia berjalan pelan ke arah brankar tempat Fira. Ia bisa melihat raut kesakitan dan khawatir bercampur dalam wajah Fira. Lia kembali menitikkan air matanya melihat itu. Dia belum meraskaan bagaimana sakitnya orang melahirkan, jadi wajar bukan?
"Sabar ya kak, bentar lagi dedeknya keluar," tenang Lia dengan bibir bergetar mengusap surai hitam sebahu Fira yang tergerai.
Fira mencoba tersenyum dan mengusap air mata Lia. "Kenapa kamu nangis? Kakak gak papa malah kakak bahagia karena sebentar la-gi kakak ketemu sama a-nak kakak," tenang Fira supaya Lia tidak khawatir dengannya.
Fira menatap langit-langit lalu membuang nafas panjang. Tangannya saat ini berada di perut yang beberapa jam lagi akan mengecil.
Bunda gak sabar akan lihat kamu nak.
Ceklek
Dua perempuan beda usia masuk ke ruang bersalin Fira. Nenek Uti dan Dina, dua orang itu berjalan kearahnya.
"Minum air dulu ya nak." Nenek Uti membuka botol air mineral lalu ia arahkan ke Fira tapi ia menggeleng. "Ayo nak, buat nambah tenaga sebentar lagi anak kamu mau lahir kan?"
Fira menoleh ke perempuan yang sudah tidak muda lagi itu, ia mengangguk. Nenek Uti dengan telaten membantu memegang botol tersebut agar Fira bisa minum.
"Nek, Fira gak kuat sakit banget."
"Gak boleh ngomong bagitu nak." Nenek Uti menggeleng mengelus lembut surai hitam Fira.
"Permisi," sapanya.
"Saya cek dulu ya," lanjutnya dan memulainya. "Sudah pembukaan sembilan, sebentar lagi akan melahirkan."
"Harus kuat ya nak," ujar nenek Uti.
"Kita tunggu sampai pembukaan terakhir," tutur bidan. "Silahkan dua orang keluar karena hanya boleh satu orang yang menemani pasien nanti."
"Lia biar kamu yang temani kakakmu disini," ujar nenek Uti kepada cucunya yang sedari tadi terdiam bersama Dina di belakangnya.
Lia dengan cepat mengangguk lalu nenek Uti dan Dina keluar menunggu.
...***...
"Iya bu ayo terus," kata Bidan menyemangati.
"Kakak harus kuat demi anak kakak," bisik Lia ditelinga Fira. Sungguh Lia tidak sanggup melihat bagaimana Fira kesakitan saat ini. Seketika dia mengingat ibunya yang sudah berada di surga.
__ADS_1
"Tarik nafas," ujar Bidan itu mengintruksi.
Fira menarik nafas dalam-dalam.
"Buang," sambung Bidan tersebut.
"Aaaa!" Teriak Fira.
"Ayo bu terus kepalanya udah mau keluar."
"Huhs huhs huh gak kuat dek, sakit," tutur Fira meloloskan air matanya.
"Jangan gitu kak, ayo kakak kuat! Sedikit lagi kak," bisik Lia dengan bibir bergetar. Tangannya di cengkram erat oleh Fira tapi bukan itu yang membuatnya menangis.
"Sedikit lagi. Ayo bu ngenjan lagi," interuksi Bidan.
"Huh aaaaaa," jerit Fira menuyup mata dan cengkramannya pada tangan Lia semakin kuat.
"Kepalanya mau keluar, ayo sekali lagi bu."
"Ayo kak, kakak pasti bisa," bisik Lia lagi memberi semangat, matanya sudah berani menatap Fira yang sudah dibanjiri air mata dan keringat.
"Aaaaaa." Fira kembali mengenjan.
Oek oekk
"Alhamdulillah bayinya laki-laki bu. Lahir tanpa kekurangan satu pun anggita tubuhnya," beritahu Bidan tersebut.
Tangisan bayi terdengar, Lia menangis bahagia mendengar itu. Lia mengelap keringat yang membasahi pelipis Fira dengan tangannya. Tubuh Fira melemas setelah melahirkan anaknya tersebut, Fira memejamkan matanya.
"Bu bidan kakak saya kenapa?" Tanya Lia menatap bidan yang masih menangani Fira.
"Dia hanya pingsan, itu normal kok dek," jelas Bidan tersebut.
"Sus tolong bersihkan bayinya, ya," titah Bidan tersebut memberikan bayi mungil yang masih berlumuran darah itu kepada suster yang membantunya mengurus persalinan.
...***...
Jangan lupa dukung aku dengan vote, like, komen, dan favoritkan!
__ADS_1