
Lya tengah menyantap sebuah pie susu yang dibuat oleh bi Tina untuknya. Mulutnya sibuk mengubyah hingga dia tidak peduli dengan Diki yang tengah berdebat dengan Clarissa memperebutkan remote tv.
"Non, ada temannya diluar," beritahu salah satu pelayan kepada Lya.
"Gak disuruh masuk?"
"Temannya nolak non, dia bilang minta tolong panggilkan non saja."
Lya mengangguk dan beranjak dari duduknya. "Makasi bi," ujarnya lalu berjalan keluar.
"Lo alergi ya sama rumah gue, gak mau banget masuk kalau datang kesini," cetus Lya pada laki-laki yang tengah duduk di atas motornya.
Laki-laki itu tertawa. "Rumah lo gede banget, takut kesasar."
Lya berdecak. "Ck.. dasar akustik! Jadi ada perlu apa kesini?"
Senyum Kevin tidak luntur. "Gimana keadaan lo?"
"Baik. Makasi udah nanya."
"Makasi juga," ujar Kevin menatap Lya dalam.
Lya mengerutkan keningnya. "Untuk?"
"Lo benar, gue cuma kagum sama lo. Buktinya gue bisa secepat ini ngelupain perasaan suka gue ke lo."
Lya tersenyum. "Gue tebak lo balikan sama mantan lo?"
Kevin mengangguk. "Kesalahpahaman diantara gue sama Nazwha itu bukan hal yang bisa menghancurkan semua cinta kami. Gue sama dia udah saling memaafkan dan berusaha jadi yang lebih baik lagi."
"Lo juga benar bang. Gue bego," ujar Lya. "Diki juga benar, gue gak cinta sama Karta. Terlalu banyak kesamaan antara Karta dan Diki sampai buat gue hampir salah paham sama perasaan gue sendiri. Semua perasaan gue ke Karta gak lebih karena gue kangen sama abang gue dan Karta datang buat bantu gue ngelepasin rasa kangen gue."
Kevin tersenyum. "Gue tau. Awalnya gue bingung kenapa lo bisa biasa aja dekat sama Karta, kenapa lo biasa aja ngeliat Karta mesra-mesraan sama Tiara. Itu karena lo gak cinta sama Karta, lo cuma ngerasa nyaman dan tenang kalau ada Karta disisi lo, bahkan tanpa Karta notice lo sekalipun."
"Asal gue bisa ngeliat Karta bahagia dan gue ikut bahagia," timpal Lya tersenyum, Kevin ikut tersenyum lebar.
"Akhirnya bang! Akhirnya gue bisa lepas dari rasa bersalah gue. Gue bebas, gue selalu ngerasa bersalah kalau ngeliat Tiara. Dengan persepsi kalau gue suka sama Karta membuat gue gak enak sama Tiara. Akhirnya gue paham, gue ngerti dan gak bego lagi."
Kevin mengacak rambut Lya. "Gue ikut senang."
"Makasi bang."
"Senyum terus Ya! Lo cantik kalau senyum begini," ujar Kevin. "Gue yakin lo bakal dapat cowok yang baik, gue harap dia yang bisa jaga lo dan ngebahagiain lo. Percaya gak percaya, inti Rakasa udah nganggap lo sebagai adik kita sendiri Ya."
"Gue udah bahagia udah kenal kalian. Makasi sekali lagi, gue senang."
...🌻...
Sekolah kembali di hebohkan dengan Clara dan teman-temannya yang berjalan dengan santai menuju ruang BK. Banyak pasang mata yang menatap mereka tidak suka secara terang-terangan, bahkan tidak sedikit yang mencela mereka.
Masih berani datang ke sekolah, dasar gak tau malu banget!
Mukanya tebal banget ya bund!
Awas woyy geng bully mau lewat!
Kalau gue mah udah pindah dari ni bumi.
Gak sudi banget rasanya satu sekolah sama setan kayak mereka!
Cuitan dari murid-murid yang dilontarkan kepada mereka membuat Clara emosi. Dengan langkah cepat dia dan teman-temannya berjalan menuju ruang BK.
Disana sudah ada Lya yang duduk di depan pak Burhan dan kepala sekolah.
"Clara duduk!" Titah pak Burhan.
__ADS_1
Clara duduk di samping Clara sedangkan teman-temannya berdiri di belakang.
"Sepertinya bapak tidak perlu meminta kamu menjelaskan, dari video ini semuanya sudah jelas," ujar pak Burhan.
"Dia duluan pak!" Ujar Clara membela diri.
Pak Bintang selaku kepala sekolah ikut membuka suara. "Duluan apanya? Bukannya kamu yang meminta Gelya meenmui kamu?"
Clara terlihat sedikit panik. "Dia yang duluan cari masalah sama saya, dia pernah nampar saya pak. Teman kelas saya saksinya, bahkan dia juga pernah nampar saya di lapangan waktu kita classmeeting!"
Pak Bintang dan pak Burhan menoleh menatap Lya. "Bapak bisa tanya anak OSIS yang menjadi panitia basket wakti itu, murid yang lain juga banyak saksinya. Saya tidak munafik untuk mengakui kalau saya memang menampar Clara, tapi dia pantas mendapatkan itu. Dia mengatai saya murahan dan berbagai kalimat rendahan lainnya uang snagat tidak pantas untuk di sebut. Lalu saya pernah menampar dia di kelasnya karena dia berani menyiram dan menampar sepupu saya Clarissa. Maaf pak, kakak kelas saya Noah saja saya bikin babak belur karena mengatai sepupu saya, apalagi dia yang berani menyakiti fisik dan mental sepupu saya. Saya rasa itu setimpal untuknya."
Mereka yang berada di ruangan itu terdiam mendengar penjelasan Lya. Clara terlihat menjadi semakin gugup sekarang, sedangkan Lya merasa sangat tenang. Lya menatap pak Burhan yang tersenyum padanya.
"Bagaimana pak?" Tanya pak Burhan kepada pak Bintang.
"Panggil orang tua mereka! Saya tunggu jam sepuluh ini pak," ujar pak Bintang lalu keluar dari ruangan itu.
Pak Burhan mengangguk. "Kalian bisa keluar, jam sepuluh kembali lagi berkumpul. Hubungi orang tua kalian segera, masih ada waktu satu jam lebih."
"Baik pak," ujar Clara keluar diikuti temannya.
"Saya juga ya pak?" Tanya Lya.
Pak Burhan mengangguk. "Orang tua Diki kan ada."
Lya berpikir keras. "Kalau bapak aja yang jadi wakil saya gimana? Bunda sama ayah gak ada yang tau pak," ujar Lya terlihat berpikir keras. Dia memang meminta Diki dan Clara untuk tidak bilang pada bunda dan ayah.
"Mereka harus tau Lya!" Ujar pak Burhan. "Saya disini menjadi guru kamu."
"Ya udah kalau gitu saya permisi pak," pamit Lya keluar dengan wajah lesunya. Dia takut jika sampai bunda Intan tau, bisa mengamuk bunda di sekolah.
Lya tidak kembali ke kelasnya, dia memilih untuk pergi ke rooftop sekolah. Baru saja dia sampai, rasanya dia ingin kembali turun saja.
"Ya!" Panggil seseorang yang ternyata sudah berada disana.
"Bukan salah lo Dev."
"Dia begitu karena gue. Percaya sama gue, dia bukan siapa-siapa gue."
"Mau dia siapa-siapa lo juga bukan urusan gue kan?"
Devan terdiam. Lya menatap tepat di mata Devan. "Lupain aja! Gue serius, sebelum ada lo juga gue sama Clara udah ada masalah," jelas Lya tidak ingin menyimpan dendam, apalagi Devan memang tidak salah sama sekali.
Grep
Devan menarik tubuh Lya kedalam dekapannya, Lya terkejut bukan main. "Thanks Ya," bisik Devan.
Lya sebenarnya tidak mengerti dengan laki-laki ini, namun sebisa mungkin dia bersikap baik. Membalas pelukan Devan dan menepuk punggung laki-laki itu. "It's okay!"
Setelah menyelesaikan acara pelukannya. Mereka berdua terlihay canggung, Devan bahkan tidak tau harus melakukan apa. Lya tertawa membuat Devan menatapnya bingung.
"Kenapa?" Tanya Devan.
Lya menggeleng. "Lucu aja! Lo udah kayak minta maaf sama pacar lo hahaha!"
Devan tidak bisa untuk tidak salah tingkah. Dia merutuki dirinya sendiri, mengapa jika bersama Lya tubuhnya bereaksi berlebihan. Sangat mudah salah tingkah bahkan hanya dengan tatapan dari gadis itu, wajahnya bahkan dengan mudah memerah jika melihat Lya yang tersenyum padanya.
"Cantik banget ya gue? Sampai gak kedip gitu ngeliatin gue hahahhaha."
Lya tertawa terbahak-bahak, mudah sekali membuat laki-laki yang katanya dingin itu salah tingkah.
"Dev!" Panggil Lya.
"Apa?"
__ADS_1
"Mundur dikit!"
"Hah? Kenapa?"
"Ganteng lo kelewatan!"
Blush
Pipi Devan memerah, dengan cepat laki-laki itu membuang muka agar tidak ketahuan sedang merona. Namun terlambat, Lya sudah tertawa melihat reaksi Devan.
"Stop Ya! Apaan sih lo," tegur Devan berusaha biasa aja.
"Iya iya! Makanya jangan nyusahin."
Devan menatap bingung Lya. "Nyusahin kenapa coba?"
"Ganteng lo nyusahin hati gue!"
Devan menggigit bibirnya menahan diri untuk tidak berteriak. Bibirnya berkedut menahan senyum, Lya benar-benar mengujinya.
"Lo gombalin gue seakan-akan gue cowok bego lo tau," kesal Devan namun tidak menampik dia juga senang.
"Nama lo Devan tapi kayaknya gue lebih senang manggil lo sayang deh," ujar Lya kembali menyerang Devan membuat pipi Devan semakin merah.
"Eh atau paku?"
"Ya stop!"
"Papa dari anak-anakku hahhahaa!"
Lya tidak berhenti tertawa. Gadis itu terlihat sangat bahagia melihat reaksi Devan.
"Suara bebek gimana?" Tanya Lya.
Devan tidak mengerti. "Apa lagi?" Tanya Devan mencoba santai.
"Suara bebek gimana Devann?"
"Kwek, gitu? Tanya Devan balik saat mencoba menjawab.
Lya mengangguk. "Tiga kali coba!"
"Kwek kwek kwek!" Dengan bodohnya Devan menuruti perintah Lya.
"Tau artinya?"
"Nggak lah! Bego lo gue bukan bebek."
"Artinya, I love you," jawab Lya tersenyum lebar.
"LYAAAAAAA!" Teriak Devan frustasi. Seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta, Devan menutup wajahnya yang memerah akibat ulah Lya. Sedangkan gadis itu kembali tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Devan karena gombalan recehnya. Lucu sekali!"
Bruk
Devan menabrak tubuh Lya dan memeluknya erat. Lya bahkan hampir terjatuh, gadis itu kembali terkejut karena Devan kembali memeluknya.
"Tanggung jawab! Lo udah ngebuat gue hampir gila Ya, gak mau tau. Tenangin gue sebelum gue gila beneran," bisik Devan.
Lya terkekeh. Tangannya kembali terulur mengusap punggung Devan. Boleh Lya jujur, pelukan Devan sangat menenangkan, Lya menyandarkan kepalanya di dada bidang Devan, menghirup aroma mint dari laki-laku ini, sangat menenangkan.
"Buaya betina!" Bisik Devan membuat Lya tersenyum dibalik tubuh Devan.
Devan dengan puas menghirup aroma tubuh Lya yang sangat memabukkan baginya, boleh Devan meminta sesuatu? Dia hanya ingin waktu berhenti sebentar untuk sekarang, biarkan dia menghabiskan waktu bersama gadis di dekapannya ini.
Devan dengan puas menghirup aroma tubuh Lya yang sangat memabukkan baginya, boleh Devan meminta sesuatu? Dia hanya ingin waktu berhenti sebentar untuk sekarang, biarkan dia menghabiskan waktu bersama gadis di dekapannya ini.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)