
"Eughh," lenguhan Fira kala terbangun dari pingsannya, tangannya meraba perut yang sekarang sudah tidak membuncit.
"Anakku," gumam Fira masih dengan mata terpejam.
"Kakak udah bangun," kata Lia yang badu masuk ruangannya bersama nenek Uti dan Dina.
"Nek anak Fira mana?" Tanya Fira sambil mengamati ruangan.
"Permisi," sapa suster yang tadi membersihkan bayi Fira.
"Ini anak saya sus?" Tanya Fira kala melihat kedatangan suster sambil membawa bayi.
"Iya mba," jawab suster sembari meletakkan bayi mungin itu kedekapan ibunya.
Fira mengamati bayi berjenis kelamin laki-laki mungil dengan kulit yang masih pucat dan mata yang belum terbuka. Ia mencium kedua pipi anaknya itu.
"Mba anaknya segera di kasih asi ya," ucap suster yang diangguki Fira. "Kalau begitu saya permisi," pamit suster itu.
Fira tidak langsung memberikan asi kepada anaknya, ia menatap ketiga perempuan beda usia yang masih berada di ruangannya. Nenek Uti yang mengerti arti tatapan Fira mengajak Lia dan Dina keluar.
"Segera kasiu asi anak kamu nak, nenek keluar dulu." Nenek Uti berjalan keluar menutup pintu, dirinya tau Fira pasti malu memperlihatkan sesuatu di tubuhnya kepada orang lain.
Setelah kepergian mereka bertiga, Fira membuka bra sebelah kanannya lalu mengarahkannya ke mulut sang anak.
Mulut kecil bayi mungil itu langsung menyedotnya, Fira membelai pipi anaknya dan memandangi pahatan wajah anaknya itu, sedikit kecewa karena wajahnya sangat mirip dengan Dave. Bukan mirip lagi tapi ia seperti melihat Dave.
"Ganteng banget kamu," ujar Fira memegang kepala anaknya yang di tumbuhi rambut tipis.
__ADS_1
"Bunda bingung mau kasih nama kamu siapa. Maafin Bunda ya yang belum siapan kamu nama"
"Bagaimana kalau nama kamu Gavin nak, baguskan?"
"Baiklah nama kamu Gavin Anggara," ucap Fira tersenyum menatap anaknya yang masih asik menyusu. "Semoga kamu jadi anak yang baik dan sholeh," lanjutnya kemudian mencium pipi anaknya.
***
Weekend adalah hari yang menyenangkan untuk kaum muda mudi yang mempunyai pacar, tentu saja tidak dengan para kaum jomblo yang hanya meratapi nasib dengan memegang ponselnya setiap hari menghabiskan paket data.
Begitu juga dengan Dave yang sedang berada di sebuah cafe dekat pantai bersama kekasihnya yang ia pikat hatinya sebulan yang lalu, mereka tidak berdua tetapi bersama kedua sahabatnya juga, Felix dan Nico yang hanya bisa menonton mereka pacaran.
"Kamu mau pesan apa sayang?" Tanya Dave kepada Nila, kekasihnya.
"Hm lobster saus sama minumnya Jus jeruk apa," jawab Nila tersenyum sambil menutup buku menu.
"Lobster saosnya dua, jus jeruk satu, sama capucino latte satu," ujar Dave yang langsung di catat oleh waiters yang berdiri di sampingnya.
"Hm kalo gue ikan bakar jumbo sama minumnya coklat dingin," ujar Felix.
Waiter yang kembali mendekte pesanan keempat pelanggannya yang langsung di angguki keempatnya. "Baiklah, mohon tunggu ya kak," ucap waiters itu menunduk sopan kemudiaan berlalu dari hadapan mereka.
Setelah sekian lama menunggu pesanan mereka datang dan langsung memakannya dengan sesekali berbincang, tentu Dave dan Nila yang lebih mendominasi sedangkan Felix dan Nico hanya acuh tak acuh dengan keduanya.
Sebenarnya Felix tidak ingin ikut bersama mereka tapi Nico memaksanya bahkan dia datang kerumah untuk menyeretnya dan hasilnya mau tak mau Felix sekarang berada disini melihat orang lagi ngebucin.
"Sayang ke pantai yuk," ajak Nila setelah selesai dengan makannya, Dave hanya mengangguk kemudian berdiri diikuti Nila.
__ADS_1
Mereka bermain air saling membasahi satu sama lain dan tertawa bersama. Sedangkan Felix dan Nico hanya memandangi mereka dengan datar.
"Kenapa lo kaya gak suka gitu sama tu cewek?" Tanya Nico menatap Felix.
Felix membalas tatapan Nico lalu menghela nafas berat. "Karena ada seorang gadis yang sedang berjuang untuk masa depan Dave," jawab Felix yang tidak di mengerti oleh Nico.
"Maksud lo? Ada yang suka sama Dave dan sedang berjuang?"
Felix menggeleng. "Dia tidak menyukai Dave tapi di kemudian hari dia akan menjadi boomerang tersendiri bagi Dave dan keluarganya," jawab Felix yang masih tidak dimengerti oleh Nico.
"Gue lagi males mikir, langsung intinya aja!" Sebal Nico.
Felix manatap Nico datar dan merongoh ponselnya yang berada di saku depan celananya. Dia menunjukkan foto perempuan cantik kepada Nico membuatnya mengernyit. "Dia siapa? Kaya gak asing tapi siapa ya?" Nico berpikir keras mengenai perempuan tersebut. "Nyerah gue. Emang dia siapa si?" Tanya Nico penasaran.
Felix kembali melihat Dave dan Nila yang sedang asik main air sambil tertawa bersama. "Dia perempuan yang dihamili Dave tapi Dave tidak mau bertanggung jawab atas semua itu dan mengusir perempuan itu dari kota ini," jelas Felix dengan mata memerah, dalam setiap perkataan tersirat luka yang mendalam.
Nico terperangah mendengar itu semua. "Benarkah? Lalu bagaimana dengan perempuan itu? Gue masih belum percaya Dave sebrengsek itu," kata Nico menatap dalam manik mata sahabatnya, tidak ada kebohongan disana tapi ia juga ragu akan hal itu. "Bagaimana lo tau?"
"Tidak penting bagaimana gue bisa tau semua hal itu, yang jelas setelah gue tau waktu itu gue sama kaya lo yang gak percaya Dave sebrangsek sepengecut secemen itu. Lo tau yang buat gue sakit? Perempuan itu sebatang kara, setelah kepergiannya dari kota ini gue udah cari kemana-mana tapi gak berhasil. Lo tau bagaimana kehidupan gue papa meninggal dan mama yang tidak lama menyusul, bagaimana ngeluhnya gue setiap saat sama lo tentang hidup gue. Lo ingat kapan terakhir kali lo dengar gue ngeluh?" Tanya Felix menatap Nico dalam yang dibalas gelengan kepala oleh Nico. "Beberapa bulan terakhir," jawab Nico.
Felix mengangguk. "Iya saat gue tau kehidupan seorang Sefira Anggraini, seorang wanita kuat dan hebat. Saat itu gue sedikit curiga dengan Dave yang tiba-tiba berubah beberapa bulan yang lalu menjadi bukan dirinya selama ini dan gue cari tau semuanya, gue retas CCTV cafe miliknya dan menyalakan voice CCTV di ruangannya membuat gue tau apa yang sebenarnya terjadi." Jelas Felix matanya memerah menahan air mata yang siap keluar. Sedangkan Nico sesekali menitikkan air mata mendengar penuturan sahabatnya itu kemudian kembali melihat Dave yang terkekeh bersama kekasihnya.
"Gue gak nyangka dia seperti itu," gumam Nico terkekeh miris.
"Terus apa yang harus kita lakukan?" Tanya Nico kepada Felix. "Menunggu takdir!"
"Ayo kita cari perempuan itu," ujar Nico. "Gue udah cari kemana-mana tapi gak berhasil," balas Felix membuat Nico menghembuskan nafas panjang.
__ADS_1
...***...
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan!