SEFIRA

SEFIRA
GL 41


__ADS_3

"Kalau gue suka sama lo gimana?"


Lya menoleh kearah lelaki yang tengah menatapnya. "Jangan! Soalnya gue gak suka sama lo!"


Hanya satu kalimat singkat tapi mampu mendiamkan seorang Kevin. Apakah malam ini adalah malam patah hatinya? Apa dia baru saja tertolak sebelum mengajak seseorang berkomitmen? Menyedihkan.


"Lo gak suka sama gue bang! Lo cuma kagum sama gue, ada cewek lain di hati lo."


Kevin tertawa miris. "Tau dari mana? Yang tau hati gue ya cuma gue," ujar Kevin mencoba terlihat kuat. "Gak ada cewek lain yang ada di otak gue sekarang, cuma lo!"


Sebenarnya Lya sudah tau bahwa Kevin menyukainya dari lama. Hanya saja Lya tidak menyukai Kevin. Dia sudah mencoba, namun selalu saja hatinya tidak bisa menerima Kevin lebih.


"Nazwha?" Celetuk Lya membuat Kevin menatapnya. "Lo cintanya sama Nazwha, otak lo berusaha buat selalu mikirin gue biar bisa move on dari mantan lo. Tapi hati lo nolak itu, hati lo masih punya Nazwha."


Kevin terdiam. Dari mana Lya tau tentang Nazwha? Bagaimana bisa gadis ini tau tentang masa lalunya? Bagaimana bisa gadis ini tau isi hatinya?


Senyum Lya mengembang. "Bang Juna yang cerita, gue tau lo udah tertarik sama gue udah lama," jelas Lya mengetahui kebingungan Kevin. "Jangan lo pikir gue gak peka sama sekitar gue. Gue bahkan pernah nyoba buat suka sama lo, tapi kita berdua itu sama. Hati kita milih orang lain," ucap Lya. Lya menepuk punggung tangan Kevin yang berada di lututnya. "Percaya sama gue, kita ini cuma kebetulan yang terbawa nyaman."


Kevin menatap mata Lya dalam. "Jadi siapa cowok yang ada di hati lo?" Tanyanya membuat Lya tersenyum miring. "Kepo!" Jawab Lya.


"Devano?" Tebak Kevin membuat Lya tertawa. "Tuh bocah udah punya cewek kali!" Jawab Lya.


Kevin mengerutkan keningnya. "Masa sih? Gue gak tau tuh! Mana punya dia cewek, pasti kita heboh kalau dia beneran punya cewek."


Lya mengendikkan bahunya. "Ya mana gue tau! Ceweknya sendiri yang ngomong ke gue, gue juga gak terlalu peduli," jawab Lya santai.


"Berarti bukan Devan?" Tanya Kevin lagi. Lya menggeleng. "Juna? Gak mungkin! Elang? Apalagi."

__ADS_1


Lya kembali tertawa mendengar tebaakn Kevin. Dia merasa terhibur oleh Kevin di malam yang dingin ini.


"Karta?" Tanya Kevin menatap tepat di mata Lya. Tawa Lya terhenti seketika, Lya memutuskan kontak matanya dengan Kevin.


"Ya? Lo beneran suka Karta?" Tanya Kevin terkejut.


"Nggak!" Jawab Lya. Kevin tau gadis ini berbohong. "Kenapa harus Karta? Dia sudah punya Tiara."


Lya mendengus. "Nggak bang!" Jawab Lya lagi.


"Kenapa Karta Ya? Kenapa harus dia? Dia gak bakal ninggalin-"


"Tiara!" Lya memotong ucapan Kevin. "Karta gak bakal ninggalin Tiara bahkan buat gue sekalipun. Gue tau!"


Kevin mengulum bibirnya. "Kalau lo tau, kenapa masih suka sama Karta?"


"Tanya hati gue bang! Mulut gue gak mampu buat jawab!"


"Ciba lo pikir, momen apa yang gue sama Karta lewatin sampai bikin gue sesuka itu sama Karta? Hal apa yang Karta lakuin samali gue bisa ngerasa cinta banget ke dia? Gak ada! Bego kan gue?" Ujar Lya tertawa.


Kevin mengangguk. "Bego banget! Lo bego, banget!" Jawab Kevin menekankan satu kata di akhir kalimatnya.


"Tapi itu yang gue sebut cinta bang! Kalau beberapa orang milih buat ngungkapin perasaan mereka cuma buat hati mereka lega. Itu bukan gue banget! Bisa lo sebut gue pengecut. Tapi gue lebih milih buat bahagia atas kebahagian dia, Karta bahagia sama Tiara. Cukup ngeliat mereka baik-baik aja, itu udah ngebuat gue baik-baik aja!"


Kevin menggeleng tidak habis pikir. "Gue pikir lo cewek paling pintar yang pernah gue temuin. Ternyata gue salah, lo cewek terbodoh menurut gue."


Lya mengangguk. "Gue akui itu."

__ADS_1


"Bilang ke Karta. Akui perasaan lo, jangan nyiksa diri begini."


"Dan siap buat liat Karta ngejauh dari gue?" Tanya Lya telak. "Kenapa gue gak maksa diri buat nyatain perasaan gue? Karena gue sadar diri bang, gue orang baru. Karta gak akan milih gue, mencintai dia dengan cara gue ini adalah cara aman untuk gue sendiri. Gue gak siap kalau jauh dari dia, gue ngerasa sakit. Gak tau kenapa? Tapi gue sakit bang. Ada yang janggal di hati gue. Gue gak siap!"


"Gue gak tau harus ngapain," ujar Kevin.


"Gak usah ngelakuin apapun. Tetap jadi Kevin temannya Karta dan Lya. Gak usah mikirin hal ini, gue nyesal harus ketemu lo sekarang dan ngebuat lo tau semua rahasia gue."


"Lo egois Ya! Lo nyakitin diri lo sendiri."


"Gue baik-baik aja! Gue beneran baik-baik aja bang! Tolong jangan buat gue merasa menyedihkan."


Kevin berdiri dari duduknya. "Udah malam, gue balik dulu," ujar Kevin berjalan kearah motornya diikuti Lya. "Devan suka sama lo!" Ujar Kevin lagi setelah duduk di motornya dan memakai helm. "Kalau lo gak bisa buka hati lo buat gue, coba buat buka hati lo untuk Devan. Gue mohon!"


Lya terdiam. Dia menundukkan kepalanya menatap aspal. "Gue balik dulu, bye!" Pamit Kevin mengacak rambut Lya sebelum menarik gasnya dan meninggalkan kawasan rumah Diki.


"Kalau mau nangis ya nangis aja. Gak usah sok kuat, lo itu lemah kalau soal beginian!" Celetuk Diki yang sudah berdiri di sampingnya. Lya tau bahwa Diki sedari tadi memang sedang menguping pembicaraan dia dan Kevin.


"Berisik lo!" Ketus Lya memasuki rumah.


"Ya, Ya! Banyak cowok yang suka sama lo, tapi dengan bodohnya lo malah suka sama orang yang udah jelas gak akan suka sama lo," gumam Diki yang ikut melangkah memasuki rumah. "Ngakunya punya IQ tinggi, tapi soal beginian otaknya langsung ngelag!"


"Kisah percintaan lo kenapa semenyedihkan gini Ya?" gumam Diki heran. "Kenapa lo gak terima aja tadi Kevin?" Tanya Diki yang entah bertanya pada siapa.


Saat ini Diki tengah duduk di kasurnya dengan memangku guling sebagai tumpuan sikunya, dia masih heran dengan sepupunya yang cantik jelita itu. Bagaimana bisa dia mencintai orang yang jelas-jelas tidak bisa dia gapai? Tapi hati siapa yang bisa atur.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


Triple up gak nih pren? Jika iya plis vote and hadiahnya pren xixi!


__ADS_2