SEFIRA

SEFIRA
Chapters 41


__ADS_3

Dengan otak liciknya, Dave mengajak Fira masuk rumah hantu dengan alasan gak jelasnya, pengen lihat muka hantu di sini.


Tentu saja Fira menolak keras ajakannya karena Fira sangat takut dengan hal-hal yang berbau makhluk halus, seperti hantu dan kawannya. "Lo aja sendiri, gue tunggu di sini," tolak nya.


"Gak! Lo harus ikut masuk juga temenin gue," kekeh Dave.


"Lo aja sendiri. Gue takut!" Cicit Fira.


"Tenang aja ada gue," balas Dave.


Fira pasrah, mau sekeras apa pun dia menolak maka Dave akan lebih keras juga memaksanya untuk ikut. Dengan malas Fira mengikuti langkah Dave yang menariknya. Ingin sekali dia bersama Fira dan Gavin tapi dia tidak tau mereka sekarang di wahana yang mana karena di pasar malam ini banyak permainan.


Dave dan Fira memasuki rumah hantu setelah membeli tiket. Fira sedikit lega karena di dalam ternyata tidak hanya ada mereka tapi ada beberapa pengunjung lainnya juga ikut mencoba merasakan atmosfir di rumah hantu tersebut.


Awal masuk sedikit santai, meski jantung sudah tidak aman. Tapi lama kelamaan hantu, ralat manusia hantu semakin berani mendekati mereka. Fira memeluk erat lengan Dave, menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Dave. Keringat dingin keluar dari pelipis semua pengunjung rumah hantu tersebut.


"Aaaaakkkhhhh!"


"Huaaaa hantuuu jelekkk!"


"Pergi!"


"Hus jangan dekat-dekat lo jelek!"


"Pergi kau setann!"


Pekikan mereka saling bersahutan kala hantu jadi-jadian itu datang menghampiri mereka.


Mereka berhenti sejenak karena bingung mau melangkah kemana. Kiri atau kanan, pikir mereka. Tubuh mereka tidak ada yang tidak bergetar. Dave sebenarnya takut, tapi sebisa mungkin dia mencoba untuk tetap tenang.


Fira merasakan ada sentuhan di kakinya, ia melihat ke bawah dan seketika matanya membulat sempurna melihat sebuah tangan dengan kuku hitam panjang. "Huaaaa Ibuuuu Ayahhhh ada setannnn!" Pekik Fira langsung meloncat ke pelukan Dave dengan kakinya yang melingkar di pinggang Dave dan tangannya yang memeluk leher Dave.


Hampir saja mereka akan terjatuh karena Dave yang tidak siap, tapi untung saja Dave langsung bisa menjaga keseimbangan. Tubuh Fira bergetar hebat di dalam pelukan Dave, matanya terpejam rapat bersembunyi di dada bidang Dave.


Tak urung dalam hati Dave yang paling dalam, dia sangat senang Fira seperti itu. Namun dia juga takut lihat para hantu yang terus mulai berdatangan. Dia tau, bahkan semua orang tau itu hantu jadi-jadian tapi melihat wajah seram para hantu itu membuat siapa saja yang melihat itu gemetar ketakutan.


Dengan menggendong Fira ala koala, Dave berjalan mengikuti orang yang di depannya. Posisi Dave di tengah-tengah para pengunjung lain.


Akhirnya, pintu keluar yang mereka tunggu-tunggu terlihat juga di depan mereka. Para pengunjung rumah hantu yang melihat itu berlari, tidak terkecuali Dave dengan Fira yang masih di gendongnya.


"Ra?" Panggil Dave melihat Fira yang masih menyembunyukan wajahnya di dada bidang Dave. Dia masih merasakan tangan Fira yang bergetar. "Kita udah di luar, ra," beritahu Dave.


Fira yang mendengar itu, mengintip sekitar dari celah-celah lengan Dave. Di rasa yang di ucapkan Dave benar, Fira menghembuskan nafas lega. "Akhirnya!" Celetuk nya.


Fira menoleh melihat Dave dan seketika sadar dia tengah berada di gendongan Dave dan langsung memberontak minta di turunkan, dia merutuki dirinya sendiri mengingat apa yang telah dia lakukan tadi di rumah hantu itu.

__ADS_1


Gara-gara hantu jelek itu. Rutuk Fira dalam hati.


"Ayo kita cari Gavin," ajak Dave kembali menarik tangan Fira.


Fira yang di tarik tiba-tiba hampir terjatuh. Dia menatap Dave tajam tapi sang empu tidak sadar karena sibuk melihat sekitar.


"Kamu coba hubungi Lia," pinta Dave yang langsung dipatuhi Fira.


Fira mencari kontak Lia lalu menghubunginya. Tidak lama Lia menerima panggilan Fira.


"Halo kak, dimana?" Tanya Lia di sebrang sana terdengar panik.


"Kamu dimana? Biar kakak yang ke sana," jawab Fira.


"Aku sama Gavin ada di penjual minuman dekat parkir kak," ujar Lia memberitahu.


"Iya sudah. Kalian tunggu di sana. Kakak kesana sekarang," balas Fira mematikan panggilan.


"Mereka ada di dekat parkir sekarang," beritahu Fira kepada Dave lalu berjalan duluan diikuti Dave.


...🌱...


"Bunda sama daddy habis dari mana sih," rengut Gavin kesal melihat kedua orang tuanya yang baru kelihatan.


"Bunda habis nangis?" Tanya Gavin lagi menelisik penampilan Fira yang sedikit berantakan.


Fira mengangguk. "Bunda takut, hantu jelek di sana pegang kaki bunda," ujar nya ketakutan mengingat wajah jelek hantu tersebut.


Lia terkekeh mendengarnya. "Nih kak minum dulu."


Fira menerima minuman yang di berikan Lia. "Makasi dek." Lia hanya mengangguk menanggapinya.


"Habis ini kita punya ya. Udah larut banget," ujar Fira yang diangguki ketiganya.


"Hm.. ra. Boleh gak aku bawa Gavin tidur di rumah?" Tanya Dave hati-hati.


Terlihat Fira tengah berpikir lalu menoleh melihat Gavin yang juga melihatnya. "Avin mau?" Tanya Fira yang diangguki Gavin semangat. "Mau bunda!"


"Ya sudah. Tapi nanti di sana jangan nakal ya, jangan nyusahin daddy, oma sama opa kamu," peringat Fira yang kembali diangguki Gavin. "Siap bunda!"


"Ya sudah ayo kita pulang sekarang," ajak Lia berdiri terlebih dulu diikuti ketiganya.


Mereka berjalan menuju mobil hitam mewah milik Dave lalu masuk setelah sampai. Dave dan Gavin duduk di depan dan tentu saja Fira dan Lia di belakang.


Drrtt drrtt

__ADS_1


Saat akan menjalankan mobilnya, ponsel milik Dave berdering. Tertera nama Nico di layar ponsel tersebut.


"Halo bro," sapa Nico di sebrang sana.


"Hm, kenapa?"


"Bagaimana keponakan gue di sana?" Tanya Nico.


"Baik. Dia lagi di samping gue sekarang. Kenapa lo nanya anak gue?" Tanya Dave tak santai.


"Santai dong bro," jeda Nico. "Gue sama Felix besok ke sana. Si si eh siapa nama anak lo?"


"Nak bilang sama om Nico siapa namanya," titah Dave kepada Gavin.


Gavin mengangguk. "Gavin om," jawab Gavin.


"Widihh nama yang bagus. Nah, besok om ke sana sama temen om, Gavin mau di bawain apa?" Tanya Nico.


"Hm.. tidak ada om, terima kasih," jawab Gavin sopan.


"Lah kok gak ada? Mainan gak mau? Atau apa gitu?"


"Anak gue gak butuh itu semua. Lo ngeremehin keluarga Miller, lo?" Tanya Dave terkekeh.


"Ya yaa terserah lo aja brader," jawab Nico jengah.


"Udahlah gue matiin dulu!"


Tut


Setelah mematikan sambungan telpon tersebut, tidak lama kemudian mobil yang di kendarai Dave telah sampai di depan rumah Lia.


Lia dan Fira turun tapi sebelum itu Fira melihat Gavin. "Ingat kata bunda tadi!"


"Ya bunda," jawab Gavin patuh.


"Jangan lupa sholat isya dulu terus tidur udah malem," ucap Lia ikut memperingati Gavin.


"Ya sudah, kalian hati-hati," ujar Fira kemudian keluar dari mobil.


Fira dan Lia melambaikan tangannya seiring perginya mobil Dave. Di rasa sudah menjauh baru mereka berdua masuk rumah.


...🌱...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!

__ADS_1


__ADS_2