
Seminggu berlalu, selama itu pula Dave berusaha mendekati Gavin dengan berbagai cara. Kadang ia menyuruh pembantunya memanggilkan Jaka untuk ke rumah tentu harus bersama teman-temannya termasuk Gavin juga. Seperti hari ini, Dave menyuruh kedua pembantunya untuk menyiapkan banyak makanan dan cemilan untuk Gavin dkk.
Gavin dkk sudah sampai dan seperti biasa Gavin memasang wajah dinginnya menatap bangunan mewah di depannya sekarang. Jika bukan karena paksaan teman-temannya ia tidak akan menginjakkan kakinya barang secenti pun di vila tersebut. Ingin ia berdamai dengan masa lalu antara bundanya dengan ayahnya sendiri tapi hati kecilnya menolak itu semua. Gavin menghela nafas panjang sebelum masuk mengikuti teman-temannya yang sudah masuk duluan.
"Eh kalian sudah dateng?" Tanya Dave dari atas tangga.
Gavin duduk terdiam begitu juga dengan teman-temannya yang terdiam tidak mengerti, tapi sedikit-sedikit temannya tau bahasa Indonesia tentu mereka selalu bertanya sama Gavin ini artinya apa itu artinya apa. Gavin berharap ada salah satu temannya yang menyahut bukan dia, tapi sepertinya dewi keberuntungan tidak berpihak padanya, Jetno menyenggol lengan Gavin dan Gavin yang mengerti mendengus kesal, ia menatap nyalang orang yang baru saja bertanya yang ternyata sudah duduk di depannya. "Belum," jawabnya datar.
Lagi lagi Dave tersenyum kecut mendengar jawaban anaknya. Bukan sekali dua kali ia mendengar jawaban datar dari anaknya itu. "Kalian sudah makan?" Tanya Dave berusaha sabar.
"Belum paman," jawab Dion cepat membuat teman-temannya menatapnya tajam tapi Dion tak mengidahkan itu yang penting ia bisa makan enak lagi, pikirnya.
"Bi, Bi Dyah," panggil Dave sedikit teriak.
Dengan tergupuh-gupuh Dyah menghampiri tuannya. "Iya pak?"
"Apa makanannya sudah siap?" Tanya Dave.
Dyah menunduk mendengar pertanyaan tuannya. "Maaf pak, makanan belum jadi tinggal sebentar lagi," jawab Dyah.
Dave mengangguk. "Kalau cemilannya sudah jadi?" Tanya Dave lagi.
Dyah mengangguk. "Sudah pak."
"Tolong bawakan itu aja sama minuman juga," titah Dave.
"Kalian mau minum apa?" Tanya Dyah kepada Jaka dkk.
"Ibu aku mau susu, boleh?" Tanya Jaka.
"Minumannya susu aja semuanya," cetus Dave yang diangguki Dyah kemudian pamit.
Drtt drtt
Panggilan masuk berasal dari ponsel Dave. Dave yang melihat satu nama langsung berdiri dan memandangi anaknya yang ternyata memandanginya juga. "Daddy angkat telpon dulu," ujarnya tersenyum kemudian menjauh dari mereka.
***
"Kok aku gak tenang gini ya," gumam Fira sembari merekap stok-stok barang.
__ADS_1
"Kenapa kak?" Tanya Lia yang melihat Fira seperti gelisah.
Sefira menoleh ke arah Lia. "Gak tau dek, kakak ngerasa gak enak gitu," jawabnya.
"Pikiran dan hati kakak terus mikirin Gavin," lanjut Fira.
Lia terdiam mendengar ucapan Fira dan terus melihat raut wajah kakaknya. "Mungkin hanya perasaan kakak aja, percaya sama aku Gavin baik-baik aja kak," tenang Lia mengusap pundak kakaknya lembut.
Fira mengangguk. "Iya kamu benar, mungkin hanya perasaan kakak aja," sahutnya.
"Hm kak," panggil Lia kikuk membuat Fira mengangkat alisnya sebelah. "Kenapa?"
"Ak-aku mau izin anterin barang punya temen. Deket kok kak serius," ujar Lia tersenyum manis.
Fira menatap garang adiknya membuat Lia menunduk takut. "Apa kamu bilang tadi?"
"Gak ada gitu lagi. Kakak sudah pekerjakan dua orang sebagai kurir kecuali saat kamu ke kampus. Paham Aulia?" tanya Fira lembut tapi itu menakutkan buat Lia. Lia hanya mengangguk pasrah, bukankah lukanya sudah sembuh, pikirnya. Fira menjadi sangat posesif dengan Lia semenjak kecelakaan membuat Lia sedikit kesal tapi Lia ngerti kakaknya itu sangat khawatir padanya.
Lia tersenyum haru mengingat bagaimana Fira merawatnya dengan baik di tengah-tengah kesibukannya di toko, bagaimana Fira mengkhawatirkan dirinya, bagaimana Fira membagi waktunya antara dirinya, Gavin, dan toko membuat Lia sangat sangat bersyukur kepada Tuhan yang telah mempertemukannya dengan seorang wanita hebat bernama Sefira Anggraini.
"Tugas kamu hanya di kasir aja jangan angkat-angkat barang bahunya masih sakit," peringat Sefira yang diangguki Lia kemudian pergi ke tempat kasir. Fira tersenyum geli melihat raut wajah masam Lia tapi itu hanya sesaat karena pikirannya kembali tertuju pada anaknya, ia berusaha berpikir positif menghembuskan nafasnya panjang berharap pikiran dan hatinya tenang.
***
Gavin tidak sengaja melihat Dave yang berjalan ke arahnya kembali dan matanya juga tidak sengaja melihat pergerakan di atas. Mata Gavin membulat sempurna melihat benda yang akan jatuh dan sepertinya akan mengenai Dave. Gavin menjatuhkan cemilan yang sedang ia makan lalu berdiri dan berlari.
"DADDY AWASSSS!"
Prangg
"Awsh."
Dave meringis karena terjatuh akibat dorongan dari Gavin tapi sedekit kemudian ia mematung mendengar teriakan anaknya yang memanggilnya daddy.
Anakku. Batin Dave terharu.
"Ashh," ringis Gavin memegang dahinya yang berdarah akibat jam dinding yang jatuh mengenainya.
Dave tersadar mendengar ringisan anaknya, ia melihat anaknya yang kesakitan langsung bangkit dan memeluknya.
__ADS_1
"Avin kamu gak papa?" Tanya Fian khawatir.
Tanpa Dave sadari, semua orang yang ada di vilanya sekarang tengah mengelilinginya. Tanpa Dave sadari juga ada seseorang yang diam-diam menghubungi Lia dan Fira.
"Maafin daddy nak," ucap Dave lirih dengan bulir air mata yang lolos tanpa permisi.
"Kita ke sofa dulu ya," ujarnya langsung menggendong Gavin yang terus terusan memegang dahinya yang berdarah. "Bi tolong panggilkan dokter," titah Dave yang langsung diangguki Siti, pembatu di vila.
Semua orang dewasa disana bingung dengan Gavin yang memanggil tuannya dengan sebutan daddy, sebenarnya apa hubungan mereka, pikir mereka.
"Mana yang sakit? Kasih tau daddy," ujar Dave khawatir.
"Maafin daddy, maaf," lirih Dave tak henti.
"Permisi," salam seseorang yang mengenakan jas putih. Siti yang mengetahui siapa yang datang segera menyuruhnya masuk.
"Pak dokternya sudah datang," beritahu Siti.
Dave yang mendengar itu mendongak. "Dok periksa anak saya cepat," ujarnya.
Anak saya? Batin Dyah mengerutkan keningnya. Tapi ia tidak ambil pusing karena itu bukan urusannya.
"Baik pak," balas Dokter tersebut kemudian mengeluarkan alat-alatnya lalu mulai memeriksa dan ia perban luka Gavin dengan telaten.
"Bagaimana dok?" tanya Dave. "Keadaannya baik-baik saja pak dan lukanya juga sudah saya balut tapi setiap hari perbannya harus di ganti takutnya nanti infeksi," jelas dokter tersebut.
"Makasi dok," ucap Dave.
"Ini resep obatnya pak, nanti bapak tebus di apotek terdekat," ujar dokter.
Dave menerima kertas tersebut kemudian memberikannya kepada Dyah. "Tolong tebus obatnya, Bi," pinta Dave yang diangguki Dyah. "Dan tolong antarkan dokter sampai ke depan."
Dave duduk di samping anaknya kemudian memeluknya erat. "Kasih tau daddy mana lagi yang sakit, nak?"
Ternyata begini rasanya. Batin Gavin tersenyum haru merasakan pelukan ayahnya. Penantiannya telah berakhir, ia kini berada dalam pelukan yang sangat ia rindukan.
"GAVINN!"
...***...
__ADS_1
Jangan lupa follow ig aku @thisisririnn
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!