SEFIRA

SEFIRA
Chapters 39


__ADS_3

Hari ini Fira sudah ada di toko memulai aktivitas seperti biasanya bersama Lia karena ia kuliah siang. Sedangkan Gavin ada di Vila karena pagi sekali sudah di jemput Dave.


"Hai ra," sapa seorang laki-laki yang datang sendirian.


Fira mendongak, Fira ingat siapa orang tersebut lalu tersenyum. "Mas Rian kan ya?"


Rian mengangguk tersenyum. "Iya ra. Kemarin mau aku chat tapi ingat ada keluarga kamu yang sakit makanya aku gak jadi dan datang kesini. Aku kira kamu gak masuk kerja hari ini," ujar Rian yang tidak tau bahwa toko tersebut adalah milik Fira.


"Kalau mas Rian gak kerja?" Tanya Fira.


"Hari ini saya shift siang makanya pagi gini saya ke sini," jawab Rian yang diangguki Fira.


"Silahkan mas mau beli apa, nanti teman saya yang bantu cariin," ucap Fira mempersilahkan Rian mencari dan memilih apa yang di inginkan.


"Kalau kamu yang temenin nyari boleh tidak?" Tanya Rian berharap.


"Ah oh ya mas boleh, mari," ajak Fira tanpa pikir panjang membuat senyum manis Rian terbit sangat lebar.


Mereka berjalan beriringan dan hal itu membuat Lia dan pegawai yang lain ada yang iri karena Rian yang tampan berjalan beriringan bersama Fira, ada yang berharap mereka bersatu dan tentu itu bukan Lia, karena Lia hanya tersenyum kecut melihat itu, bagamana tidak? Lia dan Gavin sudah berencana untuk menyatukan Fira dengan Dave secara perlahan.


Mobil hitam mewah terparkir di depan toko. Lia merasa familiar dengan mobil itu, ia pun mendekati mobil tersebut lalu keluarlah Dave dari pintu depan sisi kanan kemudian berlari kecil ke arah pintu samping kanan membantu Gavin keluar. Gavin sudah tidak memakai kursi roda lagi tapi di ganti menggunakan tongkat agar kakinya terbiasa untuk di gerakkan.


Lia ikut membantu Gavin menaiki beberapa anak tangga. "Terima kasih bi," ucap Gavin.


"Sama-sama sayang," jawab Lia.


Mata Dave sedari tadi sudah curi-curi pandang ke setiap sudut toko mencari keberadaan Fira. Matanya terhenti melihat dua orang berbeda gender yang di yakini itu Fira bersama laki-laki lain. Kedua tangan Dave terkepal erat, hatinya panas begitu juga dengan matanya. "Avin sama bibi dulu ya," ujar Dave.


"Daddy mau kemana?" Tanya Gavin.


"Lia jagain Avin sebentar," pinta Dave yang diangguki Lia.


Dengan langkah besar Dave menghampiri kedua orang yang sedang berduaan. Dasar pria hidung belang. Batin Dave memaki Rian. Si Fira juga gak sadar diri udah punya anak juga. Batin Dave kesal ikut memaki Ririn.


"Sayang lagi apa?" Tanya Dave merangkul Fira membuat kedua orang itu kaget.

__ADS_1


"Apaan si lo," sentak Ririn berusaha melepaskan tangan Dave yang merangkulnya.


"Sayang kenapa kamu yang melayani pelanggan? Kan ada mereka bertiga atau Lia mungkin," ujar Dave dengan tangannya yang masih setia merangkul Fira.


Fira melototkan matanya kepada Dave yang di balas dengan senyuman.


"Silahkan anda pilih mau yang mana saya bawa istri saya dulu," ujar Dave kepada Rian. "Ayo sayang, Gavin tadi katanya mau ketemu kamu," ujar Dave tersenyum manis.


Fira mendengus, ia pasrah karena mau sekuat apa pun dia mencoba melepaskan, Dave akan semakin kuat merangkul pundaknya membuatnya sedikit sakit. Fira manatap Rian tidak enak. "Maaf ya mas saya ke anak saya dulu," ucap Fira tak enak. "Mba Larass," panggil Fira.


Laras menghampiri Fira. "Mba tolong temani mas ini pilih barang yang ia mau ya," pinta Fira yang diangguki Laras.


Fira kembali menatap Rian. "Sekali lagi maaf ya mas Rian," ucap Fira.


Rian hanya mengangguk singkat. "Tidak masalah ra," balas Rian.


Dapat Dave tangkap dari wajah laki-laki di hadapannya yang ia ketahui namanya Rian menatap Fira kecewa. Dave cemburu dengan orang tersebut yang dapat sebutan 'mas' dari Fira, sedangkan dia, huft! Sudahlah.


"Kalau begi-"


Lia dan Gavin yang melihat Fira dan Dave menahan tawa mereka di meja kasir. Apa lagi melihat bagaimana wajah cemberut Fira. "Daddy lucu," celetuk Gavin terkikik dengan kedua tangannya menutup mulutnya agar suara tawanya tidak kencang.


Lia bahagia, sangat, melihat senyum dan wajah bahagia keponakannya. Dia berharap semoga ia selalu melihat Gavin seperti sekarang. Lia tau segala yang Gavin rasakan, curahan hati Gavin setiap malam kepada dirinya membuatnya tersentuh. "Oh ya, Avin tumben ke sini, ada apa?" Tanya Lia.


"Daddy yang ngajak tadi, bi," jawab Gavin.


"Oh ya?" Tanya Lia yang diangguki Gavin. "Kalian datang tepat waktu," cetus Lia.


"Apaan si lo," sentak Fira. "Lepas gak?"


Fira menatap Dave garang. "Apa si sayang?" Tanya Dave mencolek dagu Fira.


"Jangan pegang-pegang!" Fira menepis tangan Dave. "Sayang sayang mata lo peyang," lanjut Fira.


"Bunda lucu," ujar Gavin terkekeh.

__ADS_1


"Tumben kamu kesini, ada apa?" Tanya Fira lembut kepada Gavin.


Gavin menggeleng. "Daddy yang paksa Avin kesini," jawab Gavin.


Dave melotot mendengar jawaban anaknya itu. Fira menoleh ke arah Dave, sedangkan orang yang di lihat menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Anu itu.. sst.. apa ya? Itu ah ya aku mau ajak kamu makan siang bareng sama Gavin juga, Lia juga boleh," ujar Dave terbata-bata.


"Kenapa gugup gitu?" Tanya Fira curiga.


Dave gelagapan. "Hm.. siapa yang gugup? Ga-gak kok," jawabnya.


Lia terkekeh melihat kakaknya. Ia senang, sangat. Begitu juga dengan Gavin. "Kalian pergi bertiga aja. Aku ada kuliah siang ini," ujar Lia. Tidak bohong, memang ada jadwal kuliahnya siang ini. Tapi meski pun tidak ada jadwal, Lia akan membiarkan mereka pergi bertiga.


"Gak! Lo sama Avin aja," tolak Fira cepat.


"Bunda harus ikut!" Titah Gavin.


"Avin, bunda gak bisa ikut," ucap Fira lembut.


"Kenapa?" Kini giliran Dave yang bertanya.


"Kepo lo Jamal!" Sinis Fira.


"Kenapa bunda gak ikut?" Tanya Avin membuat Fira menoleh.


"Ish ini tangannya bisa di lepas dulu gak," sentak Fira membuat Dave mau tak mau melepaskan tangannya dari pundak Fira. "Avin sayang, nanti siang ada banyak barang masuk. Avin gak kasian lihat bibi Dina, Laras sama Ria urus banyak barang nantinya?" Fira mencoba memberikan alasan yang lugas kepada anaknya.


"Perasaan, gak ada barang deh hari ini yang masuk kak," ujar Lia membuat Fira melototkan matanya menatap Lia yang terkekeh.


"Bunda bohong!" Sentak Gavin dengan mata berkaca-kaca. "Bilang aja bunda gak mau makan bareng Avin sama Daddy," ujar Gavin.


Fira gelagapan. "Eh bukan gitu nak, aduh gimana ya? Hm.. ya sudah bunda mau," jawab Fira pasrah.


"YEY!"


...🌱...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan jika kalian suka dengan novel ini pren:)


__ADS_2