
Kemarin ada yang tanya gini 'apa Gavin tidak terlalu dewasa untuk usianya yang masih empat tahun?' Jujur karakter Gavin aku terinspirasi dari novel sebelah yang baru berusia empat tahun sudah memiliki IQ setinggi langit, jadi kenapa tidak aku buat versi berbeda yaitu di pemikiran.
Enjoy gengs!
...***...
Di tengah jalan, Dave tidak sengaja melihat toko bunga, ia menepi dan masuk ke toko bunga tersebut. Memilih bunga mana yang cocok untuk kekasihnya. Matanya terhenti di bunga lily putih. "Mba saya mau bunga ini, tolong di hias secantik mungkin."
"Baik pak. Maaf pak mau pesan berapa tangkai?" Tanya penjaga toko.
Dave terlihat berpikir sejenak. "Hm kamu kirakan saja berapa, saya mau ukuran bingkainya yang standar aja jangan terlalu besar," ujarnya.
"Baik pak, mohon di tunggu sebentar pak," ucap penjaga toko kemudian berlalu membawa beberapa tingkai bunga lily.
Dave mengangguk kemudian duduk di sofa yang tersedia sembari memainkan ponselnya.
Tidak lama kemudian bunga yang ia pesan sudah jadi. "Berapa?" Tanya Dave yang menerima bunga tersebut.
"Semuanya 525.999 pak," jawab penjaga toko.
"Bisa pakai credit card?"
"Bisa pak."
Dave menyerahkan credit card nya kepada penjaga toko tadi dan tidak lama di kembalikan lagi karena telah selesai. Dave keluar toko tersebut dan masuk ke mobil melaju ke tempat tujuan.
Dave sudah sampai di tempat tujuannya, sebelum keluar mobil ia memakai topi dan masker terlebih dahulu.
Dave mengedarkan matanya mencari target sampai matanya berhenti keliling di seorang wanita yang selama ini ia rindukan membuat senyum di bibirnya terbit. Namun sedetik kemudian, Dave mengernyitkan dahinya karena menyadari perempuan itu bersama seorang pria saling suap-suapan sembari tertawa kecil bersama.
Apa dia adiknya? Tapi bukannya Nila anak terakhir di keluarganya. Batin Dave berpikir.
Dave mencari tempat duduk yang dekat dengan meja kedua orang itu dan sepertinya keberuntungan berpihak padanya, kursi di belakang Nila kosong. Dave berjalan cepat ke arah meja kosong tersebut dan menajamkan pendengarannya.
__ADS_1
"Sayang apa Dave tidak akan tau hubungan kita?" Tanya si cowok.
"Kamu tenang aja sayang, dia ada di Bandung dan katanya minggu depan dia baru balik," jawab Nila.
Sayang? Batin Dave bertanya-tanya.
"Yah minggu depan kita gak sebeba-"
"Permisi kak," ucap waiter yang mengganggu pendengarannya. "Silahkan ini menunya," lanjut waiter tersebut
Dave menggangguk kemudian membuka buku menu lalu menunjuk kentang goreng dan chocolate hot drink tanpa suara menatap waiter tersebut. Waiter yang mengerti menulis pesanan pelanggannya kemudian berlalu setelah selesai. Dave kembali dengan kegiatannya, mengintil dan mendengar semua apa yang sedang kekasihnya bicarakan.
"Sebenarnya dulu aku kurang setuju saat kamu izin sama aku buat pacaran sama dia tapi karena tau kamu hanya ingin hartanya bukan hatinya makanya aku setuju," jujur si cowok.
"Ya enggaklah sayang, gak mungkin aku berpaling dari kamu. Aku juga dulu gak nyangka bakalan di tembak sama Dave waktu itu tapi karena aku tau dia adalah anak dari salah satu konglomerat di negara ini ya kenapa gak aku manfaatin," balas Nila tersenyum smirk.
Dave mengepalkan kedua tangannya mendengar semua ucapan kekasih yang selalu ia rindukan.
Cowok itu tertawa mendengar ucapan Nila lalu ia mencubit hidung Nila. "Hahaa pinter banget kamu. Pacar siapa sih pinter banget."
Dave bangkit kamudian membuka maskernya. "Terima kasih," ucapnya memberikan bunga yang sempat ia beli tadi dengan kasar kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Nila dan pria yang bersamanya kaget dengan semua itu. "Da-dave?" Ujar Nila kaget. "Dave hei," panggil Nila mencoba mengejar Dave. "Hei sayang ka-kamu kapan ba-baliknya?" Tanya Nila setelah menggapai tangan Dave.
Dave menyentak tangannya kasar membuat tangan Nila seketika terlepas. Tanpa berkata sepatah kata pun Dave berjalan ke mobilnya kemudian masuk.
Dave menyetir tak tau arah. Sampai ia tidak sadar ia berada di basement apartemennya. Dave keluar dari mobilnya lalu masuk lift menekan tombol angka tujuh, lantai tempat apartemennya.
Ting!
Pintu lift terbuka tepat di lantai tujuh. Saat sampai di pintu apartnya, samar-samar ia mendengar suara tawa dari apart sebelahnya. Apartemen di sebelahnya adalah apartemen temannya, Nico. Tanpa mengetuk pintu, Dave memasukkan beberapa kode apartemen Nico dan terbuka karena memang di antara mereka bertiga tidak ada rahasia kecuali Felix yang sedikit tertutup dari orang lain bahkan keluarganya sendiri, ia masuk dan hal pertama yang ia lihat adalah apartemen yang banyak sampah snack dan kaleng minuman tapi bukan alcohol.
"Ketawain apa lo sampai segitunya?" Tanya Dave tiba-tiba membuat kedua orang yang berada di dalam kaget.
__ADS_1
Nico dan Felix menoleh ke sumber suara. "Loh Dave kapan lo baliknya?" Tanya Nico kaget.
"Tadi malam," jawab Dave lesu merebahkan tubuhnya di sofa.
"Oh," balas Nico kemudian melanjutkan main ps dengan Felix dan sesekali tertawa karena berhasil mengerjai temannya itu.
"Gue putus sama Nila," cetus Dave membuat kedua temannya menghentikan kegiatannya. "Selama ini dia cuma manfaatin gue doang," lanjutnya.
Felix dan Nico saling tatap kemudian tersenyum bersama. "Alhamdulillah," syukur Nico mendengar cetusan Dave.
Dave yang mendengar ucapan syukur temannya mengernyitkan dahinya kemudian merubah posisinya menjadi duduk. "Kok lo seneng gitu," tudingnya.
"Hm bagaimana ya Dave, gue sebenarnya kurang suka sama sifat lo yang terlalu egois seperti ini. Gue sama Felix sudah tau jauh-jauh hari tentang Sefira Anggraini yang lo usir dari kota kelahirannya dengan seenak jidat lo dan waktu kita ketemu sama dia kemarin lo masih mikirin cewek lo itu dan gak mikirin anak lo," terang Nico yang diangguki Felix.
"Gavin," lirih Dave dengan mata yang berkaca-kaca. Seketika memori kemarin dimana ia sudah mempermainkan hati anaknya, ia sadar dia bukan sosok ayah yang baik untuk anaknya, ia sudah dengan teganya menelantarkan anaknya begitu saja.
Air mata Dave lolos mengingat betapa kejamnya ia terhadap darah dagingnya sendiri demi keegoisannya sendiri. Begitu juga dengan orang tuanya yang membencinya karena sikap dan sifatnya sendiri yang begitu egois.
Dave meyambar kunci mobilnya kemudian melangkah dengan cepat keluar apartement tanpa pamit kepada sang tuan rumah.
"Lah mau kemana dia?" Tanya Nico bingung melihat kepergian Dave. "Udah biarin aja, mungkin dia bakalan balik ke Bandung," jawab Felix.
"Maafin Daddy nak," lirih Dave. Sedangkan Dave di dalam mobilnya terus meminta maaf sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya sekarang ialah Bandung meminta maaf kepada anaknya langsung. Ia menyesali atas apa yang sudah ia lakukan karena keegoisannya sendiri.
"Gue brengsek! Bajingan!"
"AARRKK!" Teriak Dave memukul setir. Memori kemarin terus berputar di kepalanya, air matanya tak henti-henti turun, rasa bersalah menyelimutinya.
"Maafin daddy nak," lirihnya dengan bibir bergetar.
...***...
Gengs aku double up nih, mana vote dan hadiahnya gak berubah-ubah dari kemarin wkwk.
__ADS_1
Follow ig aku di @thisisririnn
Buat author yang mau novelnya di promosikan bisa DM yaa.