SEFIRA

SEFIRA
GL 35


__ADS_3

Pagiku cerahku matahari bersinar


Ku gendong tas diskonku di pundak


Selamat pagi semua ku nantikan dirimu


Di depan kelasmu menantikan kami


Plakk


"Berisik! Gak liat apa tuh orang-orang pada ngeliatin," sungut Diki mengeplak kening Lya.


Lya menatap tajam ke arah Diki. Gadis itu tengah mengusap kepalanya yang terasa sakit. "Sialan lo! Ganggu orang lagi nyanyi aja. Udah hampir ending tadi," balas Lya. Apa Diki tidak senang mendengar suara merdu milik Lya.


Ingin rasanya Diki melempar Lya ke laut. "Suara lo jelek. Nyanyi kaya bocah, orang-orang pada ngeliatin kita. Malu gue!" Ujar Diki meninggalkan parkiran sekolah.


Lya berlari menyusul Diki. "Gue kan lagi senang! Gue lagi selebrasi menyambut waktu sekolah," ujar Lya sambil berlari.


Waktu sekolah memang sudah tiba. Para murid SMA Satu Nusa berbondong-bondong menyambut hati pertama masuk sekolah. Terlihat dari ekspresi mereka, sangat banyak yang antusias kembali ke sekolah. Apalagi sekarang tahun ajaran baru, banyak murid baru yang berdatangan.


Lya mengedarkan pandangannya. Pagi ini memang sekolah terlihat sangat ramai, banyak para murid berkelompok-kelompik di koridor. Beberapa murid yang mengenal Lya dan Diki menciba menyapa mereka. Lya tersenyum menanggapi beberapa sapaan yang terdengar olehnya.


Banyak murid baru terlihat penasaran dan memuja pesona Lya dan Diki. Kedua anak manusia itu tengah berjalan melewati banyaknya murid, Lya yakin bahwa sedang banyak yang menatap ke arahnya.


Diki tiba-tiba merangkul Lya dan mempercepat langkah mereka. "Clarissa mana ya?" Tanya Diki. "Nah itu yang dari tadi gue pikirin. Tu bocah kemana?"


"LYAAAAAA! KITA SEKELAS!" Lya dan Diki terkejut saat Eadred muncul dan berteriak tiba-tiba.


Diki memukul kepala Eadred. Kenapa pagi ini teman-temannya sangat memalukan. "Sialan kaget gue!" Eadred tidak mengubris Diki. Laki-laki itu menggunjang tubuh Lya kekiri dan kekanan. "Aduhh Red pusibg gue!" Ujar Lya membuat Eadred menghentikan kegiatannya.


Tiba-tiba Keenan datang bersama Mira dan Clarissa. "Enak banget kalian sekelas. Masa gue sama mereka sih," ujaf Keenan menunjuk Mira dan Clarissa.


"Heh! Syukur lo masih ada kita," balas Mira mendorong bahu Keenan.


"Gel Gel aku mau satu kelas sama kamu," rengek Clarissa memeluk lengan Lya.


"Aduh gue masih belum paham nih. Kalian kenapa sih?" Tanya Lya bingung.


"Jadi, gue satu kelas sama lo dan Diki di 11 IPA 2. Sedangkan Keenan satu kelas sama Mira dan Cla di kelas 11 IPA 3," jelas Eadrwd pada Lya. Laki-laki itu terlihat sangat bersemangat.


Diki tersenyum lebar. "Anjirr senang gue kalau gini, ada Lya semua pun aman," cetus Diki yang diangguki setuju oleh Eadred.


"Tapi aku mau sama Gel Gel!" Ujar Clarissa.


Lya melepaskan tangannya dari Clarissa. "Cla dengerin gue! Semua kelas itu sama aja, lagian jarak kelas kita cuma di pisah tembok doang. Ada Keenan sama Mira yang bakal jadi teman lo. Jangan manja, gue tampil lo kalau nyebelin."


Clarissa mengerucutkan bibirnya. "Tuh dengerin!" Tambah Diki.


"Ke kantin ajalah kita, hari ini kan belum mulai belajar," celetuk Eadred. "Sekalian gue mau nyari dedek emesh!"


Keenan menatap Eadred jijik. "Jijik gue liat lo, sok kegantengan. Tapi hayuklah," ujar Keenan berjalan merangkul Eadred menuju kantin sembaru menebar pesona pada siswi yang ada di sekitar mereka.


"Muka standar aja belagu!" Celetuk Diki.


Kini mereka sudah duduk di kantin. Suasana kantin yang ramai karena banyak murid yang menghabiskan waktu disana. Tidak sedikit yang mencuri-curi pandang ke arah meja Lya, terlebih para murid baru. Masa orientasu siswa memang sudah lebih dulu di adakan tiga hari yang lalu. Tapi lebih banyak yang terang-terangan menatap kearah meja pojok tempat inti Rakasa berada, apalagi para murid perempuan.


Saat Lya tengah menikmati semangkok bakso di hadapannya itu, tiba-tiba terdengar suara berisik menarik perhatiannya. Tidak hanya Lya, semua orang yang ada di kantin memusatkan perhatian mereka pada dua orang siswa yang tengah berjalan memasuki kantin. Lya tidak menyangkal bahwa kedua laki-laki itu memiliki wajah yang sangat tampan.

__ADS_1


"Saipa tuh?"


"Gilaaa ganteng banget!"


"Ya ampun itu murid baru? Kelas berapa dia?"


"Mamiiii jodoh aku sudah keliatan!"


Bisikan-bisikan dari para siswi mengiringi langkah kedua laki-laki itu.


"Masyaallah surga lagi bagi-bagi giveaway pangeran nuh kayaknya," celetuk Lya. Matanya tidak lepas dari kedua laki-laki yang kini sudah duduk nyaman di salah satu kursi meja inti Rakasa.


Diki mengernyit heran. "Mereka siapa? Kok santai banget bisa duduk di sana," tanya Diki pada Keenan. "Gak tau gue! Bang Karta juga keliatannya welcome banget sama mereka."


Eadred melotot dan menepuk-nepuk punggung Diki dan Keenan. "Jangan-jangan dia adiknya bang Karta? Atau dia anggota Rakasa? Atau dia saudara salah satu dari mereka? Atau mereka sebenarnya kembaran gue yang hilang?" Tanya Eadred asal. Kelima orang yang duduk di dekat Eadred tengah mati-matian menahan diri untuk tidak menghajar manusia yang sayangnya adalah teman mereka sendiri. Benar-benar tidak ada yang beres.


Keenan menjitak kening Eadred. "Ngimpi lo!" Ujarnya kesal.


"Ganteng banget sih, lihat deh yang tinggi itu, alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, bibir ****. Ya ampun, jangan-jangan dia jodoh aku," celetuk Clarissa.


Lya meletakkan tangannya di kepala Clarissa. "Astagfirullahaladzim Allahuakbar.. keluarlah kau jin yang merasuki tubuh Clarissot, fyiiuuuuuuhhhhh."


Mira tertawa melihat Lya yang meniup-nuup kepala Clarissa seakan-akan tengah mengobati Clarissa dari kesurupan. Keenan dan Eadred ikut tertawa, Diki tengah menyodorkan segelas air kepada Lya. Persiapan jika gadis itu ingin menyembur kepala Clarissa.


Clarissa menepis tangan Lya dari kepalanya. "Gel Gel apaan sih? Aku gak kesurupan," sungut Clarissa membuat Lya tertawa.


"Istigfar makanya, mana mau dia sama lo. Cocoknya sama gue," ujar Lya membuat mereka mendengus mendengar jawaban Lya.


Mira menunjuk laki-laki yang satunya. "Lihat deh yang itu, mukanya mirip Manurios woy! Gilaa mereka tuh manusia atau bukan sih, kok bisa ganteng banget!" Lya dan Clarissa sibuk mengangguk menyetujui ucapan Mira.


Mendengar itu membuat Diki merotasikan matanya. "Lebay banget sih kalian! Mereka gak jauh beda sama gue. Liatin muka gue aja nih," ujar Diki memajukan wajahnya kedepan tiga gadis yang tengah sibuk memandangi dua siswa tadi.


Sedangkan di meja tempat Karta.


"Anjirr ngapain lo datang lagi Van, cukup Karta yang ngebuat gue kesusahan dapetin cewek cantik," ujar Juna pada laki-laki yang tengah duduk santai di samping Karta.


Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya. "Gak senang lo gue balik?" Tanyanya.


"Ck.. bukan gitu, lo gak liat mata cewek-cewek disini hampir lepas karena ngeliatin lo. Mana lo bawa si Alix lagi," sungut Juna lagi.


Elang yang melihat itu pun terkekeh. "Urusin dulu cewek-cewek virtual lo itu," ujar Elang pada Juna.


"Mana bisa diurus, udah kebanyakan. Heran gue, muka pas-pasan aja belagunya minta ampun," ejek Kevin ikut-ikutan.


Karta menoleh pada laki-laki jangkung yang menarik perhatian para siswi tadi. "Kenapa gak bilang kalau lo balik sekarang. Matanya masih minggu depan?" Tanyanya.


"Papa yang urus, tau-tau udah di suruh berangkat," jawab laki-laki itu acuh.


Dia Devano Joshua Hanumadya anggota Rakasa yang harus pindah ke luar negeri saat memasuki sekolah menengah atas dan ternyata harus kembali lagi ke Indonesia. Devan sangat dekat dengan Karta dan inti Rakasa bahkan sebelum masa kepemimpinan Karta. Laki-laki tampan dengan alis tebal dan bulu mata lentik itu terlihat dingin dengan sorot mata tajam, dia akan menjadi rekan yabg baik untuk Karta dalam hal sifat dan karakter. Dia datang bersama Alixy Fernando Wijaya, sama-sama anggota Rakasa. Selalu berdua dengan Devan dimanapun dia berada.


"Jadi lo kelas berapa?" Tanya Elang pada keduanya.


"Kelas 11 IPS 3 bang," jawab Alix. Laki-lkai tampan yang mirip dengan Manurios itu mempunyai sifat yang pendiam. Bukan dingin seperti Karta dan Devan, Alix lebuh memilih untuk tidak banyak bicara dan tidak peduli pada sekitar, dia jauh lebih santai dibanding Devan.


Disaat banyak orang yang sibuk dengan rasa penasaran mereka tentang kedua murid baru itu, Lya tengah melahap baksonya. "Beuhhhh mantapp Alhamdulillah," ucap Lya saat menyelesaikan makannya. Lya baru saja hendak menghabiskan es jeruknya yang sisa setengah gelas itu, namun.


Byurr

__ADS_1


Teman-teman Lya terkejut, Lya apalagi. Seragamnya baru saja terkena siraman rohani dari es jeruk miliknya sendiri.


"Ya ampun. Ma-maaf kak ak-aku gak sengaja," ucap murid yang Lya yakini adalah anak kelas 10.


Lya berdiri dan membersihkan bajunya dengan tisu. "YA ELAH! BARU JUGA SEHARI SEKOLAH BAJU GUE UDAH BULUK BEGINI," teriak Lya kesal.


Gadis dengan name tag Lucia itu menunduk takut. "Ma-maaf kak," cicitnya.


Lya menatap tajam Lucia. "Ngapai lo nabrak-nabrak gue? Jalanan lebar begitu, punya mata dua tapi gak di gunain," maki Lya.


"Ya gak boleh gitu, dia gak sengaja. Jangan marah-marah," tegur Clarissa menatap kasihan pada Lucia.


"Gue juga gak sengaja marah-marah! Tapi dia emang harus dimarahin," jawab Lya.


Diki berdiri menghampiri Lya, laki-laki itu segera memakaikan hoodie nya pada Lya. Karena seragamnya yang basah membuat baju putih itu menampakkan baju dalam Lya. Tubuh mungil Lya tenggelam karena hoodie besar milik Diki.


"Ma-maaf kak, aku beneran gak sengaja. Maaf!" Lucia kembali meminta maaf. Dia merasa tidak enak dan takut, apalagi sekarang mereka menjadi pusat perhatian.


Lya menyodorkan tangannya. "Ganti!" Ujar Lya.


"H-hah?" Beo Lucia.


Lya mendengus kesal. "Ganti es jeruk gue," ujar Lya masih menyodorkan tangannya.


"Ya elah Ya gak pelu lah, beli lagi aja. Gak enak diliatin orang-orang," tegur Keenan yang disetujui Eadred. "Iya Ya kasihan," tambah Mira. Mereka tentu tau bahwa Lya bahkan bisa membeli satu truk es jeruk jika mau. Namun Lya tidak mendengarkannya. "Ganti es jeruk gue dan baju gue yang udah basah plus kotor ini," ujar Lya membuat Diki dan Clarissa menggeleng.


"No! Gel Gel jangan gini!" Ujar Clarissa.


"Kita pergi aja ayo," tambah Diki. Dia tidak ingin memperpanjang masalah sepele ini.


"MAU GANTI APA NGGAK?" Mereka semua terlonjak kaget. Pasalnya muka Lya sudah memerah tanda dia sudah mulai emosi.


"Ta-tapi uang aku tinggal sepuluh ribu kak," ucap Lucia mengeluarkan uang kima ribu dua lembar.


Lya mendengus melihat uang yang ada di genggaman Lucia. "Miskin banget sih lo!"


Teman-teman Lya terkejut mendengar itu, bahkan Karta dan inti Rakasa yang lainnya juga tidak habis pikir dengan kelakuan Lya yang keterlaluan itu. Baru saja Karta ingin beranjak menghampiri Lya, namun suara Lya menghentikan niatnya.


"Sini duit lo!" Lya merampas uang Lucia. "Gue mau yang dua lembar, lo ambil yang selembar," ujar Lya dan menepun kasar telapak tangan Lucia sembari memberikan selembar uang padanya. "Thanks!" Tambah Lya sebelum pergi dari sana.


Mereka yang menyaksikan itu menganga tidak percaya. Keenan dan Eadred bahkan tidak sadar mulut mereka tengah terbuka lebar. Diki memejamkan matanya gemas dengan sikap Lya yang seenaknya itu.


Keenan dan Eadred menoleh bersamaan. "Narahnya orang kaya begitu ya? Jadi klaau orang kaya minta ganti rugi, harus di tukar uang yang lebih gede gitu jumlahnya? Tanya Keenan pada Eadred. "Gak paham gue," jawab Eadred. Pasalnya Lucia sekarang tengah cengo menatap selembar uang berwarna biru yang ada di tangannya itu.


Clarissa yang meluhat ekspresi Lucia pun menepuk pundak gadis itu. "Maafin kata-kata Lya yah," ucap Clarissa segera berlari meninggalkan area kantin untuk mengejar Lya.


Lucia mendongak menatap Diki. "Kak, i-ini?" Tanya Lucia sembari menyodorkan uang pemberian Lya.


"Ck.. buat lo! Jajanin cilok aja semua," jawab Diki sebelum ikut mengejar Lya.


"Lya otaknya masih waras kan," celetuk Juna yang sedari tadi menyimak. "Bukan dapat ganti rugi, malah dia yang rugi."


Elang tertawa. "Orang kaya mah bebas."


"Siapa?" Tanya Devan yang sedari tadi menyimak. "Anak Rakasa," jawab Karta seadanya. Devano hanya menganggukkan kepalanya.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


...Tbc....


__ADS_2