SEFIRA

SEFIRA
GL 28


__ADS_3

Pipi Lya memerah, Lya merasa hawa panas menjalar di dalam tubuhnya. Kevin selalu bisa membuatnya salah tingkah seperti ini. Akhir-akhir ini, lelaki itu memang sering mengiriminya pesan meski isinya hanya menanyakan kabar pada Lya.


"Gue gak nyuruh lo teriak-teriak, tapi jangan diam gini juga. Masa iya gue ngomong sama angin," ujar Kevin lagi saat menyadari Lya tidak menjawab ucapannya.


Lya menetralkan diri. "Jadi gue beneran gak boleh turun?" Tanya Lya. Dapat Lya lihat bahwa lelaki yang duduk di motornya itu mengangguk.


Kevin tersenyum padanya. "Gak usah! Disitu aja," jawab Kevin. "Jadi gimana keadaan lo?"


Lya menyenderkan tubuhnya ke pagar balkon. "Gue udah sembuh seratus persen. Bahkan gue ngerasa sehat banget buat mukulin orang yang udah nusuk gue."


Lya dapat mendengar helaan nafas dari Kevin. "Gak usah! Lo gak usah mikirin orang itu, biar kita aja," jawab Kevin.


Lya mengerutkan keningnya. "Maksudnya? Kita? Rakasa maksud lo? Kalian bakal ngebales mereka? Bakal war dong? Kapan? Gue ikut!"


Kevin terkekeh mendengar Lya yang bertanya tanpa jeda. "Nafas Ya," balas Kevin. "War atau nggak, itu bakal jadi urusan anak-anak. Lo gak usah ikutan, kita gak pernah turun bawa anggota cewek."


Lya terlihat tidak terima. "Enak aja! Gue korbannya, gue harus bales dendam. Mana bisa gue diam aja, lagian gue beda sama anghota cewek lainnya. Gue jago!"


Kevin mengetuk-ngetuk helmnya. "Gelya, bukan cuma gue yang ngelarang lo. Semua anak Rakasa gak ngebiarin lo, selain lo yang baru balik dari rumah sakit, lo itu anggota perempuan. Selama ini kita gak pernah turun war bawa pasukan cewek. Gue tau lo jago, bahkan yang lain juga tau, tapi ini bukan masalah jago atau gak, ini masalah keselamatan, cukup kemarin lo luka."


"Ih jadi badmood gue," ujar Lya menduduki dirinya di lantai lalu menjuntaikan kakinya keluar pagar balkon.


"Karta gak bakal ngebiarin lo tutun! Nurit Ya!"


Lya merengut. "Lo bahas bang Karta ngebuat gue jadi rindu. Dia rindu gue gak ya?"


Ini dia. Ini yang membuat Kevin tidak pernah mau mendekati Lya selangkah lebih maju. Kevin bingung, apa Lya menyukai Karta? Lya terlihat sangat pedulu pada ketuanya itu, Lya juga selalu menanyakan kabar Karta disaat Kevin menanyakan kabar Lya. Kevun ragu, meski Lya selalu menekankan bahwa dia tidak menyukai Karta dalam hal cinta, tapi Kevin merasa tidak. Kevin sadar bahwa Lya sebenarnya menyukai Karta, tapi gadis itu tidak menyadari perasaannya. Seperti yang Diki bilang, Lya tidak pernah mengerti hal percintaan.


"Dia lagi ngebucin sama Tiara," jawab Kevin, bukan niat untuk menyadarkan atau menyindir Lya, tapi memang benar bahwa Karta berada di rumah Tiara sekarang.


"Lah iya! Abang gue kan kerjaannya cuma ngebucin doang," jawab Lya santai.

__ADS_1


Kevin tidak menjawab, dia hanya diam dan tersenyum. Senyum miris yang entah apa maksud dan tujuannya.


"Bang!"


Kevin mendongak mendapati Lya yang sudah berdiri di pinggir balkon. "Pulang sana udah malam, gue juga mau tidur."


Kevin mengangguk. "Ya udah gue pulang. Lo langsung tidur."


Lya mengangguk patuh. "Hati-hati bang, lo langsung pulang ya, istirahat. Makasih udah mau temenin gue."


Kevin tersenyum lebar. "Iya," jawab Kevin lalu memutuskan sambungan telponnya. Dia memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya.


"Hati-hati," pekik Lya yang masih memperhatikan Kevin. Lelaki itu mengacungkan jempolnya lalu melaju meninggalkan rumah Lya.


🌻


"Gel Gel kenapa dari tadi bolak-balik terus sih?" Tanya Clarissa yang kesal melihat Lya tidak bisa diam. Pasalnya gadis itu tengah mondar-mandir di kamarnya tanpa henti.


Lya berhenti tepat di hadapan Clarissa. "Gue pergi dulu, lo tunggu di rumah!" Ujar Lya yang membuat Clarissa yang tadinya duduk langsung berdiri tidak santai.


Clarissa menggelengkan kepalanya. "Gak boleh!"


Lya mengepalkan tangannya kuat menahan emosi. "Lo ikut gue!" Ujar Lya berlalu mengambil hoodie nya.


Clarissa cengo. "What?"


"Hurry up Cla!"


Clarissa langsung mengambil kunci mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah mengikuti arahan Lya, mereka sampai di sebuah bangunan besar yang di depan banyak motor dan orang-orang yang memakai jaket yang sama. Lya bahkan melihat Diki dan inti Rakasa tengah berbicara sesuatu.


Lya turun dari mobil. "Jangan kemana-mana. Tunggu disini," perintah Lya pada Clarissa.

__ADS_1


"Pada mau ngapain?" Tanya Lya membuat mereka semua menoleh dan terkejut. Terlebih Diki, Karta dan Kevin.


Diki berjalan mendekati Lya. "Heh ngapain kesini?" Tanya Diki. "Kenapa emang? Gue masih bagian dari Rakasa kan? Gak boleh gue kesini?" Tanya Lya.


Diki mengeluarkan cengirannya. "Bukan gak boleh. Cuman-"


"Balik sana!" Titah Karta.


Lya menatap Karta dalam. "Gur ikut!" Diki melotot. "Apaan? Ikut apa coba? Udah malam ini, balik gih!" Diki hendak menarik tangan Lya namun di tepis.


"Gue ikut kalian!"


Karta mendengus. "Gak bisa!"


Lya menatap Karta sinis. "Kenapa gak bisa? Gue yang jadi korbannya, jadi gue yang harus balas mereka," ujar Lya tetap pada pendiriannya.


Kevin maju dan menarik Lya untuk menghadap padanya. "Ya denger gue, ini bahaya pasukan mereka vbahkan jauh lebih banyak dari yang kita kira. Kita gak mau lo luka lagi."


"Dan gue juga gak mau kalian luka karena gue," jawab Lya keras kepala.


"Ini bukan karena lo! Ini untuk Rakasa."


"Gue bagian dari Rakasa. Biarin gue ikut," balas Lya membuat Karta naik darah.


"Gue ketua lo! Dengerin gue, ini perintah. Lo balik sana!"


Lya tersenyum miris. Dia menatap Karta, Diki dan Kevin bergantian. "Oke!" Jawab Lya berjalan kembali menuju mobil. Matanya menajan melihat Clarissa yang berdiri di depan cap mobil. Lya berjalan kearah kemudi dan langsung masuk.


Clarissa melototkan matanya dan mengetuk kaca. "Hei! Get out, aku yang nyetir," ujar Clarissa.


Lya menurunkan kaca mobilnya. "Masuk atau gue tinggal," ujar Lya menyalakan mobilnya. "NO! Let me drive!"

__ADS_1


"Oke gue tinggal!" Ujar Lya menutup kembali kaca mobilnya. Clarissa yang melihat itu langsung memutar dan duduk di samping Lya.


Disisi lain, Diki yang meluhat Lya akan menyetir langsung berlari mengejar mendekati mobil.


__ADS_2