
Sudah tiga hari Gavin berbaring di rumah sakit. Dave semakin dekat dengan Gavin, sedangkan dengan Fira masih seperti biasa.
Hari ini Gavin sudah di perbolehkan pulang. Fira tengah membereskan barang-barang anaknya bersama Lia dan Dave yang keluar untuk mengambil kursi roda.
Dave menggendong Gavin memindahkannya ke kursi roda. Fira dan Lia hanya diam melihat kedekatan antara anak dan bapaknya itu.
"Biar aku yang dorong," titah Fira.
Dave menggeleng. "Biar aku aja," tolaknya.
"Apa Avin senang kita pulang hari ini?" Tanya Dave sambil mendorong kursi roda.
Gavin mengangguk cepat. "Sangat senang dad," jawab nya.
***
Dave melajukan mobilnya dengan santai sesekali bercanda tentu dengan Gavin. Fira yang di depan bersama Dave hanya memandang lurus jalan raya di depan.
"Kamu mulai hari ini tinggal di vila sama daddy ya," cetus Dave kepada Gavin tiba-tiba membuat Fira melihat Dave dengan datar begitu juga Lia.
"Tidak! Gavin akan tetap di rumah AKU!" Balas Fira dengan menekankan kata terakhir.
"Aku sama bunda sama bibi aja, daddy," jawab Gavin tersenyum.
"Baiklah kamu sama bunda," balas Dave.
Tunggu aku sayang, daddy pasti akan bawa kamu sama bunda untuk kita tinggal bersama. Batin Dave.
Siapa yang tidak tertarik dengan pesona seorang Sefira Anggraini. Dave sadar betapa bodohnya dulu dia menyianyiakan Fira yang cantik natural dan point plus nya adalah mandiri bisa segalanya. Dave juga sadar dia sudah jatuh kedalam pesona Fira, dia bertekad akan merebut hati Fira tidak peduli Fira sudah punya kekasih atau tidak. Setidaknya dia menang jauh dengan adanya Gavin, anaknya sendiri yang tentu saja akan menjadi senjatanya nanti untuk merebut hatinya.
Maafkan daddy nak yang memanfaatkan kamu untuk merebut hati bunda kamu. Tapi itu juga untuk kebaikan kita bersama supaya kita bertiga bisa bersama. Batin Dave tersenyum.
Fira yang tidak sengaja melihat Dave senyum-senyum bergidik ngeri karena bukan senyum manis yang Fira lihat tapi lebih ke smirk. "Kenapa lo senyum-senyum gitu?" Tanya Fira sengit menatap Dave curiga dengan menyipitkan matanya.
__ADS_1
Dave seketika tersadar dan merubah raut wajahnya. "Ah tidak apa-apa," jawab nya.
"Fokus jangan ngelamun. Jangan nantangin malaikat maut lo," ketus Fira.
Dave manatap Fira sekilas. "Mulut kamu Ra. Aku kamu bukan lo lo," balas Dave.
"Dih siapa lo?" Tanya Fira tidak santai.
Gavin terkikik mendengar perdebatan kedua orang tuanya dan Lia mengangkat sudut bibirnya menjadi sebuah senyum tipis. Tidak dapat di pungkiri, suasana hati Gavin menghangat melihat kedua orang tuanya, meski mereka berdebat bukan bicara romantis. Begitu juga dengan Lia, hatinya yang paling terdalam merasa bahagia melihat senyum lebar Gavin, karena ia tahu bagaimana Gavin selalu mendambakan sebuah keluarga yang lengkap, meski dia dan Fira selalu berusaha untuk menjadi ibu sekaligus ayah buat Gavin, tapi tetap Gavin menginginkan sosok ayah yang nyata.
Gavin mendongak melihat bibi nya dan Lia mengangguk memeluk Gavin sambil mencium pucuk kepalanya. "Doakan," bisik Lia yang diangguki Gavin.
Mereka sampai tepat di depan rumah Fira, lebih tepatnya Lia. Dave turun terlebih dahulu kemudian membuka bagian belakang mobil mengambil kursi roda lalu menggendong anaknya memindahkannya ke kursi roda.
Fira dan Lia berjalan terlebih dahulu memasuki rumah diikuti Dave yang mendorong kursi roda. Banyak para warga yang sudah berkerumunan ketika mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan rumah Fira. Saat Dave keluar, bisik-bisik para tetangga mulai terdengar tapi mereka tidak menghiraukannya.
Dave melihat setiap sudut rumah sederhana yang ia masuki sekarang. Sangat rapi, meski ukurannya seperempat dari vila mungkin lebih kecil dari seperempat. Namun Dave akui rumah kecil tersebut sangat nyaman.
Gavin menoleh. "Iya dad?"
"Maafin daddy atas semua kesalahan yang sudah daddy perbuat sama Avin, maafin daddy," ucap Dave menatap dalam manik mata Gavin. "Daddy tau kesalahan daddy banyak sama Avin terutama sama bunda, dan daddy tau Avin mau pun bunda belum bisa maafin daddy," lanjut Dave.
"Terima kasih sudah mau menerima daddy lagi, nak. Maaf unt-"
"Avin sudah maafin daddy," ucap Gavin memotong kalimat Dave dan tidak lupa senyum manisnya.
Fira yang berada di balik tembok mendengar semuanya. Satu titik air matanya lolos membasahi pipinya, dia terharu dengan kebesaran hati anaknya. Jujur Fira masih sulit untuk memaafkan Dave tapi melihat bagaimana anaknya dengan mudah memaafkan Dave setelah apa yang sudah Dave lakukan padanya membuat Fira sedikit iri dengan pemikiran serta kebesaran hati anaknya.
Lia yang baru keluar dari kamarnya sedikit terkejut dengan keberadaan Fira yang seperti orang sembunyi di balik tembok. Lia menghampiri Fira namun dia mengernyitkan dahinya melihat Fira menangis, lalu dia mengedarkan matanya mencari sumber air mata Fira dan matanya terhenti di dua laki-laki beda generasi membuat Lia seketika paham. Lia memeluk Fira mengusap lembut bahunya. "Jangan egois kak, biarkan Gavin sama daddy nya dulu. Aku tau kakak paham apa yang Gavin mau meski aku juga tau itu sulit untuk kakak," ucap Lia. "Aku memang orang asing yang masuk ke dalam kehidupan kakak, tapi aku sudah menganggap kakak adalah kakak aku sendiri. Aku cuma mau bilang sebagai seorang adik, cobalah untuk berdamai dengan masa lalu kakak. Karena biar bagaimana pun orang di masa lalu kakak tidak akan pergi semudah itu apalagi ada Gavin di antara kalian," ucap Lia bijak, Fira hanya mengangguk mendengar petuah yang diberikan adiknya.
"Assalamualaikum," salam Fian dkk memasuki rumah yang memang tidak tertutup.
"Waalaikumsalam," jawab Gavin berbinar melihat kedatangan teman-temannya.
__ADS_1
Fira menghapus air matanya lalu menghampiri Gavin dkk bersama Lia. "Eh ada tamu ternyata," cetus Fira tersenyum. Lia tersenyum melihat senyuman palsu yang Fira tampilkan.
Fian dkk menghampiri Fira dan Lia kemudian menyalami kedua tangannya. "Mau minum apa?" Tanya Lia.
"Es jeruk boleh bi?" Tanya Dion cepat membuat teman-temannya mendengus kesal.
"Boleh dong, sebentar ya bibi buatin dulu," jawab Lia kemudian berlalu ke dapur.
"Maaf ya bibi Fira sudah ngerepotin," ucap Jetno tidak enak.
"Eh kamu ngomong apa si no, gak papa kalian tunggu disini ya, bibi mau bantu bibi Lia buat minuman dulu," balas Fira menyusul Lia ke dapur.
"Avin apa yang sakit?" Tanya Fian dengan nada khawatir.
Gavin menggeleng. "Sudah sembuh ian, tidak ada yang sakit lagi," jawab Gavin.
"Tapi kenapa kamu pakai kursi kaya gitu?" Tanya Jaka yang diangguki teman-temannya.
"Kata pak dokternya, kaki aku gak boleh di pakai berjalan dulu nanti sakit lagi," jawab Gavin.
"Yah gak bisa main sama Avin dong," cetus Jetno. "Iya. Gak seru," timpal Dion.
"Bisa kok, tapi nanti," celetuk Gavin.
"Nanti kapan?" Tanya Fian tidak semangat. "Kata dokter seminggu," jawab Avin.
"Huh lama," cetus Dion yang diangguki teman-temannya.
Gavin hanya menatap teman-temannya yang duduk lesehan di lantai. Sedangkan Dave, karena tidak mengerti ia memilih memainkan ponselnya.
...***...
Jangan lupa hadiahnya pren dan tentu vote, like, komen dan favoritkan!
__ADS_1