
"Ini kenapa sih ribut-ribut?" Suara berat nan tegas dari papi Agung membuat mereka menoleh serempak.
"Diki patahin lipstik Cla pi," adu Clarissa. Gadis itu sudah berdiri dan menunjuk Diki.
Diki melotot. "Gak sengaja pi! Beneran," bela Diki.
"Udah dong! Mending sekarang kita makan, makanan udah siap," ucap mami Risma yang datang bersama bunda Intan dan ayah David. Orang tua Diki memang baru saja datang.
Mereka semua berjalan menuju meja makan.
"Wow," celetuk Eadred melihat meja makan penuh dengan makanan yang terlihat sangat lezat.
"Silahkan duduk," ujar papi Agung. Mereka mengambil tempat duduk masing-masing. "Sebelum kita makan alangkah baiknya kita berdoa dulu. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing dimulai."
Mereka semua menunduk untuk melafalkan doa. Setelah itu mereka makan dengan sangat nikmat. Tidak banyak perbincangan, mereka fokus pada makanan masing-masing.
...🌻...
"Om lihat motor kalian punya stiker yang sama," ujar papi Agung.
Mereka tengah berada di ruang tamu dan berbincang ringan.
"Iya om," jawab Karta.
Papi Agung mengangguk-angguk. "Geng motor? Motor Diki juga ada stikernya."
Diki menatap papi Agung dengan senyum canggung. Dia menatap ayahnya meminta pertolongan.
"Iya om geng motor. Kita semua anggota geng motor," jawab Karta lagi.
"Kita semua?" Tanya papi Agung lagi, dia menatap Lya dan Mira bergantian. Lya langsung menatap langit-langit seolah mencari sesuatu sedangkan Mira hanya menunduk.
"Mereka juga!" Jawab Karta menunjuk Lya dan Mira. "Geng motor kami juga merekrut anggota perempuan. Om tenang aja, geng motor kami bukan seperti geng motor yang sering tawuran atau menyerang orang-otang sembarangan. Geng kami punya reputasi baik di mata masyarakat, maaf jika ini terkesan sombong tapi kami sering melakukan bakti sosial ke beberapa panti asuhan dan panti jompo."
Papi Agung kembali mengangguk-angguk. "Kamu tau?" Tanyanya pada ayah David.
"Asal kamu tau aja, ini bocah berdua badungnya minta ampun," jawab ayah David menunjuk Lya dan Diki. "Aku bahkan harus memblokir nomor-nomor guru sekolah mereka karena sering mengganggu aktivitas di rumah sakit. Sudah aku serahkan semuanya pada Intan, kata Intan kelakuan mereka benar-benar keterlaluan," lanjut ayah David.
"Benar Ya?" Tanya papi Agung pada Lya yang terkekeh. "Kata ayah gak apa-apa kemarin. Ayah bilang, anak muda itu memang perlu nakal, biar nanti punya cerita buat di ceritain sama anaknya," jawab Lya.
"Bener sih," jawab ayah David dan papi Agung serempak. Lya dan Diki tersenyum lega.
"Terus kalian semua satu kelas?" Tanya papi Agung lagi.
"Gak om. Kita berlima kelas XII sekarang, mereka kelas XI," jawab Elang, sang juru bicara Karta.
__ADS_1
"Geng motor kalian apa namanya?"
"Rakasa om!" Serobot Juna heboh membuat Kevin mengetuk kepalanya. "Santai aja bisa gak sih?"
"Siapa nama ketuanya?"
"Karta om! Ini orangnya!" Juna lagi-lagi menjawab. Teman-temannya hanya mendengus melihat kelakuan Juna.
Papi Agung melihat Karta. "Pantas dari tadi kamu yang jawab pertanyaan saya. Sudah punya pacar?" Tanya papi Agung membuat mereka terkejut.
"Sudah om," jawab Karta.
"Sayang sekali! Padahal niatnya mau saya jodohkan sama Lya!"
Lagi-lagi mereka semua terkejut.
"Pi," tegur Lya. "Pacarnya bang Karta itu Masyaallah, cantik, baik, lemah lembut, pintar lagi."
"Kamu juga cantik, pintar."
"Tapi gak lemah lembut pi," ujar Diki memotong ucapan papi Agung. "Kasian bang Karta kalau harus sama Lya."
"Heh! Lo pikir gue cewek apaan sampai dia harus kasihan!" Sungut Lya tidak terima, enak saja Diki berbicara seperti itu. Bahkan jika Lya harus menikah dengan Manurios akan bahagia hidup dengannya.
Kevin kembali menggeplak Juna. "Di banding sama cowok jadi-jadian kayak lo, mending Lya sama gue. Lebih terjamin!"
"Gak usah pada ngarep lo pada. Tipe gue bukan kayak lo semua, terlalu rendah. Rubah fulu muka lo kayak Leonardo Dicaprio atau Song Joobg Ki baru gue mau!"
Mereka tertawa melihat muka masam Kevin dan Juna.
"Gimana kalau kamu? Dari tadi kamu diam aja?" Tanya ayah David pada Noah. Orang yang di tanya tersedak ludahnya sendiri.
"Ekhem." Noah mencoba menetralkan dirinya.
"Kalau yang ini biar sama Cla aja, jangan Lya!" Protes Clarissa dengan suara keras tanpa malu.
Diki melempar bantal sofa pada Clarissa. "Ngarep lo!"
"Ih biarin!" Sungut Clarissa.
Ayah David tertawa. "Emang Noah mau sama kamu? Kan kalian gak kenal!" Clarissa merengut kesal. "Udah kenalan! Pendekatannya nanti aja, seiring berjalannya waktu."
Noah malu. Dia bukan tersipu, dia malu karena gadis di dekatnya ini dengan gampang mengucapkan perkataan itu di depan orang tua.
"Cieeee Noah, akhirnya setelah sekian lama," goda Juna.
__ADS_1
"Iihiwww bang Noah mukanya merah!" Keenan ikut-ikutan menggoda Noah.
"Jangan di gituin woy! Entar gak bisa tidur dia," ucap Kevin, namun dia juga tengah menatap Noah dengan senyum anehnya.
Lya tertawa terbahak-bahak. "Bang Noah kalau sama Clarissa bakalan istigfar setiap saat!"
Mira yang sedari tadi diam pun ikut bersuara. "Tapi kalau diliat-liat mereka cocok loh. Yang satu pendiam yang satu berisik."
Eadred tertawa. "Nanti bakalan jadi couple goals di sekolah."
Noah sudah tidak tahan. Dia menatal kesal teman-temannya, melirik Clarissa yang tengah tersenyum malu. Noqh tidak suka berada di posisi seperti ini.
"Gak usah aneh-aneh!" Jawab Noah dingin.
Malam iru jadi perbincangan hangat yang sangat jarang terjadi di rumah itu. Mereka yang semula tidak saling kenal menjadi dekat meski hanya sekedar batas kenalan.
...🌻...
Seharian ini Lya benar-benar di buat kesal oleh Clarissa. Gadis itu terus merecoki Lya yabg trngah merapikan barang-barangnya yang varu saja dia ambil dari rumah Diki. Meski tidak semua, tapi cukup membuat Lya menghabiskan banyak tenaga untuk membereskannya. Belum lagi harus menghadapi manusia berisik yang tengah berbaring di kasurnya ini.
"Gel Gel, kaka Noah beneran gak pernah pacaran?" Tanya Clarissa.
"Gak tau!"
"Ih kok gak tau sih! Gel Gel harus tau lah kan kalian teman!"
Lya mendengus kesal. Sangat kesal bahkan rasanya dia ingin melempas gadis dengan muka bule ini ke kali Ciliwung. "Gue gak sedekat itu buat tau urusan pribadi mereka Clarissa, stop tanya-tanya gue lagi!"
"Gel Gel jangan galak-galak!"
Clarissa memang seperti itu. Jadi Lya harus sabar dan memakluminya, HARUS.
Hanya Clarissa yang memanggil Lya dengan sebutan Gel Gel. Kata dia itu khusus darinya. Lya tidak peduli karena jika di tolak pun Clarissa akan tetap memanggilnya begitu.
"Jalan-jalan yuk," ajak Clarissa pada Lya.
"Males! Gue capek!"
"Ayolah! Sebentar aja, aku pengen makan jagung bakar. Udah lama banget gak makan itu," bujuk Clarissa pada Lya. "Please!"
Lya menghela nafasnya. "Ayo!" Ucapnya membuat Clarissa melompat kesenangan.
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)
__ADS_1