SEFIRA

SEFIRA
GL 39


__ADS_3

Mencintai seseorang itu bukanlah kesalahan. Perasaan itu tidak bisa di tentukan, akan jatuh kepada siapa, akan pergi dari siapa, akan memilih siapa. Banyak pilihan, tapi sulit menentukan.


Cinta itu buta! Mereka yang merasakan itu tau, tapi mereka memilih mengabaikan.


Mereka tau bahwa sakit akan mendatangi mereka, namun mereka memilih menunggu.


Bukankah itu bodoh? Tqpi begitulah cinta!


...🌻...


"Senyum-senyum sendiri, kenapa lo?" Tanya Lya menatap aneh pada Diki yang tengah tersenyum manis pada layar ponselnya. "Gila ni bocah!" Gumam Lya.


Diki memeluk guling dengan erat, wajahnya memerah dengan senyum yang tidak luntur. "Anjing! Kenapa Chintya bisa sweet begini sih," pekik Diki tertahan.


Lya mendengus. "Bucin! Jijik gue liat lo, keluar sana," usir Lya pada Diki dari kamarnya. Lay sudah tau kalau sepupunya itu sudah resmi menjalin hubungan dengan gadis bernama Chintya tiga hari yang lalu.


"Hai!"


Lya menoleh dan menatap jijik Diki yang tengah melakukan video call dengan Chintya.


"Kamu dimana? Kamar kamu ganti?"


"Gak kok! Ini kamar Lya," jawab Diki lalu bangkit dan menyorot Lya dengan kameranya. "Ya, kenalan sama Chintya."


Lya menghindar, dia tidak mau di sorot kamera Diki. "Ck.. apaan sih? Balik ke kamar lo sana!" Tolak Lya.


"Kenalan dulu!" Titah Diki. "Hai gue Lya," ujar Lya akhirnya. Diki mengarahkan kameranya pada mereka berdua.


"Hai Lya! Aku Chintya, salam kenal yah."


Lya hanya mengangguk. "Keluar sana!" Usir Lya pada Diki.


Diki berjalan keluar kamar tanpa menutup pintu, itu membuat Lya hampir berteriak memaki Diki.


"Kayaknya Lya gak suka sama aku."


Samar-samar Lya bisa mendengar suara dari Chintya saat hendak menutup pintu.


"Lya emang begitu orangnya, tenang aja dia baik kok!"


"Hehe iya sayang."


Hampir saja Lya memuntahkan makan malamnya. Jijik sekali dia harus mendengar kata-kata seperti itu.


Lya merebahkan tubuhnya di kasur.


Clarissa is calling.....


Lya mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Clarissa.


"What?"


"GELLL GELLLL!"


Sialan! Batin Lya. Tidak bisakah gadis bule ini berhenti berteriak jika memanggil namanya.


"Gak usah teriak-teriak Cla, gue gak budek!" Jawab Lya yang sedang malam berdebat.

__ADS_1


"Oh my God! Gel Gel, kamu harus tau! Kak Noah ngechat aku, dia balas chat aku. I'm so happy!"


Lya memejamkan matanya menahan kesal. Bucin lagi.


"Good!" Balas Lya singkat.


"Gel gel? You oke? Are you sick? Suara kamu kedengaran lemes banget."


"Nggak! Gue gak sakit. Cuma ngantuk aja," jawab Lya.


"Padahal aku pengen cerita banyak, tapi gak apa-apa. Kamu tidur aja, good night!"


"Hm!" Jawab Lya singkat lalu mematikan sambungannya.


"Ini gue kesal sama mereka karena iri gak bisa ngebucin atau karena emang gue jijik aja?" Gumam Lya menatap langit-langit kamarnya. "Lya, Lya! Hidup kok di bawa susah. Santai aja, cinta bukan segalanya!" Ujar Lya meremehkan ucapannya sendiri.


Lya salah! Banyak orang berpijur kalau mereka bisa hidup tanpa cinta dan menganggap cinta itu bukan segalanya.


Tapi kenyataannya, cinta itu selalu menyertai setiap orang. Untuk dia yang sedang patah hati, dia yang sedang patah semangat, dia yang bahagia, dia yang berada di masa kejayaannya. Mereka pasti butuh cinta dan cinta akan selalu datang kepada setiap orang meski dalam waktu yang berbeda-beda.


Mungkin Lya tidak mengerti itu atau memilih untuk tidak mengerti.


...🌻...


"Pagi-pagi udah kelipet aja tuh muka," celetuk Keenan yang berjalan di samping Lya. Keenan baru saja memarkirkan motornya dan melihat Lya yang berjalan sendirian memasuki gerbang.


"Gak usah nyari gara-gara, gue lagi gak mood!" Jawab Lya ketus.


Keenan mengerutkan keningnya. "Diki mana?" Tanyanya mencari keberadaan Diki.


Muka Lya semakin tertekuk. "Gak usah nyebut nama dia! Males gue."


Lya menatap Keenan dengan mata berkaca-kaca, bibirnya bergetar membuat Keenan panik melihat Lya yang sedang menahan tangis. "Ya, kenapa? Ja-jangan nangis!" Ujar Keenan gelagapan.


Lya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "HUUUUAAAAAA KEENANN!"


Keenan gelagapan, dia melirik murid-murid yang tengah melihat dia dengan pandangan tajam. "Ya jangan nangis aduhh. Kenapa sih?" Panik Keenan.


"Huwaaa lo hiks pengertian banget hiks.. Diki ninggalin gue buat jemput Chintya hiks.. dia gak bilang dulu ke gue hiks ayah udah berangkat hiks ke rumah sakit hiks.. bunda juga pergi ke pasar hiks.. mobil hiks di rumah papi hiks.. Diki jahat hiks banget.. huwaaaaaa hiks haaawww..." Keenan segera menarik Lya untuk pergi dari sana, toilet adalah tujuan utama Keenan.


"Diki jahat banget Nan hiks.. kenapa dia gak bilang dulu hiks pas malam hiks.. coba dia bilang hiks gue kan hiks.. bisa nyuruh Cla jemput hiks.. jahat banget hiks.. huwaaaaa haaaa!" Tangis Lya di dalam rangkulan Keenan.


Keenan menepuk-nepuk punggung Lya menenangkan. "Sstt.. jangan nangis! Nanti cantiknya hilang."


Bukannya berhenti, tangis Lya makin kuat. "HUAAAA GUE GAK MEMPAN DIGITUIN NAN HUWAAAA HAAAAAA!" Keenan panik dan langsung membekap mulut Lya.


"Aduh Diki sialan. Mati gue!" Umpat Keenan. "Ya, udah ya nangisnya. Kita lagi di sekolah, nanti anak-anak pada mikir yang nggak-nggak ke kita, terutama ke gue," ujar Keenan mencoba menenangkan Lya.


Puk


Sebuah hoodie jatuh tepat di kepala Lya. Lya masih terisak sembari menunduk sedangkan Keenan terkejut menatap Devan yang berdiri di belakang Lya.


"Udah mau bel, kenapa gak masuk kelas?" Tanya Devan dengan wajah datarnya.


"Gue lagi dapat bencana! Bayi dugong lagi nangis karena sepupu dugongnya ninghali dia," jawab Keenan asal.


Lya tidak memperdulikan sekitar, gadis itu berjongkok sembari menundukkan kepalanya. "Ya, kita ke kelas aja ya, nanti gue marahin Diki," bujuk Keenan.

__ADS_1


Merasa tidak dapat jawaban, Keenan ikut berjongkok untuk melihat wajah Lya. Laki-laki itu menyingkap hoodie Devan yang menutupi kepala Lya. "Astagfirullah hahahaaa! Muka lo jelek banget Ya, mata bengkak, hidung merah, muka merah, bibir pucat," ujar Keenan memelankan suara di akhir kalimat. Mata Keenan melotot tiba-tiba. "Ya! Bibir lo pucet banget, astagfirullahaladzim! Sakit lo?" Tanya Keenan panik.


Devan yang mendengar itu ikut berjongkok. "Badan lo panas," ujar Devan setelah menempelkan punggung tangannya pada kening Lya.


"Perut gue sakit," cicit Lya. "Ini hari perrama gue datang bulan!"


Keenan menepuk tangannya saat tau kenapa Lya menjadi cengeng begini. "Pantes lo ketus banget tadi, cengeng banget lagi," uajr Keenan.


"Ngapain kalian disini?" Tanya seorang guru wanita yang terlihat sudah sangat berumur.


Keenan dan Devan segera berdiri. "Anu buk, ini Lya lagi gak enak badan," jawab Keenan cepat.


Guru itu berjongkok dan mengecek kondisi Lya. "Demam ini. Salah satu dari klaian bawa Lya ke UKS."


Keenan dan Devan saling tatap. "Gue minta tolong boleh? Gue MTK hari ini, gak berani bolos!" Cicit Keenan pada Devan.


Devan tidak menjawab, dengan wajah datarnya dia segera menggendong tubuh mungil Lya dan membawanya ke UKS.


Dapat Devan dengar bahwa Lya masih sesegukan. Kepalanya menyandar di dada bidang Devan. Banyak murid yang belum masuk kelas menatap Devan penasaran, tidak sedikit gadis-gadis yang merasa iri pada Lya.


"Siapa tuh yang di gendong Devano?"


"Dih! Pagi-pagi udah bikin jomblo jungkir balik aja!"


"Itu Lya tuh! Hafal gue tasnya."


"Lya kenapa ya?"


"Mereka ada hubungan apa?"


Bisikan-bisikan itu tidak di hiraukan Devan. Dia mempercepat langkahnya yang lebar itu.


Saat sampai di UKS, Devan membaringkan tubuh Lya di brangkar pesakitan. Devan mengedarkan pandangannya mencari petugas UKS namun tidak ada disana. Dia kembali menatap Lya yang tengah meremas perutnya.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Devan.


"Sakit!" Ringis Lya.


"Harus minum obat apa?" Tanya Devan lagi. Dia sangat tidak paham dengan hal seperti ini.


Ceklek


"Ya ampun! Kamu kenapa?" Tanya seorang petugas UKS yang baru datang.


Devan mendengus kesal. "Gak liat dia lagi kesakitan? Makek nanya lagi!"


Petugas itu sedikit terkejut mendengar suara dingin Devan. Namun dia segera memeriksa kondisi Lya.


"Kamu bisa belikan kiranti untuk Lya?" Tanya perawat itu pada Devan.


Devan mengerutkan keningnya. "Hah?" Beonya tidak paham.


"Dia demam, saya sudah kasih paracetamol, dia bilang ini mungkin karena hari pertama menstruasi dia. Kamu bisa belikan dia kiranti di indom depan, satu aja."


Devan tidak mengerti ucapan petugas ini, namun melihat Lya yang terlihat sangat kesakitan membuatnya mengangguk. Petugas itu memberikan sebuah kalung tanda pengenal petugas UKS pada Devan agar dia bisa keluar sekolah dengan aman.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2