
Malam harinya, setelah solat magrib. Fira dan Lia duduk kembali di ruang tengah, Fira sibuk mencari seller di aplikasi icommers berwarna orange dan Lia menghubungi abang baja bangunan untuk membuatkan mereka rak bersusun serta stand hanger.
"Lia kakak udah nemu nih seller nya," ujar Fira kegirangan memperlihatkan ponselnya kepada Lia. "Sebaiknya kita pesan berapa pc ya per model per warna?" Tanya Fira bimbang.
Lia terlihat berpikir. "Hm gimana kalo 10 per warna dulu kak?" Ujar Lia memberi masukan. "Gini, kakak tau sendiri kondisi rumah dan luasnya berapa dan juga kita gak tau seberapa minat orang-orang sama pakaian yang kita jual. Itung-itung percobaan dulu kak, kalau nanti kehabisan kita bisa pesan lagi. Kita juga gak bisa pesen terlalu banyak, nanti mau di taruh dimana?" Terang Lia. Fira mengangguk paham.
"Oke siap!" Semangat Fira. "Kamu sudah hubungin tukang baja ringan yang kamu maksud?" Tanya Fira menatap Lia.
Lia mengangguk. "Sudah kak, besok tukangnya kesini."
"Sudah-sudah ayo makan dulu," ucap nenek Uti yang baru datang dari arah dapur.
Fira dan Lia menoleh, disana sudah tertata rapi makan malam mereka. "Nek, maaf Fira gak bantuin," lirih Fira.
"Sudah gak papa. Ayo nanti dilanjut lagi," ajak nenek Uti. "Melihat bagaimana semangat kalian berdua membuat nenek seneng." Fira hanya membalas ucapannya dengan tersenyum haru.
Mereka makan dengan nikmat meski lauknya hanya tahu goreng dengan sambal terasi dan sayur bening.
"Oh ya nak, berapa usia kandungan kamu?" Tanya nenek Uti setelah menghabiskan makanannya.
Fira menunduk memegang perutnya. "Belum tau nek, karena belum ke dokter," lirih Fira.
"Bagaimana kalau lusa kita pergi ke bidan bu Indah kak?" Tawar Lia semangat. "Karena besok ada tukang dateng, jadi kita gak bisa pergi besok kak," lanjutnya.
"Udah kalian perginya besok aja, biar nenek yang dirumah temani tukang bangunannya," ujar nenek Uti tersenyum.
"Nenek gak kepasar?" Tanya Lia polos dibalas gelengan kepala oleh nenek Uti. "Baiklah besok kita pergi kak."
Buliran air mata Fira lolos begitu saja melihat bagaimana baiknya nenek Uti dan Lia. Disaat tidak ada yang mau merangkulnya bahkan keluarganya sendiri membuangnya tapi nenek Uti dan Lia yang baru dia kenal sehari merentangkan tangan mereka untuk memeluk Fira, membantunya untuk keluar dari gelapnya dunia, membuka matanya bahwa di dunia ini dia tidak sendirian.
"Lah kakak kenapa nangis," cetus Lia menatap Fira, dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih atas kebaikan kalian," lirih Fira sesegukan. Nenek Uti yang mengerti berjalan mendekati Fira dan merangkulnya. "Tidak ada yang namanya terima kasih untuk keluarga," ujar nenek Uti membuat Fira semakin terisak.
Lia yang akhirnya mengerti ikut memeluk Fira. Dia tidak bisa bayangkan bagaimana hidup seperti Fira yang sebatang kara, tidak ada sanak keluarga yang mau merangkulnya setelah kematian kedua orang tuanya dan sekarang hamil diluar nikah karena suatu kejadian dan tidak dipertanggung jawabkan. Dia sangat bersyukur masih memiliki nenek Uti yang selalu berusaha mencukupi kebutuhannya. Meski neneknya tidak muda lagi, tapi semangat sangat muda. Lia kadang memikirkan bagaimana neneknya yang sudah tua harus banting tulang untuknya, itulah mengapa dia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, dia ingin membantu neneknya mencari nafkah meski hanya menjadi kuli di pasar atau membantu neneknya berjualan.
...***...
Matahari datang menyapa penduduk bumi. Suara ayam berketok saling bersautan dan kicauan burung membangunkan insan yang masih terlilit selimut. Udara di kampung sangat dingin alami tanpa AC.
Fira sudah berkutik di dapur membuat sarapan untuk mereka bertiga. Nenek Uti pergi ke samping rumah untuk memetik cabai dan tomat yang ia tanam. Lia? Masih tidur.
Fira hanya membuat nasi goreng untuk menu sarapan mereka. Karena persediaan bahan masak tidak ada, nenek Uti selalu beli setiap hari karena tidak memiliki kulkas untuk menyimpannya.
Setelah jadi, Fira menyimpan di tiga piring dan menatanya di tikar yang sudah terkelar.
__ADS_1
"Kamu bangunkan adekmu aja biar nenek yang lanjut siapin yang lain," titah nenek Uti yang diangguki Fira.
Fira kemudian menuju kamarnya Aulia. "Lia bangun!" Ucap Fira sedikit teriak sambil mengetuk beberapa kali pintu kamarnya.
"Lia bangun sarapan!"
"Iya kak," balas Lia dari dalam.
Mendengar jawaban Lia, Fira kembali menuju ruang makan. Bukan ruang makan sebenarnya tapi teras ruang tengah yang kadang di jadikan tempat mereka makan.
"Sudah?" Tanya nenek Uti yang melihat Fira berjalan kearahnya.
"Sudah nek," jawab Fira.
"Kalau kamu sudah lapar, makan duluan gak papa nak, kasian anak kamu kelaparan," pinta nenek Uti. "Tidak nek, aku tunggu Lia biar kita makan bersama," tolak Fira.
Tidak lama Lia berjalan kearah mereka dengan wajah bantalnya sesekali menguap. Mereka membaca doa kemudian sarapan dengan nikmat seperti biasa.
Mereka sarapan di temani suara sahut-sahutan para warga sekitar yang sudah memulai aktifitas mereka.
"Jam berapa kalian akan ke bidan?" Tanya nenek Uti kepada kedua cucunya.
Fira menoleh kearah Lia yang makan sembari menutup mata, Fira menatan tawa melihatnya. "Sekitar jam sembilan nanti nek," jawab Lia yang seakan mengerti tatapan Fira.
"Fira keluar sebentar nek," pamit Fira.
"Mau kemana kak?"
"Ke penjual sayur."
"Ikut!" Fira menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar.
"BU SAYUR!" Teriak Lia tepat di samping Fira membuatnya menutup telinganya.
"Eh nak Lia," ujar penjual sayur tersebut kemudian menatap Fira. "Ini siapa?" Tunjuknya.
"Dia sepupu saya bu," jawab Lia bohong, tentu menggunakan bahasa jawa.
Fira yang tidak mengerti percakapan antara Lia dan ibu-ibu itu hanya diam memilih beberapa sayur dan bumbu-bumbu yang dia rasa sudah habis di dapur.
"Bu Uti kemana? Dia belum bayar utangnya," ujar penjual sayur.
Fira yang sedikit mengerti di kalimat 'bayar utang' pun membuka suara. "Biar saya yang bayar bu sama ini sekalian," sahut Fira.
Ibu penjual dan ibu-ibu yang sedang membeli sayuran menoleh kearahnya. "Orang kota kah?" Tanya salah satu ibu-ibu tersebut. Fira hanya menanggapinya dengan senyuman.
__ADS_1
"Kamu mau apa Lia?" Tanya Fira menoleh kearah Lia yang sedari tadi melirik jajanan basah.
"Gak ada kok kak," elak Lia tersenyum.
"Udah ambil aja," paksa Fira.
Lia yang mendengar itu berbinar lalu mengambil jajanan tersebut. "Ini aja kak."
"Jadinya berapa bu?" Tanya Fira kepada penjualnya.
Penjual tersebut mengambil gresek hitam kemudian memasukkan belanjaan Fira berupa ayam setengah kilo, bawang merah setengah kilo, bawang putih setengah kilo, kangkung seikat, terasi, kacang panjang seikat, tempe dua, cabai rawit, cabai merah, dan jajan Lia. "Jadinya sembilan puluh dua di tambah utang bu Uti jadi seratus tiga puluh delapan," beritahu penjual tersebut.
Fira mengeluarkan uang pecahan seratus dan lima puluh. "Ini bu."
"Ini kembaliannya neng," ujar penjual tersebut. Fira mengambilnya dan Lia membawa belanjaan mereka.
Sesampainya di rumah, Lia membawa belanjaan mereka ke dapur. "Ya Allah apa ini banyak sekali," kaget nenek Uti melihat Lia menenteng gresek besar.
"Ini bahan masak buat nanti nek, kakak yang beli," tunjuk Lia kepada Fira.
"Astaga kenapa sebanyak ini nak."
"Gak papa nek, itung-itung membalas kebaikan nenek sama Lia."
...***...
...SPOI NEXT!...
"Ma bangunkan lagi, apa dia tidak sekolah? Jam segini masih tidur. Siram aja seperti biasa," titah Larry kepada istrinya yang baru kembali dari depan.
Baru saja Sonya akan menaik tangga dirinya sudah di kagetkan dengan suara anaknya itu.
"MAMAAA KENAPA GAK BANGUNIN DAVE!" Teriak Dave tergupuh-gupuh menuruni tangga dengan keadaan mengenaskan. Baju yang di kancing atas sebelah, dasi yang masih belum terpasang, rambut yang berantakan dan jangan lupakan tali sepatu yang belum diikat.
Sonya terkejut mendengar teriakan anak perjakanya itu. Perjaka? Hm entahlah. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya melihat bagaimana penampilan anaknya yang jauh dari Dave yang dulu ia kenal rapi.
Tidak jauh berbeda dengan Sonya, Larry pun menggelengkan kepalanya melihat anaknya itu, dia berusaha menahan tawa.
"Sudah tapi kamu gak bangun-bangun," jawab Sonya santai sambil duduk di kursi ruang makan bersama suaminya.
"Papa bingung dengan sifat kamu akhir-akhir ini pemalas, tidak rapi kayak brandalan, dan ini sudah jam berapa Dave kamu belum berangkat sekolah," cetus Larry. "Mana kewibawaan yang selama ini kamu tampilkan, hm?"
...🌱...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan biar aku makin ++ updatenya!
__ADS_1