
"Daddy," panggil Gavin. "Avin tidur dimana?" Tanya nya.
"Avin tidur bareng daddy, mau?" Tawar Dave berharap.
Gavin tersenyum mengangguk. "Mauu," jawab Gavin antusias.
"Kalau gitu, ayo kita ke kamar di atas," ajak Dave menggandeng tangan Gavin menaiki tangga.
"Daddy pinjam sajadah, sarung sama peci. Avin belum sholat isya," ucap Gavin mendiami Dave.
"Sa-saja-dah?" Beo Dave yang diangguki Gavin polos.
Dave merasa malu dan tertampar dengan penuturan Gavin karena dia saja yang dewasa sudah lupa bagaimana cara dan bacaan sholat. Dave diam berpikir, memutar otak dimana dia bisa mendapatkan semua yang di minta anaknya. Pasalnya dia tidak mempunyai semua itu. "Hm.. gini Avin whudu aja dulu, nanti daddy siapin semuanya," titah Dave setelah lama terdiam dan Gavin mengangguk. "Iya dad," jawabnya langsung ke kamar mandi.
Dave yang melihat Gavin sudah benar-benar masuk, segera keluar kamar mencari penjaga vila untuk meminjam semua yang anaknya inginkan.
"Pak Iza!" Panggil Dave di depan pintu dengan suara sedikit tinggi.
"Pak Iza!" Panggil Dave lagi dengan suara lebih tinggi karena pak Iza tidak merespon.
Pak Iza yang samar-samar namanya di panggil berlari dengan tergupuh-gupuh menghampiri Dave. "Iya pak?"
"Bapak punya sajadah, sarung sama peci gak?" Tanya Dave to the point.
Pak Iza mengangguk pelan. "Punya pak, ada apa?" Tanya pak Iza penasaran karena untuk pertama kalinya tuannya ini menanyakan hal tersebut.
"Saya pinjam sebentar pak. Buruan!" Pinta Dave.
"Hah?" Beo pak Iza.
"Aduh pak jangan bengong. Ayo ambilkan, saya pinjam sebentar," ujar Dave cepat.
"Baik pak. Tunggu sebentar," balas pak Iza kemudian berbalik dan berlari mengambil apa yang diinginkan tuannya.
Setelah tiga menit berlalu, pak Iza kembali dengan sajadah, sarung dan peci di kedua tangannya. "Ini pak."
__ADS_1
"Makasi pak. Bapak bisa lanjut kerja," ucap Dave. Dia langsung berlari meninggal pak Iza yang masih bingung dengan kelakuan Dave.
Ceklek
Gavin melihat siapa yang buka pintu. "Daddy dari mana aja?" Tanya Gavin langsung.
Dave menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Hehe ini daddy bawain buat kamu sholat. Tadi, semua ini ada di bawah makanya daddy keluar ambilin," alibi Dave. Jujur, dia sangat malu jika mengatakan tidak memiliki itu semua.
Gavin menerimanya. "Kiblat hadap mana, dad?" Tanya Gavin lagi. Karena ini adalah pertama kalinya dia sholat di vila.
Dave gelagapan mendengarnya. "Kiblat? Hm.. daddy bi-biasanya sholat di mushola bawah. Jadi ya kalau di atas lupa arah kiblat dimana," alibi Dave terbata-bata. Wajahnya sudah memerah menahan malu yang entah malu kepada siapa, anaknya atau Tuhannya.
"Sebentar daddy ingat-ingat dulu," ujar Dave kemudian keluar kamar meninggalkan Gavin yang tengah menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal karena bingung.
Gavin kembali duduk di pinggir ranjang king size milik daddy nya menangkup pipinya dengan kedua tangannya. "Daddy aneh."
"Bi," panggil Dave. "Bibi," panggilnya lagi.
"Ada yang bisa di bantu pak?" Tanya Siti yang kebetulan dengar Dave memanggilnya.
"Hah?" Beo Siti. Jujur Siti terkejut mendengar pertanyaan majikannya.
"Oh ha iya maaf. Ke sana pak," ujar Siti menunjuk arah kiblat.
Tanpa membalas ucapan Siti, Dave langsung berlari kembali ke kamarnya.
...🌱...
Samar-samar Gavin mendengar suara azan. Gavin mengerjapkan matanya lucu, melihat tangan kekar yang melingkar memeluknya membuatnya tersenyum senang. Akhirnya momen yang dia tunggu-tunggu datang, tidurnya sangat nyaman dalam dekapan ayahnya. Senyum di bibirnya tak pernah luntur, matanya sibuk memandang wajah Dave yang tenang dalam tidurnya.
Terima kasih Ya Allah. Batin Gavin dengan mata berkaca-kaca.
"Daddy," panggil Gavin pelan. "Daddy bangun sudah subuh," panggilnya lagi sambil menggoyangkan tubuh Dave pelan.
Dave menggeliat lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Dengan cahaya remang-remang ia melihat Gavin di sampingnya yang sedang duduk melihatnya, sedetik kemudian dia tersenyum melihat anaknya yang juga ikut tersenyum.
__ADS_1
"Morning Avin," sapa Dave dengan suara serak khas bangun tidur.
"Morning dad," balas Gavin. "Ayo dad sholat subuh nanti keburu habis waktunya," ajak Gavin membuat senyum Dave luntur.
Lagi dan lagi Dave merasa malu dengan anaknya sendiri yang tidak pernah lupa dengan kewajibannya. Dave merasa harga dirinya jatuh karena dia tidak bisa apa-apa. Jangankan sholat, whudu aja dia lupa urutannya.
Dave mengangguk ragu mengiyakan. "Ay-ayo kita whudu ba-bareng," ajak Dave yang diangguki Gavin.
Mereka berjalan beriringan ke kamar mandi. Sesampainya di sana, Dave bukannya whudu bareng tapi bersender di tembok. "Avin duluan aja whudunya, daddy belakangan. Soalnya daddy mau buang air dulu," alibi Dave.
Gavin mengangguk. "Iya dad," jawab Gavin.
Dengan seksama Dave memperhatikan tata cara Gavin berwhudu. Hatinya sakit karena tidak bisa jadi ayah yang baik yang bisa membimbingnya ke surga.
"Daddy gak lama kan? Avin akan tunggu, kita sholat berjamaah," kata Gavin penuh harap.
Dave tercengang gelagapan sendiri. "Ha? Ah oh? Itu hm? Ka-kamu sholat duluan aja kalo nungguin daddy takutnya nanti kelamaan," jawab Dave beralasan.
Senyum Gavin kini tak selebar tadi sebelum mendengar perkataan Dave dan Dave melihat itu. Lagi dan lagi dia merasa tidak berguna jadi seorang ayah, mata Dave sudah berkaca-kaca melihat anaknya yang hanya mengangguk lemah lalu keluar dari kamar mandi.
"Maafin daddy nak," gumam Dave lirih. "Tapi daddy janji akan belajar demi kamu dan tentunya demi bunda Avin juga," lanjutnya lalu membasuh wajahnya.
Titik demi titik air mata Dave jatuh bercampur dengan air kran yang tadi ia gunakan untuk membasuh wajahnya. Dave menghembuskan nafasnya panjang menenangkan hati dan pikirannya.
Di rasa sudah merasa tenang, dave lalu mengambil whudu seperti yang ia lihat saat Gavin whudu tadi tanpa niat. Tapi tentu saja tanpa niat tidak akan sah.
Dave membuka pintu kamar mandi, yang pertama kali ia lihat adalah Gavin yang tengah duduk sedikit miring di atas sajadah menghadap barat dengan tangan kanan mengepal dan telunjuk yang menunjuk lurus sedikit kebawah. Dave juga melihat mulut Gavin yang melafazkan bacaan sholat dengan lancar.
Seketika Dave merasa insecure dengan anaknya sendiri. Karena dalam hal agama anaknya melakukannya dengan baik, sedangkan dirinya tidak tau apa-apa mengenai agama. Bahkan dirinya lupa kapan terakhir kali dia melaksanakan sholat, dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri tanpa mengingat Tuhan tanpa mengingat kewajibannya sebagai umat muslim. Malu, sakit hati, insecure jadi satu dalam diri Dave saat ini.
Dia sudah bertekad setelah ini dia harus menemui Sefira untuk meminta bantuannya dalam hal ini.
...🌱...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan gengs!
__ADS_1