
Lya hanya mendengus. "Mending langsung bagiin soalnya terus pergi dari sini," balas Lya membuat Bu Lidia menatapnya tajam.
"Kamu benar-benar tidak punya sopan santun!"
Beberapa murid yang belum mendapatkan soal menoleh pada meja Lya, mereka mencari tau mengapa guru itu lama sekali berjalan.
"Ibu gak liat mereka nungguin ibu? Ngapain berdiri disini lama-lama? Rindu saya?" Tanya Lya. Bu Lidia dengan cepat berjalan dengan kesal.
"Stt.. sabar dulu, jangan sampai lo gak ujian karena buat masalah sama dia," bisik Keenan. Pasalnya selutuh teman kelas Lya tahu bahwa guru bahasa Inggris itu sangat bermusuhan dengan Lya. Lya mendengus kesal, kenapa harus guru itu yang memulai harinya.
Lya mulai menjawab soal-soal dengan santai. Berbeda dengan murid lain, bisik-bisik keluhan sudah Lya dengar sedari tadi. Noah dan Karta tidak jauh beda dengan Lya, mereka mengerjakan soalnya dengan tenang. Bisa dibilang otak Noah dan Karta lumayan encer.
"Mana jawabannya nih?" Bisik Keenan menatap kertas coretannya, dia sudah mencari jawaban tapi tidak ada yang cocok satu pun dengan yang ada di lembar soal. "Ya! Lyaa!" Bisik Keenan sekecil mungkin. Lya menoleh dan menaikkan salah satu alisnya. "Nomor dua," bisik Keenan lagi.
"A," Keenan berjengit, tidak hanya Keenan. Karta bahkan Noah yang dudiknya lumayan jauh dari Lya juga mendengar suara Lya. Pasalnya gadis itu menjawab tanpa berbisik.
"Itu yang di belakang kenapa?" Tanya Bu Lidia, Keenan menunduk takut. Karta dan Noah juga sedikit deg-degan saat melihat bu Lidia berjalan kearah mereka lebih tepatnya kearah Lya. "Apa yang kamu sebut A tadi?"
"Jawaban," jawab Lya pelan.
"APA?" Tanya bu Lidia tidak percaya.
"Jawaban buk! Yang A itu jawaban nomor dua, nomor tiganya C."
"GELYAA!" Tegur bu Lidia.
Seluruh teman kelas sepuluh yang mendengar itu pun langsung menandai jawaban mereka. Bukan rahasia lagi, Lya adalah murid terpintar di kelasnya. Mereka semua tau hal itu tanpa diragukan. Sedangkan murid kelas sebelas menganga mendengar jawaban Gelya.
"Gelya serahkan lembar jawaban kamu," ujar Bu Lidia mebgambil kertas jawaban Lya, gadis itu hanya diam. "Keluar sekarang," tambah bu Lidia laku berjalan menuju mejanya.
Lya tersenyum miring, dia mengambil tasnya dan berjalan tepat di belakang guru itu.
Puk
Sebuah kertas terjatuh di atas meja Keenan tanpa diketahui Bu Lidia. Lya berjalan di tanpa kata sedangkan Keenan hampir saja berteriak kesenangan. Dia menatap Lya dengan tatapan bersyukur.
__ADS_1
Debgan cepat Keenan menyalin jawaban dari kertas coretan yang sengaja Lya berikan padanya. Noah dan Karta menatap cengo Keenan. Bagaimana bisa mereka melakukan itu dengan sangat rapi. Bahkan hampir seluruh murid menatap iri pada Keenan. Tapi mereka tidak bisa melakukan apapun, jika mereka mengadu maka mereka harus menanggung akibatnya karena berurusan dengan anggota Rakasa.
Untunglah Keenan tidak pelit, dia juga membagu jawabannya pada teman-teman sekelasnya, meski harus berhati-hati agar tidak ketahuan tapi mereka berhasil mendapatkan semua jawaban.
Di sisi lain, Lya tengah berdiri di depan kelas Diki. Dia tertawa melihat muka Diki yang memerah menahan gila. Lya mencari posisi aman supaya tidak terlihat pengawas tapi bisa di lihat oleh Diki. Diki yang melihat Lya pun tersenyum lega.
Lya memberikan jawaban pada Diki dengan kode jari. Kevin yang duduk di belakang Diki menatap tidak percaya pada Lya yang mendikte jawaban pada Diki dengan sangat mudah. Setelah merasa cukup, Diki langsung mengumpulkan jawabannya. Tapi sebelum itu, tentu saja Diki juga melakukan hal yang sama seperti apa yang Keenan lakukan di kelasnya. Karena prinsip mereka adalah, jawab satu jawab semua.
"Lyaaaaaa sayang banget gueee!" Pekik Diki memeluk Lya erat. Lya berniat mendorong tubuh bongsor Diku namun terhenti saat seseorang ikut bergabung dan memeluknya juga.
"Huaaaa Lyaaa maaciiiw!" Ucap Keenan lebay.
"Heh enak banget sih kalian," celetuk Kevin yang baru keluar.
"Kenapa? Ada apa?" Serobot Juna tidak mau kalah.
"Diki dapat jawaban dari Lya," jawab Kevin.
"Ih serius? Pantes Diki tadi sok pintar ngasih tahu semua teman-temannya," ujar Juna.
"Lo selalu keluar duluan, jawaban lo ngasal ya?" Tanya Elang pada Lya.
Keenan langsung menghadap Elang. "Bang! Lya itu murid terpintar di kelas kami, otaknya gak perlu di ragukan lagi, mau pelajaran apapun itu. Lo tau? Lya pernah debat sama bu Lidia soal jawaban. Terus pernah juga Lya ngebenerin ucapan bahasa Inggris bu Lidia yang salah, eh tu guru malah marah terus ngusir Lya. Alamat deh ban mobil dia di kempesin mereka berdua."
"SERIUS?" Tanya Elang, Kevin dan Juna bersamaan. Lya, Diki dan Keenan mengangguk bareng.
"Pantes bu Lidia keliatannya dendam banget sama lo," celetuk Noah pada Lya.
"Tuh guru aja yang sensi. Dia ngajak gue debat bahasa Inggris dengan pengucapan dia yang pas-pasan itu. Gak tau aja gue lahir dan besar di Amerika," jawab Lya semakin sombong.
"Sombong amat," cibir Juna.
"Mending kita ke markas sekarang," ucap Karta.
"Mereka langsung menuju parkiran. Namun, seseorang menghentikan langkah Karta.
__ADS_1
"Mau ngumpul sama anak Rakasa ya?" Tanya Tiara yang datang bersama Dara.
"Iya," jawab Karta tersenyum, tangannya terulur mengacak rambut Tiara.
"Malah ngebucin!" Celetuk Juna.
"Hidup tanpa bucin bagai taman tak berbunga, haiii begitulah kata Karta dan Tiara," ujar Kevin bernyanyi di tengah-tengah mereka.
Karta mengabaikan mereka. "Mau ikut? Kita mau ke panti."
"Emang boleh?" Tanya Tiara.
"Ya boleh atuh mba! Mana ada yang biaa ngelarang ibu bos. Udah mba Tiara ikut aja, tenang aja ada Lya yang bakal jagain," serobot Lya membuat Tiara dan Dara tertawa. Karta mendengus kesal, dengan cepat dia menarik tangan Tiara untuk berjalan disampingnya.
Diki melirik Dara yang berjalan di samping Tiara. "Hmm.. temannya mba Tiara siapa namanya?" Tanya Diki.
"Gue Dara," jawab Dara tersenyum.
"Cantik banget, saya Diki mba."
PLAKK
Diki mengaduh kesakitan saat Elang menggeplak kepalanya. "Gak usah ganjen, dia cewek gue," ujar Elang. Lya, Juna dan Kevin tertawa.
"Ini cewek-cewek cantik kenapa udah pada sold out sih," sungut Keenan.
Lya mendengus. "Heh.. lo gak nganggap gue gitu? Bisa-bisanya ngomong gitu di dekat gue," maki Lya apda Keenan.
Keenan milirik Lya malas. "Lo mah bukan cewek!"
"Sialan," umpat Lya menginjak keras kaki Keenan membuat Keenan berteriak kesakitan. Lya berjalan cepat mendahului mereka semua.
"Anjing! Gila, Lya gak punya hati banget," ringis Keenan.
"Lo yang gak punya hati, seganas apapun tuh bocah dia tetap cewek. Omongan lo itu mungkin cuma candaan doang, tapi bisa aja buat dia nggak," ujar Diki memperingati Keenan. Diki membuka ponselnya untuk mengecek sesuatu. "Ini jadwal menstruasi dia, jadi kalau ngomong agak di filter dikit. Dia sensi banget kalau awal pms!" Diki berlari menyusul Lya meninggalkan mereka dengan wajah cengo.
__ADS_1
...🌻...
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)