SEFIRA

SEFIRA
Chapters 16


__ADS_3

...I'M BACK GENGS YUHUUU...


"GAVIN GAK MAU MAKAN!"


Fira yang mendengar suara tinggi anaknya tersentak, ia menatap anaknya sendu. "Kenapa hm?" Tanya Fira lembut mengusap kepala anaknya. "Mau main?"


"Gavin sarapan dulu baru main," ujar Fira.


Gavin hanya terdiam dan mengerucutkan bibirnya menatap sembarang arah.


"Cerita sama bunda kenapa?"


Gavin Anggara, bayi yang dulu sangat kecil sekarang tumbuh menjadi balita berusia empat tahun yang sangat aktif. Gavin tumbuh jadi balita yang periang tapi kadang kala ia menjadi pendiam saat teman-temannya mengejek bahwa ia tidak mempunyai ayah.


Banyak yang berubah selama empat tahun belakangan ini, Lia yang sudah lulus sekolah dan sekarang kuliah semester dua dengan bantuan beasiswa, nenek Uti yang sudah dipanggil Tuhan dua tahun yang lalu, dan Fira yang menjadi ibu hebat sekaligus owner toko pakaian yang berkembang pesat.


Dirumah hanya ada mereka berdua karena Lia sudah berangkat kuliah.


"Kemarin Budi katain Gavin gak punya ayah," lirih Gavin menundukkan kepalanya.


Fira yang mendengar itu menatap anaknya sendu. "Sayang liat bunda," titah Fira memegang dagu Gavin. "Ayah ada disisi kita tapi kita tidak bisa melihatnya karena sudah dipanggil sama Allah."


"Sama seperti mbah Uti," lanjut Fira.


"Bukannya mbah ada didalam tanah bunda?" Tanya Gavin polos.


Fira tersenyum mendengar pertanyaan anaknya, ia membelai rambut pendek anaknya itu. "Suatu saat nanti kamu pasti mengerti," ujar Fira.


"Sudah sekarang Gavin sarapan terus kita ke toko, ini udah siang nak," titah Fira yang langsung di patuhi Gavin.


...***...


"Besok kita lihat pembangunan Vila yang ada di Bandung," ucap Larry disela makan malamnya.


"Stefi mau ikut pa."


"Kita semua besok kesana," ujar Larry membuat Stefi bersorak senang. "Bagaimana son?" Tanyanya kepada Dave yang diangguki singkat.


"Kita kesana pagi terus sorenya baru pulang."


...***...


Minggu yang cerah, hari yang ditunggu-tunggu para human untuk bersantai menghilangkan penat setelah sepekan memikirkan dan mengerjakan ini itu di sekolah maupun di kantor bagi yang bekerja.


Begitu juga dengan keluarga Miller yang sudah bersiap-siap akan pergi meninjau Vila seperti yang sudah di rencanakan tadi malam.

__ADS_1


"Pa Nico mau ikut katanya," beritahu Dave yang baru turun.


Larry mengangguk. "Bagus dong, ajak Elix juga biar rame," ujarnya. "Baiklah kita tunggu mereka dulu biar berangkatnya bareng."


Setelah menunggu sekian lama, Nico dan Felix datang menggunakan mobil Nico. Mereka memutuskan untuk menggunakan dua mobil. Mobil Larry diisi Sonya, Stefi dan dirinya sendiri, sedangkan di mobil Dave diisi kedua sahabatnya dan tentu dengan dirinya sendiri juga.


Mereka berangkat dengan santai sambil sesekali bertukar cerita, tentu itu di mobil Larry berbeda dengan orang yang berada di mobil Dave yang diisi keheningan.


"Tumben lo gak ajak cewek lo itu?" Tanya Nico memecah keheningan.


"Nila ada acara keluarga katanya," jawab Dave.


"Lix gimana?" Tanya Nico beralih ke Felix yang terdiam. "Belum," jawab Felix datar.


"Belum apanya?" Tanya Dave menatap kedua temannya itu.


"Gak ada," jawab Nico sedangkan Felix hanya diam seperti biasa.


Dave yang tidak mau ambil pusing kembali fokus memandang lurus jalanan ibu kora dengan stang di depannya. Tidak ada lagi pembicaraan setelahnya hanya ada audio yang diputar menemani perjalanan mereka.


...***...


"BUNDAAA?"


"BUNDAAA!"


"Bunda mana bi?" Tanya Gavin.


"Bunda sudah ketoko, ini bibi juga mau kesana ada banyak barang masuk hari ini," jawab Lia. "Kenapa cariin bunda, hm?"


"Gavin mau ke sawah sama temen-temen bi, nanti bilangin bunda ya," ujar Gavin.


"Sudah sarapan belum? Kalau belum sarapan dulu ya bibi siapin," ujar Lia. "Sudah kok bi tadi," jawab Gavin.


"Baiklah hati-hati," balas Lia yang langsung diangguki Gavin kemudian berlari keluar rumah menemui teman-temannya.


Lia yang melihat keponakannya itu hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian ia keluar pergi ketoko membantu Sefira. Lia bagian penjualan online, setiap hari selalu ada yang dibawanya ke kampus karena pesanan teman-temannya atau mahasiswa di kampusnya tanpa malu, karena prinsip Lia jika kamu malu dengan hal positif jangan harap bisa makan esok harinya.


"Ayo berangkat," ujar Gavin yang sudah berada di perkumpulan teman-temannya.


"Kita tunggu Budi sama Rio dulu avin," ujar salah satu temannya yang bernama Dika.


Gavin yang mendengar nama Budi mencebikkan bibirnya. "Ngapain tungguin Budi sih?"


"Itu mereka," tunjuk teman satunya.

__ADS_1


Semua atensi para si bolang itu menatap orang yang ditunjuk temannya itu.


"Ayo berangkat!" Ujar Budi yang langsung diangguki semua temannya kecuali Gavin yang menatap Budi kesal tapi tetap berjalan mengikutinya.


"Avin kenapa?" Tanya Fian heran karena Gavin memeluknya posesif.


"Fian cuma punya Avin," jawab Gavin.


"Itu siputnya banyak," seru salah satu teman mereka.


"Serbuuuu!" Seru mereka bersama kemudian turun kesawah melepas sendal mereka.


...***...


"Sudah sampai," ujar Larry setelah masuk pekarangan Villa yang masih belum jadi.


"Ini Vilanya pa? Bagus banget," pekik Stefi kemudian keluar duluan dengan semangat.


Setelah penat beberapa jam diperjalanan akhirnya terbayar sudah dengan vila berlantai dua yang terlihat sangat indah meski beberapa bagian belum jadi dan ditambah dengan pemandangan sawah dan bukit-bukit yang menyejukkan mata.


"Ayo kita masuk," ajak Larry kepada semuanya.


"Gila bangun dan adem banget disini," pekik Nico menatap sekitar. "Gue nanti bilang sama ayah buat bikin Vila juga disini, harus!"


Mereka sekarang berada di lantai dua, mata mereka semakin manjakan dengan pemandangan yang terlihat semakin sempurna dimata mereka. Mereka melihat sawah yang terdapat banyak petani yang sedang melakukan pekerjaan mereka, ada yang nyangkul, ada yang nanam padi, ada yang sedang makan di sawah, dan banyak anak-anak yang sedang mencari siput dengan ember di tengah-tengah mereka.


Terlihat anak-anak itu akan naik dan pulang membawa ember yang sudah terisi penuh. Stefi yang melihat itu segera turun sedangkan yang lain masih sibuk melihat-lihat vila. Stefi menunggu mereka digerbang, entah kenapa hatinya begitu senang melihat segerombolan anak kecil itu.


"HEI KALIAN! SINI!" Teriak stefi sambil tangannya memberi kode untuk mendekat.


"Ada apa kak?" tanya Fian dengan bahasa Sunda.


Stefi melongo tidak mengerti. "Kalian ngomong apa?" tanyanya polos.


Sama halnya dengan Stefi, mereka juga melongo tidak paham apa yang dikatakan Stefi tapi tidak dengan Gavin yang mengerti. Gavin yang mengerti teman-temannya tidak mengerti kemudian maju.


"Kata teman saya, ada apa kak?" Beritahu Gavin membuat mereka menatapnya.


Jangan heran kenapa Gavin bisa bahasa indonesia dengan baik, jangan lupakan bundanya yang menggunakan bahasa indonesia dan lingkungan yang menggunakan bahasa Sunda.


...***...


Aku bingung gengs mau pending ini terus lanjut novel yang satunya atau novel yang satunya yang di pending terus SEFIRA lanjut? Karena jujur aku gak bisa dua novel sekaligus huhuu.


Nama Gavin aku ganti jadi Gavin Anggara supaya mirip dengan nama bundanya, Sefira Anggraini.

__ADS_1


Kasih aku masukan ya gengs! Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan.


Kemarin aku pantau terus vote dan gift kalian tapi gak naik-naik huhuuu..


__ADS_2