SEFIRA

SEFIRA
GL 10


__ADS_3

"ANJING," umpatnya berdiri. Matanya seketika membola melihat siapa lawannya. "LO?!"


"Udah gue duga, lo sama Diki pasti bagian dari geng itu."


BUGH


Lya memukul laki-laki di depannya. "Lo ngapain ikut geng motor begitu, Rio? Entar mami lo nnagis kalau anak kesayangannya luka."


"BANGSAT! Umpat Rio.


BUGH


BUGH


Lya dan Rio saling serang dengan ekspresi saling meremehkan satu sama lain.


"Lumayan juga tenaga lo," ujar Rio.


"Lo nya aja yang payah."


Merasa kesal, Rio berniat menendang Lya. Namun seseorang lebih dulu menangkis tendangan Rio dan memukulnya telak. Rio terjatuh.


Lya menatap Karta yang berdiri di hadapannya. "Kita ke markas," ucap Karta pada seluruh anggota. Lya ditarik Diki menuju motornya. Namun sebelum itu dia mengucapkan sesuatu pada Rio.


"Balik nanti lewat jendela aja. Takutnya mami lo serangan jantung ngeliat muka jelek lo itu."


Selama di perjalanan, mereka tidak ada yang berbicara. Lya baru membuka mulut saat sampai di markas. Ini pertama kalinya dia kesini dan langsung ternganga melihat bangunan besar itu.


"Wow," gumamnya takjub.


Diki mengusap wajah Lya. "Biasa aja liatnya," ujar Diki. Pasalnya Diki sudah pernah kesini, berbeda dengan Lya.


"Kenapa kalian bisa diserang?" Tanya Karta.


Lya, Diki, Keenan, dan Eadred tengah duduk di tengah-tengah mereka. Lya sedikut deg-degan, merasa terintimidasi.


"Ta-tadi kita mau kerumah gue bang," jawab Keenan. "Tapi pas di jalan kita diikuti mereka."


"Kenapa gak kabur kesini?" Tanya Karta lagi mendiami mereka.


"Maaf bang," cicit Keenan.


"Bang kita gak di obatin dulu nih?" Celetuk Lya mendongak pada Karta. Namun sedetik kemudian dia kembalu menunduj karena tatapan tajam Karta yang membuatnya bergidik.


"Kemana jaket kalian bertiga?"


Lya dan Diki menelan ludah, sedangkan Keenan sudah pucat pasi. Pasalnya jaket itu selalu mereka gunakan jika sudah tidak di sekolah. "Dirumah bang," jawab Diki.


"Gue ngasih tuh jaket bukan buat disimpan," suara Karta terdengar menyeramkan.


"Maaf bang," cicit ketiganya.

__ADS_1


"Ta, udah! Biarin mereka ngobatin lukanya dulu," ujar Elang. Karta langsung mendudukkan dirinya di samping Noah. Salah satu anggota perempuan yang ada disana datang membawakan kotak obat.


"Mau obatin sendiri atau diobatin?" Tanya gadis itu.


Lya ingat. Dia gadis yang Lya tolong saat dia di labrak Jessy. Bahkan Lya juga melihat Hessy bersama dua temannya duduk di pojok ruangan. "Obatin gue tolong," jawab Lya.


Diki, Keenan, dan Eadred diobati dengan anggota laki-laki lainnya.


"Gue Lya," ucapnya memperkenalkan diri.


"Gue Mira," jawab gadis itu.


Lya hanya diam namun beberapa kali meringis kecil saat Mira mengobati lukanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Lya melotot saat melihat panggilan dari bunda Intan. Dengan berat hati dia mengangkat telpon itu.


"Halo," ucapnya.


"Dimana?"


Lya menatap Diki, orang yang ditatap menggeleng cepat.


"Lagi dirumah Keenan bun."


"Ngapain?"


"Ngerujak. Jambu air punya Keenan udah pada mateng."


"Bener? Gak bohong?"


"Terus yang bikin anak tante Luna babak belur siapa?"


"Hah?"


"JANGAN PERCAYA TANTE, DIA LAGI DI MARKAS GENG MOTORNYA. DIA YANG MUKULIN AKU TANTE!"


Lya melotot tak percaya, dia bahkan harus menjatuhkan ponselnya karena teriakan keras dari sebrang sana.


"RIO SIALAN! GUE BUNUH LO NTAR," teriak Lya membuat semua yang ada di markas terkejut karena teriakannya.


"Kamu yang akan bunda bunuh nanti. Mending sekarang kamu pulang!"


Tanpa menunggu balasan Lya. Bubda Intan memutiskan sambungan telponnya.


Lya dan Diki saling pandang lalu meratapi nasib mereka. Namun Lya tiba-tiba berteriak saat Mira dengan tidak sengaja menyikut tulang rusuknya.


"Aakhhh.."


"Eh? Ya ampun, kenapa? Aduh sorry gue gak sengaja," ucap Mira gelagapan.


Semua kejadian itu tidak luput dari perhatian Karta.


"Hehe aman kok," jawab Lya dengan cengirannya. Merasa di tatap, Lya pun menoleh dan mendapati Karta yang menatapnya. Lya yang bingung pun hanya cengengesan.

__ADS_1


🌻


SMA Satu Nusa tengah menjalani ujian untuk penentuan menjalani ujian untuk penentuan kenaikan kelas. Seluruh murid mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghadapi soal-soal ujian.


Hari ini adalah hari terakhir ujian di adakan. Banyak murid yang sudah menyusun rencana untuk merefreshing otak. Begitu juga dengan anggota Rakasa, mereka akan melakukan kegiatan amal dengan mengunjungi beberapa panti asuhan.


"Hari terakhir dibantai matematika!" Ujar Diki frustasi. "Ya Allah Diki kan anak baik, tolong bantu Diki untuk ngerjain ujian nanti Ya Allah."


Lya menggelengkan kepalanya, sedari tadi sepupunya itu tidak berhenti berbicara. "Santai aja kali Ki!"


Diki menatap Lya sinis. "Santai lo bilang? Lo pinter. Lah gue? Lagian kenapa sih kelasnya harus pisah begini."


Lya tertawa geli, memang selama ujian berlangsung Diki selalu prites dengan kebijakan sekolah yang membagi kelas. Karena dari kelas sebelas dan sepuluh di gabung perjurusan. "Enak banget sih anak kelas tiga udah gak ujian," celetuk Diki.


"Kan mereka udah lulus, bego!" Jawab Lya.


Kring!


Bunyi bel terdengar, Lya melihat Diki semakin frustasi. "Lo pindah ke kelas gue aja bisa gak sih?" Tanya Diki. Pasalnya sekarang dia tengah misuh-misuh di kelas Lya, sedangkan dia berada di kelas sebelah.


"Sana ke kelas lo, gak liat nih penghuninya pada berdatangan," ucap Lya pada Diki seraya menunjuk arah pintu. Terlihat beberapa murid sudah mulai memasuki kelas.


"Heh keluar sana," usir Keenan yang ternyata duduk tidak jauh dari Lya, Keenan duduk di bangku kedua dari dinding sedangkan Lya duduk tepat di samping dinding. Lya dan Keenan tidak terhalang dinding namun posisi mereka serong.


"Awas lo kalau nyontekin Lya," sergah Diki.


Bukannya menajwab, Keenan malah tertawa. "Suka-suka gue lah, Lya mah baik."


Dengan kesal Diki keluar kelas, tidak lupa dia menendang meja Keenan dengan keras membuat seluruh murid yang ada di kelas menoleh.


"Kenapa?" Tanya Noah pada Keenan.


Yaps, Noah dan Karta satu kelas dengan Lya dan Keenan. Sedangkan Juna, Kevin dan Elang satu kelas dengan Diki.


"Belum bisa nerima keadaan kalau dia gak sekelas sama kita," jawab Keenan. Noah yabg berada di samping Keenan mengangguk, sedangkan Karta yang duduk tepat di belakang Lya hanya diam.


"Lya jangan diam-diam aja lo," tegur Keenan. Pasalnya dia sangat membutuhkan Lya disaat sekarang.


"Selamat pagi! Silahkan simpan barang-barang kalian. Ibu mau meja kalian bersih dan hanya ada papan ujian dan pensil saja," ucap bu Lidia guru muda yabg pernah Lya kempeskan ban mobilnya.


Lya menatap guru itu tidak suka.


"Jangan ada yang bekerja sama, saya tidak akan mentolerir hal seperti itu!"


Bu Lidia sudah berdiri di depan Lya, dia membagikan kertas soal dan jawaban pada Lya. Sedangkan Lya mengabaikan guru tersebut. "Saya harap kamu tidak membuat keributan disini," ucapnya pada Lya.


Lya mendongak. "Maksudnya?" Tanya Lya.


Bu Lidia menatap Lya remeh. "Kamu kan sumber keributan."


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren:)


__ADS_2