
Dave berlari kencang menghampiri Gavin yang sudah berlumuran darah. Jantungnya seakan berhenti berdetak, tubuhnya lemas seketika melihat dengan mata kepalanya sendiri tubuh anaknya terpental. Dave membelah kerumunan orang yang sudah mengelilingi Gavin.
Tuhan ku mohon jangan sekarang. Batin Dave berdoa.
"Avin bangun hei sayang bangun," ucap Dave sambil menepuk pipi Gavin. Air matanya sudah lolos melihat tubuh tak berdaya anaknya.
"Daddy mohon bangun nak, hei."
"Paman cepat bawa Avin ke puskesmas," cetus Fian panik. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang mendalam, dadanya naik turun melihat sahabatnya itu dengan mata yang tertutup.
Dave yang mendengar itu mengangguk dan langsung membopong anaknya diikuti Fian dkk.
"Dua orang cepat masuk duluan dan duduk di belakang," titah Dave yang langsung patuhi Jaka dan Jetno. Setelah memastikan mereka sudah duduk di kursi paling belakang baru Fian masuk dan duduk di kursi tengah sesuai perintah Dave, lalu Dave menidurkan Gavin di pangkuan Fian. Sedangkan Dion berada di kursi depan bersama Dave yang di belakang kemudi. Dave panik, tentu saja, tapi ia juga harus memikirkan nasib keempat teman Gavin jika dia terburu-buru dan meninggalkan mereka. Nyawa anaknya memang paling penting saat ini, tapi dia tidak ingin egois untuk saat ini dengan menambah masalah nantinya.
Dave melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat. "Daddy mohon bertahanlah," gumamnya sepanjang jalan.
Tuhan aku mohon save him. Batin Dave terus berdoa.
Tidak lama kemudian Dave sampai di rumah sakit kota Bandung. Dave keluar dan membuka pintu belakang mobilnya. Dia langsung memapah tubuh tak berdaya Gavin.
"SUSTER!"
"SUSTER TOLONG ANAK SAYA!"
"SUSTER!!"
Dave teriak-teriak seperti orang kesetanan sampai salah satu perawat pria membawa brangkar lalu Dave menidurkan anaknya disana. Dave dan perawat pria itu mendorong brangkar dengan cepat diikuti Fian dkk yang menangis.
"Maaf pak," cegah perawat tersebut. "Bapak tidak bisa masuk," lanjutnya.
"Tolong selamatkan anak saya," pinta Dave.
"Pasti pak. Jangan lupa bapak juga berdoa," ucap perawat tersebut lalu menutup pintu ruangan.
"Paman, Avin tidak papa kan?" Tanya Dion dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Dave tersadar jika dia masih bersama keempat teman Gavin. Dave mensejajarkan tinggi dengan mereka. "Doakan," ucap Dave karena ia bingung mau bicara apa.
Dave merogoh saku kanan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo bi," sapa Dave kepada Dyah yang ia hubungi.
"Iya pak?"
"Bibi bisa ke rumah sakit kota? Bibi berangkat sama pak Didit pakai mobil yang ada di garasi jangan lupa juga ajak Fira," titah Dave mendiami Dyah yang bingung.
__ADS_1
"Siapa yang sakit pak?"
"Jangan lupa ajak Fira juga. Segera!" Titah Dave tanpa menjawab pertanyaan pembantunya dan langsung mematikan sambungan telepon.
Dave duduk di kursi tunggu depan ruangan menatap datar ruangan yang tertutup rapat di depannya. Fian dkk menangis sambil mengerang sesekali satu sama lain dan tentu Dave tidak paham dengan semua yang mereka bicarakan ia hanya paham bahwa mereka juga mengkhawatirkan Gavin.
Setelah dua puluh menitan menunggu akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka dan keluarlah seorang yang menggunakan jas putih. Dave yang melihat itu segera bangun. "Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Dave cepat.
"Anak bapak baik-baik saja. Hanya saja benturan yang sangat keras membuat kepala anak bapak terluka tapi bukan luka yang serius dan maaf pergelangan kaki pasien cidera yang memungkin pasien tidak bisa berjalan secara normal sementara waktu," jelas dokter yang bertuliskan nama Rizal di name tag nya.
"Apa kita bo-,"
"Pak!" Panggil Dyah memotong ucapan Dave. Dave mmebalikkan badannya melihat mereka.
Fira dan Lia melihat keempat anak kecil disana. Lia mengerutkan dahinya saat melihat tidak ada Gavin di antara mereka, begitu juga dengan Fira. "Fian, Gavin mana?" Tanya Lia.
Fian kembali menangis kencang mendengar pertanyaan Lia. "Avin hiks ter hiks tabrak bi hiks," jawab Fian membuat Fira dan Lia terkejut bagaikan terkena petir di siang bolong.
"Fian bohong kan?" Tanya Lia mengguncang tubuh Fian membuatnya semakin menangis.
"Fian hiks tidak bohong bi," timpal Dion.
Jawaban Dion membuat Fira yang berdiri terjatuh lemas dan air matanya jatuh seketika. Lia yang melihat kondisi kakaknya langsung memeluknya menyalurkan kekuatan untuk kakaknya.
"Maaf pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap," ucap dokter menyadarkan mereka semua.
"Anak ibu mengalami benturan yang sangat keras membuat kepala anak bapak terluka tapi bukan luka yang serius dan maaf pergelangan kaki anak ibu cidera yang memungkin pasien tidak bisa berjalan secara normal sementara waktu," jelas dokter Rizal mengulangi penjelasan yang sama kepada Fira.
Pasokan oksigen Fira seakan tersendat mendengar bagaimana kondisi anaknya, jika Lia tidak menahan tubuh Fira mungkin dia akan terjatuh. "Gavin hiks."
"Apa kita boleh masuk dok?" Tanya Dave.
"Boleh pak tapi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat terlebih dahulu," jawab Dokter Rizal.
"Pindahkan ke ruang VVIP," titah Dave yang diangguki dokter Rizal. "Baik pak. Silahkan bapak urus administrasinya di depan."
Dave mengangguk kemudian pergi untuk mengurus administrasi rumah sakit, tapi sebelum itu ia berhenti di Dyah yang tengah memeluk anaknya. "Bi," panggilnya. "Bibi ajak mereka pulang aja sama pak Didit. Kasian mereka," titah Dave.
Dyah yang mengerti kondisi mengangguk. "Baik pak. Kalau begitu saya permisi," pamit Dyah yang diangguki Dave.
Dave berjalan beriringan bersama Dyah dan yang lainnya. Dave berhenti tepat di depan loket administrasi diikuti Dyah dan pak Didit. "Kami permisi pak," pamit pak Didit.
Dave mengangguk. "Hati-hati bawa mobilnya pak."
"Baik pak."
__ADS_1
***
"Sayang bangun, bunda disini nak," ujar Fira memegang tangan Gavin.
"Sabar kak. Ini ujian buat kita," ucap Lia mengusap bahu Fira lembut.
"Hiks kenapa harus Gavin, ia?" Tanya Fira menangis.
"Hus gak boleh ngomong kaya gitu. Ini namanya ujian kak, Allah sedang menguji kita," jawab Lia mencoba menenangkan Fira.
Ceklek
Kedua perempuan yang ada di ruangan menoleh kearah pintu dan terlihat Dave yang masuk. Fira mengusap air matanya kasar kemudian melangkah dengan lebar ke arah Dave.
PLAK
Dave menoleh kesamping karena tamparan Fira tidak main-main. Dada Fira naik turun karena emosi. Lia terdiam melihat Fira menampar Dave begitu juga Dave yang diam saja menerima tamparan keras di pipinya.
"Gara-gara anda anak saya masuk rumah sakit," ujar Fira dingin. "Lagi lagi gara-gara anda."
"Tidak puaskah anda dulu menghancurkan saya, hah?"
"TIDAK PUAS HAH!" Bentak Fira. Wajah dan matanya merah padam.
"Maaf," cicit Dave. Satu bulir air matanya jatuh mengingat bagaimana bejatnya dia dulu kepada Fira.
Fira tertawa sarkastik. "Maaf? Anda bilang maaf?" Tanya Fira. "Lihat anak saya LIHAT! MAAF SEPERTI APA YANG ANDA MAKSUD, HAH?!"
"Maaf," cicit Dave lagi.
"Sekarang anda pergi!" Titah Fira dingin dengan tangannya menunjuk pintu.
Dave menggeleng, ia juga ingin melihat bagaimana keadaan anaknya. "Gak. Aku tetap disini."
"SAYA BILANG PERGI! PERGI!" Bentak Fira yang lagi lagi di balas gelengan oleh Dave.
"ANAK SAYA BEGINI KARE-"
"GAVIN JUGA ANAK AKU!" Bentak Dave balik memotong ucapan Fira. Kesabarannya sudah habis, ia lelah jika terus-terusan begini, ia juga tidak ingin anaknya terluka seperti ini.
"Anak?" Fira tertawa sarkastik namun air matanya jatuh lagi. "Baru sekarang?" Tanya Fira lirih. "DULU ANDA KEMANA AJA?!"
"STOP!!" Teriak Lia melerai mereka berdua.
...***...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan serta gift nya juga ya gengs biar semangat aku makin kencang wkwk.