
"Jadi bagaimana? Dave boleh balik kan ke Jakarta?" Tanya Dave menatap Larry dan Sonya.
"Terus bundanya Gavin gimana kalau Gavin ikut ke Jakarta juga?" Tanya Sonya balik.
"Kan perjanjiannya yang penting Gavin luluh sama kita dan mau tinggal sama kita, kalau masalah Fira nanti aku yang urus," terang Dave.
Dave beralih menatap Gavin. "Avin mau tinggal sama daddy di Jakarta?" Tanyanya lembut.
"Tapi bunda?" Tanya Gavin menatap Dave juga.
Dave tersenyum. "Masalah bunda nanti daddy yang urus," jawab Dave yang diangguki Gavin.
Dave tersenyum senang dengan respon yang di berikan Gavin, begitu juga dengan Sonya dan Larry.
"Kapan kita berangkat?" Tanya Sonya.
"Besok gimana?" Tanya Dave menatap ayahnya dan diangguki olehnya.
"Huft! Akhirnya aku bisa ketemu sama Nila," ujar Dave bernafas lega.
Deg!
Sonya memandang anaknya tidak percaya. "Kamu masih berhubungan dengan perempuan itu?!" Sentak Sonya menatap tajam Dave.
"JAWAB MAMA! KAMU MASIH BERHUBUNGAN DENGAN PACARMU ITU?!"
"Iya ma, kenapa? Aku sudah lakuin apa yang mama sama papa minta untuk bawa Gavin ke hadapan kalian supaya aku bisa kembali ke Jakarta dan ketemu sama pacar aku," jawab Dave santai.
Deg!
Sekarang giliran Gavin yang mematung mendengar bentakan Sonya dan ucapan Dave, kata pacar terus terngiang-ngiang di telinganya. Kini gilirannya yang menatap Dave tidak percaya, ia pikir selama ini ayahnya itu terlihat baik kepadanya dan bundanya karena merasa bersalah tapi pikirannya itu salah. Dia salah menilai kebaikan orang yang sudah dengan sepenuhnya ia percaya, dia salah, salah besar.
"Maaf," ucap Gavin lirih. Air matanya sudah lolos dari matanya. Ia berlari keluar dengan cepat sembari mengusap air matanya kasar.
Plak
Sonya menampar Dave dengan keras. "Mama gak pernah ajarin kamu jadi laki-laki brengsek dan pengecut kaya gini," ujarnya.
Hatinya sebagai perempuan dan seorang ibu sakit melihat anaknya memperlakukan seorang perempuan dan anaknya seperti itu.
"Permisi pak bu," sapa seseorang yang menggendong anak kecil masuk karena pintu juga tidak di tutup.
"Astagfirullah Gavin kenapa?" Tanya Sonya khawatir melihat Gavin sesekali meringis kesakitan.
"Maaf bu, saya tidak sengaja menyerepet Gavin tadi karena Gavin berlari dari gerbang rumah ini. Saya tidak punya nomor ponselnya nak Fira dan nak Lia jadi saya bawa kesini karena saya yakin di rumahnya tidak ada siapa-siapa," jelas pria paruh baya yang menabrak Gavin.
"Pa panggil dokter cepat," titah Sonya yang langsung diangguki Larry.
__ADS_1
"Pak terima kasih sudah bawa cucu saya kesini," ujar Sonya mengambil alih Gavin dalam gendongannya kemudian ia membaringkannya di sofa ruang tamu.
"Bu dyah," panggil Gavin melihat Dyah.
Dyah yang mendengar itu merapat. "Kenapa nak? Mana yang sakit?" Tanyanya beruntun.
"Tolong panggilin bunda," lirih Gavin dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipi chubby nya.
Dyah mengangguk cepat. "Tunggu sebentar nak." Dyah merogoh ponselnya mencari kontak Lia atau Fira setelah ketemu ia langsung menelponnya.
"Halo Lia," sapa Dyah.
"Iya kak Dyah kenapa?" Tanya Lia di sebrang sana.
"Lia dimana sekarang?"
"Aku di toko kak, ada apa?"
"Lia sama Fira ke sini ya, Gavin di serepet mot-"
"Astagfirullah terus gimana Gavin sekarang kak?" Tanya Lia cepat memotong ucapan Dyah.
"Gavin terus memanggil bundanya. Udah kalian berdua cepat kesini kasian Gavin," jawab Dyah.
"Aku ke sana sekarang."
Dyah memandang Gavin sendu. Ia dengar dan paham semua yang di katakan majikannya itu. Ia berjalan mendekati Gavin dan memeluknya.
"Bunda sama bibi kamu sudah di jalan, Gavin tenang ya ada ibu di sini," ujar Dyah mengusap air mata Gavin.
Gavin memeluk Dyah. "Mereka semua jahat bu," lirihnya.
Pertahanan Dyah runtuh mendengar lirihan Gavin, anak berusia empat tahun yang sudah memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Anak yang mentalnya sudah di guncang habis-habisan. "Ada ibu di sini, Gavin tenang ya," tenang Dyah mengusap pelan punggung Gavin.
Sonya memandang sendu cucunya yang menangis di pelukan orang lain. Dia tidak paham apa yang di katakan keduanya tapi dapat ia simpulkan, Gavin menangis bukan karena di serepet motor tapi karena kejadian tadi di meja makan. Begitu juga dengan Larry yang mati-matian tidak memukul wajah tenang anaknya di depan orang asing, pekerja di vila.
"GAVINN!" Teriak Fira memanggil nama anaknya. Semenjak Lia memberitahunya, Fira tidak tenang.
"Mana yang sakit nak?" Tanya Fira khawatir.
"Bunda," cicit Gavin. Air matanya kembali lolos begitu saja.
"Kenapa, hm? Mana yang sakit? Kasih tau bunda," ucap Fira lembut lalu memeluk anaknya. Fira tau ada sesuatu yang terjadi bukan hanya masalah anaknya yang di serepet motor tapi Fira tidak tau masalah apa.
"Mereka semua jahat bun," lirih Gavin yang terdengar menyakitkan di telinga Fira. Begitu juga dengan Lia yang mendengarnya, Lia langsung duduk di samping Gavin dan memeluk Fira dan Gavin. "Cerita sama bibi kenapa sayang? Jangan takut, ada bibi ada bunda juga bahkan sekarang ada daddy juga," ujar Lia lembut.
Gavin menggeleng, tangisannya semakin terdengar menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya. "Dia jahat bi hiks, dia baik sama Avin supaya hiks segera di kasih pulang hiks sama oma dan opa dan hiks bertemu pasangannya di Jakarta hiks," jelas Gavin membuat Fira dan Lia mematung.
__ADS_1
Fira menatap dalam manik mata anaknya, tidak ada kebohongan di sana. "Kak Dyah apakah yang dikatakan Gavin benar?" Tanyanya menatap kosong ke depan.
"Maaf," jawab Dyah. Hanya itu, ia bingung harus menjawab apa karena takut pekerjaannya jadi terancam.
Jawaban dari mulut Dyah membuat Fira mengepalkan tangannya erat. Fira berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke arah Dave.
Plak
"Anjing," umpat Dave memejamkan matanya karena pipinya di tampar untuk kedua kali.
Stefi terperangah melihat abangnya di tampar oleh perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Sedangkan yang lain hanya terdiam.
"Punya hak apa anda sehingga berani mempermainkan hati anak saya?" Tanya Fira dingin. Matanya memerah menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"JAWAB! PUNYA HAK APA ANDA HAH?!"
"Kak," panggil Lia mencoba menenangkan Fira.
"TIDAK CUKUPKAH DULU ANDA MENGHANCURKAN SAYA?!"
"Kak." Lia memegang tangan Fira tapi di hempas olehnya.
"TIDAK CUKUPKAH ANDA MENGUSIR SAYA DARI KOTA SA-"
"KAK LIHAT AKU!" Sentak Lia.
"APA HAH?!" Balas Fira sentak Lia.
PLAK
Fira menoleh ke samping karena tamparan Lia, kesabarannya sudah habis untuk menenangkan Fira. "LIHAT GAVIN KAK! LIHAT! APA KAKAK GAK KASIAN ANAK SEUSIA GAVIN MENTALNYA SUDAH TERGUNCANG KARENA KELAKUAN DADDY NYA YANG BRENGSEK HAH! GAK KASIAN! JAWAB KAK JAWAB HIKS!" Bentak Lia dengan derasnya air matanya yang keluar.
Fira terdiam tangisnya pecah mendengar bentakan Lia, ia menatap Lia sendu. "Lia hiks," panggil Fira.
Lia mengangguk kemudian memeluk Fira, mereka nangis dalam pelukan. "Jangan gini kak kasian Gavin, dia juga lagi sakit," lirih Lia.
Fira yang mendengar anaknya sakit seketika tersadar anaknya barusan di serepet. Fira melepas pelukan Lia dan kembali ke Gavin yang berada di pelukan Dyah dan memeluknya. "Maafin bunda nak, maaf," ujar Fira.
"Sudah sebaiknya kita pulang sekarang obati kakinya Gavin," ujar Lia lalu menggendong Gavin keluar.
"Mulai sekarang jangan PERNAH temui keluarga saya, terutama anak saya. Dan saya pastikan anda akan menyesal TUAN DAVE YANG TERHORMAT!" Ujar Fira dingin penuh penekanan kemudian menyusul Lia keluar tapi sebelun itu dia berhenti tepat di depan Dyah. "Saya harap kakak bisa saya percaya untuk hal ini," ucapnya yang diangguki Dyah. "Jaga Gavin baik-baik," balas Dyah.
Fira mengangguk kemudian benar-benar keluar dari tempat neraka tersebut.
...***...
Jangan lupa follow ig aku @thisisririnn!
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!