
Berbeda dengan Sefira yang sedang membantu karyawannya memajang beberapa barang. Sedangkan Lia jadi kasir sementara karena ia masuk kuliah siang.
"Fira, kan?" Tanya seorang pria.
Fira mendongak melihat siapa yang memanggilnya. Tidak asing tapi pernah ketemu dimana. Batin Fira mengingat-ingat.
"Siapa ya?" Tanya Fira balik saat ia lupa ingatan pernah bertemu dimana.
"Saya Rian mba yang waktu di puskesmas itu," beritahu Rian membuat Fira seketika ingat. "Ooh iya ya saya ingat mas, maaf saya lupa tadi," ujar Fira nyengir kuda.
Rian terkekeh. "Tidak apa-apa mba."
"Kak aku ke kampus dulu ya takutnya nanti telat," pamit Lia datang menghampiri Fira.
Fira menoleh ke arah Lia kemudian melihat jam dinding yang ada di toko dan mengangguk. "Ya sudah kamu hati-hati jangan ngebut," peringat Fira yang diangguki Lia.
Lia menyalim tangan Fira. "Assalamualaikum," salamnya.
"Waalaikumsalam," balas Fira. "Eh kamu udah bawa barang teman-teman kamu belum?" Tanya Fira membuat Lia yang sudah beberapa langkah menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kakaknya. "Udah aku taruh di motor kak," jawabnya melanjutkan langkahnya kembali.
"Adik kamu?" Tanya Rian bersuara yang diangguki Fira.
"Oh ya mas Rian mau cari apa biar aku carikan," tawar Fira tidak lupa dengan senyum manisnya.
"Ah gak kok mba, saya kesini temenin adik saya kesini," balas Rian.
"Oh ya sudah. Kalau saya tinggal gak papa kan mas? Saya mau ke meja kasir soalnya," tanya Fira. "Ah ya silahkan mba," persilah Rian.
Rian tersenyum menatap punggung Fira yang berjalan menjauhinya. "Tunggu aku," gumamnya.
"Kak bagusan yang mana?" Tanya perempuan cantik menyadarkan Rian.
Rian melihat kedua dres yang di bawa adiknya itu secara bergantian. "Dua-duanya bagus," jawab nya.
"Tapi aku udah pilih ini juga, kalau adek ambil keduanya kayanya uangnya gak cukup," ujar perempuan itu bimbang antara harus menukar salah satu yang sudah ia pilih dengan kedua dres ini atau memilih salah satu dres ini. Pasalnya semua bagus-bagus dan seleranya.
"Nanti kalau uangmu kurang mas yang bayarin lebihnya," ujar Rian membuat adiknya tersenyum sumringah.
"Beneran mas?" Tanya perempuan itu memastikan yang diangguki Rian.
"Ya sudah ayo kita bayar," celetuk perempuan itu yang bernama Rima.
Rima memimpin jalan namun baru beberapa langkah ia berhenti karena matanya tidak sengaja melihat daster. "Mas itu cocok banget buat ibu," ujar Rima menunjuk daster berwarna maroon dengan motif bunga berwarna kuning.
__ADS_1
Rian melihat barang yanh di tunjuk adiknya kemudian mengangguk. "Ambil dek buat ibu," titahnya yang diangguki Rima.
"Ayo mas kita bayar."
"Kakak cantik deh," celetus Rima melihat Fira. Fira hanya tersenyum menanggapinya.
"Kakak mau gak sama masku?" Tanya Rima membuat Rian melotot mendengarnya. "Dek!" Tegur Rian tapi tak diidahkan Rima.
"Totalnya 278.000 mba," ujar Fira menghiraukan apa yang Rima bicarakan.
"Ah iya kak, maaf."
"Mas mana uangnya?" Tanya Rima mengadahkan tangannya.
Rian mendengus. "Nih," ketus Rian memberikan adiknya uang seratus ribu dua lembar sedangkan sisanya Rima yang mencukupi.
"Ini kak." Rima memberikan uang seratus ribu tiga lembar.
"Ini kembaliannya dan barangnya mba. Terima kasih sudah berbelanja," ujar Fira ramah.
***
"Ayo kita ke rumah besar tempat ibuku kerja," cetus Jaka kepada teman-temannya termasuk Gavin.
Gavin yang mendengar perkataan Jaka terdiam. Ia menatap kosong ke depan.
"Ayo," seru Dion semangat. "Pasti disana banyak makanannya," ujarnya.
"Kayanya gak ada deh ion, soalnya kata ibuku paman yang kemarin sudah balik ke kota sama keluarganya," beritahu Jaka.
"Terus kita ngapain kesana?" Tanya Fian.
Jaka menyengir. "Numpang minum sama main di taman rumah besar itu hehe."
"Ayok kita kesana," timpal Jetno yang sudah berdiri.
"Kalian pergi saja. Aku mau pulang, kata bunda akan pulang cepat hari ini," tolak Gavin membuatnya di tatap oleh teman-temannya.
"Yah ayoklah Avin kamu ikut juga," cetus Jeyno yang di balas gelengen oleh Gavin.
Fian yang melihat pun mengikuti Gavin yang tidak ikut dengan Jaka, Dion dan Jetno. "Aku juga gak ikut deh."
"Yah kok kamu gak ikut juga Ian?" Tanya Dion.
__ADS_1
"Sudah-sudah biarkan saja mereka berdua tidak ikut," lerai Jaka.
"Aku sama Gavin balik dulu teman-teman," pamit Fian menarik tangan Gavin agar tidak di tanya-tanya lagi sama teman-temannya.
"Avin," panggil Fian. "Paman yang punya rumah besar itu bapak kamu ya?" Tanya Fian dengan hati-hati.
Gavin terkejut mendengar pertanyaan yang di lontarkan Fian, ia menatap Fian dalam. "Bukan," jawab Gavin setelahnya.
"Fian kemarin tanya sama paman Gilang, daddy itu apa terus paman Gilang bilang daddy itu artinya bapak, gitu," ujar Fian menirukan suara pamannya.
Gavin mendengus mendengarnya namun ia tidak menyangkal itu semua. Gavin mengangguk dengan lesu membuat Fian heboh. "Jadi benar paman yang punya rumah besar itu bapak kamu?" Tanya Fian heboh yang diangguki Gavin.
"Jadi ayah kamu sudah turun dari langit?" Tanya Fian lagi dengan polosnya. Gavin menatap temannya namun sedetik kemudian ia menganguk. "Wah Avin sekarang punya Ayah," celetuk Fian yang lagi lagi diangguki Gavin dengan lesu.
Fian mengernyit. "Tapi kenapa Avin kaya gak seneng gitu?" Tanya nya yang di balas gelengan oleh Gavin.
"Kenapa Avin gak senang gitu?" Tanya Fian menatap temannya. Gavin menggeleng menunduk menahan air matanya yang ingin keluar mengingat kejadian kemarin.
"Avin gak papa Ian. Ayo pulang," ujarnya menatap Fian dengan mata merahnya. Fian yang tidak tau apa-apa hanya mengangguk mengiyakan ajakan Gavin.
***
Sorenya, Dave baru sampai di vilanya. Dave langsung memasukkan mobilnya ke garasi kemudian masuk vila. "Em bi apa anak bibi sama Gavin hari ini kesini?" Tanya Dave kepada Siti yang kebetulan melintas.
"Loh bapak balik kesini lagi?" Tanya Siti balik tanpa menjawab pertanyaan Dave karena ia sedikit kaget melihat tuannya sekarang berdiri di hadapannya.
"Bi!" Tegur Dave.
Siti yang mengerti menunduk. "Maaf pak," ucapnya. "Itu anaknya bu Dyah pak bukan saya dan Jaka tadi memang kesini tapi bukan sama Gavin tapi temannya yang lain," beritahu Siti.
Tanpa membalas perkataan Siti, Dave melenggang pergi menuju lantai dua tempat kamarnya berada.
"Bapak kaya abis nangis," gumam Siti menatap punggung Dave yang menaiki tangga.
"Astagfirullah aku sama kak Dyah gak masak apa-apa," heboh Siti kemudian mencari Dyah memberitahu keberadaan Dave di vila tersebut.
Di kamar Dave sedang membersihkan diri di bawah guyuran air yang keluar dari shower. Ingatannya terus-terusan berputar tentang kejadian kemarin dan perkataan Fira terus terngiang-ngiang di telinganya.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan," gumam Dave menengadahkan wajahnya sembari menutup mata membiarkan derasnya rintikan air membasahi wajahnya.
"Maafin daddy nak," gumam Dave lagi. Air matanya bercampur dengan air guyuran shower.
***
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan pren :) Biar aku makin semangat up up up nya.