
Dave baru saja akan melangkah masuk tapi diurungkan.
"HEI BOCAH BOCAH!"
Dave memanggil anak-anak yang berjalan melewati vila sembari membawa ember. Dia juga melihat ada darah dagingnya sendiri yang ia ketahui bernama Gavin. Dave sengaja memanggil mereka supaya bisa dekat dengan Gavin, ia sudah bertekad akan membawa Gavin kepada orang tuanya supaya ia juga bisa kembali dan bertemu dengan kekasihnya, Nila.
Childish!
Satu kata itu untuk sifat Dave. Dave yang dulu terkenal dingin tak tersentuh berubah menjadi Dave yang Childish (kekanak-kanakan), entah apa yang membuatnya berubah seperti sekarang.
"Sudahlah biarkan saja. Ayo kita ke sawah aja," ujar Gavin sedikit memaksa.
"Kita kesana aja dulu yuk mungkin paman itu mau ngasih kita jajan," ujar Dion antusias.
"Iya ayo ayo," sahut Jaka tidak kalah antusias.
Gavin memutar bola matanya malas melihat teman-temannya. "Kalian aja, aku tunggu disini," ujar Gavin malas.
"Yah gak seru kamu Vin," cetus Dion.
Fian yang melihat teman-temannya cemooh Gavin memcoba membujuk Gavin. "Avin kamu ikut aja yuk, kita kan gak ngerti apa yang paman itu katakan kecuali kamu," terang Fian.
Gavin mendengus mendengarnya. "Ayo!"
"Nah gitu dong Avin, ayo teman-teman," antusias Dion memimpin jalan.
"Ada apa paman?" Tanya Dion tersenyum, sedangkan Dave mengernyit tidak paham.
Jaka yang melihat keterdiaman Dave, menyenggol Gavin yang hanya berdiam diri. Sedangkan, Gavin yang melihat itu mendengus. Wajahnya sudah merah menahan emosi melihat orang yang tadi memanggilnya bersama teman-temannya yang sayangnya adalah ayahnya sendiri. "Dia tanya, ada apa," ujar Gavin dengan wajah datarnya. Raut wajah bahagia yang ia tunjukkan semenjak keluar dari rumah tadinya sudah berubah karena melihat Dave. Salahkah ia benci orang yang ternyata ayah kandungnya sendiri? Yang selalu ia tangisi setiap malam sembari menatap langit? Yang selalu jadi alasan ia sering kali di ejek temannya? Salahkah?
Dave melihat anak kecil yang terjemahkan perkataan temannya. Hatinya tiba-tiba terasa sesak melihat raut wajah datar anak kecil yang ternyata darah dagingnya sendiri. "Ah iya kalian sudah sarapan, belum?"
"Kalian sudah sarapan, belum?" Translit Gavin dalam bahasa Sunda.
"Sudah," jawab Jaka, Jetno, dan Fian barengan.
"Belum," jawab Dion membuat teman-temannya menatapnya.
Gavin mengangguk. "Sudah sudah sudah belum," ujar Gavin memberitahu sembari menunjuk teman-temannya sesuai jawaban mereka.
"Kalau kamu?" Tanya Dave lembut memandang wajah anaknya sendu.
"Bukan urusan Anda."
"Tentu kamu urusan daddy karena kamu anak daddy," balas Dave membuat Gavin menatapnya sinis.
"Avin apa yang paman itu katakan?" Tanya Jaka pelan.
"Iya Avin kok kamu lihat paman itu kaya gitu? Gak boleh Avin paman itu lebih tua harus hormat," peringat Fian.
Tidak untuk orang seperti dia. Batin Gavin.
"Kalian bertiga bicara apa?" Tanya Jetno yang dibalas gelengan oleh Gavin. "Ayo kita pergi ke sawah aja," ajak Gavin.
__ADS_1
"Kok sawah?" Protes Dion melihat Gavin. Ia kira akan di kasih sarapan oleh paman di hadapannya itu.
"Terus?" Tanya Gavin mengangkat alisnya sebelah.
"Baiklah ayo," cicit Dion menyebikkan bibirnya.
"Eh eh kalian mau kemana?" Tanya Dave yang melihat mereka semua berbalik.
"Sawah," jawab Gavin tanpa berbalik lagi.
"Lah kok sawah? Kan tadi katanya belum sarapan. Ayo nak masuk kita sarapan dulu, ini juga kan vila kamu," ujar Dave tersenyum.
Ingin rasanya Gavin memaki-maki orang yang sangat ia benci itu, sekuat tenaga ia menahan amarah dan getaran ditubuhnya mendengar setiap penuturan pria di belakangnya itu. Matanya sudah merah, tangannya sudah terkepal erat, sangat erat. Rasa marah, sakit, sedih, dan rindu jadi satu dalam hatinya tapi rasa marah dan sakit lebih mendominasi.
"Avin apa yang paman itu katakan?" Tanya Fian membuat Gavin tersadar. Ingin rasanya Gavin bohong kepada teman-temannya tapi lidahnya menolak.
"Avin paman itu mau ngasih kita sasarap kan? Tadi pas kamu tanya kita udah sasarap, paman itu bilang sarapan terus tadi paman itu juga bilang gitu. Sarapan maksudnya sasarap kan Avin?" Tanya Dion dengan mata berbinar. Gavin hanya mengangguk tidak mengeluarkan sepatah kata. "Benarkah?" Tanya Dion memastikan yang diangguki Gavin lagi.
"Aku mau Avin," ujar Dion lagi.
Teman-temannya hanya memandang Dion malas, mereka sedikit malu dengan kelakuan temannya itu. Bukankah Dion salah satu anak yang bisa dibilang dari keluarga berada di kampungnya, pikir mereka. Gavin tidak tega melihat temannya itu kelaparan apalagi ini sudah menjelang siang. Gavin berusaha menurunkan egonya, dia tidak boleh egois sekarang. Dengan mantap dia berbalik kembali menghadap Dave membuat Dave tersenyum senang.
"Ayo," ajak Dave yang mengerti bahwa Gavin dkk mau di ajak masuk dan ia tidak sadar jika makanan yang ia beli hanya satu, untuk dirinya sendiri. Jujur saja, saat melihat anaknya entah kenapa hatinya merasa sejuk.
Dave memimpin jalan yang diikuti Gavin dkk lalu duduk di ruang tamu.Dave baru saja akan melangkah masuk tapi diurungkan.
"HEI BOCAH BOCAH!"
Dave memanggil anak-anak yang berjalan melewati vila sembari membawa ember. Dia juga melihat ada darah dagingnya sendiri yang ia ketahui bernama Gavin. Dave sengaja memanggil mereka supaya bisa dekat dengan Gavin, ia sudah bertekad akan membawa Gavin kepada orang tuanya supaya ia juga bisa kembali dan bertemu dengan kekasihnya, Nila.
Childish!
Satu kata itu untuk sifat Dave. Dave yang dulu terkenal dingin tak tersentuh berubah menjadi Dave yang Childish (kekanak-kanakan), entah apa yang membuatnya berubah seperti sekarang.
"Sudahlah biarkan saja. Ayo kita ke sawah aja," ujar Gavin sedikit memaksa.
"Kita kesana aja dulu yuk mungkin paman itu mau ngasih kita jajan," ujar Dion antusias.
"Iya ayo ayo," sahut Jaka tidak kalah antusias.
Gavin memutar bola matanya malas melihat teman-temannya. "Kalian aja, aku tunggu disini," ujar Gavin malas.
"Yah gak seru kamu Vin," cetus Dion.
Fian yang melihat teman-temannya cemooh Gavin memcoba membujuk Gavin. "Avin kamu ikut aja yuk, kita kan gak ngerti apa yang paman itu katakan kecuali kamu," terang Fian.
Gavin mendengus mendengarnya. "Ayo!"
"Nah gitu dong Avin, ayo teman-teman," antusias Dion memimpin jalan.
"Ada apa paman?" Tanya Dion tersenyum, sedangkan Dave mengernyit tidak paham.
Jaka yang melihat keterdiaman Dave, menyenggol Gavin yang hanya berdiam diri. Sedangkan, Gavin yang melihat itu mendengus. Wajahnya sudah merah menahan emosi melihat orang yang tadi memanggilnya bersama teman-temannya yang sayangnya adalah ayahnya sendiri. "Dia tanya, ada apa," ujar Gavin dengan wajah datarnya. Raut wajah bahagia yang ia tunjukkan semenjak keluar dari rumah tadinya sudah berubah karena melihat Dave. Salahkah ia benci orang yang ternyata ayah kandungnya sendiri? Yang selalu ia tangisi setiap malam sembari menatap langit? Yang selalu jadi alasan ia sering kali di ejek temannya? Salahkah?
__ADS_1
Dave melihat anak kecil yang terjemahkan perkataan temannya. Hatinya tiba-tiba terasa sesak melihat raut wajah datar anak kecil yang ternyata darah dagingnya sendiri. "Ah iya kalian sudah sarapan, belum?"
"Kalian sudah sarapan, belum?" Translit Gavin dalam bahasa Sunda.
"Sudah," jawab Jaka, Jetno, dan Fian barengan.
"Belum," jawab Dion membuat teman-temannya menatapnya.
Gavin mengangguk. "Sudah sudah sudah belum," ujar Gavin memberitahu sembari menunjuk teman-temannya sesuai jawaban mereka.
"Kalau kamu?" Tanya Dave lembut memandang wajah anaknya sendu.
"Bukan urusan Anda."
"Tentu kamu urusan daddy karena kamu anak daddy," balas Dave membuat Gavin menatapnya sinis.
"Avin apa yang paman itu katakan?" Tanya Jaka pelan.
"Iya Avin kok kamu lihat paman itu kaya gitu? Gak boleh Avin paman itu lebih tua harus hormat," peringat Fian.
Tidak untuk orang seperti dia. Batin Gavin.
"Kalian bertiga bicara apa?" Tanya Jetno yang dibalas gelengan oleh Gavin. "Ayo kita pergi ke sawah aja," ajak Gavin.
"Kok sawah?" Protes Dion melihat Gavin. Ia kira akan di kasih sarapan oleh paman di hadapannya itu.
"Terus?" Tanya Gavin mengangkat alisnya sebelah.
"Baiklah ayo," cicit Dion menyebikkan bibirnya.
"Eh eh kalian mau kemana?" Tanya Dave yang melihat mereka semua berbalik.
"Sawah," jawab Gavin tanpa berbalik lagi.
"Lah kok sawah? Kan tadi katanya belum sarapan. Ayo nak masuk kita sarapan dulu, ini juga kan vila kamu," ujar Dave tersenyum.
Ingin rasanya Gavin memaki-maki orang yang sangat ia benci itu, sekuat tenaga ia menahan amarah dan getaran ditubuhnya mendengar setiap penuturan pria di belakangnya itu. Matanya sudah merah, tangannya sudah terkepal erat, sangat erat. Rasa marah, sakit, sedih, dan rindu jadi satu dalam hatinya tapi rasa marah dan sakit lebih mendominasi.
"Avin apa yang paman itu katakan?" Tanya Fian membuat Gavin tersadar. Ingin rasanya Gavin bohong kepada teman-temannya tapi lidahnya menolak.
"Avin paman itu mau ngasih kita sasarap kan? Tadi pas kamu tanya kita udah sasarap, paman itu bilang sarapan terus tadi paman itu juga bilang gitu. Sarapan maksudnya sasarap kan Avin?" Tanya Dion dengan mata berbinar. Gavin hanya mengangguk tidak mengeluarkan sepatah kata. "Benarkah?" Tanya Dion memastikan yang diangguki Gavin lagi.
"Aku mau Avin," ujar Dion lagi.
Teman-temannya hanya memandang Dion malas, mereka sedikit malu dengan kelakuan temannya itu. Bukankah Dion salah satu anak yang bisa dibilang dari keluarga berada di kampungnya, pikir mereka. Gavin tidak tega melihat temannya itu kelaparan apalagi ini sudah menjelang siang. Gavin berusaha menurunkan egonya, dia tidak boleh egois sekarang. Dengan mantap dia berbalik kembali menghadap Dave membuat Dave tersenyum senang.
"Ayo," ajak Dave yang mengerti bahwa Gavin dkk mau di ajak masuk dan ia tidak sadar jika makanan yang ia beli hanya satu, untuk dirinya sendiri. Jujur saja, saat melihat anaknya entah kenapa hatinya merasa sejuk.
Dave memimpin jalan yang diikuti Gavin dkk lalu duduk di ruang tamu diikuti mereka tanpa dipersilahkan.
...***...
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan!
__ADS_1
Teriakan Dave aku ubah ya gengs biar feel-nya dapet. Buat yang tidak sabar dengan pertemuan Fira dan Dave kembali silahkan komen gengs biar besok aku loncat ke part bagian itu.
Follow ig aku @thisisririnn