
"Bunda," panggil Diki mencari bundanya.
Bunda Intan menyaut dari dapur, Diki segera berjalan menuju dapur. "Bunda masak? Ayah makan malam dirumah?" Tanya Diki.
Bunda Intan mengangguk. "Ini baru mau masak, tapi ayah gak makan dirumah, ayah masih di rumah sakit."
Diki langsung tersenyum. "Diki izin makan diluar ya bun, Lya lagi badmood soalnya. Mau Diki ajak jalan-jalan sebentar," ujar Diki meminta izin. Bunda Intan pun mengangguk menyetujui, pasalnya dia tau jika Lya belum keluar kamar sedari sore. "Pulangnya jangan kemalaman!"
Diki langsung mengangkat tangannya bergaya hormat. Laki-laki jangkung itu segera berlari menuju kamar Lya.
"Gel Gelllll!"
Diki tertawa mendengar ucapannya sendiri, jika saja ada Clarissa maka dia pasti akan mendapat cubitan panas dari gadis bule itu. Karena kata Clarissa, hanya dia seorang yang boleh memanggil Lya dengan sebutan Gel Gel.
Ceklek
Diki menyembulkan kepalanya kedalam pintu, dia mengintip Lya yang tengah bermain game di ponselnya. "Ya! Keluar yuk," ajak Diki.
Lya tidak menjawab, gadis itu lebih fokus pada ponselnya. "Ya ayoooo! Gue traktir, kita naik sepeda," tawar Diki lagi.
Lya mendongak menatap Diki sambil tersenyum dia merentangkan tangannya. "Gendong!" Ujar Lya.
Diki mengangguk lalu berjongkok, dengan cepat Lya naik ke punggung Diki.
"Kita keluar dulu ya bun," pamit Diki pada bundanya.
"Assalamualaikum!"
Diki mengayuh sepadanya santai. Dia sibuk memperhatikan jalanan yang tidak terlihat ramai. "Kita mau langsung makan atau keliling-keliling dulu?" Tanya Diki. "Gue belum lapar banget sih, ayo kita jalan-jalan mumpung suasananya lagi bagus," ajak Lya mendapat anggukan kepala dari Diki.
Kedua persepupuan itu menikmati keindahan malam di atas sepeda mereka. Sampai mereka terhenti di jalanan sepi karena mendengar suara keributan.
"Lo denger yang gue denger gak?" Tanya Diki. "Hooh! Ada yang berantem ya?" Jawab Lya.
Diki mengayuh pelan sepedanya menuju lahan kosong, mereka bersembunyi di balik pohon dan mendapati Karta, Devan dan Noah tengah melawan tiga orang dari geng Vrax.
Lya membekap mulutnya. "Anjing! Itu Vingvrax," bisik Lya pada Diki.
Diki mengangguk. "Kayaknya Karta mau ngebales mereka soal yang tadi sore lo sama Devan deh," balas Diki.
Tiba-tiba saja senyum Lya mengembang, gadis itu menaik turunkan alisnya. "Dik motor mereka nganggur tuh!" Lya menunjuk tiga motor milik ketua dan kedua temannya. "Ambil kuncinya, terus kita kabur," ujar Diki yang mengerti maksud Lya.
Lya berjalan mengendap-endap menuju motor ketua Vrax. Lya mengambil ketiga kunci motor itu dan membuangnya ke semak-semak. Setelah itu dia langsung kembali ke Diki.
__ADS_1
"Ayo cabut!" Ujar Lya naik ke sepeda yang sudah di duduki oleh Diki. Laki-laki itu segera mengayuh sepedanya.
Tawa mereka pecah dijalanan. "Rasain! Biar mampus mereka nyari kunci motornya hahahaaa," ujar Lya. "Kesel gue liat muka sok ganteng Andrian, di banding gue juga masih gantengan gue!" Timpal Diki.
...🌻...
Esoknya seperti biasa, Lya kembali ke sekolah menjalani aktivitasnya. Hari ini dia berangkat bersama Diki karena Diki sudah izin untuk tidak menjemput Chintya.
Tidak ada kejadian apapun pagi ini, semua berjalan lancar hingga waktu tiba. Dan sekarang, Lya tengah duduk di kantin bersama Keenan, Eadred dan Diki tentunya.
"Clarissa sama Mira lama banget di toilet," celetuk Lya yang tengah celingukan menunggu kedua temannya.
Eadred ikut celingukan mengikuti Lya. "Nah itu mereka," ujar Eadred menunjuk Clarissa dan Mira yang berjalan mendekati mereka.
Lya menelisik tubuh Clarissa. "Baju lo kenapa basah gini?" Tanya Lya menatap Clarissa.
Clarissa mengerucutkan bibirnya. "Di siram sama Clara!" Jawab Clarissa membuat Lya melototkan matanya.
"Clara?" Tanya Lya. "Kenapa bisa?"
"Salah satu temannya Clara suka sama Noah, Rima namanya, dai nyuruh Clarissa buat ngejauhin Noah. Tapi Clarissa nolak dan mereka nyiram Clarissa. Gak cuma di siram, Clarissa juga di tampar sama Clara. Gue udah nyoba buat bantu cuma gue sendirian, sedangkan mereka berlima. Untung ada Jessy," jelas Mira yang duduk di samping Eadred.
Keenan menoleh. "Jessy?" Tanyanya terkejut.
Lya mendengus kesal. "Gak bisa di biarin ini, bisa-bisanya dia nampar sepupu gue. Harus di kasih pelajaran tuh sarimi!" Ujar Lya terlihat emosi. "Kayaknya saran pak Burhan harus gue coba," gumamnya.
Diki menonyor kepala Lya. "Saran apaan? Gak usah buat masalah di sekolah!" Ujar Diki. "Sejak kapan lo peduli aturan? Emang lo terima si bocil di gangguin orang?" Tanya Diki pada Lya.
"Ya nggak sih!"
"Gel Gel, aku gak kenapa-kenapa. Gak perlu di balas, lagian Jessy udah balas nyiram dia kok," ujar Clarissa pada Lya.
Keenan tiba-tiba berucap. "Jadi penasaran gimana Jessy bisa nolongin lo?"
Eadred mengangguk. "Lo dekat sama Jessy?"
Clarissa menggeleng. "Nggak! Aku bahkan gak pernah ngobrol sama dia di sekolah. Mungkun ini karena Lya pernah bantuin dia," jawab Clarissa.
"Baguslah! Seenggaknya dia masih tau diri!" Celetuk Lya.
Saat pulang sekolah, Lya sudah meniatkan dirinya untuk mencari Clara. Lya tidak bisa mendiami Clara seperti ini, gadis ular itu sudah berani mengganggu Clarissa. Jika hanya Lya saja, dia tidak akan peduli. Tapi Lya tidak akan membiarkan siapapun berlaku kasar pada Clarissa.
Lya sudah berdiri di depan kelas Clara menunggu guru kelas itu keluar. Lya menyenderkan tububnya di tiang sembari menunggu Clara. Lya memang sudah keluar lebih dulu sebelum bel pulang sekolah berbunyi, dia berdalih meminta izin ke toilet kepada guru yang mengajar dan meminta Diki untuk membawa tasnya.
__ADS_1
Saat guru kelas itu sudah keluar bersama beberapa murid kelas. Lya segera masuk mencari Clara.
BRAKK
Murid kelas yang masih berada di sana terkejut, terutama Clara dan teman-temannya. Lya menendang meja Clara dengan kencang.
"APA-APAAN SIH LO? NGAPAIN LO KESINI?" Teriak Clara berdiri di depan Lya.
PLAKK
Suara tamparan dari Lya mendiami suasana kelas, banyak murid yang penasaran hingga berdiri di depan kaca untuk melihat kejadian itu.
"Itu balasan untuk lo yang udah berani nampar Cla!" Ujar Lya menatap tajam Clara. "Gue aja gak pernah nampar dia, dengan seenaknya lo nampar speupu gue dan nyiram dia! Bosen hidup lo?"
Clara berniat membalas dan menampar Lya, tapi tangannya sudah lebih dulu di cekal. Lya menggenggam pergelangan tangan Clara dengan sangat kuat membuat Clara meringis karena pergelangan tangannya memerah. Lya terlihat sangat marah.
"INI BUKAN CUMA BUAT CLARA DAN ANTEK-ANTEKNYA INI!" Teriak Lya kepada seluruh murid yang ada disana. "INI JUGA BUAT KALIAN SEMUA. SIAPAPUN KALIAN, GAK AKAN GUE KASIH AMPUN KALAU BERANI GANGGUIN CLARISSA. INGET ITU!" Lya mengakhiri kalimatnya dan menghempas tangan Clara.
Lya berjalan mendekati Rima. "Lo salah berurusan sama gue! Padahal gue cukup punya urusan sama ni orang!" Ujar Lya menunjuk Clara yang tengah memegang tangannya. "Karena lo udah berani nyiram dan ngancem Clarissa. Sekarang, lo masuk daftar musuh gue!" Lya menepum pipi Rima dua kali lalu berjalan meninggalkan kelas itu.
Lya berjalan keluar sekolah menuju parkiran, dia sudah bilang ke Diki untuk menunggunya disana.
"Keren banget calon pacar gue!" Cetus Devan yang ternyata sedari tadi mengikuti langkah Lya.
Lya menoleh ke samping. "Siapa calon pacar lo?" Tanya Lya menatap tajam Devan.
Devan tersenyum. "Elo!" Jawab Devan.
Lya menghentikan langkahnya. "Siapa yang mau jadi pacar lo?" Tanya Lya tersenyum miring.
"Lo Lya! Lo yang bakal jadi pacar gue!" Jawab Devan yakin.
"Dih ogah!" Tolak Lya.
"Yakin lo nolak gue? Banyak cewek yang ngantri buat jadi pacar gue," ujar Devan membanggakan diri.
Lya tertawa geli. "Lo pikir gak ada cowok yang mau sama gue? Banyak! Gue tinggal pilih kalau gue mau!" Lya ikut menyombongkan diri. "Gak usah ke PD an, ganteng doang gak cukup," tambah Lya meninggalkan Devan.
Devan mencebik kesal, apalagi mendengar tawa mengejek dari Alixy. "Sekelas Devano Hanumadya, ditolak cewek? Dimana harga diri lo Dev?" Tawa Alix menggema.
Devan menatap Alix tajam. "Belum! Tungguin aja," ujar Devan berjalan keluar sekolah.
...🌻...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)