SEFIRA

SEFIRA
Chapters 8


__ADS_3

Sepulang sekolah Amanda pergi ke cafe tempat Fira bekerja untuk menanyakannya kenapa dia menghilang begitu saja tanpa memberinya kabar.


Dua puluh menit sudah Amanda duduk di cafe celingak celinguk mencari keberadaan Fira tapi tidak ada batang hidungnya.


Amanda mengangkat tangan guna memanggil pelayan cafe. Seseorang datang dengan membawa note dan pulpen di tangannya. "Mau pesan apa mba?" Tanya pelayan tersebut.


"Ah gak mba, saya cuma mau nanya. Saya mau cari teman saya yang bernama Fira dia kerja di sini, tapi kok saya gak lihat dia ya mba dari tadi?" Tanya Amanda, dapat Amanda lihat pelayan tersebut menghela nafas berat.


"Maaf mba saya juga kurang tau Fira dimana, sudah dua hari ini dia gak masuk tanpa memberitahu saya. Sudah saya coba menghubunginya tapi gak bisa," terang pelayan tersebut lesu.


Giliran Amanda yang menghela nafas berat mendengar penuturan pelayan tersebut. "Fira lo dimana?" Gumam Amanda.


"Jika tidak ada lagi, saya permisi mba," pamit pelayan tadi.


"Ah iya. Makasi mba."


Setelah lama termenung memikirkan kemungkinan-kemungkinan tempat yang menurutnya ada Fira di sana, Amanda bangkit dari duduknya kemudian menuju kasir untuk membayar minumannya setelah itu berjalan keluar masuk mobilnya.


Sudah ratusan panggilan dan pesan Amanda kirim ke nomor Fira tapi hasilnya sama centang satu. Amanda berusaha berpikir positif, mungkin Fira lagi ada masalah tapi tidak mau berbagi dengannya, pikir Amanda.


Tujuan Amanda sekarang adalah istana milik Fira, meski kemarin dia sudah kesini tapi siapa tau sekarang dia berada dirumahnya, pikirnya.


Tok tok tok


"Firaaa!"


Tok tok tok


"Fira ini Manda."


Tok tok tok


"Kamu di dalem kan?"


"FIRAAA!"


"Cari siapa nak?" Terlihat perempuan paruh baya menggunakan daster berwarna maroon menghampiri Amanda.


"Bu, Fira kemana ya?" Tanya Amanda lirih.

__ADS_1


"Oh nak Fira sudah pergi nak dua hari yang lalu. Dia berpesan untuk jagain rumahnya karena suatu saat nanti pasti dia pulang," terang ibu tersebut.


Amanda terdiam mendengarnya. "Pergi?" Tanya Amanda memastikan apa yang dia dengar.


"Iya nak sambil membawa tas besar."


"Ibu punya nomornya gak?" Tanya Amanda yang dibalas gelengan oleh ibu tersebut. "Tidak punya nak."


Amanda tersenyum kecut menanggapinya. "Iya udah bu, terima kasih. Saya permisi dulu," pamit Amanda kemudian pergi ke mobilnya dan pulang.


Tidak ada yang tau bahwa Fira setelah keluar dari kota yang menurutnya kejam itu, mengganti nomornya dan sosial medianya tidak pernah ia aktifkan. Salah memang karena telah membuat banyak orang khawatir, tapi untuk keselamatan dia dan bayi nya harus ia lakukan.


...***...


Sedangkan di tempat lain, Fira dan Lia baru saja habis dari tempat praktek bidan. Mereka berangkat sekitar jam sembilan tapi anterian cukup banyak membuat mereka harus menunggu giliran.


Hari sudah sedikit sore, cacing di perut mereka sudah meronta-ronta meminta jatah.


"Kita ke warung depan dulu Lia," ajak Fira.


"Iya kak, Lia laper banget," keluh Lia memelas membuat Fira terkekeh mendengarnya.


Fira menoleh ke arahnya. "Ini kan baru masuk tiga minggu dek, jadi belum terbentuk secara sempurna. Dengan bertambahnya usia dia di dalam perut, semakin besar juga dia nanti," jelas Fira mengelus perutnya.


Aulia mengangguk paham. Setelah sampai di warung makan mereka segera memesannya.


"Bu saya sama tempe orek dan telur balado aja," pesan Fira. "Saya juga ya bu, samain," sahut Lia.


"Kamu gak mau ayam kecap aja dek?" Tanya Fira menatap Lia.


Lia menggeleng. "Makan ayam nanti di rumah aja kak, kan kakak tadi pagi beli ayam," jawab Lia tersenyum manis.


Bohong jika Lia tidak tergiur dengan ayam kecap yang ada di depannya sekarang, tapi dia cukup tau diri sedang bersama siapa dia sekarang. Selama hidupnya, Lia masih bisa menghitung berapa kali dia makan ayam. Neneknya hanya lah penjual sayur yang mendapatkan keuntungan sedikit tidak lebih dari dua puluh ribu sehari dan dia kadang membantu orang mengangkat barang kemudian mendapat upah yang tidak seberapa. Lia bersyukur bertemu dengan Fira, meski awalnya dia berpikir dengan apa dia menghidupi orang tersebut nantinya apalagi dalam keadaan mengandung. Siapa sangka, Fira mengajaknya untuk berusaha dan dengan semangat Lia mengiyakan tanpa mikirkannya terlebih dahulu. Dia berdoa semoga dengan ini, kehidupannya bisa sedikit berubah.


Mereka makan dengan sesekali mengobrol. "Lia nanti kita ke minimarket dulu ya," ujar Fira tanpa menoleh ke arah Lia yang meresponnya mengangguk.


Lia makan dengan cepat seolah ada yang akan mengambil makanannya. Bayangkan saja, mereka hanya sarapan aja dan sekarang sudah jam setengah tiga lewat.


Setelah selesai dan membayarnya, Lia dan Fira berjalan lagi menuju minimarket yang ada di sebrang jalan. Setelah berdiri di pinggir jalan mereka melihat kiri kanan memastikan keadaan aman baru mereka menyebrang.

__ADS_1


"Dingin kak," cetus Lia setelah masuk minimarket.


Fira tersenyum. "Kamu baru pertama masuk sini?" Tanya Fira hati-hati takut menyinggung perasaan Lia.


"Iya kak, ternyata gini ya rupanya di dalem," jawab Lia sedikit terperangah.


Lia, seorang gadis berusia lima belas tahun yang terpaksa dewasa oleh keadaan. Semasa kecil dia sudah terbiasa membantu neneknya jualan di pasar jika tidak sekolah. Sampai akhirnya setelah lulus SMP dia berhenti sekolah karena ingin membantu neneknya dan tentu karena tidak memiliki biaya juga untuk membeli perlengkapan sekolah. Tidak seperti gadis lainnya yang diusia sepertinya hanya mengenal main dan main, tapi tidak dengan Aulia Putri yang sudah terbiasa dengan beban berat di punggungnya demi upah yang mungkin menurut orang lain tidak seberapa tapi menurutnya sangat cukup. Dia sudah terbiasa dengan hidupnya yang seperti itu.


Jangankan untuk masuk minimarket, beli makan untuk sehari-hari saja dia dan neneknya harus ngutang setengah dulu dengan penjual sayur yang entah di pasar atau di sekitar rumahnya. Kadang nenek Uti jika sedang sepi pembeli, dia akan membawa jualannya tersebut untuk dia masak sendiri. Tidak pernah ada kata mengeluh yang keluar dari bibir indah neneknya itu, kadang Lia berpikir bahwa dirinya adalah beban bagi neneknya tapi neneknya selalu peka dengan cucunya, ia selalu bilang 'jangan pernah berpikir seperti itu, kamu adalah malaikat bagi nenek'.


Tapi bagi Lia kata-kata neneknya salah. Neneknya lah yang malaikat bukan dirinya, neneknya lah malaikat itu. Tanpa ada neneknya, mungkin Lia sudah dari dulu dia mengakhiri hidupnya.


"Lia kamu ambil cemilan sedikit banyak ya, karena kakak tengah malem kadang-kadang pengen ngemil," pinta Fira. Fira tau Lia tidak akan mengambil cemilan lebih dari dua jika dia tidak bicara seperti itu. Itu hanya alibi Fira supaya Lia mengambil sedikit banyak snack yang dia mau.


"Iya kak," jawab Lia membawa keranjang belanja.


Fira sendiri berada di stand susu ibu hamil, memilih mana yang cocok untuknya dan mengambil dua kotak kemudian beralih ke pendingin minuman, tidak banyak yang ia ambil hanya tiga pocari berukuran sedang karena mengingat di rumah tidak ada pendingin.


...***...


...SPOI NEXT!...


"Kamu kenapa sih son? Tumben banget kamu suka udang?" Tanya tuan Larry yang dari tadi memperhatikan anaknya makan sedangkan makanannya dia diamkan.


"Enak," jawab Dave. Hanya satu kata yang keluar dari bibir sexy Dave.


Siapa yang tidak bingung dengan itu? Pernah suatu hari, koki di rumahnya memasak udang krispy dan di saat Dave tau itu udang dia marah-marah kepada koki tersebut dan memintanya untuk menyingkirkan udang tersebut. Bukan karena alergi, tapi memang Dave tidak pernah mau makan yang namanya udang.


Hal tersebut membuat Sonya memicingkan matanya menatap anak sulungnya itu. "Apa kamu sudah menghamili orang?" Tanya Sonya mengintimidasi.


Dave yang mendengar itu tersedak udang krispy, bukan hanya Dave tapi Larry juga melototkan matanya mendengar penuturan Sonya. Stefi yang berada di samping abangnya segera memberikannya air.


"Apa yang kamu katakan Sonya!" Pekik Larry menatap istrinya itu. Tapi tidak khayal dia juga berpikir sama seperti istrinya.


"Ya aku cuma tanya mas, soalnya aku keingat waktu aku hamil Dave, mas juga seperti itu apa yang tidak di sukai tiba-tiba suka dan dokter juga bilang itu efek dari kehamilan aku," terang Sonya menatap suaminya.


...🌱...


Jangan lupa dukung aku gengs, vote, like, komen, dan favoritkan! Biar aku makin semangat updatenya.

__ADS_1


Alapyu pulpul buat kalian yang sudah kasih aku vote dan hadiah.


__ADS_2