SEFIRA

SEFIRA
GL 30


__ADS_3

Clarissa menoleh pada Jessy. "Nah! Dia yang selamatin kamu semalam dan ini rumah dia," ucap Clarissa membuat Jessy bungkam. Pasalnya gadis itu tidak sadar jika Lya yang menyelamatkannya, dia bahkan tidak tau kalau Lya sekaya ini.


Lya melirik Jessy. "Gue pikir lo udah mati," ujar Lya menyadarkan Jessy.


Clarissa mendelik pada Lya. "Don't be like that, it's so rude," ucap Clarissa memukul lengan Lya. "Maafin Lya ya. Oh iya nama aku Clarissa, dia Gelya kamu bisa panggil dia Lya. Kalau kamu?" Tanya Clarissa tidak mengulurkan tangannya karena ukuran meja yang lumayan besar hingga tidak memungkinkan mereka bersalaman.


Jessy tersenyum canggung. "Gue Jessy, hm.. makasi udah nolongin gue," ucap Jessy menatap Lya yang sedari tadi memperhatikannya. "Kewajiban!" Jawab Lya membuat Jessy sadar bahwa moto Rakasa adalah menolong sesama anggota adalah kewajiban.


"Makan!" Ujar Lya memulai sarapannya. Clarissa dengan senyum menyatap makanannya, Jessy yang masih canggung pun merasa tidak leluasa.


Clarissa yang menyadari itu pun mencoba membuat Jessy nyaman. "Gak usah canggung gitu, santai aja," ujar Clarissa.


Setelah sarapan, Lya duduk di samping Clarissa. Gadis itu tengah memainkan game di ponselnya dan Clarissa yang menonton televisi. Sedangkan Jessy sedang mandi karena Clarissa baru saja meminjamkan pakaiannya pada Jessy.


"Kamu kenal Jessy?" Tanya Clarissa.


Lya tidak menghiraukan pertanyaan Clarissa, dia terlalu fokus pada layar ponselnya.


Clarissa terlihat kesal. "Gel Gel, jangan di kacangin!"


"Hm," jawab Lya membuat Clarissa bingung. "Hm apa?"


Lya mendengus. "Dia kakak kelas gue, anak Rakasa juga," jawab Lya.


"Uhm.. kayaknya gue pamit aja deh, makasih ya bantuannya dan maaf ngerepotin," ucap Jessy yang baru saja keluar.


Clarissa menoleh. "Kamu beneran mau pulang? Ya udah biar di antar sopir aja ya," jawab Clarissa.


Jessy menggeleng. "Eh gak usah! Gue bisa cari taxi kok," jawab Jessy.


Clarissa menyenggol lengan Lya membuat Lya menoleh. "Turutin aja kenapa sih, udah di tolongin juga," ujar Lya melangkah menuju kamarnya.


Clarissa menggeleng melihat kelakuan Lya, gadis itu memang melakukan semua seenaknya. "Maafin Lya ya, dia emang suka gitu kalau ngomong.


Jessy mengangguk. "Gak masalah, gue kenal dia kok," ujar Jessy.


Clarissa tersenyum. "Iya, Lya bilang kamu kakak kelas dia. Oh ya ayo aku antar ke depan."


Jessy menurut saat Clarissa memintanya untuk di natar sopir. Setelah mobil keluar gerbang, Clarissa memasuki kembali rumah. Sebelum itu dia menatap Lya yang tengah berdiri di balkon kamarnya.


🌻


Tok tok tok


"Gel Gel? Ini masih pagi, are you sleeping again?" Suara Clarissa terdengar dari balik pintu. Setelah kepergian Jessy, Lya belum juga turun atau keluar kamar. Clarissa merasa bahwa mood Lya belum baik.


Merasa tidak ada jawaban, Clarissa kembali ke kamar mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


Di sisi lain, terdapat beberapa anak laki-laki yang masih belum membuka matanya padahal hari sudah hampir siang.


Suara dering telepon mengusik tidur pulas seorang Diki. Dengan sangat malas dia segera mengangkatnya.


"Halo?" Suara Diki serak khas bangun tidur.

__ADS_1


"Baru bangun?" Tanya seseorang di sebrang sana.


"Ngapain lo telpon gue buleee ganggu gue aja lo!" Jawab Diki kesal.


"Kamu gak mau kesini?"


"Kesini kemana? Yang jelas," ujar Diki kesal.


Suara Diki menyadarkan beberapa orang yang tidur di satu ruangan dengannya.


"Kamu gak mau bujuk Gel Gel gitu? Minta maaf sama dia."


Diki terdiam sejenak. "Harus ya? Emang dia marah banget?" Tanya Diki.


Dapat Diki dengar suara decakan dari sana. "Dia ngamuk semalam."


"HAH? LYA NGAMUK? YANG BENER AJA LO?" Teriak Diki tidak sadar.


"Heh lo ngapain sih teriak-teriak? Masih subuh juva," sungut Elang melempar jaket pada Diki. Dia terlihat kesal karena tidurnya di ganggu.


Kevin yang memang sudah bangun langsung saja mendekati Diki. "Loudspeaker!" Ujar Kevin.


"Hah?" Beo Diki.


Juna yang kesal pun merebut ponsel Diki lalu mengaktifkan loudspeaker.


"Hey coconut, can you hear me?" Dapat mereka dengar suara cempreng Clarissa memanggil Diki.


"Lya ngamuk Cla? Kenapa bisa?" Tanya Kevin pada Clarissa.


"Gue lagi di markas, nginap di markas," jawab Diki. "Kenapa Lya semalam?"


"Berarti ada kak Noah dong?" Bukannya menjawab pertanyaan Diki, Clarissa malah menanyai keberadaan Noah. Diki hampir saja mengumpati Clarissa, inti Rakasa menoleh pada Noah yang hanya menyimak.


Memang setelah kejadian semalam, beberapa anak Rakasa memilih untuk menginap di markas terutama inti Rakasa karena memang mereka yang pulang larut malam.


"Neng Cla, kita nanya Lya, dia kenapa? Kalau Noah ada tuh di pojokan," jawab Juna.


"Dia dengerin suara aku gak kak?" Tanya Clarissa lagi membuag mereka kesal.


Diki kesal. "Heh bulepotan! Lya kenapa? Jawab aja sih, gatel banget nyariin Noah."


"It's also because of you all. Why don't you just let Gel Gel join you guys. Kan dia jadi ngamuk, untung ngamuknya gak di rumah jadi aman," jawab Clarissa.


Diki mengerutkan keningnya. "Jafi Lya ngamuk dimana? Dia gak apa-apa kan? Kalian selamat kan? Lya kalau bawa mobil suka cosplay jadi pembalap soalnya," ujar Diki mengingat Lya yang menyetir semalam.


"Aman kok. Semalam kita gak langsung pulang, Lya mampir ke club-"


"Hah? Club? Yang bener aja lo," pekik Diki memotong ucapan Clarissa. Diki kaget, dia tidak pernal melihat Lya menginjakkan kakinya ketempat seperti itu. Bahkan inti Rakasa juga ikut terkejut terutama Karta.


"I'm nit lying! Gel Gel kayaknya udah sering kesana deh, soalnya dia kayak kenal sama bartendernya. Terus dia minum aja udah kayak pro banget."


Diki memijat keningnya. "Terus gimana?" Tanya Diki meminta Clarissa melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Gel Gel just drink there, tapi-"


"Neng, bisa gak jelasinnya pakai bahasa Indonesia aja, pusing gue," ujar Juna memotong ucapan Clarissa.


Clarissa terdengar menghela nafasnya. "Oke! Aku lanjutin. Terus ada ketibutan kecil di meja belakang kita, ada cewek yang hampir di lecehin sama dua cowok. Tapi cewek itu masih bisa ngelawan tuh cowok terus pergi dari sana, nah pas cewek itu keluar, dua cowok itu juga ngikutin," jelas Clarissa. Diki dan yang lain menyimak penjelasan Clarissa. "Tapi pas Lya lihat itu dia langsung narik aku buat keluar. Pas di luar Lya nyuruh aku buat nunggu di mobil sedangkan dia ngikutin orang-orang itu. Aku gak tau kejadian aslinya gimana, aku nyusul Lya karena dia lama banget disana. Yang aku lihat Lya lagi mukulin dua cowok yang udah gak sadar dan muka mereka tuh penuh darah. Lya kayak kesetanan gitu, aku takut dia ngebunuh mereka jadinya aku coba berhentiin Lya. Hampir aja aku yang dipukul dia, mana dia maki-maki aku lagi. Terus dia balik ke mobil, moodnya jelek banget. Makin marah karena aku bawa cewek yang dia tolong ke mobil."


"Lo bawa tuh cewek juga?" Tanya Diki.


"Gak mungkin kan aku tinggalin dia disana, dia aja udah gak sadar karena mabuk. Lya marah, dia nyuruh aku keluarin cewek itu tapi aku nolak, kan kasihan. Eh si dia malah bilang itu bukan urusan dia."


"Jadi gimana? Lo bawa kemana tuh cewek?" Tanya Diki lagi.


"Aku bawa kerumah! Kasihan Dik. Lya juga udah mabuk banget semalam jadi dia tidur selama di mobil "


Diki menggelengkan kepalanya. "Gue beneran gak nyangka Lya bisa mabuk begitu!"


"Lya kenal sama cewej yang dia tolong. Dia anak Rakasa juga-"


"Siapa?" Tanya Karta yang akhirnya membuka suara.


"Namanya Jessy. Tapi Lya kelihatan gak suka banget sama tuh cewek, pas sarapan aja tadi Lya bilang ke cewek itu. Gur pikir lo udah mati, gitu kata Lya. So rude!"


"Ya kasar lah bego! Jessy itu musuhnya Lya. Pernah di buat pingsan sama Lya," jawab Diki.


"Well pantas aja! Udah ah, aku capek dari tadi ngomong. Kamu kesini gak? Lya gak keluar kamar tuh dari tadi!"


"Iya nanti gue kesana!"


"Ya udah teleponnya aku tutup," ujar Clarissa. "Eh tapi kalian gak apa-apa kan? Semalam kalian beneran tawuran? Kak Noah gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Clarissa tidak jadi mematikan telponnya.


Diki mendengus. "Aman, kita gak kenapa-kenapa. Apalagi Noah lo itu," jawab Diki lalu mematikan sambungannya secara sepihak.


Juna menepuk paha Noah. "Clarissa kayaknya suka banget sama lo," ujarnya. "Gue nggak!" Jawab Noah acuh.


Kevin yang mendengar jawaban Noah puh tersenyum remeh. "Jangan ngomong gitu, entar lo suka beneran." Noah mendelik pada Kevin. "Gak akan!"


"No! Kalau entar lo suka sama Clarissa, gue yakin lo bakal bucin banget sama dia," ujar Karta. "Bener tuh! Jangan sampai lo kemakan omongan sendiri, pas lo udah bucin eh si Clarissa udah sama yang lain," tambah Elang membuat Noah beranjak dari duduknya.


"Mau kemana lo?" Tanya Juna.


"Balik!"


Elang menggelengkan kepalanya. "Heran gue punya teman gitu banget. Tuh orang masih lurus kan? Masih suka cewek kan?" Tanya Elang. Karta melemparkan sebuah jaket yang tidak tau punya siapa kepada Elang. "Lo pikir Noah gay gitu? Dia cuma belum nemu aja. Jangan ngomong sembarangan.


Diki tersenyum. "Ayo taruhan! Kira-kita Clarissa bisa gak buat Noah suka sama dia," ajak Diki menatap inti Rakasa.


Juna menepuk tangannya kuat. "Oke! Siapa takut, gue pegang Noah. Gue yakin Clarissa bakal gagal," jawab Juna percaya diri.


Diki tersenyum remeh. " Gue pegang Clarissa."


Elang terlihat berpikir. "Gue sih gak tau, tapi kalau ngeliat gimana Noah selama ini gue rasa gue tim Noah."


"Gue Clarissa," jawab Kevin. "Lo?" Tanya Kevin pada Karta. "Gue netral! Biar kalian sama-sama punya dua suara, gue dukung dua-duanya. Kalau Clarissa bisa bikin Noah suka sama dia gue ikut senang, kalau Noah tetap pada pendiriannya, gue juga akan dukung Noah. Perasaan gak bisa di atur-atur, Noah itu pintar, dia tau apa yang harus dia lakuin," jawab Karta.

__ADS_1


...🌻...


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


__ADS_2