
Sinar mentari yang masuk dari celah-celah jendela tidak membuat seorang Dave bangun dari mimpinya. Dia memeluk erat gulingnya dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Ma," panggil pria baruh bayu yang sudah rapi dengan setelan jasnya. "Dave belum bangun juga?" Tanyanya kepada istrinya yang sedang mengurus anak perempuan yang terlihat baru berusia delapan tahun.
Perempuan paruh baya itu mendengus. "Huft tu anak, aku udah beberapa kali bolak balik ke kamarnya tapi tetep aja susah di banguninnya mas," keluh Sonya, mama Dave.
"Akhir-akhir ini dia kenapa jadi malas gitu?" Tanya Larry, papa Dave, kepada istrinya. Sonya hanya mengendikkan bahunya.
"Ma udah, aku berangkat sekarang ya," pamit Stefi, gadis kecil berusia delapan tahun.
"Berangkat sama papa ya," ujar Larry kepada anak gadisnya. "Gak pa, aku mau berangkat sama mang iky aja," tolak Stefi.
"Baiklah sayang, ayo mama anter sampai depan." Sonya dan Stefi meninggalkan Larry yang masih memakan sarapannya.
Larry menatap ke arah lantai dua tepat kamar anak sulungnya. "Tidak seperti biasanya dia seperti ini," gumam Larry memikirkan sifat anaknya yang menjadi malas.
Dulu Dave adalah pemuda disiplin dan dingin kepada siapa pun, meski dengan keluarganya sendiri. Tapi beberapa hari terakhir ini, sifat Dave sangat berbanding terbalik. Di pagi hari dia selalu di bangunkan oleh Sonya dan terkadang jika Sonya sudah geram dengan anaknya itu, tak khayal dia menyiram Dave. Akhir-akhir ini juga entah mengapa sifat Dave juga sangat manja terutama dengan mamanya. Setiap ada masalah sedikit, matanya berkaca-kaca bahkan pernah sampai menangis.
Sonya pernah berpikir negatif tentang anaknya tapi segera dia tepis jauh-jauh pikirannya itu, anaknya pemuda baik-baik dan bertanggung jawab tidak mungkin melakukan apa yang di pikirkannya, pikir Sonya.
Tapi kembali lagi, tidak ada yang tau hati seseorang meski keluarga sendiri.
"Ma bangunkan lagi, apa dia tidak sekolah? Jam segini masih tidur. Siram aja seperti biasa," titah Larry kepada istrinya yang baru kembali dari depan.
Baru saja Sonya akan menaik tangga dirinya sudah di kagetkan dengan suara anaknya itu.
"MAMAAA KENAPA GAK BANGUNIN DAVE!" Teriak Dave tergupuh-gupuh menuruni tangga dengan keadaan mengenaskan. Baju yang di kancing atas sebelah, dasi yang masih belum terpasang, rambut yang berantakan dan jangan lupakan tali sepatu yang belum diikat.
Sonya terkejut mendengar teriakan anak perjakanya itu. Perjaka? Hm entahlah. Sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya melihat bagaimana penampilan anaknya yang jauh dari Dave yang dulu ia kenal rapi.
Tidak jauh berbeda dengan Sonya, Larry pun menggelengkan kepalanya melihat anaknya itu, dia berusaha menahan tawa.
"Sudah tapi kamu gak bangun-bangun," jawab Sonya santai sambil duduk di kursi ruang makan bersama suaminya.
"Papa bingung dengan sifat kamu akhir-akhir ini pemalas, tidak rapi kayak brandalan, dan ini sudah jam berapa Dave kamu belum berangkat sekolah," cetus Larry. "Mana kewibawaan yang selama ini kamu tampilkan, hm?"
Dave yang mendengar ceramah papanya hanya mengendikkan bahunya sembari memakan roti yang sudah di olesi selai oleh Sonya.
Itulah Larry Miller seorang pengusaha ritel terkenal, dia sangat dingin dan tegas jika sudah di luar tapi tidak dengan keluarganya. Seperti saat ini, Larry sama sekali tidak bisa marah dengan anak-anaknya, dia membebaskan anaknya melakukan apa yang mereka mau selagi itu positif dan tidak merugikan orang lain. Larry sangat bangga dengan anak laki-lakinya tersebut, karena beberapa restorannya yang di kelola anaknya berkembang pesat.
"Sudahlah aku berangkat dulu," pamit Dave tanpa salam kemudian berlalu keluar.
__ADS_1
"Rapikan dulu penampilan kamu sayang," ujar Sonya sedikit teriak agar di dengar Dave. Dave hanya mengangguk singkat tanpa menoleh kebelakang.
"Kerasukan apa dia?" Gumam Larry tidak habis pikir.
"Aku berangkat juga sayang," pamit Larry bangkit kemudian mencium kening istrinya.
Sonya mengangguk. "Hati-hati mas."
...***...
Dave masih berada di depan pintu rumahnya sedang merapikan penampilannya yang terlihat sangat jauh dari pribadinya.
"Ngapain kamu masih di depan?" Tanya Larry tiba-tiba membuat Dave terloncat kaget.
"Astaga," pekik Dave mengusap dadanya kemudian menatap papanya sinis. "Lagi tunggu ojek," ketus Dave kembali mengancing baju seragamnya.
Larry hanya mengendikkan bahunya mendengar ucapan sinis dari putranya kemudian melangkah mendahului anaknya itu ke mobilnya meninggalkan Dave. Begitu pun Dave yang tidak peduli dengan papanya yang pergi begitu saja.
Setelah terlihat rapi, Dave mengendarai motornya meninggal istananya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli dengan kendaraan lain yang mengumpatinya.
Ngapain gue ngebut gini yah? Padahal kan udah pasti telat gue, udah jam delapan gini. Batin Dave melirik arloginya. Seketika Dave memelankan laju motornya.
Sampai di area sekolah, Dave tidak lewat depan melainkan belakang. Dave memakirkan motornya di warung belakang yang terdapat banyak murid dari sekolah yang sama dengannya dan juga sekolah lain di sana. Murid SMA Jayakarta yang melihat anak Dave yang di kenal dingin tak tersentuh ada di warung belakang sekolah terkejut karena untuk pertama kalinya Dave terlambat.
Dave menatap Juna malas. "Udahlah mending kita masuk ini udah mau jam pelajaran kedua, matematika sekarang," ajak Dave kepada Juna teman kelasnya.
Juna sedikit terperangah mendengar ajakan Dave kepadanya. Ini adalah momen langka yang sayang jika tidak di terima, dengan semangat juga mengangguk mengiyakan. "Oke cuss."
Mereka berdua berjalan beriringan dengan beberapa celotehan Juna yang hanya di tanggapi ham hem ham hem oleh Dave.
Sesampainya di tembok tinggi belakang sekolah mereka berhenti sejenak, mengambil ancang-ancang untuk memanjat menggunakan tangga bambu yang ada.
"Lo duluan," titah Dave sedikit mendorong Juna agar maju.
"Iya jangan dorong-dorong juga!" Balas Juna ngegas karena pemuda itu sudah kesal dengannya yang sama sekali tidak menanggapi celotehannya dari tadi.
"Aman gak?" Tanya Dave mendongak menatap Juna yang sudah berada di atas.
"Aman!"
Mendengar itu, Dave naik mengikuti Juna kemudian loncat seperti yang di lakukan Juna. Dave mendarat dengan sempurna meski tadi sedikit oleng karena baru pertama kali dia melakukan hal tersebut.
__ADS_1
"Ayo langsung ke kelas aja," titah Dave berjalan duluan meninggalkan Juna yang mendengus melihat teman kelasnya itu tapi tetap mengikuti langkah Dave.
Mereka berjalan santai, terlihat sangat sepi karena memang masih jam pelajaran.
...***...
...SPOI NEXT!...
"Ah gak mba, saya cuma mau nanya. Saya mau cari teman saya yang bernama Fira dia kerja di sini, tapi kok saya gak lihat dia ya mba dari tadi?" Tanya Amanda, dapat Amanda lihat pelayan tersebut menghela nafas berat.
"Maaf mba saya juga kurang tau Fira dimana, sudah dua hari ini dia gak masuk tanpa memberitahu saya. Sudah saya coba menghubunginya tapi gak bisa," terang pelayan tersebut lesu.
Giliran Amanda yang menghela nafas berat mendengar penuturan pelayan tersebut. "Fira lo dimana?" Gumam Amanda.
"Jika tidak ada lagi, saya permisi mba," pamit pelayan tadi.
"Ah iya. Makasi mba."
Setelah lama termenung memikirkan kemungkinan-kemungkinan tempat yang menurutnya ada Fira di sana, Amanda bangkit dari duduknya kemudian menuju kasir untuk membayar minumannya setelah itu berjalan keluar masuk mobilnya.
Sudah ratusan panggilan dan pesan Amanda kirim ke nomor Fira tapi hasilnya sama centang satu. Amanda berusaha berpikir positif, mungkin Fira lagi ada masalah tapi tidak mau berbagi dengannya, pikir Amanda.
Tujuan Amanda sekarang adalah istana milik Fira, meski kemarin dia sudah kesini tapi siapa tau sekarang dia berada dirumahnya, pikirnya.
Tok tok tok
"Firaaa!"
Tok tok tok
"Fira ini Manda."
Tok tok tok
"Kamu di dalem kan?"
"FIRAAA!"
"Cari siapa nak?" Terlihat perempuan paruh baya menggunakan daster berwarna maroon menghampiri Amanda.
"Bu, Fira kemana ya?" Tanya Amanda lirih.
__ADS_1
...🌱...
Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!