SEFIRA

SEFIRA
Chapters 21


__ADS_3

"Keputusan papa sudah bulat. Kamu HARUS stay disini perjuangkan apa yang seharusnya kamu perjuangkan dan kamu akan urus kantor cabang disini dan untuk urusan cafe disana biar jadi urusan papa," final Larry tak terbantahkan.


"Tapi pa-"


"Gak ada tapi-tapian. APA HAH? MAU NGEBANTAH KAMU HAH?" Sentak Sonya membuat Dave seketika mengatup bibirnya.


"Ayo pa kita jalan sekarang aja keburu malam nanti," ajak Sonya kepada suaminya untuk menyusul Felix, Nico, dan Stefi yang sudah masuk mobil duluan.


"Iya ma," balas Larry.


"Awas kamu kalo mama sampai tau kamu ada di Jakarta sebelum cucu mama ada ditengah-tengah kita mama ambil semua pasilitas kamu," ancam Sonya sebelum benar-benar pergi.


Dave menatap nanar kepergian mereka, dia hanya bisa menghela nafas panjang.


Drtt drtt


Love.


Satu nama kontak itu yang tertera di layar ponselnya. Dave menatap lama ponselnya yang terus berdering lalu mengangkatnya.


"Halo?" Sapa Dave.


"Halo sayang, kok lama sih angkatnya," kesal Nila disebrang telpon.


"Maaf. Tadi aku di di di kamar mandi ah ya dikamar mandi terus hp aku di kamar," elak Dave.


"Ohhh. Oh ya kamu sudah pulang dari Bandung?" Tanya Nila.


"Hmm ak-aku akan stay disini beberapa hari La, papa kasih aku tugas untuk atasin masalah yang ada di kantor cabang sini," alasan Dave.


Terdengar helaan nafas panjang dari Nila. "Yahh kita LDR-an dong yang," lirih Nila. "Terus kamu pulangnya kapan?" Tanyanya.


"Belum tau."


"Ya sudah kamu hati-hati disana. Jangan lirik-lirik cewek lain, awas kamu!" Ancam Nila.


"Hm," balas Dave. "Ya sudah aku mau istirahat dulu," lanjutnya.


"Ya sayang, byee."


Tut

__ADS_1


Setelah panggilan terputus, Dave memesan makanan lewat salah satu aplikasi hijau putih. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang sudah sore dan Dave sama sekali belum menyantap makanan, paginya ia hanya memakan roti.


Dave memutuskan untuk mandi, tapi sedetik kemudian dia memutuskan untuk menunggu pesanannya datang terlebih dahulu karena di vila sebesar ini hanya ada dia. Jika dia mandi terus makanan datang siapa yang akan mengambilnya, pikirnya.


"Besok pagi gue harus cari pembantu. Mana mungkin gue beresin ni vila sendirian," gumam Dave tiduran di sofa ruang keluarga.


Vila tersebut hanya belum jadi bagian samping, yaitu taman dan kolam renang sedangkan untuk bangunan sudah jadi tinggal di cat ulang.


***


Tiga hari berlalu, Lia sudah diperbolehkan pulang. Fira membereskan semua barang mereka. Gavin dan Lia hanya menunggu karena Fira tidak membiarkan mereka membantunya.


"Gavin tunggu disini dulu ya, bunda mau urus pembayaran dulu didepan," ujar Fira kepada anaknya.


"Iya bund," balas Gavin.


Fira keluar untuk mengurus administrasi yang tersisa. "Permisi pak, saya mau membayar semua biaya administrasi atas nama Aulia Putri Rawangsa yang tersisa," ucap Fira setelah di depan loket.


"Tunggu sebentar ya bu," balas petugas tersebut. "Ini bu tagihannya dan sekarang pasien sudah diperbolehkan pulang ya bu," lanjutnya memberikan selembar kertas kepada Fira.


Fira menerimanya dan membaca total tagihan tapi ia tidak sengaja menjatuhkan kertas tersebut sampai di dekat kaki seseorang.


Orang tersebut mengambil kertasnya dan membaca sekilas kemudian menatap pemiliknya.


"Ini mba." Orang itu memberikan kertas tersebut dan Fira menerimanya. "Terima kasih," ucap Fira lalu berjalan ke loket kembali.


"Tunggu!" Ujar orang itu memberhentikan langkah Fira. Fira berbalik lalu mengangkat sebelah alisnya.


"Rian," ucap orang itu memperkenalkan dirinya.


Fira yang mengerti tersenyum menerima uluran tangan Rian. "Fira."


"Kalau begitu saya permisi dulu mas Rian," pamit Fira berbalik.


Cantik. Batin Rian tersenyum.


***


Fira telah sampai di depan rumahnya dan disusul sebuah taxi berhenti di depannya. Yaps, Fira memesan taxi untuk Lia dan Gavin, sedangkan dia sendiri menggunakan motornya.


Fira membantu Lia keluar tapi Lia menolak. "Udah kak, Lia bisa kok," tolak Lia.

__ADS_1


"Yakin bisa?" Tanya Fira memastikan. "Iya kak gak papa kok," jawab Lia tersenyum meyakinkan. Fira hanya bisa menghela nafas panjang dengan sifat keras kepala adiknya itu. "Ya sudah kakak bawa barang masuk aja kalau gitu."


"Astagfirullah itu mukanya nak Lia kenapa?" Pekik tetangganya yang kebetulan lewat.


"Abis kecelakaan bu," jawab Fira.


"Astagfirullah, kecelakaan? Terus kenapa nak Fira tidak cerita? Mana yang sakit nak?" Tanya tetangganya itu beruntun.


"Gak kok bu, cuma ini aja. Sebentar lagi juga sembuh kok," jawab Lia.


"Maaf ya ibu gak bisa lama-lama dulu disini. Nanti ibu nengokin kamu lagi nak Lia. Ibu permisi dulu, assalamualaikum," pamitnya.


"Waalaikumsalam," jawab mereka bertiga.


"Ayo bi, biar Gavin yang bantuin bibi," ujar Gavin menggandeng tangan Lia. "Tidak ada penolakan," sercah Gavin cepat disaat Lia akan membuka suara.


Fira terkikik mendengarnya, apalagi melihat Lia menghela nafas pasrah. Mereka masuk bersama dan istirahat, tapi tidak dengan Fira yang kembali keluar menggunakann motor.


Fira sampai di warung makan sederhana. Dia lupa membeli makan untuk mereka bertiga, apalagi saat sarapan ia belum makan. Lia sarapan karena ada petugas yang membawakan makanan untuknya, Lia memakan sarapannya bersama Gavin.


Sekarang sudah jam dua belas siang waktunya Lia minum obat, mau masak pun tidak sempat.


"Bunda, Gavin mau main boleh?" Tanya Gavin kepada Fira yang baru masuk dengan kantong plastik hitam di tangannya.


"Boleh, tapi makan dulu ya. Inu bunda sudah beliin makan siang untuk kita bertiga," jawab Fira yang diangguki Gavin.


"Sini bun biar Gavin bawain. Bunda pasti berat," ujar Gavin.


Fira memberikannya pada Gavin. "Terima kasih anak ganteng."


"Bibi ayo kita makan bersama," ajak Gavin kepada Lia.


Fira tersenyum melihat anaknya yang tumbuh menjadi anak yang pintar dan selalu membantu orang yang membutuhkan pertolongannya. Fira bersyukur hidupnya yang sekarang tidak semenyakitkan seperti hidupnya yang dulu, yang harus banting tulang sampai putus sekolah. Lia, anak yang dua tahun dibawahnya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, Fira tidak ingin adiknya itu merasakan apa yang ia rasakan dulu meski dari kecil hidup Lia lebih keras dari pada hidupnya sendiri. Beruntung sekarang dia mempunyai usaha yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka bertiga.


Gavin, anaknya sendiri. Fira berusaha keras untuk memberikan apa yang anaknya mau, kasih sayang sebagai seorang ibu sekaligus ayah untuk anaknya. Meski demikian sering kali Gavin menanyakan sosok ayahnya dan sebisa mungkin Fira memberikan pengertian kepada anaknya itu.


Huft! Mengingat sosok ayah membuat Fira mengingat kembali kejadian tiga hari yang lalu di puskesmas waktu itu. Fira berharap semoga mereka sudah kembali ke asalnya dan tidak dikesini lagi, tapi mengingat bangunan mewah di ujung kampung adalah milik keluarga yang mati-matian Fira hindari sepertinya sulit untuk mereka tidak bertemu kembali, apalagi Gavin yang sering bermain ke sawah bersama teman-temannya.


...***...


Jangan lupa vote, like, komen, dan favoritkan gengs!

__ADS_1


Maaf banget kemarin malam aku ketiduran jadi gak bisa double up. Doakan semoga hari ini bisa triple up sebagai ganti yang kemarin gengs.


__ADS_2