SEFIRA

SEFIRA
GL 40


__ADS_3

Devan sudah berdiri di barisan minuman di dalam sebuah minimarket, dia tidak tau apa yang harus dia beli. Devan lupa dan itu petaka!


Devan menggaruk kepalanya bingung. Sudah hampir lima menit dia berdiri tanpa melakukan apapun.


"Cari apa ya mas?" Tanya petugas indom menghampiri Devan.


"Miranti," jawab Devan cepat.


"Hah? Miranti?"


Devan berdecak kesal. "Siranti, Karati, Karantin kali. Gak tau gue, minuman pokoknya buat cewek mens," jawab Devan asal.


Petugas wanita itu tertawa. "Kiranti kali mas."


Muka Devan memerah. "Ck.. mana gue tau, lagian ngapain sih namanya ganti-ganti. Gak di fitrahin apa pas lahir!" Ujar Devan menahan kesal.


Petugas itu masih tertawa. "Untuk pacarnya ya mas?"


Devan menatap tajam petugas wanita itu membuatnya berhenti tertawa. "Iya! Gue beli lima, cepat!" Ujar Devan kesal dan berlalu ke kasir.


"Nih! Kembaliannya ambil aja," ujar Devan memberikan satu lembar uang seratus ribu dan dengan cepat berjalan keluar dari sana.


Devan segera kembali ke UKS. Saat sampai disana dia tidak melihat keberadaan petugas yang menjaga Lya.


"Nih! Minum semuanya," ujar Devan memberikan kantung belanjaannya pada Lya.


Lya mendudukkan dirinya dan terkejut. "Banyak banget! Gila lo nyuruh gue minum ini semua," jawab Lya.


Devan berdecak. "Ck.. tinggal minum apa susahnya sih, masih untung gue beliin!" Ujar Devan menatap tajam Lya.


Lya menundukkan kepalanya. "Makasih," cicit Lya.


Devan menghela nafasnya. "Sini gue bukain!" Laki-laki itu mengambil kantung belanjaannya dan mengeluarkan satu botol. "Minum satu aja. Lebihnya simpan disini aja buat cadangan UKS," ujar Devan melembut.


Laki-laki itu menyodorkan botol yang sudah dibuka kepada Lya, dengan patuh Lya meminum jamu yang sebenarnya tidak dia sukai itu.


"Huekk gak enak!" Ujar Lya setelah meneguk sedikit minuman itu.


"Serius? Kalau gak enak kenapa dijual? Minuman apaan sih ini?" Tanya Devan menatap botol plastik yang ada di tangan Lya itu.


Lya menatap Devan jail. "Emang gak enak! Cobain deh, aneh rasanya!" Ujar Lya menyodorkan botol itu pada Devan. "Dih ogah! Kalau udah tau gak enak ngapai gue coba," tolak Devan.

__ADS_1


"Cobain sedikit aja, cepat!" Bujuk Lya.


"Nggak! Enak aja lo."


Lya menatap Devan sedih. "Sedikit aja Dev," bujuk Lya memelas. Devan mendengus dan merebut botol itu dari tangan Lya. Dengan tegukan besar dia mencoba minuman itu.


"Huekkk minuman jenis apa nih? Pahit begini?" Tanya Devan memeletkan lidahnya.


Lya tertawa terbahak-bahak melihat Devan yang dengan mudahnya dia bodohi. "Anjirr Dev, itu jamu datang bulan! Hahhahaaaa!"


Mata Devan membulat sempurna. "Sialan! Ngejebak gue lo ya? Gak tau diri banget, udah ditolongin malah ngelunjak," maki Devan. Lya makin tertawa, tangannya menepuk-nepuk tangan Devan.


Posisi mereka memang sangat dekat. Lya duduk di brangkar pesakitan dengan kaki yang menjuntai ke lantai sedangkan Devan duduk di kursi tepat di depan Lya.


"Puas?" Tanya Devan pada Lya yang belum berhenti tertawa. Dia tengah kesal, namun tidak menampik kenyataan jika dia merasa senang melihat Lya tertawa.


Lya mengangguk tersenyum.


Sial! Jatuh cinta gue! Batin Devan ikut tersenyum menatap Lya.


...🌻...


Selama jam pelajaran berlangsung, Lya tidak berbicara dengan Diki. Gadis itu bahkan memilih untuk duduk dengan Eadred. Setelah kembali dari UKS dengan di antat oleh Devan, Lya langsung mengusir Cakra dan duduk di tempat Cakra.


Sampai jam pelajaran berakhir pun Lya masih mengabaikan Diki. Melihat itu Diki frustasi minta ampun, ingin sekali dia membujuk Lya namun dia ingat bahwa dia harus pulang bersama Chintya.


"Ya, jangan marah dong," ujar Diki berjalan di samping Lya berusaha membujuk.


"Dik! Kita jadi jalan kan?" Tanya Chintya yang tiba-tiba muncul dan langsung menggandeng tangan Diki. "Lya balik sama siapa? Kita gak mungkin ninggalin dia kan?" Tanya Chintya lagi pada Diki yang hanya diam salah tingkah.


Lya mendengus kesal. "Keenan!" Panggil Lya berlari mengejar Keenan. "Langsung balik?" Tanya Keenan setelah melihat Diki yang tengah bersama Chintya. Lya hanya mengangguk, Keenan merangkul Lya dan membawanya ke parkiran meninggalkan Diki yang terdiam.


"Gak dapet Karta ngebuat selera lo turun? Sekarang sama Keenan? Oh iya lupa, Diki kan sudah punya gandengan. Pasti selama ini dia tertekan harus jadi babu lo terus!" Celetuk Clara yang tengah berjalan bersama teman-temannya.


Lya mengepalkan tangannya. Baru saja dia ingin melangkah mendekati Clara, namun Keenan sudah mendahuluinya.


"Kenapa lo yang ribet? Mau Lya sama siapapun itu bukan urusan lo! Mulut cabe lo ini ngebuat gue pengen banget ngulek lo pake batu giling!" Balas Keenan pada Clara dengan tajam. "Dempul lo kurangin. Sekolah kok pake tepung!" Tambah Keenan lagi. Laki-laki itu segera menarik Lya menuju motornya.


Keenan dan Lya pergi dengan cepat.


"Tumben banget Lya balik sama Keenan," celetuk Juna yang baru sampai di motornya. "Buru-buru banget kayaknya."

__ADS_1


Inti Rakasa saling tatap saat mendapati Diki yang pergi bersama seorang gadis yang tidak mereka ketahui.


"Masha and the bear lagi berantem bang!" Celetuk Eadred yang baru datang setelah melihat raut bingung dari anggota inti gengnya itu.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Tanya Juna mengaktifkan mode rumpinya.


"Gue gak tau pasti. Tapi, tadi Lya bolos di jam pertama kelas. Nah bingung lah gue karena Diki juga ikut bingung. Ternyata Diki gak berangkat sama Lya, dia berangkat sama Chintya, pacarnya. Nah pas jam kedua, Lya di antar sama Devan-"


"DEVANN!" Pekik Juna memotong ucapan Eadred. "Ih! Lo diem dulu dong. Dengerin gue," ketus Eadred membuat Juna cengengesan.


"Lanjut!" Ucap Kevin.


"Nah jadi Lya datang di antar Devan. Pas masuk kelas, dia malah duduk di samping gue. Terus dia ngacangin Diki sampai sekarang," cerita Eadred.


"Terus masalahnya apa?" Tanya Kevin yang belum mengerti. "Gak tau hehe," jawab Eadred membuat mereka semua mendengus.


"Lya kenapa Dev?" Tanya Karta pada Devan yang diam-diam sudah bergabung bersama mereka.


Devan mengendikkan bahunya. "Berantem sama Diki katanya," jawab Devan acuh.


Juna terlihat gemas. "Berantem kenapa Dev, itu yang dipertanyakan."


Devan menatap Juna jijik. "Muka lo biasa aja dong, jijik gue," balasnya pada Juna. "Diki gak bilang kalau dia berangkat sama pacarnya, Lya gak ada mobil, kata dia ayah sama bunda dia udah berangkat gak tau gue kemana."


Mereka mengangguk mengerti. "Terus kenapa lo bisa sama Lya?" Tanya Kevin lagi. "Yang sama Lya duluan itu Keenan. Gue juga gak sengaja ketemu di depan toilet lagi nangis-nnagis. Terus badan dia panas, katanya hari ini hari pertama dia datang bulan. Karena Keenan takut bolos, jadi gue yang bawa Lya ke UKS. Selesai!" Devan menyelesaikan cerita dan langsung memakai helm diikuti Alixy. Mereka berdua pulang duluan.


"Sejak kapan kita jadi perkumpulan manusia kepo. Gak jelas banget kita ngurusin masalah orang!" Celetuk Elang yang duduk di motornya.


"Iya juga!" Jawab juna. "Tapi yang jadi pertanyaan gue sekarang, sejak kapan Devan peduli sama cewek yang bukan siapa-siapanya dia?"


"Mana gue tau," jawab Elang singkat.


Karta dan Noah sudah siap meninggalkan sekolah, namun Clarissa muncul tiba-tiba. "Kak Noah nanti sore sibuk gak?" Tanya Clarissa berdiri di depan motor Noah.


"Sibuk! Gue banyak kerjaan!" Jawab Noah seadanya. Clarissa mengerucutkan bibirnya. "Perlu di bantu gak?" Tanya Clarissa lagi.


Noah menatap Clarissa dari balik helmnya. "Gak perlu! Permisi gue mau balik!" Jawab Noah membuat Clarissa menggeser badannya. Melihat itu Noah langsung menancap gasnya pergi meninggalkan sekolah diikuti Karta dan Elang.


"Jadi gimana?" Tanya Juna pada Kevin. "Apanya yang gimana?" Tanya Kevin balik. Juna mendengus mendengar jawaban Kevin. Laki-laki itu segera melajukan motornya dengan Kevin yang menyusul di belakang.


...🌻...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan favoritkan yaw pren:)


...Tbc....


__ADS_2